
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Matahari sudah memancarkan sinarnya menerobos melalui celah tirai yang tidak tertutup sempurna hingga mengenai punggung naked seseorang dan mau tidak mau si empu menggeliatkan badannya yang terasa lemas.
Mata tajam itu mengerjap sebentar dan tak lama terbuka sempurna, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik sang istri yang masih mengarungi mimpi.
Senyumnya seketika terbit dan tangannya terulur untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik sang istri.
Dengan keadaan masih naked keduanya bahkan kini Lila mengeratkan pelukannya pada sang suami dan menduselkan wajahnya didada bidang yang membuatnya nyaman saat tidurnya terusik dengan tangan yang mengusap tubuh bagian belakang yang masih polos hanya tertutup selimut tebal ditubuh mereka.
Tristan semakin mengembangkan senyuman saat melihat apa yang dilakukan oleh sang istri, lalu matanya melirik kearah nakas dan ternyata hari sudah siang sebab waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, jika hari ini bukan hari libur tentu dia akan kalang kabut jika sampai kesiangan namun berhubung hari libur dirinya masih bisa bersantai ria diatas tempat tidur bersama wanita yang dicintainya.
Namun Tristan tersadar sebentar bahwasannya selama menikah dirinya seakan lupa untuk berolah raga dipagi hari.
Dihela nafas dengan kasar sembari mengangkat selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
"Lama-lama nih perut yang besar bukannya perut bini gue deh"...
Gumamnya sembari meringis ngeri menatap perut yang masih terlihat datar.
Gleuk.
Tristan menelan saliva dengan kasar saat melihat dua bukit sintal yang begitu menggoda dengan beberapa bekas cinta darinya dan matanya menjurus ke bawah perut rata sang istri dimana dirinya melihat gumpalan menutupi pintu markas milik Lila.
Karena tak sanggup melihat lama-lama dirinya langsung saja menurunkan kembali selimut, dirinya merutuki kebodohannya beberapa saat yang lalu dan tak lama perutnya seketika berbunyi.
Dirinya lantas terkekeh pelan ingatannya memutar pada kejadian sore hingga malam tiba, bahkan keduanya lupa untuk tidak menyantap makan malam sebab hidangan didalam kamar lebih menggiurkan, bahkan semalam dirinya mencetak skor hingga 3 membuat dia bener-bener puas akan kenik matan yang 2 hari lalu tidak dirasakannya.
Dengan pelan dirinya mengangkat kepala sang istri agar bisa menarik tangan yang digunakan untuk bantal Lila.
__ADS_1
Ditatapnya kembali wajah lelah sang istri kemudian dirinya beringsut untuk turun dari ranjang sembari mengenakan boxer berwarna putih yang tergeletak mengenaskan dilantai.
Cup.
Setelah meninggalkan kecupan dikening Lila dengan lembut dan tak lupa memperbaiki selimut agar tidur sang ratu tidak terganggu, kemudian dirinya bergegas untuk memunguti pakaian mereka yang masih berceceran dimana-mana dan setelah pergulatan panas semalam dirinya menyempatkan untuk membilas tubuh lengketnya dan menyeka tubuh sang istri menggunakan air hangat yang langsung terlelap tanpa mau membersihkan diri dulu sebelum tidur.
Tristan lantas menuju kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin, dirinya menghela nafas dengan kasar saat libidonya naik ketika melihat kepunyaan sang istri.
Hampir setengah jam dia berada didalam sana dan keluar menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya dan tak lupa dengan handuk kecil yang digunakan untuk menggosok rambut basahnya, senyumnya terukir kala pandangan matanya menyorot pada sosok yang masih bergelung dibawah selimut.
Marah tentu saja dia tidak marah bahkan senyumnya terus terukir, Tristan langsung menuju tempat penyimpanan baju dan hari ini dia memakai pakaian santai sebab belum ada rencana untuk pergi keluar dan dia akan menuruti kemauan ratunya nanti.
Satu persatu anak tangga dia turuni setelah meninggalkan sang istri yang masih tertidur karena kelelahan melayaninya.
"Ehh...bapak...selamat pagi pak"...
Sapanya saat mata tuanya menatap lelaki gagah yang menuruni anak tangga.
"Pagi mbok, Tio mana?"..
"Tio sedang bermain ditaman samping pak, memberi makan kelincinya...bapak ingin sarapan apa, mbok belum buat sarapan pak"...
Ucapnya dengan jujur sambil menundukkan kepalanya.
Tristan tersenyum tipis sambil mengarahkan pandangannya kearah mbok dami.
"Nggak papa mbok, pagi ini biar saya yang buat sendiri sarapan untuk kami, mbok sudah sarapan?"...
Tanya Tristan sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Sudah pak, masakan yang semalam kami buat sarapan"...
Jawaban jujur dari wanita paruh baya itu sukses membuat langkahnya terhenti.
Tristan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari memutar tubuhnya menghadap wanita paruh baya yang ternyata diam-diam mengulum senyum.
__ADS_1
"Maaf mbok semalam em...em...kami ketiduran"...
Jawabnya dengan cepat dan dirinya meninggalkan mbok dami dengan langkah lebarnya jangan tanyakan lagi seperti apa wajahnya sekarang, sungguh dirinya sangat malu pagi ini dan dibuat salting oleh wanita yang sudah tidak lagi muda.
Sedangkan mbok dami terkekeh pelan saat melihat tingkah majikannya, kepalanya menggeleng kekanan dan kekiri sambil melanjutkan aktifitasnya.
"Dasar pengantin muda"....
Jika dikediaman Tristan sedang adem ayem dengan suasana baru berbeda dengan di Thailand dimana Mario sedang mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh dirinya begitu bingung namun jika tidak segera mengambil keputusan nyawa kakak tercintanya akan menjadi taruhannya namun dirinya juga sungguh tidak tega jika harus memisahkan cucu keponakannya yang saat ini sedang dalam masa indahnya pengantin baru.
Ya...sepulang dari menghadiri acara pernikahan Lila mereka langsung kembali terbang untuk mengurus beberapa pekerjaan yang memang sedang ada masalah namun dua hari kemudian sang kakak tiba-tiba tergeletak tak sadarkan diri didalam ruangan kerjanya bahkan dirinya mendapatkan info dari sekretaris kakaknya yang curiga sudah jam kerja telah usai namun pimpinan tertinggi diperusaan tersebut belum juga keluar dari ruangan.
Bahkan sekretaris itu langsung membuka pintu setelah mengetuk begitu lama dan betapa histerisnya sekretaris yang bernama paula saat mendapati presedir mereka telah tergeletak dilantai tak jauh dari meja kerjanya.
Dan sesaat kemudian Mario sampai bahkan dadanya bergemuruh hingga bergetar saat mengangkat tubuh sang kakak untuk dilarikan kerumah sakit .
Dan bertambah terkejutnya saat mengetahui hasil tes yang menyatakan bahwa sang kakak terkena kanker rahim dan harus segera diangkat namun dirinya begitu frustasi saat Maura mengatakan dia mau dioperasi asalkan tidak di Negara ini bahkan Maura meminta Mario agar merahasiakan tentang penyakitnya dari Lila sebab dia tak ingin Lila bersedih dan yang membuat dia bingung tidak mungkin dia membiarkan Maura berjuang sendiri tanpa dia yang menemani jika ditanya kenapa tidak istrinya jawabannya pasti dia tak akan percaya jika istrinya bisa untuk menjaga kakaknya karena dia juga paham sejak dulu istri dan kakanya tidak pernah akur sama sekali dan satu-satunya jalan adalah dia yang menemani namun Lila yang harus menghendle kembali perusaan walau awalnya Maura tidak setuju namun dia juga tidak bisa berbuat banyak sebab Lila juga calon penerusnya kelak, walau Mario tau jika cucu menantunya pasti akan berat berpisah sementara pada sang istri namun dirinya juga berjanji akan mencari doter terbaik agar Maura bisa secepatnya sembuh dan Lila bisa kembali kepelukan suaminya secepat mungkin.
Bahkan Maura sudah berniat ingin memindahkan kantor utama ke Negara dimana sang cucu dilahirkan walau belum tahu kapan hari itu tiba.
Mario menghela nafas dengan kasar lalu merogoh ponselnya dan mencari kontak yang akan ditelfonnya.
Dipandanginya nomor kontak tersebut dan dia seakan ragu untuk memencet tombol panggil.
"Maafkan Ogan Lila, maafkan Ogan"...
📞"Halo ogan, Lila rindu"...
Suara ceria terdengar disebrang sana saat ponselnya sudah tersambung dan kini berada ditelinganya.
Mario tersenyum getir mungkin tak lama lagi terdengar suara lesu dari sebrang sana.
Semangat...semangat...
Like.vote.gift.
__ADS_1