My Sexy Hot, Pak Tentara

My Sexy Hot, Pak Tentara
Part 80


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Like.


Vote.


Gift.


Sepanjang perjalanan sikap Lila menjadi pendiam setelah mendengar keluh kesah Nino dirinya merasa sangat prihatin namun dirinya juga tidak bisa berbuat banyak namun dia akan berusaha untuk menghibur sahabat sekaligus adik baginya itu.


Tristan menoleh sesaat sembari tetap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka sekarang sudah berada didalam mobil dengan tujuan pulang kerumah.


Nino juga ikut pulang namun dia menggunakan kendaraan roda dua kesayangannya.


Perlahan Tristan mengulurkan tangannya untuk bisa menggenggam tangan sang istri saat mobil berhenti karena lampu merah.


Lila seketika mengalihkan pandangannya saat merasakan tangannya digenggam dengan tangan sang suami yang hangat, lantas dirinya mengukir senyum walau sedikit sulit.


"Masih memikirkan Nino?"...


Tebak Tristan sembari tersenyum lembut dan satu tangannya mengelus lembut pipi sang istri.


"Jangan terlalu banyak berfikir sayang, ingat didalam sini ada ketiga calon buah hati kita"...


Lanjutnya dengan menurunkan tangannya untuk menyentuh perut sang istri yang masih terlihat datar.


"Iya mas, maafin Lila ya"...


Ucapnya sembari mendongakkan kepala untuk menatap wajah sang suami dengan menerbitkan senyumnya.


Cup.


Tristan memberi kecupan singkat tepat dibibir sang istri yang sudah menjadi candu untuknya dan ikut tersenyum.


Dan tak berselang lama bunyi klakson saling bersautan hingga mau tak mau Lila melepaskan pelukannya dan memperbaiki duduknya.


Kini perasaan Lila lebih baik bahkan sepanjang perjalanan mereka saling bercanda namun tetap dalam kondisi aman sebab sang suami sedang mengemudi hingga beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Tristan sudah tiba dihalaman rumah berlantai dua.


Diteras mereka semua sudah berkumpul, bahkan Lila nampak berkaca-kaca dan segera turun apalagi melihat mami yan yang berjalan cepat sembari menangis.


"Mami"...


Ucapnya lirih.


Grep.


Tangis mami Yan seketika pecah, dipeluknya dengan erat sembari mengucap syukur karena putrinya kembali dalam keadaan utuh, sungguh dunianya seakan hilang saat melihat deretan huruf yang tersusun menjadi sebuah nama yaitu nama sang putri dilayar kaca saat mereka sedang menikmati acara pagi tadi.

__ADS_1


Yana melabuhkan kecupan dengan penuh sayang diseluruh muka Lila.


"Terima kasih sayang, terima kasih sudah kembali dengan selamat, jangan pernah ninggalin mami Lila, jangan lagi...mami nggak sanggup sayang"...


Lirihnya dengan air mata yang terus menetes sembari memandangi wajah cantik Lila.


"Mami"...


Lirihnya dengan perasaan haru melingkupinya bahkan air matanya pun tak berhenti menetes, dirinya sungguh beruntung masih ada mami yan yang selalu berada disisinya andai tak ada mami yan mungkin dia akan kekurangan sosok seorang ibu.


"Selamat datang kembali putri papi"...


Ucapan seorang pria paruh baya terdengar diantara mereka hingga pelukannya terlepas dan Lila seketika langsung menubrukkan badannya pada papi Tony yang sudah merentangkan kedua tangannya.


Tangisnya kembali pecah saat papi Tedy mencium pucuk kepalanya dan merasakan kehangatan dekapan seorang ayah, ahh bahagianya dia bisa memiliki sosok seperti mami yana dan papi tedy namun dirinya tetap tidak akan pernah melupakan kedua orang tua kandungnya.


Yana lantas ikut bergabung memeluk mereka berdua saat sang suami membuka sebelah tangannya.


Tristan memalingkan wajahnya bahkan tak terasa air matanya ikut menggenang, dirinya bahagia sang istri banyak yang menyayangi serta mencintai.


"Mami...papi...Ella kok ndak dipeyuk uga"...


Suara cempreng seorang bocah cilik menghentikan acara berpelukan mereka bertiga dan digantikan kekehan kecil sembari menetralkan tangisannya.


"Kakak....holeeee kakak udah uyang"...


Grep.


Nella menubrukkan badan gembulnya dan tak lama tangisnya seketika pecah.


"Angan pelgi agi kakak, ella ndak mau kakak pelgi"...


Ucapnya dengan bahasa cedal.


"Iya kakak nggak akan pergi lagi, tapi maaf pesanan Nella hilang sayang"...


Ucapnya sambil mengelus tubuh belakang Nella.


Nella merenggangkan pelukannya dan menatap sang kakak.


"Ella ndak mau lagi, Ella senang kakak bisa kembali lagi"...


Ucapnya sendu dengan memandang wajah sang kakak.


Lila mengukir senyum tipis dan mengusap air mata yang mengalir dipipi gembul Nella sembari menganggukkan kepalanya pelan.


Tristan dengan pelan berjalan kearah sang istri dan membantu Lila untuk bangun.

__ADS_1


Setelah acara tangisan massal mereka lantas masuk kedalam bahkan mbok dami ikut menangis diteras rumah dan berhenti saat Lila memeluknya dan mengatakan dirinya baik-baik saja.


Karena hari sudah sore para mbok dami dan mami yana menyiapkan menu untuk makan malam bahkan menurut kabar bahwa mertua Lila akan sampai sebentar lagi, mereka juga sangat khawatir pada menantunya itu saat melihat berita di TV namun karena ada suatu hal jadi mereka agak telat datangnya.


Lila merebahkan tubuhnya diranjang yang sudah sebulan lamanya ditinggalkan, dirinya sebenarnya ingin membantu memasak namun mami melarang keras untuk dibantu bahkan Tristan disuruh menjaga sibumil didalam kamar dan baru boleh keluar saat makan malam sudah siap.


Dan tentu Lila hanya bisa pasrah saat mendengar larangan keras dari maminya itu.


"Jangan baring sayang, sudah sore...yuk ikut mas"....


Ucapnya lembut sembari mengulurkan kedua tangannya.


"Kemana mas?"...


Tanya Lila lantas menyambut uluran kedua tangan suaminya dan beranjak bangun dari rebahan.


Tristan hanya menerbitkan senyuman dan membawa sang istri menuju balkon kamar mereka.


Tristan lalu mendudukkan tubuh kekarnya disalah satu kursi yang sudah tersedia lantas menepuk pelan pahanya agar sang istri bisa duduk dipangkuannya.


Lila mengulum senyum namun dirinya segera mendudukkan tubuhnya dipangkuan sang suami.


Setelah mencari tempat ternyaman sepasang tangan kekar melingkar diperutnya dan Lila menyandarkan tubuhnya didada bidang sang suami sedangkan Tristan meletakkan dagunya pada bahu sang istri.


Senyum keduanya terukir apalagi Tristan mengusap dengan lembut perut yang masih datar itu.


"Mas masih nggak percaya kalau kita akan segera menjadi orang tua"...


Lirihnya dan tak menghentikan usapannya.


"Lila juga mas, semua ini masih seperti mimpi bagi Lila, bahkan mengandung anak kembar tiga tidak pernah terlintas didalam angan Lila"...


"Tapi Lila bersyukur bisa dipercaya oleh-Nya untuk mengandung bayi tiga sekaligus, bantu Lila saat mereka lahir ya mas, arahin Lila kalau didikan Lila nantinya salah"...


Lanjutnya dengan suara lirih.


"Kita sama-sama belajar sayang, tentu mas akan membantu saat mereka lahir nantinya, apa perlu kita cari pengasuh?"...


Tanya Tristan karena setelah dipikir-pikir bukan hanya satu bayi yang akan mereka jaga melainkan tiga dan itu akan membuat istrinya kelelahan apalagi dia bertugas nantinya.


Dan tidak mungkin untuk merepoti mami sedangkan mami memiliki tanggung jawab sendiri.


Lila seketika terpaku, ya nantinya memang dia akan sangat membutuhkan bantuan babysister sebab tak mungkin dia akan sanggup untuk mengasuh ketiganya sekaligus.


Tak lama akhirnya Lila menganggukkan kepalanya pelan, mereka kembali bercengkeramah ringan sembari menikmati senja dibalkon kamar sambil menunggu waktu maghrib tiba.


LIKE.VOTE.GIFT😍😍

__ADS_1


__ADS_2