My Sexy Hot, Pak Tentara

My Sexy Hot, Pak Tentara
Extra Part 7


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Sepasang mata perlahan terbuka ketika sebuah cahaya menerobos disela-sela korden jendela yang tidak tertutup rapat membuat sang empu mengerjap perlahan sebelum akhirnya terbuka sempurna.


Bahkan gedoran pintu yang terdengar lumayan keras tak mampu membuat kedua insan yang habis melakukan ritual semalam terbangun sebab keduanya baru terbangun setelah sepertiga malam yang sudah membuat keduanya dilanda kelelahan namun juga terasa nikmat yang bagi pasangan halal akan terus dan terus melakukan hal tersebut walau dalam keadaan lelah sekalipun.


Matanya menyipit kala silauan cahaya yang berasal dari celah korden terkena pandangannya hingga dia memalingkan wajahnya untuk menengok kesamping guna melihat waktu dan matanya membola sempurna kala jam menunjukkan pukul 6 lebih yang artinya waktu sudah siang untuk mengajak ke empat jagoannya jogging diseputaran komplek sebab hari ini adalah waktu libur.


Matanya terasa berat sebab dia hanya tidur beberapa jam saja karena sang istri yang dilanda rasa mual diwaktu subuh bahkan hanya selang 2 jam setelah pertempuran sengit yang terjadi semalam.


Pandangannya kembali bergulir ketika merasakan pergerakan tepat didekapannya dan masih mendapati sang pemilik hatinya yang sedang berada didunia mimpi membuat bibirnya melengkung keatas membentuk bingkai senyum.


"Selamat pagi, istriku."


Cup.


Dengan perlahan dirinya melepaskan dekapan sang istri, setelah terlepas dan membenahi selimut istrinya agar lebih nyaman, dirinya langsung turun dari ranjang dan segera menuju kamar mandi membiarkan sang istri tidur lebih lama lagi.


Dan dia yakin jika para jagoannya sudah menantinya dibawah sana dengan muka yang masam seolah paham dengan sifat mereka jika sudah diberi janji dan sialnya lagi dia selalu melanggar janji yang telah dibuat sendiri itu lalu susah untuk membujuk agar mood putra-putranya kembali membaik.


Setelah selesai membasuh tubuhnya dan menggunakan baju olah raga kini langkahnya mendekat kearah ranjang dimana sang istri masih bergelung pada selimut hangat.


Cup.


"Mas tinggal dulu yang." Bisiknya setelah meninggalkan kecupan dikening sang istri lalu keluar dari kamar dan menuju kebawah.


Tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat berada dilantai bawah dan melihat ke empat jagoan sedang menunggu dengan raut wajah masam.


"Ayo jalan." Ajaknya saat sudah berada dihadapan para jagoan.


Krik...krik...krik...


Tristan seketika tersenyum kikuk saat ajakannya tak direspon sama sekali bahkan tidak ada yang memandang kearahnya kecuali Tio.

__ADS_1


Pandangan pria berbeda usia itu seketika bertemu dan Tio hanya memberi senyum tipis lalu mengangkat kedua bahunya saat dia membuat kode.


Tristan menghela nafas dengan pelan lalu berjongkok tepat dihadapan ketiga jagoannya yang masih menyembunyikan wajahnya.


"Ayah minta maaf okey, maafin ayah yang telat bangun, ayah sangat lelah semalam jadi tidur ayah terlalu nyenyak." Ucapnya dengan perlahan sambil mengintip ketiga putranya yang masih tak bergeming sama sekali.


Tio menghela nafas pelan saat melihat tak ada respon sama sekali dari ketiga bocah yang sudah dianggap adik olehnya itu.


"Triple A." Ucapnya dengan nada pelan namun mampu membuat ketiga bocah tersebut serempak mengangkat kepalanya dan menengok kesumber suara tersebut.


"Tidak baik seperti itu jika ayah sedang berbicara tapi kalian tidak menanggapinya, apa kalian mau ayah kembali bertugas lebih lama lagi." Tegurnya dan langsung dibalas gelengan cepat oleh ketiganya.


"Minta maaf segera, nggak kasiha sama ayah yang sejak tadi menunggu kalian berbicara."


Tristan sangat senang ketika Tio bisa dewasa dan mampu membimbing ketiga adik-adiknya.


Mereka bertiga kompak saling berpandangan seakan mengisyaratkan bagaimana ini.


Sebagai seorang abang akhirnya Aarash memandang sang ayah yang saat ini masih duduk dilantai sedangkan mereka ada diatas sofa.


"Kakak minta maaf ayah."


"Ion inta aap ayah." Diikuti oleh kedua putranya yang lain.


Tristan segera merentangkan kedua tangannya pertanda dia ingin dipeluk dan tak butuh waktu lama ketiganya segera masuk kedalam dekapan hangat pria yang menjadi ayah mereka membuat senyum pria tersebut mengembang sempurna lalu mengecup semua pucuk kepala mereka bergantian.


Tio pun tak lama menipiskan bibirnya namun dalam hati dia merasa sesak ketika melihat pemamdangan dihadapannya itu, walau tak dipungkiri dia juga kecipratan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua angkatnya namun tetap saja ada sebagian perasaan kosong saat dia tak memiliki orang tua kandung sendiri.


"Tio, sini peluk ayah juga."


Sebuah suara mampu membuyarkan lamunan bocah yang maish duduk dibangku kelas empat SD tersebut tak butuh waktu lama dirinya segera ikut bergabung memeluk tubuh atletis ayah angkatnya dengan perasaan haru membuat sepasang mata yang tak jauh dari mereka meneteskan air mata ketika melihat pemandangan tersebut.


"Nenek berdoa semoga kamu bisa bahagia dengan keluarga baru mu nak, maaf kan nenek jika suatu saat nenek meninggalkanmu, namun nenek bersyukur paling tidak kamu berada diantara orang-orang yang menyayangimu." Lirihnya dalam hati sambil menangis dalam diam dan menekan dadanya yang terasa sesak, lalu segera mungkin meninggalkan tempat tersebut agar tak ada yang mengetahui tentang kondisinya.

__ADS_1


Tristan segera mengajak keempat jagoannya untuk menikmati waktu jogging diluar, mereka sambil mencari sarapan ditempat langganan yang berada diujung kompleks.


Dret...dret...dret...


Tristan merogoh ponselnya yang bergetar dan dahinya mengkerut saat melihat ID yang tertera dilayar ponsel miliknya.


"Tio, jagain adik-adikmu ya, ayah terima telfon dulu." Perintahnya pada sisulung dan dijawab acungan jempol membuatnya tersenyum sekilas.


"Assalamualaikum." Ucapnya salam saat mengangkat panggilan.


.........


"APAAAAA.....YA Tunggu sebentar sur, kami segera pulang." Pekiknya dengan panik setelah mendengar kabar dari rumah.


Tristan bergegas menemui keempat putranya yang masing menunggu antrian bubur untuk dibawa pulang.


"Ayo anak-anak kita segera pulang." Titahnya dengan panik sambil mengeluarkan selembar uang merah dan diberikan pada sang penjual.


"Maaf mang, buburnya nggak jadi, saya ada kepentingan." Ucapnya dengan terburu-buru dan segera meninggalkan si penjual yang sudah diberikan uang lalu mengajak keempat jagoannya untuk pulang kerumah walau dalam hati mereka bertanya-tanya namun cukup dalam hati sebab mereka melihat sang ayah dalam keadaan panik.


Mereka akhirnya sampai dirumah dnegan nafas memburu bahkan Tristan segera berlari kencang meninggalkan keempat putranya saat sudah berada dipelataran rumah.


Matanya membulat sempurna melihat keadaan sang istri yang terbaring dilantai.


"Pak, cepat bawa ibu kerumah sakit." pekik surti yang berada disamping tubuh Lyla yang tergeletak tak jauh dari dapur.


Tristan segera berlari mendekat dan berjongkok dengan wajah paniknya lalu bersiap membopong sang istri menuju mobil.


"Bawain kunci mobil sur, tolong jaga anak-anak biar saya sendiri yang kerumah sakit." Perintahnya dengan nada yang masih terdengar panik saat menggendong tubuh lemah sang istri.


"Kalian dirumah saja ya, ayah kerumah sakit sebentar, okey." Ucapnya dengan tergesa-gesa saat berpapasan pada keempat putranya yang baru masuk kedalam rumah.


Tanpa menghiraukan tangisan putra-putranya itu, Tristan segera membawa sang istri pergi kerumah sakit terdekat.

__ADS_1


"Maafin mas yang." Gumamnya dengan lirih dengan perasaan bersalahnya.


✌✌ maaf ya baru up lagi🤭🤭🤭


__ADS_2