
Happy Reading🤗🤗🤗
Tak terasa kandungan Lila sudah memasuki bulan ke sembilan, dan selama masa kehamilan sang istri, Tristan selalu dibuat pusing kepala dengan tingkah laku bumil kesayangannya itu, bahkan tak jarang Lila akan menangis histeris jika permintaannya dituruti atau terlupakan namun hal tersebut tak pernah membuatnya mengelus justru Tristan selalu menjadi suami siaga sejak kehamilan sang istri yang pertama maupun yang sekarang.
Pernah suatu saat ketika dirinya hendak berangkat bekerja, Lila merengek ingin ikut bahkan dia sudah memberi pengertian dengan sehalus mungkin sebab akan ada rapat penting namun sepertinya bayi yang dikandung sang istri kali ini akan sangat sulit dibujuk alhasil dirinya terpaksa membawa istrinya itu.
Sesampai disana tentu sang istri akan menjadi pusat perhatian sebab aura bumil terpancar sinarnya bahkan ibunya dan sang mami sudah bisa menebak jika yang dikandung sang istri kali ini berjenis kela min perempuan, senang bahagia tentu itulah yang dirasa bila hal itu terjadi namun dirinya tak ingin terlalu berharap bila nanti yang lahir tak sesuai dengan keinginanya bahkan mereka sengaja tak ingin melihat jenis kela min bayi yang masih berada didalam perut Lila.
Sikembar tiga pun selama ini tak lagi merepotkan sang bunda bahkan sejak mereka mendengar kabar akan memiliki adik mereka sangat antusias sekali dan lebih posesif terhadap sang bunda membuat Tristan terkadang harus lebih banyak stok kesabaran ketika menghadapi anak-anaknya itu.
Lila sedang bersantai diruang tengah sembari menunggu kedatangan para jagoannya yang masih bersekolah sedangkan sang suami tentu sedang bertugas.
Drt...drt...drt...
Ponsel miliknya bergetar membuatnya segera menyambar ponsel yang tak jauh dari duduknya.
Bibirnya melengkung keatas ketika melihat ID yang tertera dilayar ponsel miliknya namun sebelum itu dia berdehem sejenak dan harus merubah aura bahagia menjadi aura seolah ia sedang marah.
"Halo Assalamualaikum." Ucapnya dengan cuek ketika sambungan Video terhubung membuat seseorang yang ada dilayar ponselnya terkekeh kecil.
"Waalaikum salam, kakak ku yang cantik seantero komplek, aciee...cieeee.... ada yang ngambek.'" Kekehnya saat melihat wajah cuek wanita yang sedang bertatapan pada ponselnya.
Mereka memang sangat jarang melakukan panggilan Video maupun telfon biasa sebab keadaan serta kesibukanlah yang membuat mereka kini jarang terlibat komunikasi.
"Masih inget kalo punya kakak disini?" Tanyanya dengan nada judes.
"Hehehe maafkan aku kakakku yang cantik, gimana kabar kakak dan yang lainnya?" Tanya Pria diseberang sana yang tak lain adalah Nino, si duda ting-ting alias masih perjaka hingga sekarang.
"Baik, kapan kamu pulang No, udah lebih 5 tahun bahkan keponakanmu mau hadir lagi?" Tanya Lila dengan memandang sendu adik sekaligus sahabatnya itu yang kini sedang tinggal dikota Paris dalam 4 tahun lalu sebab Nino sudah membuka usahanya disana yang sebelumnya tinggal bersama Ocan diNegara yang dijuluki Negeri Gajah Putih.
Pria yang ada dilayar ponsel itu hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Nanti kak, jika hati Nino sudah siap." Lirihnya dengan tersenyum getir ketika masalalu masih membelenggunya hingga saat ini bahkan bayang-bayang wajah gadis yang pernah mengisi relung hatinya masih terlintas dibenaknya.
"Ohh iya, gimana sibaby apa yang kali ini diinginkan kecebong abang?" Tanya Nino mengalihkan pikirannya sambil menaik turunkan alisnya agar sang kakak tidak menanyakan hal tersebut lebih lanjut lagi.
"Yakkk enak aja bilang kecebong, bibit abangmu ini bibit lele dumbo super yaa." Ocehnya dengan bahasa Vulgar beruntung para jagoan belum ada dirumah.
Nino tertawa lepas disebrang sana dan hal tersebut membuat Lila tersenyum bahagia sampai bisa melihat senyum sang adik yang telah lama hilang.
"Jangan lama-lama disana No, pulang lah... nggak kasihan sama papi dan mami mereka sangat merindukanmu."
"Maafkan Nino kak, tapi Nino belum sanggup, seolah kejadian itu baru terjadi kemarin."
Lila menghela nafas pelan dan mengangguk mengerti dengan perasaan yang sedang Nino alami itu, memang tak mudah jika kita dituntut untuk melupakan seseorang seperti yang pernah dia alami dulu namun nasib baik masih berpihak padanya namun tidak dengan nasib Nino yang harus menyandang status baru namun tak butuh waktu lama status itu berubah hingga kini.
"Nino tutup dulu ya kakak ku sayang, semoga lancar sampai keponakan ku launcing, seperti biasa nanti Nino kirim hadiah buat keponakan-keponakan uncle tampannya ini." Godanya sambil mengedipkan sebelah mata sebelum panggilan video mereka terputus sepihak.
"Kakak nggak butuh hadiah No, yang kakak butuhkan kamu bisa cepat melupakan masalalumu dan kembali kesini secepatnya." Ucapnya lirih diiringi air mata yang menetes namun sayang Nino tak mendengar apa yang kakaknya ucapkan itu.
Lila terkesiap dan buru-buru menghapus air matanya saat indera penciumannya mencium aroma yang sangat dia hapal.
"Siapa?"
Seolah tahu pertanyaan dari pemilik suara itu kemudian Lila memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah tampan pemilik hatinya.
"Nino."
Tristan memandang lurus kedua bola mata sang istri yang memerah dan dia seketika tahu apa yang terjadi barusan.
"Apa bocah bandel itu yang buat bidadari mas menangis, heum?" Tanya Tristan dengan memajukan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.
Usapan lembut dipipinya membuat Lila memejamkan mata menikmati segala kelembutan yang diberikan oleh sang suami, pria yang menjadi cinta pertamanya sekaligus suaminya.
__ADS_1
"Kenapa mas pulang?" Tanyanya pelan mengalihkan pembicaraan.
"Kalo mas nggak pulang, mungkin mas nggak akan tahu jika anak bandel itu yang sudah membuat bidadari mas menangis."
Lila terkekeh pelan dan membuka mata menikmati hembusan nafas hangat sang suami yang beraroma mint menusuk hidungnya dengan posisi sang suami membungkuk merengkuhnya dari belakang sebab dia sedang duduk disofa ruang tengah.
Sambil menunggu ke empat jagoannya pulang dari sekolah yang pasti sudah ada yang menjemput, mereka menikmati waktu luang karena memang setiap jam istirahat Tristan wajib pulang kerumah kebetulan tempatnya bertugas sekarang sudah lebih dekat dari rumah jadi memudahkannya untuk bolak-balik jika waktu sudah menunjukkan pukul tengah hari.
Hari berganti begitu cepat kini ibu hamil itu sedang merintih kesakitan diatas ranjang rumah sakit namun kali ini dia memilih melahirkan secara normal karena memang janin yang dikandung hanya berjumlah satu saja.
Tristan selalu memberikan semangat dan ucapan-ucapan cinta demi menguatkan sang istri yang sedang berjuang untuk kelahiran baby mereka bahkan diluar sana semua anggota sudah berkumpul termasuk ibu dan ayahnya yang memang datang sudah dari dua hari yang lalu demi menyambut anggota baru hanya Nino lah yang tidak nampak diantara kerumunan yang ada dikoridor rumah sakit itu.
Namun nanmpaknya mereka semua memaklumi kenapa Nino belum bisa menginjakkan kakinya ditanah kelahirannya sendiri itu.
Oek...oek...oek...
Suara tangisan bayi terdengar membuat Tristan menangis haru dan langsung memberikan kecupan sebagai ungkapan terima kasih sebab sang istri sudah berjuang melahirkan buah hatinya.
"Selamat pak...bu...debaynya cantik seperti ibunya."
Suara sang bidan mengagetkan keduanya bahkan kini mereka kembali menangis haru sebab keinginan mereka telah terkabulkan.
Tristan menerima bayi mungil itu yang sedang disodorkan oleh sang bidan, dengan penuh hati-hati dirinya menggendong bayi cantik yang nampak menggemaskan membuat matanya seketika berkaca-kaca.
"Selamat datang Baby Aileen Zenata Putri."
...^^^END^^^...
Alhamdulillah beribu ungkapan terima kasih pada para setia pembaca MY SEXY HOT, PAK TENTARA akhirnya othor bisa menamatkan cerita receh ini, maafkan bila tulisan othor masih kurang sempurna sebab othor cuma manusia biasa.
Yang kangen dengan Nino Nugraha siduda ting-ting InsyaAllah othor buatkan cerita sendiri🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
Like.vote.gift🤗🤗