
Setelah mengirim pesan kepada Alvin, Megan merapikan tempat tidurnya.
"Megan.. tidak ada handuk disini, bisakah kamu mengambilkannya untuk ku," ucap Dexter dengan suara yang kuat dari kamar mandi.
Megan baru ingat jika semalam ia sudah menaruh handuknya di tempat kain kotor. Megan tidak menjawabnya. Ia berjalan menuju lemarinya dan mengambil handuk baru.
"Tok..tokk...tok..." Megan mengetuk pintu kamar mandi. Pintu sedikit terbuka. Dexter mengeluarkan satu tangannya untuk meminta handuk dari tangan Megan.
Megan duduk bersandar di sofa menunggu Dexter selesai mandi.
"Aduh.. aku lapar sekali," gumam Megan mengusap perutnya yang berbunyi. Ia melihat jam di dinding. Jam 10 pagi.
"Pantas saja aku kelaparan," batinnya.
Pandangan Megan beralih ketika pintu kamar mandi terbuka. Dexter berjalan santai mendekati Megan dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Bahkan rambut dan wajahnya masih basah. Rambut basah dan acak-acakan itu menambah aura ketampanannya. Sejak tadi Megan hanya memandangi Dexter hingga ia tidak sadar jika Dexter sudah berdiri di depannya. Pria itu menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Megan.
__ADS_1
"Puas memandangiku hmm.." ucap Dexter membuat Megan tersadar.
"Terlalu percaya diri sekali.." balas Megan memalingkan wajahnya. Sial.. ia tertangkap basah memandangi pria itu sejak tadi.
"Itu kenyataan... aku memang tampan. Jadi bersyukurlah kamu bisa dekat dengan orang tampan sepertiku. Banyak wanita di luar sana yang menginginkanku. Mereka bahkan melakukan apapun untuk mendapatkan ku. Beberapa orang terpilih akan menjadi kekasihku. Mungkin saja kamu terpilih dan akan menjadi kekasihku. Atau bahkan menjadi istriku. Apa kamu tidak mau?" ucap Dexter dengan penuh percaya diri duduk di sofa.
"Anda terlalu percaya diri sekali tuan," cibir Megan. Meskipun sebenarnya ia mengakui ketampanan pria itu.
"Apa Alvin belum datang?" tanya Dexter. Megan menggelengkan kepalanya.
"Sabar... mungkin sebentar lagi Alvin akan sampai. Kamu baru saja selesai mandi 5 menit yang lalu. Jarak dari rumahmu ke sini tentu tidak dekat bukan," ucap Megan lalu berdiri. Mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sepuluh menit berlalu Megan belum keluar dari kamar mandi. Dexter sudah memakai baju kaos putih dan celana jeansnya. Ia duduk di sofa sembari menonton dan menunggu Megan selesai mandi. Ia sudah lapar. Bukannya dia tidak bisa memesan makanan hanya saja ia ingin makan masakan wanita itu sekarang.
"Kenapa para wanita lama sekali jika mandi. Memangnya apa saja yang mereka lakukan disana," gerutu Dexter menggonta-ganti Channel TV.
__ADS_1
Dexter mendengar suar bel pintu berbunyi. Dengan malas ia melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya.
"Ada ap____" suaranya terhenti ketika melihat siapa orang yang datang ke apartemen Megan.
"Daddy..." pekik Amber dan Archer sama terkejutnya dengan Dexter.
"Kenapa kalian ada disini?" tanya Dexter menatap kedua anaknya kemudian melihat Dorothy juga ada di belakang mereka. Amber dan Archer masuk begitu saja ke dalam apartemen Megan seakan mereka sudah terbiasa disana.
"Kami yang seharusnya bertanya, kenapa Daddy ada di rumah mommy Megan," ucap Amber berkacak pinggang mulai menginterogasi Dexter yang masih tidak percaya melihat kedatangan kedua anaknya.
"Apa? mommy Megan," gumam Dexter yang masih bisa di dengar oleh Archer.
"Yap.. mommy Megan," ucap Archer berjalan ke arah sofa dan dengan santainya duduk disana.
"Ja... jadi yang mereka maksud mommy Megan selama ini adalah Megan sekretarisnya. Astaga.. apa ini sebuah keberuntungan bagiku ", batin Dexter.
__ADS_1
Kedua anaknya ternyata sudah dekat dengan Megan. Itu artinya ia tidak perlu repot-repot lagi untuk memberi penjelasan kepada kedua anaknya karena sebelumnya ia takut kedua anaknya tidak menyukai Megan apalagi mereka sudah dekat dengan Megan yang ternyata orang yang dikenal Dexter juga.