My Sexy Hot, Pak Tentara

My Sexy Hot, Pak Tentara
Part 41


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Like.vote.gift


Follow me😚😚


Seorang pemuda sedang menatap sendu pada rumah yang sudah menjadi milik orang lain, rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama sang sahabat, gadis yang saat ini sudah berada di LN.


"Huft...gua kangen sama lu maemunah, nggak ada sudah yang morotin ATM gua, minta dibelanjain ini itu, ckkk ngapaen juga lu minggat sampe ke LN segala sih"...


Keluhnya dengan suara pelan lantas melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sederhana yang dulunya dia sering main atau sekedar menghabiskan waktu dirumah itu bersama sahabatnya dan alasannya dijual karena itu juga sudah disetujui oleh sahabatnya karena sekarang mami yan sudah tinggal bersama dengannya dirumah yang agak jauh jaraknya dari rumah ini.


Beberapa langkah kemudian kakinya sudah berdiri didepan sebuah rumah berlantaikan 2, rumah yang sering didatangi sahabatnya itu sebelum memutuskan untuk pindah ke LN, rumah yang terlihat sepi sebab mobil yang biasa terparkir belum ada ditempatnya menandakan bahwa sang empu belum kembali dari Dinasnya.


Perlahan langkah kakinya memasuki halaman yang sedikit luas tersebut hingga berhenti tepat didepan pintu yang menjulang tinggi.


Dilihatnya kotak sedang yang sudah dimasukkan kedalam kantong berwarna biru juga agar mudah untuk membawanya kemari.


"Gara-gara masih ada lu, gua harus nginjak kaki lagi dirumah ini lagi"...


Nino ngedumel sendiri sambil mengangkat kantong yang berada ditangan kirinya itu.


"Ada orang nggak ya? gua coba ketuk aja dulu deh, kalau nggak ada gua tunggu, paling si om kulkas sudah mau pulang"...


Gumamnya sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan waktu pukul 5 sore.


Tok...tok...tok...


Nino memanyunkan bibirnya namun dia akan mencoba sekali lagi untuk mengetuk pintu tersebut.


Tok...tok...tok...


Ceklek...


Nino seketika tersenyum saat melihat wajah ornag yang telah membukakan pintu untuknya sednagkan orang tersebut juga membalas senyuman yang Nino berikan.


"Apa kabar tante?"...


Sapanya sambil mencium tangan wanita paruhbaya tersebut dengan takzim.


"Alhamdulillah baik, kamu...?"...


Ucapannya terpotong karena sambil mengingat siapakah pemuda yang sedang berdiri dihadapannya ini.


"Nino tante ini Nino, sahabatnya Lila"...


Jelas Nino sambil menyebutkan namanya saat wanita paruhbaya tersebut seperti sedang mengingat siapa dirinya, yang memang hanya sekali saja Nino masuk kedalam rumah om kulkas dan saat itu kedua orang tua om kulkas sedang berkunjung.

__ADS_1


"Oh...nak Nino, terus nak Lilanya mana? tante kangen sekali sama dia, sudah lama nomornya nggak bisa dihubungi"...


Ucapnya dengan sedikit sendu saat melihat pemuda tersebut datang seorang diri.


"Aduh maafin tante sampai lupa nyuruh nak Nino masuk kedalam, ayo masuk nak"...


Tante tari mempersilahkan Nino masuk kedalam dan Nino melangkahkan kakinya untuk mengikuti wanita paruh baya tersebut dari belakang dan seketika dirinya membantu mendorongkan kursi roda tersebut membuat tante tari menolehkan wajahnya sambil tersenyum.


Setelah sampai di tempat duduk dan Nino mendaratkan tubuhnya yang masih berbalut seragam sekolah itu disofa berwarna abu tua tersebut.


"Ayo sudah jawab pertanyaan tante tadi nak?"...


Desaknya dengan tak sabaran dan hal tersebut membuat Nino seakan ragu untuk memberitahu yang sesungguhnya atau tidak.


"Maafkan tante kalau nak Nino keberatan untuk menceritakan sebaiknya tidak usah dijawab saja pertanyaan dari tante"...


Ucapnya sendu sambil menggenggam kedua tangan Nino apalagi melihat pemuda tersebut seperti ragu untuk bercerita sedangkan Nino nampak tidak tega melihat wajah sendu wanita paruh baya tersebut.


Nino menghela nafasnya dengan pelan sebelum dirinya membuka suaranya.


"Maafkan Nino tante, bukan maksud Nino membuat tante sedih, kabar Lila baik-baik saja namun dia tak bisa kemari"...


Jawabnya pelan.


"Kenapa?"...


Jawabnya pelan sambil memandang wajah paruhbaya tersebut yang tadinya terlihat senang namung seketika senyuman itu menghilang.


"Pantas saja jika nak Lila nggak bisa dihubungi, lalu kenapa dia bisa pergi kesana bukankah kalian masih sekolah?"...


Tanya Tante tari sambil mengerutkan dahinya.


Ingin rasanya Nino teriak jika yang membuat pergi adalah putra tante sendiri.


"Karena ada sesuatu yang membuat Lila pergi tante, oh ya...bolehkah Nino menitip sesuatu untuk om kulkas"...


Ucapnya dengan tak sadar sambil menyerahkan kantong yang sudah berisi kotak sedang kepada tante tari yang saat ini semakin mengerutkan dahinya dengan bingung namun kedua tangannya terulur untuk menerima kantong tersebut.


Nino menepuk dahinya pelan saat melihat raut wajah kebingungan dari wanita paruhbaya tersebut.


"Maksud Nino Om Tristan tante"....


Ralatnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatel itu.


Sedangkan tante tari tergelak pelan mendengar julukan dari Nino untuk putranya.


"Ini apa?"...

__ADS_1


Tanyanya disela tertawa pelannya sambil melihat isi didalam kantong tersebut.


Nino menggelengkan kepalanya pelan.


"Nino nggak tau tante, karena itupun dari Lila buat Om Tristan katanya kemarin si om ulang tahun tapi maaf Nino baru bisa kesini karena kemarin Nino beneran lupa"...


Ringisnya tak enak sambil menampilkan senyum simpulnya.


"Nggak apa-apa, tante terima ya nanti tante sampaikan kalau anak tante sudah pulang"...


Ucapnya sambil mengelus pelan lengan Nino.


"Ya sudah, Nino pulang dulu ya tante takut kemalaman pulangnya"...


Pamitnya sambil berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk mencium dengan takzim tangan wanita paruh baya tersebut yang usianya diatas mami yan nya.


"Looo kok buru-buru?"...


Tanya Tante tari namun tak urung tangannya pun menyambut uluran tangan Nino.


Sedangkan Nino nampak tidak enak hati namun dirinya memang ingin segera pergi karena takut untuk ditanya yang lainnya dan segera perpamitan untuk meninggalkan rumah om kulkas.


Setelah Nino pergi dari rumah putranya, Tante tari lantas membawa kantong tersebut dan diletakkan diatas pangkuannya untuk segera berlalu meninggalkan ruang tamu tersebut.


"Itu apa bude?"...


Tanya seorang gadis yang datang dari arah sampingnya.


"Ohhh...ini punya mas mu, buruan mandi ndah, dah sore nggak baik anak perawan mandi maghrib-maghrib"...


Tari menegur keponakannya itu yang melihat masih dalam keadaan berantakan seperti baru bangun tidur sedangkan Indah langsung berlalu begitu saja tanpa menjawab ucapan dari budenya.


"Huhh...nih anak, nggak anak nggak emak tingkahnya bikin pusing aja"...


Desahnya saat melihat kelakuan indah yang seperti anak-anak padahal usianya hanya terpaut 1 tahun dari putranya.


Tari lantas menyimpan kantong tersebut diatas meja tepat disamping tangga yang digunakan putranya untuk menuju lantai atas sedangkan dirinya tidak bisa untuk menaiki anak tangga karena keterbatasannya.


Sedangkan disisi lain seorang pria sedang mengemudikan kendaraannya membelah jalanan ibu kota yang nampak ramai karena bertepatan dengan jam pulang para pekerja.


Sesekali dirinya ikut bersenandung namun tiba-tiba sekilas dirinya melihat seseorang yang selalu muncul didalam fikirannya akhir-akhir ini.


"Bocil"...


Gumamnya pelan.


Nah yo...nah yo....

__ADS_1


🤭🤭🤭


__ADS_2