
Happy Readingπ€π€π€
Tristan kembali masuk kedalam kamarnya setelah beberapa saat berada dibalkon kamar, selain masih gerimis diluar juga terasa dingin hingga menembus kulitnya.
Berada dirumah jika weekend apalagi diluar sedang gerimis sebenarnya tristan merasakan suntuk sebab biasanya Tristan akan jogging diseputaran komplek sederhana yang menjadi tempat tinggalnya beberapa minggu belakangan ini.
Tristan lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah mengisi bathtube dengan menggunakan air hangat dan menuang beberapa tetes aromaterapy Tristan menanggalkan semua kain yang melekat ditubuh kekarnya dan segera masuk kedalam bathtube yang sudah siap untuk digunakan.
Saat sedang berendam, Tristan mengingat kembali ucapan yang dilontarkan oleh mamanya bahwa sang mama sedang merindukan si bocil Lila lantas Tristan menghela nafas dengan kasar, entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi tak karuan, seperti rasa sesak yang tiba-tiba mendera.
Tristan menghela nafas dengan kasar saat mengingat kejadian malam minggu kemarin saat sang kekasih datang menepati janjinya.
Flashback.
Hari ini seorang pria sedang tersenyum cerah, pasalnya saat ini dia sedang berada didalam perjalanan untuk menjemput kekasihnya, ya... kemarin aera telah menelfon dan mengabarkan akan ke Tanah air untuk melakukan pekerjaan dan meminta untuk dijemput dibandara.
Dan saat ini Tristan sedang berada dijalan sesuai dengan prediksi kedatangan wanita masa lalunya.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai olehnya telah tiba di bandara dan Tristan segera mencari tempat untuk memarkirkan kendaraannya, setelah menemukan tempat dan mematikan mesin mobil, Tristan lalu turun dari mobil dan masuk kedalan bandara sambil menunggu kedatangan wanitanya .
Tristan menengok kearah jam yang melingkar di tangan kekarnya dan masih ada waktu 20 menit hingga kedatangan sang kekasih.
Saat menengok kesana kemari akhirnya matanya menangkap kursi tunggu yang tak jauh darinya, tristan melangkahkan kakinya saat sudah sampai dirinya mendudukkan tubuh kekarnya ke kursi tersebut sambil menunggu pesawat tiba dirogohnya ponsel yang dimasukkan kedalam kantong depan celana yang dikenakannya.
Setelah hampir menunggu kurang lebih 30 menit lamanya karena saking fokus pada ponselnya tristan tak sadar jika ada seorang wanita yang berdiri didepannya dengan menggunakan celana jeans hitam dan baju crop top abu-abu dengan menampilkan perut datarnya dipadukan dengan blazer berwarna mocca dan tak lupa rambut tergerai dengan topi hitam bertengger cantik dikepala wanita tersebut.
Jangan fokus sama latar belakangnya ya readers dan bagi yang tak suka visualnya boleh membayangkan dengan wajah yang kalian sukaπ€
"Sudah lama menunggu Honey"...
Suara lembut masuk kedalam indra pendengarannya membuat lelaki yang tadinya menatap ponsel miliknya seketika mendongakkan kepalanya dan kedua sudut bibirnya tertarik keatas.
Tristan langsung bangun dari duduknya dan memasukkan kembali ponselnya setelah memencet tombol off untuk mematikan layar ponselnya.
"Belum lama"...
Ucapnya sambil tersenyum dan dibalas senyuman oleh aera dan seketika memeluk tubuh lelaki tampan dihadapannya ini.
"Kangen"...
Bisiknya sedangkan tristan hanya tersenyum tipis dan langsung melonggarkan pelukan yang diberikan oleh aera.
"Banyak yang melihat"...
Bisiknya sebelum pelukan aera benar-benar terlepas.
Aera seketika mengerucutkan bibirnya membuat Tristan terkekeh pelan.
"Yuk"...
Ajaknya lembut sambil menyambar telapak tangan Aera membuat sang empu seketika tersenyum.
Karena memang sejak menjalin hubungan dengan Tristan dulu, Aera sudah paham akan sifat pria yang sedang menggenggam tangannya ini, Tristan akan malu jika bermesraan di tempat umum.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju keluar bandara sambil sesekali melemparkan pertanyaan hingga Tristan paham bahwa kekasihnya hanya 2 hari berada di Tanah air.
Seperti biasa, Tristan akan mengantarkan kekasihnya hingga kedepan pintu kamar hotel tempat kekasihnya bermalam seperti sebelum-sebelumnya.
Ya...Tristan menolak saat sang kekasih ingin bermalam ditempatnya karena alasannya adalah mereka belum menikah dan lagi pula dirumahnya tidak ada penghuni lain selain dirinya.
Aera akhirnya menurut walau dalam hati dirinya sedang kesal sebab sang kekasih menolaknya, padahal selama dirinya di Luar negeri tak ada yang bisa menolak pesona seorang model bernama Aera sabila.
"Istirahatlah, nanti aku jemput"...
Ucapnya lembut saat mereka sudah berada didepan pintu kamar hotel yang akan menjadi tempat tinggalnya 2 hari kedepan.
"Nggak mau masuk dulu honey"...
Tawar Aera sambil memandang lelaki tampan dihadapannya ini.
Tristan menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau gitu"...
Aera langsung mengangguk pelan sambil menerbitkan senyum paksanya.
Perlahan aera melangkah kedepan dan mempersempit jarak merek berdua dan beruntuk jika lorong hotel tersebut sedang sepi.
Grep.
Aera memeluk kembali tubuh kekar Tristan, ya sepertinya dia akan tergila-gila dengan lelaki ini namun sudah beberapa kali ketemu Tristan belum mau disentuh olehnya.
"Aera, jangan seperti ini"...
Ucapnya pelan dan merasa sedikit tak nyaman saat aera memeluknya.
Cup.
Aera langsung membalikkan badannya dan segera masuk kedalam kamar hotel tanpa melihat kembali tristan yang masih berdiri mematung.
Brak.
Suara pintu tertutup menyadarkan Tristan dari rasa keterkejutannya dan seketika dia menggelengkan kepalanya pelan dan menghela nafas dengan kasar.
Lantas tristan memandang sejenak kamar ber nomor 1022 dihadapannya ini dan langsung membalikkan badannya untuk turun dari lantai 7 tempat aera bermalam.
Didalam lift Tristan termenung saat mendapatkan kecupan singkat dibibirnya, kecupan setelah sekian lama dengan aera baru terasa kembali dan sangat berbeda saat dia mengingat bibir mungil yang bertabarakan dengan bibirnya pada kejadian di mall waktu itu.
Tristan menggelengkan kepalanya pelan saat mengingat kejadian beberapa minggu lalu seketika bayangan bibir bocil menari didalam otaknya sedangkan bibir kekasihnya barusan yang menempel tidak ada membekas sama sekali.
Tak ingin berfikir yang aneh-aneh, Tristan lantas mempercepat langkahnya saat sudah keluar dari lift dan segera menuju mobil yang berada diparkiran hotel namun baru saat akan menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi dan Tristan segera merogoh ponselnya untuk melihat siapa yang menelfon.
Dret...dret...dret...
πDony is calling...
Tristan mengerutkan keningnya saat melihat ID penelfon dilayar ponselnya, ditekannya layar yang berwarna hijau untuk menjawab panggilan dari sahabatnya.
"Ya, ada apa?"...
__ADS_1
π"Dimana lu?"...
Tanya dony disebrang sana.
"Diparkiran hotel"...
π"What...ngapain lu siang-siang dihotel?"...
Pekikan dony disebrang sana karena kaget mendwngar sahabatnya berada di hotel.
"Ckkk...gua nggak ngapa-ngapain, gua habis ngantar Aera kesana"...
Jelasnya.
π "AAPPPAAAAAA....."...
Lengkingan disebrang sana terdengar memengkakkan telinganya hingga tristan seketika menjauhkan ponsel miliknya.
"Pelan kenapa sih lu, dari tadi teriak mulu...pengang nih telinga gua"...
Jawabnya sewot saat telinganya terasa sedikit sakit.
π"Gua nggak salah denger nama yang lu sebutin barusan?"...
Tanya dony yang masih penasaran dan bisa saja telinganya salah menangkap ucapan Tristan.
"Nggak, dia udah kembali 1 bulan yang lalu"...
Jawabnya dengan malas.
*Dony disebrang sana menghela nafas dengan pelan.
π" Lalu...?"...
Tanya dony kembali*.
Tristan lantas menceritakan kejadian sebulan yang lalu saat pertemuan tak sengajanya dengan aera sewaktu dimall dan tentang kembalinya hubungan mereka.
π"Kasian sekali bocil"...
Gumamnya disebrang sana.
"Lu ngomong apa sih?"....
Tanya Tristan saat samar-samar mendengar ucapan Dony.
π"Ohhh nggak...gua nggak ngomong apa-apa, ya sudah gua tutup dulu"...
Ucapnya dan langsung mematikan panggilan telfon begitu saja membuat Tristan mengerutkan keningnya lantas menaikkan kedua bahu dan segera menyimpan kembali ponselnya.
Mobil yang dikendarai oleh Tristan meninggalkan area parkir hotel setelah dirinya selesai menerima telfon dari sahabatnya.
Haloha reader, Happy weekend...
Maafkan mom jika telat updateπ€π€π€
__ADS_1
Like.vote.gift
Salam ciumπππ