
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Seorang ibu muda sedang menatap sendu pagar rumahnya, selama beberapa hari dia akan cepat berjalan keluar saat mendengar deru mobil berhenti atau kendaraan lain namun tetap sama tak ada yang bisa menerbitkan senyumnya kembali tatapannya masih menyendu sembari mengelus-elus perut besarnya yang kian aktif didalam sana, sudah terhitung dari 10 hari yang lalu dia selalu rutin untuk duduk diteras rumahnya yang kadang ditemani siganteng Tio ataupun si cerewet surti.
"Bu, sudah hampir maghrib, tidak baik berada diluar rumah jika sedang berbadan dua". Seru seorang wanita paruh baya membuyarkan lamunanya hingga dia sedikit tersentak dan mendongak menatap kearah wanita paruh baya yang sedang menatap khawatir kearahnya.
Wanita yang sedang mengandung dan sudah memasuki usia sembilan bulan itu tersenyum tipis dan segera beranjak dari duduknya dengan pelan namun wanita paruh baya itu dengan gesit membantu Nyonya rumahnya untuk berdiri sebab perut sang majikan sangat besar karena didalam sana bakal ada calon bayi kembar tiga.
Lika sempat menoleh kearah pagar rumah yang masih tertutup rapi sebelum benar-benar meninggalkan teras dan segera masuk kedalam rumah karena waktu memang sudah hampir berganti malam.
Dirinya menghela nafas pelan dan melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam rumah dengan dituntun oleh mbok Dami, sedangkan Surti yang baru datang dari arah dalam segera mempercepat langkahnya untuk menutup pintu rumah.
"Mau langsung ambil wudhu bu?". Tanya mbok Dami saat sudah berada didalam kamarnya yang kini sudah berada dilantai dasar.
"Iya mbok, mau ngaji dulu sambil nunggu adzan". Jawabnya dan melangkah menuju kamar mandi yang ada didalam kamar dengan sangat hati-hati.
Mbok Dami selalu setia mendampingi majikannya itu tak jarang juga ibu dari majikannya berkunjung malah kadang menginap dirumah ini apalagi saat majikan pria belum kembali dari bertugas maka semakin sering Nyonya besarnya menginap bersama dengan keluarganya.
Setelah memastikan majikannya sudah duduk selonjoran diatas tempat tidur dan memakai perlengkapan shalat serta tak lupa Kitab Suci sudah berada diatas pangkuannya, mbok Dami segera berlalu meninggalkan majikannya yang sudah lama memancarkan kesedihan.
Membuat Mbok Dami ikut merasakan kesedihan majikannya itu apalagi perkiraan melahirkan tidak akan lama lagi namun sampai sekarang majikan prianya belum juga kembali.
__ADS_1
"Sur, Tio kemana?". Tanyanya saat sudah berada didapur dan mendapati Surti sedang menata makanan diatas meja makan.
"Dikamar mungkin mbok, tadi sur lihat sih masih disana". Jawabnya tanpa menengok kearah mbok dami.
"Mbok, belum ada kabar dari bapak ya?". Tanya Surti menghentikan kegiatannya dan menengok kearah mbok dami.
Mbok Dami menghela nafas pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Belum sur, mudahan bapak baik-baik saja, mbok kasihan lihat ibu lebih dari seminggu wajahnya murung". Ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya dikursi.
"Kasihan ya mbok, ibu... ohya mbok Nyonya besar kapan kesini? Nggak jadi bermalam ya mbok?". Tanya Surti tiba-tiba karena keingat Yana yang bilang jika malam ini akan kemari namun belum juga tiba biasanya sehabis ashar sudah datang jika berniat bermalam.
"Ohh...iya ya...nah nggak tahu juga mbok, sur... soalnya mbok nggak ada terima telfon dari beliau, eh...dah adzan, mbok sholat dulu...la kok malah ngerumpi...kamu sih". Ucapnya sedikit kesal dan segera beranjak dari kursi menuju kamar miliknya.
Surti melongo saat mbok dami menyalahkannya namun dia hanya mengangkat kedua bahunya tanda acuh dan segera meninggalkan meja makan untuk masuk kedalam kamarnya dulu sambil menunggu waktu sang majikan keluar dari kamar.
Sedangkan didalam kamar seorang ibu muda melakukan kewajibannya dengan posisi duduk sebab tak mungkin dirinya melakukan seperti biasanya sebab perutnya yang besar menyulitkannya untuk bangun jika sudah duduk dilantai.
"Kamu dimana mas, apa kamu baik-baik saja? Lila rindu mas, Lila harap dimanapun mas berada, mas dalam keadaan sehat-sehat dan bisa kembali sebelum ketiga buah hati kita lahir". Lirihnya dengan suara serak sambil mengelus-elus perut besarnya dan seolah paham akan kesedihan bundanya, merekapun aktif didalam sana hingga membuat Lila tersenyum didalam tangisnya.
"Kalian rindu ayah ya? sabar ya sayang, kita berdoa semoga ayah cepat pulang dalam keadaan sehat dan bisa berkumpul bersama kita". Ucapnya lirih diiringi tetesan air mata.
Ya...sang suami mendadak mendapatkan tugas sejak dua minggu lalu dan pada saat itu suaminya berucap jika tugasnya hanya seminggu namun suaminya juga berkata jika nanti didaerah tugasnya tidak ada signal sama sekali apalagi daerah tugasnya berada didaerah perbatasan.
Yang dilakukannya saat ini hanyalah menunggu dan berdoa semoga sang suami selamat dan pulang dalam keadaan baik-baik saja dan dia berharap sebelum lahiran suaminya berada disisinya, sungguh ketakutan akan melahirkan selalu terbayang namun terkikis akan ketakutan saat membayangkan kehilangan suaminya.
Ceklek.
__ADS_1
Suara pintu membuyarkan lamunan dan dirinya segera mengusap air mata yang menetes lalu memandang kearah pintu, senyumnya sedikit tertarik saat melihat siapa yang membuka pintu kamarnya.
"Ocan". Panggilnya dengan nada seraknya dan langsung merentangkan kedua tangannya bahkan kini air matanya kembali menetes.
"Ohhh cucu ocan, maafkan ocan sayang jika ocan baru bisa datang, gimana keadaan kamu nak?". Tanya Maura sambil mendekap sang cucu dengan penuh kasih sayang dan kerinduan.
Hiks...hiks...
Tangisnya pecah saat ada seseornag yang menanyakan keadaannya, sungguh dia orang yang tidak pandai menyembunyikan apapun jadi tidak mungkin dia berbohong.
"Sabar sayang, banyak-banyak berdoa nak semoga suamimu disana baik-baik saja". Hiburnya namun tak urung air matanya pun ikut menetes saat melihat betapa rapuhnya sang cucu bahkan dirinya tak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi pada cucu menantunya.
Maura yang harus menyelesaikan segala urusan untuk membuka perusahaan baru di negara sang cucu membuat dia tidak bisa langsung terbang ke negara ini walau sebenarnya dia sangat-sangat ingin namun apalah daya jika pekerjaan menyita waktunya padahal Mario sudah membantunya namun tetap saja tidak bisa selesai dengan cepat.
Dan pada saat sudah bisa ditinggal, dirinya segera memesan tiket pesawat dan segera menuju kemari dimana sang cucu yang sedang rapuh, ya... berita mengenai Tristan sebenarnya sudah sampai ditelinganya sejak jauh hari dan itupun dia mendesak Yana untuk menceritakan yang sejujurnya pada saat melihat wajah murung sang cucu pada saat melakukan VC.
"Sudah jangan menangis, kasihan Baby A,B,C nanti ikut sedih juga". Guraunya sambil melerai pelukannya dan berhasil Lila seketika terkekeh pelan.
Ya panggilan untuk ketiga calon cicitnya, katanya biar simple.
"Cicit Ucan yang pintar ya nak didalam sana". Ucapnya sambil mengelus perut besar Lila.
Lila mengerutkan keningnya saat mendengar sapaan baru keluar dari mulut Maura.
"Apa itu Ucan? kan seharusnya Ocan". Tanyanya dengan dahi mengkerut.
"Ucan itu Uyut Cantik, ish kamu ini gitu aja nggak tahu".
__ADS_1
Tawa Lila seketika pecah saat mendengar arti dari istilah itu.
Alhamdulillah akhirnya bisa up lagi🙏🙏