My Crazy Boss & His Twins

My Crazy Boss & His Twins
Extra Part 8


__ADS_3

"Mom.." ucap Winter menangis membalas pelukan Ana.


"Maafkan mommy sayang... ini semua karena mommy. Andai saja dulu, mommy tidak memintamu untuk menikah dengan Julian kalian pasti tidak akan seperti ini," tukas Ana, bulir bening mulai jatuh membasahi pipinya.


Winter menggeleng, ini bukan sepenuhnya salah ibu mertuanya. Ia juga berperan dalam hal ini. Kalau saja ia menolak tawaran Ana pada saat itu, mungkin ia dan Julian tidak pernah bersama dan Winter tidak bisa membayangkan kemana ia dan anak-anak panti lainnya pergi jika saja saat itu ia tidak menerima tawaran Ana. Semuanya sudah berlalu, toh tidak bisa diulang lagi.


"Tidak mom, jangan menyalahkan diri mommy sendiri," ucap Winter. Andai saja dulu mereka tau jika Julian sudah memiliki kekasih, mungkin semua itu tidak terjadi. Dan mereka tidak pernah saling mengenal.


Seorang pelayan dengan langkah terburu-buru menghampiri Ana dan Winter.

__ADS_1


"Nyonya, sepertinya tuan Julian sudah sadar," ucap pelayan. Winter yang mendengar ucapan pelayan membuat pikirannya bercabang memikirkan apa yang terjadi pada pria itu.


"Syukurlah.." ucap Ana menghapus air matanya. Kondisi putranya akhir-akhir ini kondisi tubuhnya sangat lemah. Mungkin karena pengaruh alkohol dan selalu mengabaikan makan pagi hingga malam.


"Nak.. mommy mohon, tolong temui Julian. Mommy akan menerima apapun keputusanmu nanti, setidaknya kalian bertemu. Mommy tidak tega melihatnya selama dua tahun ini karena kehilanganmu," ucap Ana menggenggam tangan menantunya. Winter mengangguk. Ana membawa Winter menuju kamar Julian. Saat hubungan mereka sedikit membaik, Winter tidur di kamar Julian waktu itu.


Lagi-lagi Winter menghela nafasnya, rasa gugup kembali menghampiri dirinya. Tangannya terulur membuka pintu dengan perlahan dan hati-hati. Pintu sedikit terbuka, Winter mengintip dari balik pintu itu, mencari-cari keberadaan Julian.


Hingga akhirnya matanya tertuju pada sosok pria yang mengenakan kaos putih duduk di atas lantai, tubuhnya ia sandarkan di salah satu sisi ranjang. Terlihat jelas selang infus tertanam di punggung tangannya. Winter tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena ia duduk menyamping. Sudah pasti itu adalah Julian. Rambutnya yang sebatas bahunya menutupi setengah wajahnya. Tubuhnya yang dulu berisi kini menjadi kurus tak terawat. Jambang pria itu terlihat panjang tak teratur.

__ADS_1


"Apa kamu begitu membenciku sayang.." ucap Julian lirih. Air matanya kembali membasahi wajahnya. Spontan Winter terpaku di tempatnya mendengar suara Julian yang sudah lama tidak di dengarnya.


"Kenapa aku sangat sulit menemukanmu?" lanjut Julian. Tangannya menyalakan api pada lilin kue ulang tahun di depannya. Lilin dengan angka 22. Winter baru menyadari ada sebuah kue di depan pria itu.


"Dua tahun... dua tahun kamu pergi. Aku tau kamu membenciku. Aku pantas dibenci oleh mu," ucap Julian menangis.


"Tuhan sedang menghukum ku dengan membiarkanmu pergi dari ku. Sepertinya Tuhan ingin menyiksa ku. Tapi sampai kapan? aku tidak kuat lagi. Apa kamu baik-baik saja disana?" lanjutnya. Mungkin jika bukan karena ia yang masih berharap menunggu dan mencari Winter, hidupnya mungkin sudah berkahir.


Winter yang menatap pria itu memegang dadanya, ada rasa sakit yang tidak bisa diucapkannya dengan kata-kata. Tubuhnya merosot, air matanya mengalir begitu saja mendengar nada suara frustasi dari pria itu.

__ADS_1


__ADS_2