My Sexy Hot, Pak Tentara

My Sexy Hot, Pak Tentara
Part 17


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Sedari pagi buta Lila tengah berkutat dengan aneka perlengkapan dapur dan teman-temannya, biasanya dihari minggu Lila akan bangun telat alias mbangkong namun tidak dengan minggu ini, beberapajenis makanan sudah tersedia diatas meja dengan porsi yang sedikit banyak bahkan saat ini Lila sedang berada didepan oven yang sebentar lagi akan berbunyi.


Ting.


Dengan wajah sumringah Lila segera membuka oven tersebut dan mengeluarkan isinya.


"Acchhhh...panas...panas..."...


Teriaknya kecil saat tangannya terkena loyang panas karena saking senangnya kue buatannya berhasil.


Dilihatnya tangan kiri yang memerah sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih dan bersih.


Huf...huf...huf...


Ditiupnya lengan yang terkena loyang panas tersebut dirinya lantas pergi ke laci dimana biasanya tersimpan perlengkapan obat.


"Cari apa sayang?"...


Suara bibi mengagetkan dirinya.


"Ya ampun..."...


Jengkitnya dan langsung membalikkan tubuhnya seperti seseorang yang terciduk sambil memegang dadanya.


"Cari apa?"...


Tanya bibi kembali saat lila belum menjawab pertanyaannya.


"Cari saleb luka bik, tapi kok nggak ada"...


Jawabnya sambil kembali melanjutkan menggeledah isi laci.


"Bibi belum beli sayang, kan sudah habis salebnya dari minggu lalu"...


Jelasnya.


"Emangnya kenapa nyariin saleb luka, kamu terluka?"...


Tanya bibi seketika saat sadar keponakannya menanyakan saleb luka.


Lila membalikkan tubuhnya kembali lantas nyengir dan akan mempersiapkan telinganya sambil memperlihatkan kulit yang nampak memerah sekali.


"Ya ampun lila, kamu habis ngapain? kenapa bisa seperti ini? biasanya juga kamu belum bangun jam segini, terus ini kenapa? aduh...mana salebnya habis lagi, ini bisa ninggalin bekas kalau nggak segera diobati... Ayo kita kekamar mandi, pake pasta gigi"...


Teriaknya panik saat melihat lengan lila yang merah padam dan segera menarik tubuh lila untuk segera masuk kekamar mandi dan akan dioleskan dengan pasta gigi agar tidak panas namun sebelumnya bibi yan menyitan dengan air dingin terlebih dahulu.


Lila yang melihat bibi tercintanya menarik tubuhnya hanya mampu pasrah, ya...bibi akan panik saat dirinya terluka, apalagi hingga masuk rumah sakit, bibinya akan menangis tersedu-sedu dan mengungkapkan kata maaf berkali-kali karena membuatnya masuk rumah sakit padahal dirinya masuk rumah sakit atau terluka bukan kesalahan bibinya.


Namun dirinya sungguh bahagia memiliki bibi yang begitu menyayanginya dengan tulus sejak masih kecil.


Setelah kehebohan terjadi dipagi hari itu karena luka dilengan lila, bibi yan kembali heboh saat melihat beberapa jenis makanan dengan jumlah yang tidak seperti biasanya dan beberapa cup cake yang dalamnya brownis namun masih dalam polos alias belum dihias.


Sedangkan sang empu hanya meringis melihatnya sambil menggarukkan kepalanya yang tak gatal itu dan memberi jawaban yang membuat sang bibi mengkerutkan keningnya.


"Ini buat om sebelah bik"...

__ADS_1


Jelasnya dengan kikuk.


Bibi lantas menganggukkan kepalanya tanpa bertanya lebih jauh lagi, dirinya bukan tak perduli namun lebih percaya apa yang keponakannya lakukan selama ini, sebab lila tak pernah membuatnya kecewa namun jika terasa jantungan sangat sering sebab lila daya tahan tubuhnya lemah seperti mendiang kakaknya.


"Lain kali hati-hati lila, bibi bisa mati duluan kalau kamu seperti ini terus"...


Keluhnya sambil menatap wajah gadis yang sudah remaja tersebut.


Grep.


"Maafin lila bik, lain kali lila akan hati-hati"...


Ucapnya sambil memeluk tubuh wanita yang sebulan lagi akan melepas masa kesendiriannya.


Bibi menganggukkan kepalanya.


"Yasudah bibi mau mandi dulu, hari ini bibi ada sedikit lembur, mungkin siang nanti sudah pulang, jangan kemana-mana"...


Titahnya.


"Nanti Nino bibi suruh kemari temani kamu"...


Ucapnya sambil mengelus pipi lila yang terkena tepung.


Lila langsung cemberut saat mendengar ucapan bibinya.


"Bik..."..


Rengeknya.


Ucapnya sambil mengurai pelukan lila dan segera melakukan aktifitasnya.


"Ckkk...padahal mau puas-puasin ngeliat om tantan, mumpung ini hari minggu pasti om tantan dirumah terus"...


Ucapnya pelan namun sedikit cemberut mengingat nino akan datang menemaninya.


Lila lantas melanjutkan aktifitasnya yaitu menghias cup cake buatannya dengan cantik.


Beberapa menit kemudian lila menata makanan dan cup cake untuk dibawa ke rumah sebelah.


Dengan senyum lebarnya lila melangkahkan kakinya sambil membawa rantang serta box kue tersebut ke rumah Tristan, sesekali lila bersenandung senang.


Saat sudah berada didepan rumah Tristan, dapat dilihat mobil milik pujaan hatinya masih terparkir cantik digarasi tersebut.


Lila membuka pintu pagar yang tak terkunci lantas dirinya melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam kembali.


Tok...tok..tok...


"Omm"...


Teriaknya.


"Yuhuuu...lila datang bertamu"...


Teriaknya kembali.


Sedangkan pemilik rumah lantas berdecak saat mendengar suara ribut-ribut diluar lebih tepatnya didepan rumahnya.

__ADS_1


Tristan lantas menghentikan olah raganya dan segera meminun air yang sudah di sediakannya sendiri lantas mengambil handuk kecil untuk mengusap peluh yang membanjiri wajahnya.


Setelah itu, Tristan melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang bertamu dirumahnya sepagi ini bahkan dengan cara yang kurang sopan.


Ceklek.


Pintu rumah segera dibuka namun betapa kagetnya dia melihat sosok gadis kecil yang berada disamping rumahnya sedang membawa sebuah rantang dan sebuah box, dengan penampilan rambut yang acak-acakan serta wajah dan rambut ada tepungnya jangan lupakan piyama bermotif beruang celana pendek melekat ditubuh mungil gadis kecil tersebut.


Ingin rasanya tristan tertawa namun itu bukan dirinya jika harus tertawa dihadapan orang yang tak ada dihatinya.


"Ekhem"...


Tristan berdehem untuk menetralkan tawanya lantas tetap memasang wajah datarnya.


"Ada apa?"...


Tanya tristan dengan singkat.


Lila semakin terpesona oleh seorang Tentara dihadapannya ini, walau tak memakai seragam dinasnya namun dirinya merasa senang pagi ini mendapat pemandangan yang menyejukkan mata, apalagi tristan memakai hodie tanpa lengan dan memperlihatkan tangan kekarnya dengat otot-otot besarnya.


Ahhh bolehkah dia bermimpi untuk masuk kedalam dekapan pria tersebut.



Lila mencebikkan bibirnya saat mendengar suara datar pria dihadapannya ini ingin rasanya lila mencekik lehernya, namun sayang lila tak punya nyali jika menyakiti orang yang dicintainya.


"Issshhh om, nggak bisa apa ngomong yang manisan dikit gitu, atau paling nggak biarin lila masuk masak iya lila dibiarin diluar gini"...


Keluhnya saat lamunannya dibuyarkan oleh sang pemilik tubuh tersebut.


"Saya sibuk"...


Ucapnya kembali.


"Ckkk...yasudah nih"...


Decaknya sambil mengulurkan rantang serta box kue yang dibawanya kearah Tristan.


Tristan menaikkan sebelah alisnya sedangkan lila semakin kesal namun kali ini ditutupi oleh senyuman manisnya.


"Ini buat om, lila jamin nggak ada racunnya dan rasanya pun enak, dimakan ya om itu hasil tangan lila sendiri"...


Jelasnya sambil tersenyum manis dan semakin lebar senyumnya saat tristan mau menerima pemberiannya.


"Ya sudah lila pergi dulu"...


"Selamat makan om"...


Ucapnya sambil memundurkan langkahnya agar dapat melihat wajah tampan tristan namun tanpa ekspresi itu yang masih berdiri diambang pintu.


Lelaki yang membuatnya selalu memikirkan tentang seorang pria, lelaki yang mampu mengusik hatinya, entahlah dirinya juga bingung akan hatinya yang malah berlabuh ke sosok pria dewasa dan seorang Abdi Negara bahkan tidak ada dalam kamus cita-citanya bisa memiliki seorang tambatan hati berprofesi Kapten Tentara tersebut.


Akankah dirinya sanggup menggapai hati lelaki tersebut, entah sampai kapan dirinya selalu mengejar sosok dingin yang menjadi tetangganya ini.


Bahkan ketika didekati sosok tersebut hanya menampilkan raut datar dan dingin membuatnya terkadang ingin menyerah akan cintanya, yang kata orang cinta monyet sebab usia lila baru menginjak 17 tahun.


LIKE.VOTE.HADIAH DONG READERS...

__ADS_1


__ADS_2