
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
"Mas, ada apa ya kenapa Nino meminta kita kerumah sakit? Apa Nino kecelakaan, bagaimana ini mas, mas jangan diam aja dong"...
Rengeknya dengan kesal kala suaminya tak menjawab semua pertanyaannya.
Saat waktu menjelang malam Yana dikagetkan dengan bunyi telfon yang ternyata dari sang putra namun hal yang lebih mengejutkan adalah mereka semua diminta untuk pergi kerumah sakit XX bahkan dari nada suaranya Yana dapat menyimpulkan telah terjadi sesuatu namun dirinya mengenyahkan fikiran negatifnya dan disinilah mereka berada didalam mobil sedangkan pasangan calon orang tua baru menggunakan mobilnya sendiri.
"Mas juga nggak tahu honey, mudahan semua baik-baik saja"...
Tony berucap dengan tenang sembari tersenyum hangat pada sang istri padahal dalam hati pria tersebut amatlah resah takut sesuatu terjadi pada putranya itu, walaupun mereka sering beradu mulut namun kasih sayangnya tak pernah luntur kepada putra yang seharusnya sudah menikah dua minggu lalu.
Namun takdir ternyata belum mengijinkan dirinya untuk mendapatkan seorang menantu kembali entah apa alasannya dia pun tak tahu, yang pasti segala doa yang terbaik selalu dipanjatkan untuk para anak-anaknya tanpa kecuali.
Yana menggigit kukunya dengan perasaan cemas sebagai seorang ibu dirinya sangat gelisah sekali Nino merupakan putra satu-satunya bahkan dirinya merasakan iba sebab pernikahan sang putra mengalami penghalang dan tidak mulus seperti calon orang tua baru itu.
Walau Nino bukan terlahir dari rahimnya namun naluri seorang ibu patut diacungi jempol karena dia tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya sama seperti sang suami.
Nella hanya memandangi interaksi kedua orang tuanya tak jarang dirinya mengerutkan kening namun tak lama kedua bahunya terangkat bersamaan tanda tak mengerti.
"Olang dewasa banak cekali macalah, apa anti ella begitu yaa?"...
Tanyanya dalam hati.
Srupp...
Nella kembali menyedot susu kemasan dengan rasa cokelat lalu sesekali menengok kearah samping tepat dijendela bagian kursi penumpang.
Seketika mata Nella tak berkedip kala netra pandangannya menangkap sosok seseorang tepat disebelah mobil yang dikendarai sang papi karena kebetulan sedang lampu merah.
Kedua bibirnya terangkat sempurna saat ada remaja pria sedang menengok kearahnya dengan menaikkan helm yang dipakai sehingga terlihat lebih jelas wajah remaja pria tersebut, remaja yang menggunakan setelah baju kaos hitam dengan ditutupi jaket khas remaja.
Senyum pria tersebut sungguhlah manis apalagi remaja itu mempunyai lesung pipi dan kumis tipis membuat kadar ketampanannya bertambah.
"Kakak ganteng cekali, hihihi abang Nono kalah"...
Nella cekikikan dengan pandangan yang tak lepas dari remaja tersebut bahkan dirinya duduk didalam kursi yang sudah diberi pengaman oleh sang mami dan suara cekikikannya membuat Yana mengerutkan kening lantas mengengok kebelakang.
"Kenapa sayang?"...
Tanya Yana menghentikan tawa kecil Nella.
"Nggak apa-apa mi, itu ada kakak ganteng kalah cama abang Nono"...
Celotehnya dengan nada cedal bahkan dirinya menunjuk pada remaja tersebut.
__ADS_1
Yana mengikuti arah tangan Nella dan melihat memang benar ada seorang anak remaja tepat disamping putrinya itu, Yana lantas menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali memperbaiki duduknya saat mobil yang dikendarai sang suami sudah berjalan lagi.
Nella dengan cepat membuka sabuk pengamannya dan menurunkan kaca jendela saat mobil bergerak bahkan dirinya menampilkan senyum lebarnya dan jangan lupakan pipinya yang chuby serta giginya yang hilang bagian depan dan berada diatas.
Remaja tersebut sontak menampilkan senyum dan mengalihkan pandangannya kearah depan sebab jalan yang dilalui tidak searah dengan Nella.
"Nella, pakai sabuk pengamannya"...
Pekik Yana saat tak sengaja melihat kebelakang dimana sang putri sudah membuka sabuk pengamannya sendiri bahkan kaca jendela sudah terbuka tinggal setengah padahal Nella sudah kembali menaikkan kaca jendela tersebut namun keburu ketahuan.
Wah...Nella udah centil yaaa kecil-kecil🤣🤣🤣
Seorang pria muda sedang memandang sendu kearah gadis dimana gadis tersebut masih terbaring lemah, seolah mempunyai ikatan bathin gadis yang dinyatakan koma hampir dua minggu itu langsung tersadar dari tidur lamanya.
Dan disinilah Nino berada didalam ruangan dimana sang calon istri tengah memandangnya sembari tersenyum dibalik wajah pucat tanpa aliran darah tersebut, tak ada raut kesedihan yang terpancar diwajah pucat Chika sebisa mungkin gadis tersebut menyembunyikan kesedihan serta kesakitannya selama ini.
Bahagia tentu Chika sangat bahagia sebab dirinya bisa berjumpa dengan pujaan hatinya disaat-saat terakhirnya dia berada didunia ini
Bahkan sampai saat ini Chika masih tidak percaya jika Nino, lelaki yang selalu membuatnya tertawa ada dihadapannya sedang menggenggam sebelah tangannya sembari menatapnya sendu.
Dan sebentar lagi tanpa diketahui oleh Chika sang pujaan hati akan mengesahkan status mereka.
Karena Nino telah menghubungi keluarganya untuk datang kemari tanpa mengatakan apa-apa dan Nino juga menghubungi asisten rumah tangganya untuk membawakan sesuatu yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum ditundanya acaranya yang seharusnya sudah terlaksana dua minggu lalu.
"Jangan memandangiku seperti itu yang"...
Pintanya dengan nada yang teramat lirih bahkan lebih nyaring suara mesin yang terhubung pada detak jantungnya.
Tanya Nino dengan nada sendunya bahkan tak jarang air matanya keluar tanpa permisi.
"Maaf, maafkan aku...aku nggak mau buat kamu susah"...
"Sstt...kamu nggak pernah buat aku susah, bertahanlah sebentar lagi ya"...
Pintanya dengan penuh harap bahkan kedua tangannya menggenggam erat tangan Chika yang tampak kurus sekali.
Chika tersenyum bahagia, andai dirinya bisa bertahan lebih lama lagi dia akan sangat bahagia bisa memiliki Nino, sosok lelaki yang selalu membuatnya tertawa akan sikap jahilnya, sikap lemah lembutnya, sikap sabarnya, perhatiannya, cinta tulusnya.
Dirinya berdoa dalam hati andai waktunya didunia ini sudah tidak lama dirinya akan memohon agar Nino mendapatkan sosok wanita yang sehat dan tentu bisa menjaga ninonya.
Waktu bergulir begitu cepat kini ruangan tersebut sudah dipenuhi anggota keluarga Nino serta petugas yang akan mengesahkan keduanya.
Chika, tentu gadis itu sangat kaget bahkan dirinya memohon pada Nino agar tidak menikahinya namun keputusan Nino sudah bulat bahkan pria tersebut mengucap dengan tegas seolah tak ingin dibantah.
Diruangan tersebut tidak ada yang tidak mengeluarkan air mata, saat kata demi kata Nino ucapnya dengan sekali tarikan nafas dan tentu kini Chika sudah sah menjadi miliknya.
Bahkan Lila sampai menangis sesegukan didalam dekapan sang suami, sungguh dirinya merasa sangat iba pada saudara laki-lakinya itu walau tidak ada hubungan darah namun Lila snagat menyayangi Nino.
Cup.
"Terima kasih sudah menjadi istriku, bertahanlah demi aku yang, kita akan melewati ini bersama, kamu tidak akan sendirian lagi"...
__ADS_1
Bisik Nino dengan lirih setelah mengecup kening Sang istri setelah prosesi ijab kabul beberapa saat lalu.
Chika tersenyum haru, perlahan tangan kurusnya terulur untuk menyentuh wajah lelaki yang dicintainya dan kini emnjadi suaminya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih yang, terima kasih sudah mau mempersunting aku disaat terakhirku, berbahagialah selalu nanti jika kita tak bisa bersama"...
Ucapnya pelan diiringi dengan tetesan air matanya.
Sungguh dirinya saat ini sedang menahan rasa sakit yang menyerang, rasa yang teramat sakit hingga dirinya harus memejamkan mata.
"Yang...yang..."...
Nino panik lantaran melihat sang istri sedang merintih kesakitan dan dieinya semakin kalut saat akan menekan tombol darurat namun dicegah oleh Chika.
"Terima kasih sudah mengabulkan keinginan terakhirku, terima kasih sudah sudi mencintai aku, terima kasih su...a...mi...ku..."...
Ucapnya dengan terbata-bata.
"Bolehkah aku meminta untuk yang terakhir kalinya"...
Sambungnya lagi.
Nino dengan tangisnya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Ci...um aku yang"...
Desisnya sembari memejamkan mata namun perlahan dibukanya dengan pelan.
Cup.
Nino dengan cepat mencium sang istri, ciuman pertama setelah sah menjadi pasangan halal namun, ciuman kesedihan diantara kebahagian, ciuman untuk yang terakhir kalinya.
Tangis Nino semakin deras namun bibirnya tetap mema gut bibir sang istri dengan penuh kelembutan, bahkan Chika membalas dalam keadaan lemahnya namun dia tersenyum, senyum kebahagiaan bisa menjadi bagian dari sang suami.
Perlahan Nino melepaskan pagu tannya dan menempelkan kening mereka, Chika mengukir senyum dan membalas tatapan sang suami dengan pandangan yang sudah mulai terasa berat untuk membuka mata.
"Se...la...mat...ting...gal...su...a...mi...ku"...
Ucapnya dengan lemah dan seketika mata sayu tersebut tertutup perlahan namun bibirnya membentuk senyuman, bahagia karena saat terakhirnya ada sang suami yang mendekapnya.
Tes....
Tes...
Tes...
Good Bye Chika Nugraha👋👋
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sabar ya No, nanti othor kirim jodoh buat nono😥
__ADS_1