
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Suasana malam yang biasanya ramai diiringi canda tawa disebuah meja makan mendadak menjadi sunyi hanya suara denting sendok dan garpu yang saling bersahutan memecah keheningan malam.
Tristan menoleh kearah sang istri yang duduk berada disebelah kanannya yang kebetulan sedang menoleh kearahnya hingga tatapan mereka saling bertemu seolah mengode lewat sorot mata, lalu netranya menggulir untuk menatap ketiga jagoannya yang sedang makan dalam diam tanpa bersuara sama sekali membuat para orang tua hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan dengan perasaan bersalah.
"Emm...Ay.."
"Ayah...kalau makan jangan belsuala."
Tristan seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat ucapannya dicela oleh salah satu putra bungsunya itu.
Kemudian lelaki yang mengenakan pakaian santai tersebut melanjutkan makan malamnya yang tertunda bahkan kini dirinya seakan sulit untuk menelan makanan sebab dirinya dapat melihat aksi ngambek para jagoannya terutama putra kedua dan sibungsu.
Tak butuh waktu lama kini mereka telah menyelesaikan makan malam dalam diam, para bocah sudah lebih dulu meninggalkan meja makan dan berjalan menuju keruang keluarga meninggalkan kedua orang tua mereka dengan ucapan yang terkesan merajuk.
"Yang." Rengeknya kepada sang istri ketika dirinyalah yang menyebabkan para jagoannya ngambek.
Lila hanya mampu mengulum senyum sembari berpura-pura tak melihat kearah sang suami, tak lama dirinya bangun dari kursi dan segera membawa piring-piring kotor bekas ketiga jagoannya, untuk malam hari Lila memang melarang mereka untuk membersihkan piring sisa makanan.
Tristan mendengus kesal saat melihat sang istri tak memberinya solusi sama sekali dan sekarang dirinya harus mencari ide agar para jagoan mereka menghentikan aksi merajuknya.
Tak lama bibirnya melengkung sempurna ketika sebuah ide terlintas dibenaknya.
Tangannya merogoh benda pipih yang disimpan disaku celana chinos pendeknya dan tak butuh waktu lama dirinya kembali menyimpan ponsel miliknya dan segera beranjak meninggalkan meja makan.
Saat hendak mendekat kearah ruang keluarga suasana masih sunyi dan hanya suara dari televisi yang memecah kesunyian, netranya bergulir melihat para jagoannya sedang menghadap kearah televisi dna hal tersebut membuat Tristan menghela nafas pelan sebab biasanya suasana tidak seperti ini.
"Boleh ayah duduk." Ijin Tristan dengan pelan ketika sudah berdiir didekat mereka bertiga.
Aarash menoleh dan tersenyum tipis kearah sang ayah dan tentu Tristan membalas senyum putra sulungnya itu.
Lalu Netra Aarash melirik kearah samping dimana kedua adiknya yang masih mode ngambek bahkan tak menjawab ucapan ayah mereka.
"Duduklah ayah." Ujar Aarash.
Tristan kemudian mendudukkan tubuh kekarnya bukan diatas sofa melainkan dilantai yang beralaskan karpet bulu kiriman dari Ocan dan berhadapan langsung dengan ketiga buah hatinya.
__ADS_1
"Maafkan Ayah Abang, Kakak dan Adek, apa kalian tidak mau memaafkan ayah." Pintanya dengan memasang mode melas sembari menatap ketiga putranya dari bawah.
"Ayah tak perlu minta maaf, abang tahu jika ayah sedang cape dan perlu istirahat, Abri, Arion, jika kalian tidak mau minta maaf kepada ayah lebih baik kalian masuk pesantren seperti kata bunda." Ancamnya.
Sebagai seorang abang tentu Aarash harus membimbing kedua adiknya agar tidak bersikap demikian.
Degh.
Abrisam dan Arion seketika saling pandang lalu secara bersamaan menoleh kearah sang abang yang sedang menatapnya tajam membuat mereka berdua menelan saliva dengan susah payah lalu mereka melihat kode yang diberikan abang mereka dan keduanya langsung menurutinya tanpa pikir panjang karena pada dasarnya mereka tak akan mau jika dimasukkan kepesantren.
"Maafin kami ayah." Ucapnya secara bersamaan dan segera turun dari sofa lalu menubruk tubuh kekar sang ayah, lelaki yang dirindukannya hampir dua minggu ini.
Tristan tersenyum lebar dan membalas pelukan kedua putranya lalu mengecup pelipis pada Abri dan Arion lalu Tristan menoleh untuk melihat putra sulungnya dan melepas satu tangannya lalu mengulurkan kepada Aarash agar masuk kedalam pelukannya.
Aarash tentu dengan senang hati masuk kedalam dekapan sang ayah dan langsung diberi hadiah juga berupa kecu pan dipelipisnya.
"Wahhh...pada pelukan bunda nggak diajak nih?" Lila berucap memecah suasana kangen para lelaki sembari membawa sebuah nampan yang sudah berisi kesukaan keempat prianya itu.
"Nggak muat bunda dan ini hanya untuk para lelaki." Celetuk Abri saat mendongakkan kepalanya dan menatap kearah sang bunda yang masih berdiri.
Lila mencebikkan bibirnya dan berjalan ke arah sofa agar bisa duduk.
Tristan terkekeh mendengar celetukan putra keduanya itu.
"Ion nggak mau bunda." Pekik salah satu jagoannya dan langsung melepaskan dekapan sang ayah dan segera berpaling untuk memeluk bunda kesayangannya agar membatalkan niatnya untuk memiliki teman perempuan.
Bruk.
"Bunda, ion nggak mau bunda punya temen pelempuan, sama ion aja." Rengeknya dengan wajah memelas.
"Jadi Arion nggak mau adik perempuan, heum?" Tanya Lila sembari mendekap sang putra bungsu dan tatapan mereka beradu.
Arion segera menggelengkan kepalanya cepat.
"Ion nggak mau, nanti bunda nggak sayang sama ion." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Lila mengerutkan dahinya lalu perlahan menoleh kearah sang suami yang dijawab gelengan kepala tanda tak mengerti.
"Kata siapa jika Arion punya adik, bunda nggak sayang sama kalian, heum." Ucapnya dengan lembut sembari mengusap pipi gembul putra bungsunya itu.
"Kata Ala begitu bunda, dia selalu dimalahin mamahnya selama ada adik kecil." Adunya dengan wajah polosnya.
Lila menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Dengar Arion, walau nanti kalian memiliki adik bayi, kasih sayang bunda dan ayah tidak akan berkurang, bukankah sesama saudara harus saling apa?" Tanyanya.
"Halus saling menyayangi bunda." Jawabnya dengan pelan.
"Nah itu tahu, jadi jika suatu saat kalian memiliki adik lagi kalian harus bisa menyayanginya juga, heum."
Arion lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Jadi ayah dan bunda tetap sayang sama ion?" Tanya untuk memastikan.
"Tentu, kasih sayang bunda dan ayah tetap untuk kalian para jagoan kami."
Bukan pertama kali Lila harus memberi pengertian kepada ketiga putranya apalagi sibungsu yang seolah tidak menginginkan adanya anggota baru walau mereka berdua belum terfikirkan untuk menambah momongan namun apa salahnya jika sejak sekarang para jagoannya diberi pengertian secara perlahan sebab ketika pulang dari sekolah sibungsu pasti akan menodong untuk tidak mempunyai adik baru karena takut tidak disayang lagi.
Akhirnya setelah melewati perdebatan kecil keluarga kecil tersebut melanjutkan acara malam mereka dengan penuh canda tawa kembali seakan meluapkan rasa rindu yang terpendam hampir dua minggu tersebut.
"Sudah tidur mereka?" Tanya Tristan dari atas tempat tidur saat melihat sang istri masuk kedalam kamar mereka.
"Heum." Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya pelan dan langkah kakinya menuju kamar mandi untuk bersiap-siap menuju tempat ternyaman.
Tidak butuh waktu lama kini Lila sudah bergabung dengan sang suami yang sudah menunggunya diatas tempat tidur dimana tempat mereka meluapkan segalanya.
"Ayo kita istirahat, besok kita kepuncak." Ucap Tristan sembari memeluk tubuh sang istri.
"Kok nggak bilang." Lila mendongakkan wajahnya untuk menatap sang suami.
"Biar jadi kejutan untuk mereka, mas dapat cuti 3 hari." Ucapnya dengan mencubit lembut hidung snag istri.
Lila tersenyum lebar dan langsung mengeratkan pelukannya.
"Yang." Ucapnya dengan suara seraknya sebab kaki sang iatri tak sengaja mengenai area sensitifnya.
Lila mendengus sebal ketika dia mwndengar suara sang suami yang seperti ingin berperang.
Pugh.
"Jangan mulai deh mas, nggak cukup apa udah dua ronde sore tadi, lama-lama pinggangku encok." Omelnya dengan kesal sembari memukul dada sang suami.
"Ya habis, kaki sayang nakal banget." Gerutunya.
"Udah tidur, nggak ada perang malam ini, kalau masih nekat seminggu libur." Ancamnya.
"Iya-iya." Ucapnya dengan lemah dan langsung mengeratkan pelukannya untuk menghirup aroma sang istri yang begitu memabukkan sembari menetralkan has ratnya agar tidak mengajak perang sebab dia tak ingin libur seminggu pasalnya sudah hampir dua minggu dia libur jika ditambah seminggu lagi pasti kepalanya menjadi pusing.
__ADS_1
Like.vote.gift🤗🤗🤗