
Megan menggeliat pelan sebelum ia membuka matanya. Melihat sisi kanannya, dimana Dexter tidur telungkup dan satu tangan pria itu melingkar di pinggang Megan. Dexter mendengkur halus. Mungkin pria itu kelelahan karena naik pesawat.
Megan turun menyusuri tangga rumah Dexter dengan memakai baju santainya.
"Selamat pagi Nona Megan.." sapa Dorothy membawa pakaian kotor milik Amber dan Archer ke ruang laundry yang rumah Dexter.
"Selamat pagi Bibi Dorothy," balas Megan ramah.
"Apa Nona ingin minum teh? saya akan menyiapkannya," ujar Dorothy meskipun ia bukan pelayan di rumah Dexter karena Dorothy hanya bekerja sebagai pengasuh Amber dan Archer. Namun beberapa kali Dorothy terlihat membantu pekerjaan pelayan di rumah Dexter.
"Tidak perlu repot-repot bibi, biar saya saja," balas Megan. Dorothy mengangguk lalu pamit.
Megan melangkahkan kakinya menuju dapur dan terkejut saat melihat Clarence ada disana sedang berkutat dengan peralatan memasak dibantu oleh dua orang pelayan.
__ADS_1
"Sepertinya aku bangun terlambat, maaf membiarkan mommy memasak," ucap Megan merasa tidak enak hati melihat Clarence bangun lebih awal dan memasak.
"Ini masih jam 7 nak dan kamu bilang terlambat bangun. Mommy pikir kamu yang lebih cepat bangun dari mommy. Sebenarnya mommy biasanya bangun terlambat. Hari ini hanya kebetulan saja karena daddy meminta mommy untuk membuatkan spaghetti kesukaannya makanya mommy bangun cepat. Kalau tidak, mommy masih tidur sekarang," ucap Clarence mengaduk saos ada di wajan.
"Apa ada yang bisa Megan bantu mom?" tanya Megan.
"Tidak perlu sayang, ini hampir selesai,kamu lihat anak-anak saja. Apakah mereka sudah bangun atau belum," ucap Clarence.
"Baiklah mom, aku ke kamar anak-anak dulu," Megan pergi menuju kamar si kembar.
"Lebih baik aku biarkan mereka tidur sebentar lagi. Hari ini juga weekend," batin Megan lalu pergi menuju kamar Archer. Ana itu juga masih tidur dengan pulas. Akhirnya Megan kembali ke dalam kamar Dexter. Pria itu masih tidur dengan posisi yang sama saat terakhir kali Megan keluar dari kamar.
Megan berjalan ke sudut kamar itu dan membuka tirai jendela kaca kamar Dexter. Megan mengambil ponselnya berniat melanjutkan novel yang belum ia baca sampai selesai. Namun tidak jadi karena Vivian menghubunginya. Wanita itu ingin mengabari jadwal pernikahannya yang di percepat. Awalnya hanya ingin mengabari Megan soal pernikahannya tapi kedua wanita itu malah bercerita panjang lebar.
__ADS_1
"Sayang.." panggil Dexter dengan suara seraknya khas orang bangun tidur. Megan menoleh, melihat pria itu tersenyum padanya. Ia lalu membalas senyuman pria itu. Sungguh.. ini pemandangan indah bagi Megan. Menatap wajah bantal kekasihnya yang terlihat sexy di matanya.
"Cup..." Dexter mengecup bibir Megan.
"Morning kiss," ujar Dexter menaruh bantal diatas paha Megan dan mengubah posisi tidurnya dengan kepala di atas paha Megan. Tangan Megan bergerak mengusap rambut Dexter sembari mendengarkan Vivian yang bercerita tentang paman dan bibinya dari balik ponsel.
Dexter tersenyum nakal menatap Megan, tangannya bergerak membuka kancing baju wanita itu. Megan membelalakkan matanya menyadari pergerakan tangan Dexter. Ia lalu menahan tangan besar itu, menggelengkan kepalanya agar Dexter tidak melakukannya. Bukan Dexter namanya kalau keinginannya tidak bisa tercapai. Pria itu kembali menjalankan aksinya. Membuka kembali kancing baju itu. Tiap kali Megan melotot padanya, ia hanya tersenyum. Dexter beruntung karena Megan memakai bra dengan kancing depan hingga ia lebih mudah untuk melepaskannya.
"Dex..." ucap Megan geram menjauhkan ponselnya.
"Aku ingin mainan ku.." ucap Dexter seperti anak kecil meminta mainan pada ibunya.
"Tidak Dex, sebentar lagi kita akan sarapan. Sebaiknya kamu mandi," ucap Megan pelan.
__ADS_1
"Aku ingin sarapan pembuka dulu," ucap Dexter me.re.mas gundukan Megan.
"Vivian, aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Megan cepat lalu mematikan ponselnya.