
Happy Readingπ€π€π€
Like.Vote.Gift
Tristan mengerutkan keningnya saat melihat tempat yang dituju, tempat yang tak asing baginya karena beberapa kali pernah ke tempat ini untuk mengantar serta menjemput seseorang.
"Ngapaen kita ke Hotel?"...
Tanyanya dengan selidik sambil melihat ke arah samping dimana sahabatnya sedang mematikan mesin mobil.
"Ckkk...udah nggak usah pasang wajah begitu, ayo masuk tapi kita harus nunggu dulu soalnya yang bersangkutan masih kerja"...
Ucapnya beralasan sambil memutar bola malas untuk menutupi apa yang sebenarnya sedang disembunyikannya.
"Buru turun"...
Perintahnya sambil membuka seatbelt dan membuka pintu mobil begitupun dengan Tristan walau masih bingung namun dirinya mengikuti apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
Mereka berjalan meninggalkan area parkir dan menuju kearah pintu depan hotel.
Setelahnya Dony membawa Tristan menuju restauran yang ada didalam hotel tersebut dan dony mencari tempat duduk yang kosong untuk mendudukinya.
"Sebenarnya ngapain sih kita kesini?"...
Tanya Tristan dengan tak sabar sebab dirinya mulai curiga terhadap temannya.
"Hehehe...temani gua makan disini, katanya Cessy disini makanannya enak dan dia nyuruh gua ngajak lu sekalian soalnya dia juga bawa temennya"...
Cengirnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali apalagi saat melihat perubahan wajah masam Tristan.
"Suek lu emang"...
Tristan nampak kesal mendengar penuturan Dony sambil melempar tissu yang sudah digulung-gulung menjadi seperti bola kecil lalu dilemparkannya ke arah Dony.
Dony dengan sigap menghindar dari lemparan tissu tersebut.
"Ya...sekali-kali Tris, lagian kita juga belum pernah nyoba makan disini kan?"..
Tanya Dony dan tangannya menjulur untuk mengambil buku menu yang ada tak jauh darinya.
"Katanya nunggu Cessy?"...
Tristan menaikkan sebelah alisnya sambil memperhatikan apa yang sedang Dony lakukan.
Dony menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya dan dia suruh pesanin langsung soalnya mereka sudah berada dijalan menuju kemari"...
__ADS_1
Jelasnya saat tadi tunangannya kirim chat kepadanya.
Tristan mendengus sambil menatap sekeliling restoran dan cukup ramai apalagi waktu sudah berganti menjadi gelap.
Dret...dret...dret...
My Mom is Calling...
"Bentar gua angkat telfon mama dulu"...
Tristan segera bangun dari duduknya dan perlahan meninggalkan meja yang mereka tempati barusan saat Dony menganggukkan kepalanya sambil memegang ponsel miliknya.
Saat sudah berada ditempat yang agak sepi dan melihat kesekililing matanya tiba-tiba menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya.
Degh.
Bayangan tersebut semakin nyata saat sepasang anak manusia telah melewati pintu masuk hotel sambil bergandengan tangan tanpa menghiraukan sekitarnya.
Tristan yang ingin memastikan segalanya berniat mengikuti orang yang dikenalnya terlebih dengan seorang wanita yang beberapa minggu ini kembali kepadanya dan dia belum mempercayai dengan apa yang dilihatnya saat ini, karena sebelumnya juga dia telah melihat keduanya berdekatan namun kali ini seperti ada yang ganjil dengan kedekatan mereka berdua.
Dimasukkannya kembali ponsel miliknya ke dalam kantung celana tanpa menghiraukan panggilan dari orang tuanya karena saat ini fokusnya kepada wanita yang belum lama ini kembali kepadanya.
Dilihatnya kedua orang tersebut sedang memasuki sebuah lift karena tak ingin kehilangan jejak dirinya lantas bergegas untuk mempercepat jalannya dan melihat ke atas dilantai berapa lift akan berhenti.
Dan Tristan segera masuk ke dalam lift yang sebelahnya dan menekan tombol sesuai dengan angka yang telah dilihatnya tadi.
Kedua tangan Tristan mengepal seketika dan bila mengingat kedua orang tersebut seperti sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta namun dirinya masih harus meredam semuanya karena belum mengetahui hal yang sedang terjadi sebenarnya.
Lift berhenti dan pintu lift terbuka secara perlahan, Tristan berjalan dengan perlahan sambil mengeluarkan sedikit kepalanya untuk melihat kearah luar.
Degh.
Mata Tristan membulat sempurna seketika melihat pemandangan tak jauh darinya, disana dirinya bisa melihat wanita yang selalu ditunggunya dan belum lama ini kembali kepadanya sedang melakukan ciuman penuh gair*h dengan seorang pria yang pernah dikenalkannya sebagai managernya tepat didepan sebuah kamar dan tak lama kamar tersebut terbuka membuat kedua manusia berbeda jenis kelamin tersebut masuk kedalamnya.
Kedua tangan Tristan seketika mengepal sempurna dan perlahan Tristan melangkahkan kakinya untuk mendekat kearah kamar yang baru saja tertutup, dipandanginya pintu kamar tersebut dan perlahan diputar knop pintu hotel itu.
Entah keberuntungan berpihak padanya atau takdir sedang mengoloknya saat ini karena saat dirinya memutar knol pintu dan ternyata pintu tersebut tidak terkunci.
Tristan menempelkan telinganya didaun pintu namun hanya suara tak jelas yang dapat ditangkap oleh telinganya.
Dengan perlahan dirinya membuka pintu tersebut dengan sangat pelan dan Tristan melangkahkan kakinya secara perlahan dan terus masuk kedalam kamar tersebut dan seketika suara tersebut semakin jelas terdengar seperti suara desa**n.
Ditutupnya kembali pintu kamar tersebut dengan pelan hingga nyaris suaranya tidak terdengar.
Tristan bersembunyi dibalik dinding dan mencari posisi agar tidak ketahuan oleh sang target sebelum menangkap basah dengan lampu yang temaram memudahkannya untuk tidak ketahuan.
Matanya semakin melebar saat melihat pemandangan didepan sana, dimana keduanya tengah naked dengan posisi sipria dibawah sedangkan sang wanita tengah menunduk dengan posisi seperti sedang bersujud.
__ADS_1
"Ohhh yeah...terus honey...ouuggghhh mulutmu sungguh nakal sekaliiihh"...
Sang pria tengah memejamkan matanya sambil kedua tangan memegang kepala wanita dibawah sana sambil memaju mundurkan kepalanya.
Ploph...
Wanita tersebut menjauhkan kepalanya namun Tristan dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita tersebut.
Rahang Tristan seketika mengeras dengan kedua tangan terkepal semua dan mata memerah menahan amarah.
"Dasar murahan"..
Ucapnya dalam hati dengan mata memancarkan kecewaan dan terluka.
Tristan tak menyangka jika pilihannya adalah salah dan seketika ucapan dari mamanya teringang ditelinganya.
"Maafin Tristan mah"...
Lirihnya dalam hati dan membalikkan tubuhnya karena tak ingin melihat pemandangan yang begitu menjijikkan didepan sana.
Dimana keduanya sudah menyatu sempurna dan saling berlomba untuk berpacu mengeluarkan keringat agar bisa meraih puncak tertinggi.
Karena tak tahan mendengarnya Tristan menguatkan hatinya yang saat ini benar-benar rapuh dan terluka.
Cintanya selama ini ternyata hanya dijadikan mainan semata dan lebih parahnya lagi Tristan menutup pintu hatinya agar cintanya bisa kembali namun apa yang diharapkan ternyata tak sesuai dengan keinginannya.
Prok...prok...prok...
Sebuah tepukan tangan sebanyak 3 kali seketika membuat kedua orang tersebut langsung menegang sempurna.
Aera seketika menengok kebelakang dan saat matanya menangkap sesosok yang diyakini adalah seorang pria sedang berdiri dikegelapan namun sayangnya Aera tak bisa melihat wajah tersebut karena dalam keadaan gelap apalagi tempat dimana orang itu berdiri.
Tristan hanya menyunggingkan senyum tipisnya namun terkesan senyuman menjijikkan diberikan kepada dua orang yang sedang menempel satu sama lain diatas sofa berwarna cerah tersebut namun kedua manusia itu tidak dapat melihat senyuman itu.
Klik.
Ruangan menjadi terang benderang saat Tristan menekan saklar lampu dan tubuh Aera seketika semakin menegang sempurna dengan wajah pucat pasi apalagi posisi mereka saat ini yang masih menempel bagian bawah sana.
Aera dapat melihat dengan jelas senyum yang diberikan Tristan padanya.
Glek.
Haloha selamat malam semua.πππ
Jangan marah kalau belum bisa crazy up dikarenakan mom masih sangat sibuk dan ini menyempatkan waktu hanya untuk para pembaca yang sedang menanti kelanjutannya.
π€£π€£π€£
__ADS_1
Like.vote.gift
Salam ciumπππ