
Happy Reading
Like.
Vote.
Gift.
Lila menghembuskan nafas dengan lesu dan tangan yang masih memegang ponsel perlahan diturunkan.
Dilepasnya ponsel yang baru digenggamnya barusan dan kedua tangannya menyentuh rambut yang panjang hanya dibawah bahunya dan berhenti dileher dengan sedikit memberi tekanan.
Dia bingung apa yang harus dilakukan, lalu bagaimana dengan suaminya jika dirinya pergi kesana, fikirannya sungguh kalut pagi ini dan dirinya harus meminta pendapat pada sang suami dan apapun keputusannya suaminya dia akan menurutinya begitu juga perkataan ogan beberapa saat lalu, jika sang suami tidak memberinya ijin ogan tidak akan memaksa untuknya datang kesana namun resiko sangat besar jika tidak ada salah satu dari mereka terlebih ini memakan waktu bukan seminggu saja bisa jadi lebih dari itu.
Ceklek.
Pintu kamar telah dibuka Tristan mengeryitkan dahinya saat melihat keadaan sang istri yang tengah melamun dan belum membersihkan diri.
Dengan pelan Tristan melangkahkan kakinyavlalu menutup pintu kembali namun tak juga membuat lamunan sang istri buyar.
Cup.
Lila seketika tersentak kaget saat merasakan kecupan didahinya namun kekagerannya sirna saat melihat wajah tampan sang suami yang sudah nampak segar.
"Ada heum, mas masuk dari tadi kok sayang diam aja?"...
Tanya Tristan sambil mendudukkan tubuhnya disisi ranjang sang istri.
Tangannya terulur untuk mengelus pipi sang istri.
Grep.
Lila langsung menerjang tubuh kekar sang suami tak perduli dengan badannya yang masih bau asam, dihirupnya dalam-dalam bau badan suami yang mungkin jika nanti dirinya diijinkan pasti dia akan sangat merindukan wangi maskulin dari suaminya.
"Mas"...
Panggilnya pelan dan tak mengurangi eratnya pelukannya dan tak memperdulikan dengan badan belakangnya yang terekspose bahkan dirinya merasakan usapan lembut suaminya membuat dirinya memejamkan mata sejenak untuk memberanikan diri bertanya tentang kepergiannya ke Negara sang ocan.
Elusan tangannya seketika terhenti saat sang istri memanggil namanya.
"Ada apa heum?"...
Tanyanya dengan melanjutkan elusan dipunggung polos sang istri dan sesekali mengecup pelipis istrinya dengan penuh kasih dan sayang.
"Emm...Jika Lila bertanya sesuatu apakah boleh?"...
Cicitnya pelan.
"Tentu saja boleh, bertanyalah...apa yang akan sayang tanyakan jangan dipendam sendiri yang"...
Jawabnya dengan lembut.
"Tadi ogan nelfon, menyuruh Lila untuk kembali kesana sementara, apa yang harus Lila lakukan mas?"...
Tanyanya dengan pelan.
Tangan Tristan seketika berhenti diudara setelah mendengar ucapan dari mulut manis sang istri, lalu dirinya perlahan merenggangkan pelukan mereka.
__ADS_1
Ditatapnya wajah murung sang istri lalu diletakkannya telapak tangan dipipi Lila dan menghembuskan nafasnya dengan pelan.
"Apakah istrinya mas akan pergi kesana?"...
Tanyanya dengan lembut sambil memandang intens sang istri.
Lila menghirup nafas dalam lalu dikeluarkannya perlahan.
"Sebenarnya Lila nggak pengen pergi tapi perusahaan membutuhkan Lila sebab Ogan dan Ocan agar pergi kebeberapa Negara buat pertemuan penting dan Lila yang diharuskan untuk menggantikan sementara bersama dengan Masya tapi..."...
Ucapannya menggantung dan dirinya menundukkan wajahnya.
"Kok berhenti, emangnya lama disana?"...
Tanya Tristan dengan lembut dan memegang kedua tangan mungil Lila.
Lila menghembuskan nafas pelan lalu mengangkat kembali wajahnya.
"Bilang ogan bisa cepat bisa juga sebentar"...
Cicitnya pelan.
Tristan menghela nafas dengan pelan, sejujurnya dirinya sangat berat untuk mengijinkan sang istri bepergian sendiri tanpa dirinya namun dia juga tidak bisa berbuat banyak karena tuntutan profesinya sedangkan dia juga paham akan posisi sang istri sebab Ocan banyak bercerita mengenai siapa gadis yang akan dinikahinya.
"Jika bertanya tentang pendapat mas, tentu sebagai seorang suami mas berat untuk membiarkan sayang pergi, namun mas juga tidak bisa egois dengan mengekang hidup sayang, maafin mas yang tidak bisa menemani sayang nantinya apa mas mengundurkan diri saja dari Batalyon?"...
Tanyanya dengan pelan.
"JANGANN....please jangan mas, Lila nggak ingin mas mengorbankan cita-cita mas, sebab Lila sangat menyukai mas mengenakan seragam itu"...
Grep.
Tristan menarik tubuh sang istri untuk masuk kedalam dekapannya, tubuh mungil yang mungkin sebentar lagi akan pergi untuk sementara dan dirinya berdoa dalam hati semoga rumah tangga mereka kelak baik-baik saja.
"Jaga diri baik-baik disana yang, minum vitamin, istirahat yang cukup, jangan keluyuran jika tidak penting, jangan lupa selalu luangkan waktu untuk menghubungi mas, jaga mata, jaga hati, mas sangat mencintai mu"...
Lirihnya dengan mengeratkan pelukannya.
"Mas mengijinkan?"...
Tanyanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.
"Mas memberi ijin yang penting sayang pergi untuk kembali, jangan ninggalin mas terlalu lama nanti rindu"...
Bisiknya dengan nada sendu.
Lila semakin mengeratkan pelukannya, dirinya juga merasakan hal yang sama, sedih rasanya jika harus berjauhan namun dirinya juga tidak boleh egois untuk tidak pergi, membuat Ocan bahagia adalah keinginannya juga.
"Terima kasih mas, maafin Lila jika harus meninggalkan mas untuk sementara, doakan saja agar nanti Lila secepatnya bisa kembali"...
"Mas selalu mendoakan yang terbaik untuk sayang, jadi kapan rencananya sayang pergi?"...
Tanya Tristan, dirinya sangat berharap jika sang istri masih lama untuk pergi agar dia bisa menikmati waktu berduaan bahkan selama menikah dirinya belum mengajak sang istri melakukan kencan halal diluar rumah.
"Menurut Ogan lusa Lila berangkat mas"...
Ucapnya pelan.
__ADS_1
Tristan segera merenggangkan pelukan mereka dan memandang dengan serius sang istri.
"Lusa"...
Ucapnya dengan serius.
Lila menganggukkan kepalanya pelan.
"Ohhh ya Tuhan, kenapa cepat sekali bahkan mas belum sama sekali mengajak sayang jalan selama kita nikah, nggak bisa di undur gitu berangkatnya?"...
Tanya Tristan dengan sedikit frustasi.
Lila menggelengkan kepalanya pelan namun diam-diam dirinya mengulum senyum melihat tingkah lucu sang suami.
"Jangan senyum yang, heran deh...senang amat kayaknya jauh dari mas, awas disana macam-macam mas bakal tempat tuh orang yang berani deketi istri mas ini"...
Ketusnya saat matanya tak sengaja melihat senyum tertahan sang istri.
"Nggak ada yang berani deketin Lila mas, baru mau kenalan aja pasti tukang pukul Ocan udah maju duluan"...
Cebiknya sambil memutar bola matanya malas mengingat kejadian beberapa bulan lalu dimana ada seorang pria yang ingin berkenalan dengannya dan Masya namun Ketua Yan sudah berdiri menjulang tinggi dihadapan pria tersebut dengan muka seramnya.
"Tukang pukul"...
Beo Tristan.
"Iya, Ogan bahkan membayar uncle yan untuk melindungi kami berdua"...
Jawabnya dengan jujur.
Gleuk...
Tristan menelan saliva dengan kasar saat mendengar sang istri ternyata mempunyai bodyguard seperti yang diserial-serial dilayar kaca.
"Ohh syukurlah, kalau begitu mas merasa tenang sedikit, disana pasti sayang akan aman karena ada yang mengawasi"...
Ucapnya sedikit lega walaupun awalnya dirinya sangat takut jika sang istri tidak ada yang mengawasi.
"Awas ya kalau sampai mas macam-macam disini selama Lila nggak ada, Lila potong tuh punya mas biar nggak berfungsi lagi"...
Ancamnya dengan nada dibuat seserius mungkin.
Tristan seketika menegang bahkan kedua tangannya langsung berada disela kangannya.
"Nggak yang, nggak berani...mas masih pengen ngerasain surga dunia sama istri mas yang paling cantik secantik bidadari ini"...
Ucapnya dengan tersenyum kaku, bahkan dirinya serasa ngeri walau hanya membayangkan saja.
"Yuk mandi, setelah itu sarapan....terus kita pergi jalan kalau nggak cape"...
Ucapnya mengalihkan pembicaraan dan langaung mengangkat tubuh sang iatri tanpa permisi membuat siempu terpekik kaget.
Dan pada dasarnya setiap rumah tangga pasti akan melewati masa dimana badai akan datang menerpa dan sebisa mungkin kita harus bisa bertahan dalam situasi apapun demi keutuhan rumah tangga.
Like.Vote.Gift.
Have a nice dream semua, mata othor dah nggak sanggup buat bergadang, jadi othor bocan dulu ya... 😘😘😘
__ADS_1