
Happy Readingπ€π€π€
Like.
Vote.
Gift.
Tristan menggandeng mesra tangan mungil sang pujaan hati, sungguh...hari ini adalah hari yang tidak pernah dilupakannya seumur hidup, dimana dirinya bisa menyematkan cincin yang memang sudah disiapkan setahun yang lalu dan mungkin memang keberuntungan serta jodohnya ada pada gadis yang sering dipanggilnya bocil dulu dan sempat menjadi tetangga sebab ketika tadi dia kenakan dijari manis sang pujaan hati sungguh pas dan sangat cantik secantik wajah bidadarinya malam ini yang berbalut gaun berwarna cream yang entah siapa yang membelikan gaun tersebut namun gaun itu sungguh sangat seksi karena belahan dada gadisnya sedikit terlihat namun pada saat ingin protes dirinya tak bisa sebab waktu sudah sangat mepet dan belum tentu ada gaun pengganti yang lainnya.
Tristan menghentikan langkah kakinya dan tentu Lila juga seketika berhenti dan mengarahkan wajahnya kesamping dengan mengerutkan dahinya sambil memegangi jas yang memang dipakaikan untuknya sebab gaun yang digunakannya terbuka.
Tristan melangkahkan kakinya dan kini mereka berdua saling berhadapan dengan suara deru ombak dibawah sana serta angin laut yang berhembus membuat hawa dingin masuk kedalam pori-pori kulit, karena saat ini mereka berada di atas laut karena Tristan memang menyewa salah satu villa dipinggir pantai namun karena sedang full jadi dirinya hanya bisa mendapatkan villa yang berada diatas tebing dan jika ingin kepantai membutuhkan waktu sedikit lebih lama sebab jalanannya memutar.
Diangkatnya sebelah tangan nya dan mengusap wajah cantik calon istrinya ini menggunakan ibu jari membuat Lila seketika memejamkan matanya sambil menikmati elusan tangan diwajahnya, gadis yang pernah diperlakukan tidak semestinya kini bisa menerimanya kembali dan itu sungguh membuat Tristan sangat bahagia.
Lila perlahan membuka matanya ditatapnya pria yang saat ini sedang tersenyum lembut kearahnya hingga membuatnya pun ikut tersenyum.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau menerima lamaran mas, maafkan mas, maaf..."...
Ucapannya terpotong saat telunjuk mungil itu menempel syantik dibibir yang akan mengeluarkan kata-kata selanjutnya.
"Jangan minta maaf terus mas, karena memang mas nggak bersalah sama sekali, terima kasih atas kejutan yang sungguh indah ini, Lila tidak pernah membayangkan sama sekali bisa berdiri dihadapan orang yang Lila cintai, jujur... selama Lila berada disana (Thailand), Lila sama sekali tidak bisa menghapus cinta serta rindu Lila, yang ada semakin Lila ingin melupakan nama mas semakin kuat rasanya nama itu terpatri dihati Lila, Lila sangat mencintaimu mas, jangan pernah kecewakan Lila, jangan pernah hancurkan kepercayaan Lila karena jika sampai itu terjadi mungkin cinta Lila akan menghilang"...
Lirihnya sambil memandang sendu lelaki yang saat ini hanya berbalut kemeja berwarna krim sama seperti warna gaunnya.
Grep.
Dipeluknya tubuh gadis yang baru saja mengungkapkan isi hatinya dan dirinya tidak bisa berjanji namun yang jelas cintanya memang hanya untuk calon istrinya ini dan sebisa mungkin dia akan membahagiakan gadisnya apapun akan dia lakukan demi membuat gadisnya bahagia.
"Tidak akan sayang, mas memang tidak bisa berjanji namun mas akan menjaga kepercayaan sayang, mas juga sangat mencintaimu Dalila sangat, namun mas pinta...jika suatu saat mas berbuat salah atau apapun itu, tolong percaya sama mas dan tanyakan apa yang salah pada diri mas jika suatu saat kita terlibat kesalah pahaman, jangan pernah diam ketika ada masalah sebab mas bukan seorang cenayang yang bisa menebak pikiran sayang, dalam sebuah hubungan kepercayaan dan saling terbuka itu sangat penting, jadi mas mohon jangan pernah meninggalkan mas lagi, cukup 5 tahun sayang mas menderita, I Love U Dalila ku"...
Lirihnya sambil mengecup dengan mesra kening calon istrinya.
"I Love U too mas tan-tan"...
Balasnya sambil mendongakkan kepalanya dan tersenyum manis kepada pria yang saat ini juga sedang menundukkan kepalanya dan membalas senyumnya.
__ADS_1
Cup.
Sebuah kecupan mendarat kembali dikeningnya hingga membuatnya kembali menutup mata.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Tristan mengecup kedua mata Lila, pipi kanan dan kiri Lila, hidung mancungnya serta yang terakhir dilabuhkannya kebibir yang belum lama ini dirasanya.
Cup.
Tristan melabuhkan kembali kecupannya dibibir Lila namun kali ini tidak dilepaskannya, perlahan namun pasti Tristan menggerakkan bibirnya, ******* serta mengecap secara bergantian bibir atas Lila dan bawahnya begitu pula dengan Lila yang kini sudah membalas ciuman calon suaminya.
Mereka berdua saling menyalurkan kerinduan, perasaan, kasih sayang dan cinta sehingga ciuman mereka bukan ciuman yang penuh hasr*t.
Dilepaskannya ciuman mereka saat menyadari jika Lila akan kehabisan nafas, di jauhkan wajahnya untuk melihat wajah gadisnya ini, perlahan diangkatnya tangan kirinya dan diusap dengan perlahan sisa saliva mereka berdua.
"Rasanya mas sudah tak sabar nunggu 2 minggu lagi"...
Gerutunya saat pandangan matanya tak sengaja menatap belahan gunung fuji yang sungguh menggiurkan namun sepertinya sang empu tidak menyadarinya.
"Sabar mas"...
Ucapnya menggoda sambil mengerlingkan sebelah matanya membuat Tristan melotot akan tingkah gadisnya.
"Sudah berani menggoda mas, heum..."...
Bisiknya sambil merapatkan kembali badan mereka.
Lila seketika menggelengkan kepalanya cepat sambil menampilkan senyum paksanya.
__ADS_1
"Sudah terlambat sayang"...
Sambungnya kembali dan langsung saja Tristan ******* kembali bibir Lila dan mereka berdua kembali menikmati kebersamaan malam ini dan disaksikan dengan sang rembulan yang masih setia memancarkan sinar indahnya.
Sedangkan di dalam villa kini terjadi kehebohan apalagi jika bukan karena menghilangkan dua bocah cilik yang memang tingkahnya membuat mereka semua kewalahan apalagi malam ini, entah sembunyi dimana namun kedua bocah cilik perempuan itu belum ditemukan.
Ya...Nella adik Nino masih setia dalam persembunyiannya sedangkan yang satu lagi adalah Bella anak gadis Dony dan Cessy karena kebetulan mereka menyempatkan untuk hadir diacara penting sahabatnya itu.
Kedua tersangka saat ini masih setia berada dibawah kolong meja dengan sepiring kue yang memang favorit mereka berdua, tanpa tau bahwa diluar sana banyak yang mencari keberadaan bocah nactkal itu.
"Aduhhh...sembunyi dimana lagi siboboho nih ya, nggak tau apa kakak juga pengen berduaan sama mbeb kakak, lah ini malah sibuk nyariin situkang ngilang"...
Gerutunya sambil mencari tempat yang kira-kira bisa menampung kedua bocah tersebut.
Karena menurut penuturan penjaga villa tidak ada satu orang pun yang keluar karena pintu pagar sengaja dikunci.
"Awas yaaa kalau ketemu, kakak gadein nanti dipasar"...
Omelnya sambil membuka taplak meja yang memang belum disentuhnya.
Srek.
Matanya seketika melotot sempurna saat melihat penampakan dibawah meja tersebut saat dirinya menyibak kain berwarna putih itu.
"OMG...MAMI...PAPI...BOBOHO ADA DISINI"...
Halo readers tercinta, mom ucapkan terimakasih banyak karena sudah mau mengkritik novel mom dan buat kalian yang sudah sangat jeli memperhatikan novel mom, mom sungguh-sungguh berterimakasih.
Mom persembahkan tambahan part untuk malam ini.
Jangan Lupa.
Like.
Vote.
Gift.
__ADS_1
πππ