
Happy Reading🤗🤗🤗
Kring...Kring...kring..
"Ya...Halo"...
....
"Lagi dijalan, ada apa?"...
....
"Iya, bentar gua kesana"...
Panggilan terputus setelah tristan mengucapkan kalimat itu.
Sedangkan seorang gadis hanya duduk diam meperhatikan tristan yang sejak tadi menerima panggilan telfon.
"Siapa om?"...
Tanya Lila dengan kekepoan tingkat tinggi.
Tristan hanya menatap sekilas dan langsung fokus mengemudi sambil memperhatikan jalanan.
Lila hanya mendengus kesal sambil mengerucutkan bibir mungilnya, ya lelaki disampingnya ini selalu membuatnya kesal namun cuma beberapa saat saja.
Ckitt...
Mobil berhenti tepat dijalanan yang tak begitu ramai.
"Kok berhenti om?"...
Tanya lila ketika mobil tristan berhenti dipinggir jalanan yang agak sepi dan membuat dirinya bertanya-tanya.
Tristan tak menjawab pertanyaan gadis kecil disampingnya itu, dirinya lantas mengambil dompet yang disimpan dikantong belakang celananya.
Lila hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh tristan itu.
Sret...
Tristan mengulurkan uang pecahan 100rb sebanyak 3 lembar ke lila.
Lila yang melihatnya hanya memandang saja tanpa berniat untuk mengambilnya lantas pandangannya mengarah sipemilik tangan yang sedang memegang lembaran uang.
"Apa om?"...
Tanya lila dengan dahi mengkerut.
"Nih ambillah, turun dan pulanglah menggunakan taksi, saya ada keperluan"...
Ucapnya datar dan dengan tak punya perasaannya menyuruh lila untuk pulang menggunakan taksi sedangkan cuaca diluar nampak mulai mendung.
"Jadi lila harus pulang sendiri, ogahh om...disini sepi, anterin lila sampe rumah, kalo nggak lila ikut om deh"...
Rengeknya sambil memegang lengan tristan dan menggoyang-goyangkannya.
"Turun"...
Ucapnya sekali lagi sambil menekankan kalimatnya membuat lila seketika memberengut kesal.
"Ckkk..."...
Decaknya sambil membuka seatbelt yang digunakannya dan langsung membuka pintu mobil tristan tanpa mengambil uang yang masih disodorkan oleh lelaki tersebut dan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Brak...
Pintu tertutup dengan keras membuat tristan hanya menghela nafasnya sambil memperhatikan gadis tersebut yang mulai jalan ditrotoar dengan menghentak-hentakkan kakinya dan memasukkan kembali uang yang dipegangnya tadi ke dalam dompetnya.
Tristan lantas menjalankan mobilnya dan melewati gadis tersebut tanpa melihat kembali bahkan dirinya tak melihat keatas jika awan mulai menggelap.
Lila yang melihat mobil tristan yang berlalu begitu saja hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menggerutu tak jelas.
"Huft....lila tetap semangat, selagi om tantan belum memiliki istri masih bisa diraih hatinya"...
__ADS_1
Gumamnya sambil mengangkat tangannya dan menggenggam.
"Mana lagi nih taksi, kok nggak ada yang lewat"...
Gumamnya sambil menengok kekanan dan kekiri...
"Yahhh...kok mendung, aduhhh jangan hujan dulu deh"...
Ucapnya saat melihat keatas dengan langit yang sudah menggelap padahal hari masih sore.
"Alhamdulillah"...
Ucapnya syukur saat dari kejauhan dia melihat ada sebuah taksi yang melaju ke arahnya.
Seketika lila melambaikan tangannya dan taksi tersebut berhenti saat sudah dekat dengan lila.
Brak..
"Ikuti map ini ya pak"...
Ucapnya saat sudah berada didalam mobil sambil menyerahkan ponselnya kepada pria paruh baya sebagai pengemudinya.
"Baik neng"...
Jawabnya sambil melihat dengan jelas alamat yang dimaksudkan.
Lila duduk dengan tenang sambil memandang sendu ke arah luar sedangkan pria paruh baya tersebut memperhatikan penumpang remaja yang sedang duduk dikursi penumpang.
Tak ada obrolan yang tercipta didalam taksi tersebut, Pengemudi hanya sesekali memandang kebelakang melewati kaca yabg tergantung diatas, dapat dilihat gadis remaja tersebut sesekali menyeka pipinya dan dirinya seolah paham bahwa gadis tersebut sedang bersedih.
Gadis itu seusia putrinya atau mungkin hanya beda beberapa bulan saja.
"Tissu neng"...
Ucapnya sambil menyodorkan tissu dan diletakkan ditengah-tengah agar penumpang remaja tersebut dapat mengambilnya.
Lila yang mendengar ucapan pak sopir tersebut mengalihkan pandangannya dan dia melihat sekotak tissu, tanpa pikir panjang lila mengambil beberapa tissu kemudian.
Broott...broott...
Cengirnya tak enak hati saat selesai membuang sesuatu yang ada didalam hidungnya.
Bapak tersebut hanya tersenyum tipis melihat kelakuan gadis remaja itu sama persis dengan putrinya dirumah.
"Nggak papa neng, santai saja"...
Ucap dwngan suara tuanya sambil tersenyum tipis.
Lila pun membalas senyuman pak sopir tersebut, ya...mungkin jika bapaknya masih ada sekarang seusia bapak sopir itu pikirnya.
"Yaaaahhh hujan"...
Gumamnya pelan saat matanya memandang keluar jendela, hujan mengguyur dengan derasnya.
"Pelan-pelan saja pak, nggak lama lagi sampai kan"...
Ucapnya.
"Iya neng"...
Beberapa saat kemudian taksi berhenti tepat dirumah berpagar tinggi berwarna hitam dengan rumah yang lumayan besar terdiri dari 2 lantai berwarna putih.
"Ini pak, terima kasih ya pak"...
Ucapnya sambil menyerahkan selembar uang merah saat melihat argo yang terdapat didepan yang tak sampai segitu nominalnya.
"Kembaliannya neng"...
Ucapnya ssaat menerima uang dari pelanggannya dan akan mengambil uang kecil sesuai dengan jumlah yang seharusnya dikembalikan.
"Ambil aja pak"...
Ucapnya.
__ADS_1
Brak...
Pintu mobil ditutup oleh lila dengan sedikit keras, dia lantas mengangkat tasnya dan berlari untuk mencapai pagar dan masuk kedalam rumah itu.
"Huft...basah deh"...
Gumamnya saat sudah berada diteras rumah dengan tadi cepat-cepat menutup pintu pagar.
Ting tong...
Lila memencet bel dengan sedikit mengigil dan gemetaran.
Ting tong
ting tong
Ceklek.
Bruk.
"Omg.... lilaaaa, hei...banguuunnn"...
Teriaknya begitu membuka pintu dan langsung melihat tubuh lunglai sahabatnya dan segera ditangkap tubuh mungil lila sebelum menyentuh lantai.
"Ada apa nino kok teriak-teriak"...
Ucap pria paruh baya dibelakang nino saat mendengar putranya berteriak.
"Ya Allah...cepat bawa masuk"...
Ucapnya kaget dan panik saat melihat apa yang terjadi.
Nino hanya menganggukkan kepalanya dan langsung membopong tubuh mungil lila yang saat ini tak sadarkan diri.
"Untung lu ringan kalo berat ogah gua gendong lu, udah tau nggak bisa kena air hujan malah main ujan-ujanan lu"...
Ocehnya sambil terus berjalan agar sampai dikamar yang biasa lila tempati jika menginap dirumahnya.
Plak..
"Ihhhh papi, kok mukul sih"...
Ucapnya saat bahunya dipukul papinya.
"Lagian kamu, lila lagi pingsan gitu malah ngomel"...
"Buruan"...
Seru papi nino.
"Iya...iya..."...
Ucapnya sambil manyun.
Dengan perlahan direbahkannya tubuh lila diatas ranjang yang sudah dilapisi handuk berlapis-lapis agar baju basah lila tak mengenai ranjang.
"Papi panggil mbok sri dulu, kamu jagain lila dan ambilkan baju gantinya"...
Titah papi nino dan langsung meninggalkan kamar tersebut.
Nino lantas menuruti perintah papinya untuk mengambil baju ganti lila yang memang sudah ada dikamar itu.
Ya...sejak mereka saling mengenal, lila kerap menginap dirumah nino saat sang bibi tidak ada dirumah alias dinas luar, jadi lila sudah biasa keluar masuk kerumah nino dan meninggalkan baju gantinya.
Karena memang niatnya lila akan menginap dirumah nino sebab bibinya sedang pergi ke Surabaya beberapa hari kedepan, jadi lila dititipkan oleh bibi kepada calon suaminya papi nino, tentu mereka dengan senang hati jika ada lila dirumah mereka, karena rumah akan terasa rame mendengar perdebatan tak bermanfaat antara lila dan nino.
Sedangkan seorang pemuda tengah menatap rumah yang ada disebelahnya, rumah tampak gelap dan hanya lampu luar yang sudah menyala bahkan waktu masih sore tadi ketika dirinya baru pulang.
"Kamu dimana?"...
Gumamnya pelan dan masih berada diluar sedangkan saat ini sudah pukul 10 malam dengan hujan yang masih turun walau sudah tak sederas tadi.
Like...vote...hadiah dong plisss...
__ADS_1
Kasih semangat author dong🤗🤗