
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Dok...dok...dok...
Seseorang sedang menggedor pintu sebuah kamar hotel dengan sedikit keras dan beruntungnya disekitar kamar hotel tersebut tidak berpenghuni dan jika ada penghuninya tentu orang yang sedang menggedor pintu tersebut mungkin akan dicaci habis-habisan.
Seorang lelaki sedang menggerutu sepanjang jalan, mulutnya bahkan tak berhenti mengoceh hal yang tak jelas.
"Isshhhh dasar pengantin durhakim....lama banget bukain pintunya"...
Omelnya pada diri sendiri.
Namun tak lama pintu yang digedornya terbuka dan terlihatlah sosok yang telah meminta tolong padanya satu jam yang lalu, ralat lebih tepatnya memerintah tanpa ingin dibantah.
Jika tak ingat dia adalah kakak ipar serta bapak dari calon ketiga keponakannya yang baru diproduksi mungkin dirinya akan mengeluarkan semburan apinya.
Namun sayang semua kekesalannya hanya mampu tertelan kembali sebab dirinya langsung tersenyum kikuk kala mendapati raut wajah datar kakak iparnya serta aura dingin membuat dirinya tidak jadi untuk mengeluarkan kata-kata yang sudah disusun rapi layaknya undang-undang.
"Masuk, mau jadi penjaga pintu?"...
Ucapan datar membuat Nino seketika tersadar lalu perlahan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar tersebut, jika saja Nino memiliki keberanian tentu dia akan menjitak kepala seorang pria yang berjalan dihadapannya ini.
"Mana?"...
Tanya Tristan tanpa basa-basi dan langsung mengulurkan tangannya untuk membinta barang yang diperintahkannya tadi.
Nino menghela nafas pelan lalu menyodorkan paperbag yang sudah maminya kemas tadi sebelum berangkat.
Tristan lalu mengambil paperbag yang diserahkan oleh Nino dan langsung menuju kamar mandi dimana sang istri berada bahkan Tristan mengabaikan Nino begitu saja.
Nino melongo melihat aksi kakak iparnya, bahkan dirinya mengacak-acak rambutnya karena sebal mendapat perlakuan seperti ini.
__ADS_1
Nino lalu menghempaskan tubuhnya dan langsung mengambil ponsel miliknya untuk bertukar pesan terhadap sang calon istri.
Ya...calon istri, Nino dan Chika mengundur pernikahan mereka sebab permintaan sang pujaan hati tanpa tahu alasan yang sebenarnya dan sebagai seorang pria yang begitu mencintai wanitanya tentu Nino mengiyakan permintaan Chika walaupun dirinya merasa ada yang ditutupi namun Nino berusaha mencoba untuk berfikir positif demi hubungan mereka berdua.
Tidak mudah bagi Nino untuk melabuhkan hatinya pada seorang gadis dan saat sudah menemukan tambatan hati Nino dengan cepat mengambil keputusan namun Jodoh dan maut hanya Sang Pemilik Hidup lah yang bisa menentukan kedepannya begitu pula kisah cinta Nino.
Tak berselang lama sebuah pintu terbuka membuat Nino yang sedari tadi fokus pada ponselnya kini teralihkan dan matanya berbinar saat dia melihat seorang wanita yang kini sedang tersenyum manis ke arahnya.
"KAKAKK....I miss you"....
Pekiknya sembari bangun dari duduknya dan segera berlari ke arah Lila, wanita yang kini sudah menyandang calon ibu dan sahabat baginya sudah ada didepan matanya, rindu tentu saja sangat rindu pasalnya semenjak Lila dibawa pergi kerumah si abang kulkas dirinya sangat jarang untuk bisa bertemu sebab dia juga sedang bekerja.
Ckit...
Kaki Nino seketika mengerem mendadak pasalnya saat akan memeluk sang kakak abang kulkasnya tiba-tiba berdiri didepan Lila bahkan memasang muka menyeramkan membuat senyum diwajahnya meluntur langsung.
Nino mendengus kesal melihat kelakuan abang ipar nya itu, ingin rasanya dia menjitak kepala abang kulkas yang memiliki rambut pendek khas pak loreng namun hal tersebut tidak akan terealisasikan sebab mana berani dia, marah saja dia telan kembali apa lagi sampai menjitak yang ada dia nanti yang akan kena serangan balik.
"Minggir ihhh mas...Lila mau peluk Nino"...
"No, dilarang peluk-peluk pria lain"...
Ucapnya tegas dan kembali meraih tangan sang istri yang akan mendekati Nino bahkan kini tangannya sudah melingkar sempurna di pinggang yang masih terlihat ramping itu.
Nino mendengus sebal lalu dirinya berbalik arah dan kembali menghempaskan tubuhnya disofa yang didudukinya tadi, bahkan kakinya sempat dia hentakkan dilantai.
Lila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah posesif suami tentaranya itu namun tak urung juga dirinya tersenyum manis saat pandangannya mengarah ke wajah sang suami yang saat ini memasang muka datar.
"Udah ihh, kan nggak jadi meluknya"...
Ucapnya sembari menggelayut manja.
Cup.
Lila harus mengeluarkan jurus ampuhnya dan terbukti kini sang suami bisa kembali tersenyum setelah dirinya melabuhkan kecupan tepat dibibir Tristan.
"HEEIIII....ingat yaaa masih ada orang lain diruangan ini, heran deh...nggak ada malunya apa main kecup-kecup gitu"....
__ADS_1
Sentaknya dengan bibir yang mengoceh tak jelas karena disuguhkan adegan live.
"Ckkk...makanya cepat nikah?"...
Lila berdecak sebal dan langsung melangkahkan kakinya menuju sofa diikuti oleh Tristan.
Nino seketika murung saat mendapat candaan seperti itu, siapa yang tidak ingin menikah, tentu dia sangat ingin menikah dengan gadis pujaan hatinya namun entah mengapa keinginan itu diundur sepihak oleh sang gadis dengan alasan yang tidak masuk diakal.
Lila yang melihat wajah murung Nino seketika terdiam, bahkan dirinya menautkan kedua alisnya lantas menengok ke arah sang suami yang kini mengangkat kedua bahunya pertanda tak mengerti dan Lila meminta ijin lewat sorot mata bahkan si calon bunda tersebut memperlihatkan wajah melasnya membuat Tristan terpaksa menghembuskan nafas dan menganggukkan kepalanya pelan.
"No"...
Panggilnya lirih sambil tangannya memegang bahu Nino yang masih terdiam.
"Ada apa?"...
Tanyanya dengan pelan saat Nino memandang kearahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Nino menghembuskan nafasnya dengan kasar karena memang dirinya saat ini sedang membutuhkan teman untuk berbicara serta mengeluarkan uneg-uneg nya yang selama beberapa minggu ini menyesakkan dada atas gagalnya rencana pernikahan yang sudah diimpikan.
"Aku nggak tau salahnya aku dimana kak, seharusnya 3 minggu lalu kami sudah menikah tapi seminggu sebelum tanggal pernikahan kami dia meminta untuk bertemu, pada saat itu aku langsung menyetujui karena memang kami terakhir ketemu pas acara nikahnya kakak, tapi pada saat itu bukannya aku pulang dengan wajah bahagia seperti biasa tapi pulang dengan wajah menyediahkan, dia ingin menunda pernikahan kami yang tinggal didepan mata bahkan dia melupakan masa-masa dimana dia sendiri yang menginginkan untuk segera menikah, bahkan alasannya untuk menunda menikah sangat sederhana sekali bagi Nino itu bisa dilanjut setelah menikah tapi dia nggak mau"...
Lirihnya dengan menundukkan pandangannya dan kedua tangan menarik kepalanya kebawah dengan sedikit menekan.
"Bahkan kini dia jarang menjawab serta membalas chat aku, terakhir bertemu cuma pas waktu itu saja"...
Sambungnya.
"Apa yang harus aku lakukan kak, dirinya bahkan tidak ingin ditemui dulu dengan berbagai alasan yang tak jelas?"...
Lirihnya sembari mengangkat wajahnya untuk menatap Lila, sahabat sekaligus kakaknya.
Pandangannya mengisyaratkan kecewa dan kesedihan yang menderanya saat ini, sampai sekarang dia masih belum ngerti dimana letak kesalahannya, andai sang calon istri mengatakannya tentu dia akan merubah kelakuan serta hal yang lainnya agar calon istrinya bisa kembali seperti semula.
Namun sayang Chika saat ini menjadi susah dijangkau bahkan rumahnya sudah dua minggu ini terlihat kosong dan sejak saat itu Nino hanya bisa bertukar pesan lewat chat saja.
Sabar ya Nino😥😥😥
__ADS_1