
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Tristan masih menyesap bibir manis sang istri dengan lelehan air mata yang mengalir indah di pipi tirusnya yang kini ditumbuhi bulu-bulu kasar, dirinya tidak perduli dengan sorakan disekitarnya, sungguh hatinya merasa sangat-sangat lega dan bahagia sebab sang istri ternyata dalam keadaan baik-baik saja.
Cup.
Perlahan Tristan melepaskan tautan kedua benda kenyal tersebut lantas kening mereka saling menempel dengan hembusan nafas yang memburu.
Tangan mungil Lila perlahan terangkat untuk mengusap lelehan air mata yang mengalir tanpa seizinnya.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah kembali kepada mas?"...
Bisiknya pelan dengan pandangan tertuju pada sang istri pandangan yang penuh dengan cinta.
"Memangnya Lila mau kemana kalau tidak kembali disisi mas?"...
Tanya Lila sambil menarik kedua sudut bibirnya.
"Jangan pernah ninggalin mas Lila, sungguh mas tidak akan sanggup"...
Tristan menatap sang istri dengan penuh permohonan sedangkan Lila hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan.
Perlahan Tristan merenggangkan pelukannya serta menjauhkan kepala mereka dan membantu sang istri agar berdiri karena tadi mereka masih dalam keadaan terduduk.
Tangan kekar Tristan perlahan terulur untuk menyentuh perut rata sang istri dan perlahan kepalanya menunduk sedangkan Lila masih memperhatikan apa yang akan dilakukan suaminya.
"Terimakasih anak-anak ayah sudah jagain bunda, baik-baik disana dan semoga kita secepatnya bisa berkumpul"...
Lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Cup.
Tubuh Lila seketika menegang dan sesaat dirinya sadar bahwa ternyata kejutannya gagal.
"Terima kasih sayang, terima kasih ternyata mereka sudah ada disini"...
Ucapnya dengan pelan dengan perlahan air matanya kembali menetes.
"Sama-sama Ayah, kejutannya gagal deh"...
Lila seketika menirukan suara layaknya anak kecil untuk menjawab ungkapan sang suami dengan bibir mengerucut gemas.
__ADS_1
Tristan terkekeh lantas mengusap air matanya bahkan dirinya tidak segan untuk mengecup kembali bibir yamg sedang mengerucut itu.
"Kejutannya tidak gagal sayang, mas malah sangat terkejut namun juga bahagia kalian semua sehat-sehat saja, ayok pulang dan kami semua menunggu penjelasan dari mu yang dirumah"...
Ajaknya lembut karena memang mami serta papinya saat ini berada dirumahnya sesaat setelah berita tersebut muncul karena memang jarak rumah mereka hanya memakan waktu 20 menit bahkan Tristan tidak mengijinkan siapapun untuk ikut dengannya sebelum mendapatkan kejelasannya dan ternyata feelingnya benar jika sang istri baik-baik saja apalagi mami yan sempat pingsan tadi dirumah sedangkan Nella menangis oleh sebab itu Tristan melarang papi serta Nino untuk ikut dengannya agar mereka bisa menenangkan para wanita yang berbeda usia tersebut.
Dan sesaat tubuh Lila menegang bahkan kini raut wajahnya bersemu merah saat menyadari bahwa kini mereka berdua menjadi pusat perhatian saat matanya tak sengaja melirik kearea sekitar.
Ingin rasanya dirinya menghilang dari area bandara dan dengan bodohnya dia menikmati apa yang dilakukan oleh sang suami terhadapnya.
Tristan hanya terkekeh geli melihat tingkah sang istri namun dirinya tidak perduli dengan pandangan orang terhadap mereka berdua, toh mereka adalah pasangan halal.
Hap.
Dengan sekali angkat kini tubuh mungil Lila sudah berada didalam gendongan ala bridal style karena dia sangat paham jika sang istri tengah merasa malu bahkan Lila langsung menyembunyikan raut wajahnya yang memerah diantara celah leher sang suami dengan kedua tangan saling bertengger dileher yang kini tercium aroma khas suaminya.
Sesaat kemudian pasangan halal tersebut sudah berada didalam mobil setelah berhasil membelah kerumunan orang-orang didalam tadi.
Bahkan Tristan menyempatkan memberi tanda terima kasih kepada petugas yang telah mengurus mobil yang diparkir olehnya dengan sembarangan.
"Mas, hadiah buat Nella hilang"...
Adu nya saat mereka sudah berada didalam mobil dan Tristan membawa mobil dengan perlahan meninggalkan area bandara.
Dan saat ini Lila sedang bersandar dibahu kekar sang suami sedangkan tangannya melingkar posesif dipinggang Tristan.
Sedangkan sang empu tidak merasa keberatan sama sekali justru dirinya sangat senang bisa kembali merasakan kehangatan serta manjanya sang istri.
Tawarnya.
Lila seketika menganggukkan kepalanya.
"Jadi bagaimana ceritanya kok nama sayang ada di pesawat yang kecelakaan itu?"...
Tanya Tristan dengan rasa penasaran yang tinggi dan selagi mobil mereka kini terjebak macet.
Lila lalu mengingat peristiwa beberapa jam lalu dan menceritakan awal mulanya tanpa terlewatkan sama sekali.
Flashback:
Setelah Lila berpamitan kepada keluarganya dan sudah menenteng barang bawaannya sesaat setelah melewati pintu khusus pagi penumpang dirinya secara tidak sengaja bertabrakan dengan seorang ibu-ibu muda.
Bruk.
Kedua bahu mereka saling berbenturan namun tidak keras sebab mereka masih bisa saling menjaga masing-masing tubuh dan hanya tiket mereka yang terjatuh.
"Aduh...maaf mbak...maaf"...
__ADS_1
Lila segera meminta maaf bahkan dirinya menundukkan sedikit kepalanya.
"Tidak apa-apa mbak, justru saya yang harus meminta maaf karena tidak berhati-hati"...
Ucapnya sambil tersenyum kemudian mengulurkan tangannya.
Lila langsung menyambut dengan hangat uluran tangan tersebut.
"Delina"...
Ucap wanita itu sambil menyebut namanya.
"Delila, wah...nama kita hampir mirip"...
Ucapnya dengan antusias saat nama mereka memang hampir sama.
Wanita yang kerap disapa Lina tersebut menyunggingkan senyum tipi.
"Sepertinya begitu"...
Dan sesaat kemudian mereka langsung tersadar dan segera mengambil tiket masing-masing tanpa dicek dahulu bahwa ternyata mereka salah mengambil tiket.
Sekilas terdengar seruan pengumuman keberangkatan pesawat dan wanita yang dipanggil Lina tersebut memeriksa tiket jam keberangkatannya.
Dan matanya membola saat melihat jam yang tertempel dikertas itu.
"Wahhh...ternyata pesawat saya sudah mau berangkat, maafkan saya Delila semoga kita lain kali bisa berjumpa kembali"...
Ucapnya terburu-buru bahkan Lila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat wanita yang mungkin usianya 2 tahun diatasnya sudah menghilang dibalik pintu untuk menghubungkan ke pesawat mana yang akan berangkat.
Dirinya menaikkan kedua bahu dan langsung mencari tempat duduk namun sebelum itu dirinya melihat jam yang tertera di kertas tersebut yang masih harus menunggu 20 menit lagi.
Lila tersenyum tipis saat melihat barang bawaannya dan diletakkan ditempat kursi disampingnya tanpa tahu bahwa sejak tadi ada bocah kecil yang sedang memperhatikannya apalagi saat melihat paperbag yang dibawa oleh Lila karena memang terlihat isi didalamnya.
"Ma...bolehkah nanti sella memiliki itu"...
Ucap bocah berusia 5 tahun itu kepada mamanya dan menunjuk paper bag yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Boleh, tapi nanti jika mama sudah punya uang, mama akan belikan untuk sella...sekarang sabar ya"...
Ucapnya dengan lembut dan mengelus pelan rambut sang putri bahkan tatapannya tak lama menyendu dan menghela napas pelan lalu melirik sekilas paper bag yang tak jauh darinya dan ternyata didalamnya terlihat isinya yang memang itu adalah kesukaan sang putri.
Sella lantas tersenyum cerah dan kembali menyandarkan badannya sambil menunggu pesawat yang masih satu jam lagi untuk membawa mereka berdua meninggalkan Thailand dengan tujuan yang sama seperti Lila namun menggunakan pesawat yang berbeda.
Tanpa tahu bahwa sebentar lagi Sella akan bisa memegangnya walau tidak bisa memilikinya nanti.
Hay...hay...cuaca mantap untuk tarik selimut...
__ADS_1
Cus, bagaimana didaerah kalian para Readers?"...
Cuaca di tempat othor udah beberapa hari ini hawanya enak dibuat tarik selimut tapi sayang nggak ada yang bisa dipeyuk-peyuk🤣🤣🤣🤣