
Happy Reading🤗🤗🤗
Like
Vote
Gift
Tristan masuk kedalam rumah dengan langkah gontai dan kepala menunduk kebawah, dia mendudukkan tubuh atletisnya diatas sofa ruang tamu miliknya sambil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya yang ujung salah satu tangannya masih terselip kertas berwarna biru tersebut.
Tak lama kemudian dia merasa ada yang mengelus pundaknya membuat seketika tersadar dan langsung mengangkat wajahnya namun saat melihat bahwa orang yang mengelus pundaknya adalah mamanya dirinya mencoba untuk menarik kedua sudut bibirnya.
"Ada apa nak?"...
Tanya mama Tari dengan hati-hati karena melihat betapa kusutnya wajah sang putra.
Tristan menggelengkan kepalanya pelan mencoba untuk tersenyum lagi.
"Oh ya ma, ada salam dari Lila"....
Ucapnya dengan nada sedikit tercekat.
Mama Tari mengerutkan dahinya namun tak urung dirinya menjawab salam dari Lila, gadis periang yang membuatnya merasa terhibur selama berada dirumah anaknya waktu itu.
"Bukankah tadi nak Nino bilang kalau Lila pergi, emang kamu ketemu nak Lila Tris?"....
Tanya mama Tari dengan mengerutkan dahinya kembali.
Degh.
Jantung Tristan seperti berhenti berdetak kembali.
"Nino temennya Lila mah?"...
Tanya Tristan.
Mama Tari menganggukkan kepalanya.
"Iya, kan yang antar kotak tadi nak Nino, Mama kira ada nak Lila juga rupanya dia cuma sendiri dan bilangnya sih Lila pergi tapi mama nggak tau pergi kemana dia, pas mama mau tanya nak Nino buru-buru pamitan pulang"...
Jelas mama Tari panjang lebar.
Tristan seketika tersenyum seperti mendapat sedikit angin segar.
__ADS_1
"Mah, Tristan pamit dulu ya, ada keperluan sedikit, mama makan aja duluan nanti sama..."...
Ucapnya menggantung dan mama Tari memahami anaknya yang tidak ingin memanggil nama keponakannya yang sedang dirumah putranya itu.
"Pergilah, jangan kawatirkan mama"...
Ucapnya sambil mengelus lengan sang putra.
Tristan kemudian mencium sebelah pipi sang ibu lantas bangun dari duduknya dan berlari masuk kembali untuk menuju lantai atas dimana kamarnya.
Mama Tari hanya menggelengkan kepalanya walau dirinya tidak tau apa yang sedang terjadi namun dia berdoa semoga putranya selalu bahagia tidak seperti dirinya yang hingga kini belum bisa memiliki hati suami keduanya sendiri.
Dihembusnya nafas dengan kasar lalu pandangannya beralih pada sosok keponakannya yang sedang berada diruang keluarga yang sedang menyalakan televisi.
Dan tujuan kali ini ternyata salah besar dengan mengajak keponakannya itu dan sepertinya dia akan kembali sesegera mungkin mengundur keinginannya yang akan berlama-lama berkunjung kerumah sang putra, karena tak ingin sang putra merasa tak nyaman saat keponakannya satu rumah dengan Tristan apalagi dia tadi sempat melihat sendiri betapa lancangnya keponakannya itu dengan barang yang bukan miliknya namun saat akan menegur dirinya ternyata kalah cepat dengan putranya hingga bisa bernafas lega karena keponakannya tak sempat membuka kotak tersebut.
Tristan mengendarai mobil miliknya setelah berpamitan pada sang mama tadi sambil membawa ponsel serta kunci mobil yang memang diletakkan diatas nakas samping tempat tidurnya tanpa menghiraukan seragam loreng yang masih dikenakannya.
"Halo loe dimana?"...
Tanya Tristan saat panggilan telfonnya diangkat oleh orang disebrang sana dengan nada sedikit tergesa-gesa dan dirinya menggunakan handsfree bluetooth.
📞"Dirumah, kenapa sih kok kayak panik gitu?"...
"Ketemu ditempat biasa, gua tunggu sekarang"...
Klik.
Tristan menutup panggilannya begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari sahabatnya Dony.
Sedangkan disebuah kamar Dony tengah terbengong mendengar ucapan yang seperti perintah baginya.
"Bener-bener ya nih manusia triplek, main matiin aja...nasib...nasib..."...
Gerutunya namun dirinya pun segera bangun dari rebahannya tanpa mengganti seragamnya, Dony pergi keluar dari kamar dan mengendarai mobil untuk menemui sahabatnya ditempat mereka biasa bertemu atau sekedar makan bersama karena Dony mempunyai perasaan yang sedikit tidak enak.
Beberapa saat kemudian Tristan telah sampai dikafe langganannya dan dimana dirinya pernah membawa Lila untuk mengaku sebagai calon istrinya.
Tristan menghembuskan nafas dengan kasar sambil mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Dirinya tersenyum miris dan menggelengkan berkali-kali kepalanya, bahkan dadanya terasa sakit saat kembali mengingat kata-kata yang tergores indah diatas kertas berwarna biru tadi, rasa tak rela hinggap dibenaknya saat membaca sebait kata yang tergores untuk pergi menjauh dan dirinya berharap bahwa itu hanya lah sebuah kata-kata bukan lah sungguhan.
Rasanya bahkan lebih sakit saat melihat mantan kekasihnya dulu sedang memadu kasih dengan lelaki lain.
__ADS_1
Terkadang dia bertanya ada apa dengan hatinya kenapa rasa tak rela itu semakin menjadi bahkan dirinya juga tak habis fikir kenapa bisa sampai disini dan untuk apa, padahal kenyataannya gadis kecil tersebut bukan siapa-siapanya namun entah mengapa segala tentang gadis kecil yang cerewet itu mengusik fikirannya akhir-akhir ini.
Dibukannya pintu mobil yang sudah terparkir sempurna dihalaman Cafe tersebut, lantas Tristan keluar dan berjalan menuju pintu masuk Cafe.
Didudukkannya tubuh besarnya setelah mendapatkan tempat yang kosong tanpa menghiraukan pandangan orang yang sedang mencuri-curi kearahnya namun dia nampak acuh saja.
"Hay...wah nggak nyangka kita bertemu disini, jodoh nih sepertinya"...
Suara seseorang yang begitu membuatnya jengah, anak dari salah satu atasannya ini selalu mendekatinya tanpa malu sedikitpun, wanita yang bertugas sebagai pengacara ini disalah satu firma hukum yang ada diKota ini bahkan dirinya sering datang ke Batalyon hanya untuk mencari cara mendekatinya dan bukan Tristan ke ge eran atau apa namun kenyataannya seperti itu bahkan seluruh anggotanya tau akan tabiat seorang dari Erika Sanjaya.
Tristan hanya menaikkan sebelah alisnya tanpa menghiraukan wanita yang kini tengah duduk santai tanpa permisi disalah satu bangku yang ada didekatnya.
Erika mengedarkan pandangannya namun matanya tak menangkap sosok yang sedang dicarinya.
"Sendirian aja, mana nih calon istri kamu?"...
Tanya Erika sambil memandang wajah tampan Tristan, lelaki yang sangat sulit didekati sejak dirinya berjumpa pada 3 tahun lalu.
"Tris..."...
Panggilnya dengan nada lembut sambil memegang tangan kiri Tristan yang ada diatas meja.
Tristan seketika menarik tangannya bahkan dirinya menghela nafas dengan kasar.
"Kenapa loe nyariin calon istri gua?"...
"Ohhh ayolah Tris, jangan seperti itu kalau ngomong sama aku, ya pengen tau aja kalau memang dia bukan calon istri kamu tapi cuma bohongan aja biar aku mundur gitu, oh come on... Erika nggak akan mundur begitu saja, tunggu aku sayang"...
Cup...
Erika segera melenggang pergi saat berhasil mendaratkan bibir merahnya di pipi pria yang digilainya ini.
Tristan nampak mengetatkan rahangnya saat wanita seperti Erika berbuat hal seperti itu bahkan ditempat umum, segera diambilnya tisu dan mengelap bekas ciuman yang bersarang dipipi kirinya.
Tristan berdiri dari duduknya untuk pergi kearah toilet karena merasa tak puas jika hanya mengelap menggunakan tissu.
Dia seperti lelaki gampangan yang dengan mudahnya dicium oleh sembarang wanita walau hanya dipipinya, dihembusnya nafas dengan kasar dan melihat dirinya sendiri dicermin kamar mandi, wajah tampannya sudah basah karena Tristan membilas berulang kali wajahnya apalagi pipi kirinya nampak memerah karena sedikit kasar saat menggosok tadi.
Like.
Vote.
Gift.
__ADS_1
Nah loooðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤