
"Jangan lagi.. nanti dia bangun. Ini jamnya untuk tidur siang hubby.." ucap Megan kala tangan Dexter kembali ingin mencubit wajah Arthur.
"Kamu tidak ke kantor lagi?" tanya Megan.
"Tidak, pekerjaan ku tidak banyak. Ada Addison dan yang lainnya menghandle perusahaan," ucap Dexter menyandarkan kepalanya di pundak Megan.
"Bagaimana dengan kabar Winter, apa kalian sudah menemukannya?" tanya Megan. Hingga sekarang Winter belum ditemukan. Kondisi Julian semakin mengerikan. Pria itu mengurung diri di kamarnya. Berbicara sendiri, selalu mengalami mimpi buruk dan pola makannya berantakan. Ibunya sudah membawanya ke psikolog namun tidak berhasil. Julian bahkan pernah di bawa ke rumah sakit jiwa karena mengira pria itu sudah gila. Yang ada ia malah merusak semua fasilitas yang ada di rumah sakit. Akhirnya ia kembali ke rumahnya.
"Hingga saat ini belum ada kabar," ucap Dexter menggambar pola acak di dada Megan.
"Aku bahkan sudah menugaskan Blackstone dan teman-temannya tapi mereka tidak berhasil menemukannya hingga sekarang," ucap Dexter.
"Bagaimana dengan Erick dan Jack?" tanya Megan.
__ADS_1
"Sama saja. Terakhir aku bertanya pada mereka satu minggu yang lalu.Mereka juga tidak menemukannya. Aku tidak tau bagaimana caranya Winter pergi, hingga sekelas Blackstone tidak bisa menemukannya," ucap Dexter menjahili putranya dengan menarik puncak dada Megan dari mulut Arthur hingga membuat anak itu menggeliat, mencari-cari sumber makanannya.
"Plaakk... kebiasaan deh.." ucap Megan memukul tangan Dexter membuat pria itu tertawa pelan, takut putranya terbangun. Dexter selalu saja menggangu Arthur tiap kali anak kecil itu me.nyu.su.
"Besok kita pergi melihat Julian ke rumahnya. Sudah satu bulan kita tidak ke sana, aku khawatir dengan kondisinya," ucap Megan. Dexter lalu mengangguk mengecup leher Megan.
"Apa Arthur sudah tidur?" aku juga mau berduaan dengan mu," ucap Dexter melihat Arthur yang masih setia menyesap puncak dada Megan.
"Aku tidak tau," ucap Megan mencoba menjauhkan puncak dadanya dari mulut mungil Arthur. Merasa Arthur sudah tidur lelap, Megan lalu menidurkannya di box bayi.
"Aku juga ingin bermanja-manja dengan istriku," pungkas Dexter menjatuhkan tubuhnya di samping Megan. Ia lalu memeluk tubuh Megan, membenamkan wajahnya di dada empuk Megan. Seperti biasa, Megan akan menyisir rambut kepala Dexter dengan jari tangannya hingga pria itu terlelap.
"Bagaimana kalau kita coba satu ronde, rasanya aku lelah di kantor tadi. Kamu tau kan obatnya," ucap Dexter me.re.mas bokong Megan.
__ADS_1
"Tidak Dex.. tadi pagi kita sudah melakukannya," ucap Megan mengingat percintaan panas mereka di kamar mandi.
"Ayo dong sayang... sekali saja.." pinta Dexter. Megan menggeleng, iya tidak yakin dengan kata-kata itu. Dexter selalu mengatakan sekali tapi nyatanya berkali-kali. Suaminya memang benar-benar maniak.
"Tidak..." jawab Megan. Dexter menghela nafasnya.
"Kalau begitu nanti malam aku akan memintanya lagi dan ku pastikan kamu tidak bisa menolak sayang," ucap Dexter.
"Kalau begitu aku mencicipi yang lain saja," lanjutnya. Ia lalu melepas kancing atas gaun yang Megan pakai dan menjalankan aksinya.
Megan menarik selimut dan menutupi wajah Dexter, "apa yang kamu lakukan sayang.." ucap Dexter.
"Memangnya kamu mau putra kita bangun dan melihat kegiatan aneh mu ini," pungkas Megan.
__ADS_1
"Kamu benar juga," balas Dexter terkekeh. Kalau saja putranya tau, dia pasti marah. Sejak Arthur lahir, anak itu memonopoli mainan favorit Dexter. Bahkan menyentuhnya saja saat Arthur minum ASI, langsung di tepis.