
Happy Reading🤗
Keesokan harinya Lila mengutarakan keinginannya kepada Papi dan juga Nino pada saat lagi berkumpul bersama, ya...papi mulai membuat peraturan baru selepas mereka kembali dari bulan madu, jika dihari libur mereka akan meluangkan waktu untuk berkumpul dan bercanda ria sebab papi ingin menebus rasa bersalahnya pada sang putra.
Pada saat mengutarakan keinginannya untuk tinggal di Thailand, papi sebenarnya sangat berat melepaskan kepergian Lila yang sudah dianggap sebagai putrinya namun karena rayuan Lila serta bantuan dari sang istri dengan berat hati papi mengijinkannya karena memang sebelum Lila berbicara dengannya sang istri lebih dulu membicarakan hal ini sewaktu mereka masih berada dikamar.
Lain halnya dengan Nino, lelaki tersebut nampak terdiam saat Lila mengutarakan keinginannya untuk meninggalkan dirinya bahkan dirinya tak menanggapi segala ucapan yang terlontar dari mulut Lila bibirnya seolah kelu untuk mengucapkan sepatah kata, hingga dirinya beranjak dari sana dan melenggang begitu saja tanpa berucap sedikitpun.
"Pih" ...
Tatapan Lila menyendu saat melihat Nino pergi begitu saja apalagi dirinya tak bersuara sama sekali setelah mengungkapkan keinginannya untuk tinggal di Thailand.
Tony perlahan bangun dari duduknya untuk pindah duduk disamping Lila yang nampak bersedih karena putranya pergi begitu saja, dia mengelus pelan lengan Lila sambil menghela nafas dengan pelan.
"Biarkan saja dulu, mungkin dia masih kaget mendengar keputusanmu sama seperti papi saat mami mu membicarakan tentang kepindahanmu, papi harap disana kamu akan baik-baik saja, kembalilah jika disana kamu sudah tidak nyaman... papi dengan senang hati untuk menerima kembali putri papi yang cerewet ini"...
Ucapnya lembut sambil mencubit pelan hidung mancung nan mungil milik Lila.
Lila seketika mengerucutkan bibirnya sedangkan mami yan nampak terkekeh melihat keakraban suami dan Lila, gadis yang sudah seperti putrinya sendiri dan yana sungguh bahagia jika Lila diterima dengan baik oleh suaminya itu terbukti selama tinggal bersama sang suami tak membeda-bedakan antara Nino dan Lila.
Hari senin hari dimana semua orang melakukan aktifitas seperti biasa termasuk Tony yang datang kesekolah Lila untuk mengurus kepindahan belajarnya sebelum dirinya berangkat bekerja dan semalam dirinya juga sudah berbicara dengan Ocan Lila bahwa mereka mengijinkan Lila putri mereka untuk tinggal di Thailand dan tentu saja Ocan maura sangat bahagia mendengarnya dan menyuruh agar Tony mengurus surat menyurat yang dibutuhkan Lila saat berada ditempat tinggal baru dan tentu saja Tony mengiyakan permintaan dari Ocan Maura.
Sedangkan Lila telah berhasil membujuk Nino yang sudah 2 hari tidak berbicara sama sekali terhadapnya namun akhirnya Nino mau berbicara kembali setelah melihat Lila menangis sambil menceritakan apa yang ada dihati gadis yang selalu ceria tersebut.
Bahkan Lila menyodorkan sebuah kotak berwarna biru muda, warna kesukaan dirinya dari kecil warna yang bisa membuatnya tenang sama halnya jika dirinya melihat kelangit disaat cuaca sedang cerah.
Kotak yang Lila titipkan untuk Nino berikan kepada Om tantan nya, sebab seminggu lagi usia lelaki pujaannya genap 25 Tahun dan diwaktu itu Lila sudah tidak berada di Indonesia karena Lila akan berangkat dalam 3 hari kedepan, kenapa Lila tak ingin menyerahkannya langsung sebab Lila tidak ingin membuat hatinya goyah dengan membatalkan kepergiannya saat melihat wajah lelaki yang bermukim didalam hatinya.
__ADS_1
Hari dimana keberangkatan Lila telah tiba dengan didampingi oleh mami yan, sedangkan papi dan nino hanya mengantarkan kepergian kedua wanita tersebut sampai dibandara di kota itu, ya.... Mami yan mengantarkan sendiri Lila ke Thailand sedangkan sang suami tidak bisa ikut sebab ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja sedangkan Nino berhubung masih sekolah jadi Nino memutuskan untuk mengantarkan saja dan akan mengunjungi Lila saat liburan nanti.
Mereka akhirnya tiba dibandara, papi dan nino nampak menurunkan 2 koper berukuran sedang yang satu punya Lila dan satunya punya mami yan, sebab Ocan sudah mewanti-wanti cucunya untuk tidak membawa barang terlalu banyak sebab di Thailand ocan maura sudah menyiapkan segala hal yang akan dibutuhkan oleh cucu tersayangnya dan Lila hanya mengiyakan karena tak ingin Ocan nya kecewa padanya.
"Jaga diri baik-baik disana sayang, jangan lupain papi disini berkunjunglah jika kamu rindu dengan keluarga yang ada di sini, nanti papi usahakan untuk terbang kesana melihat putri cantiknya papi ini, belajar yang rajin agar bisa menjadi seorang ibu guru yang disukai oleh murid-muridnya"...
Ucapnya pelan sambil mengelus punggung gadis yang ada didalam dekapannya ini.
Lila nampak mengangguk pelan dan seketika meregangkan pelukan dari lelaki yang memberikan kasih sayang seperti seorang ayah pada putrinya, matanya nampak berkaca-kaca sebab dirinya akan berpisah sebentar lagi dengan lelaki yang sedang memandang sendu kearahnya.
Ya...Cita-cita Lila ingin menjadi seorang guru sejak kecil namun cita-citanya sempat tergantikan saat bertemu pria yang membuat dirinya berdetak tak karuan saat berada didekatnya.
Menjadi istri dari seorang Kapten Tentara atau sebagai Ibu Persit mengalahkan cita-citanya saat tau lelaki tersebut berprofesi sebagai Kapten Tentara namun sepertinya keinginan untuk dipanggil Ibu Persit harus kandas ditengah jalan sebelum dirinya berjuang, karena sejatinya Lila tak ingin merusak kebahagian wanita lain demi kebahagiaan dirinya sendiri apalagi saat melihat lelaki tersebut tersenyum bahagia senyum yang tidak pernah dilihat olehnya sebelum itu, oleh sebab itu dirinya lebih memilih mengalah sebelum lelaki itu tau jika dirinya mencintainya atau bahkan sudah mengetahui namun lelaki tersebut enggan untuk membuka hatinya pada bocil seperti dia, ya panggilan dari lelaki pujaan hatinya pada gadis remaja sepertinya.
Grep.
"Belajar yang rajin, jangan pernah takut lagi dengan orang-orang yang membully mu, lawan mereka...gua nggak bisa lagi membantu lu nantinya"...
Bisiknya pelan.
"Lu jahat banget tau nggak sama gua"...
Ucapnya dengan nada serak sambil terus memeluk tubuh mungil Lila.
"Ya gua jahat, makanya gua mau pergi dulu, gua nitip mami sama lu, jangan pernah nyakitin hati mami nantinya, hanya dia wanita yang paling berarti dihidup gua selama ini, jangan main cacing terus sampe malam, biar nggak bangun kesiangan"...
Ucapnya terkekeh diakhir kalimatnya membuat nino seketika meregangkan pelukannya.
__ADS_1
"Nggak banget deh lu lah, lagi melow-melow gini malah bahas cacing"...
Deliknya sebal terhadap gadis yang hanya sebatas bahunya ini.
Lila terkekeh kembali dan dirinya berhasil membuat nino kesal kepadanya dan melupakan sejenak kesedihan nino.
Suara pemberitahuan telah terdengar dari pengeras suara, Lila dan mami yan berpamitan kepada kedua pria berbeda generasi tersebut walau air matanya lila sempat menetes namun dirinya segera menghapusnya dan perlahan meninggalkan para lelaki yang berarti baginya.
Lila dan mami yan langsung memasuki pesawat yang akan membawanya terbang menuju Thailand setelah melewati pemeriksaan dan Lila dapat tempat duduk paling pinggir didekat jendela.
Pesawat mulai bergerak dan Lila memandang kearah luar.
"Bye cinta, bye om tantan, selamat tinggal maafkan atas tingkah laku lila selama ini, semoga om bahagia dengannya, bahagia lila jika om bisa tersenyum seperti itu"...
Lirihnya dan tak terasa air matanya menetes saat melihat senyuman bahagia Tristan ketika memandang wanita cantik tersebut dengan tatapan penuh cinta membuatnya seketika tersenyum miris.
Selamat pagi...cuaca di sini membuat author betah buat narik selimut....
Like...vote...gift jangan lupa readers...
Klik favorit jika belum menambahkan karya author...
Semangat...semangat...
Untuk Om Tantan tenang aja nanti author buat part tersendiri dan siap-siap nimpuk om tantan ya biar dia cepat melek🤣🤣🤣🤣
Salam pagi 😘😘😘😘
__ADS_1