
Happy Readingπ€π€π€
"Ooommmm"...
Teriak lila saat berjalan mendekati mobil tristan yang baru saja dimatikan mesinnya.
Brak.
Pintu mobil ditutup sedikit keras oleh si empu membuat lila seketika terjengkit kaget.
"Ihhh om nggak bisa pelan apa kalo nutup pintu, kan lila kaget...untung lila nggak punya penyakit jantung, kalo punya wahh bisa gawat nanti lila nggak bakal jadi istrinya om tantan"...
Cebiknya kesal saat sudah dihadapan tristan sambil memegang lengan lelaki yang super dingin itu.
Tristan hanya menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan dari bocah dihadapannya ini yang sedang memegang lengannya.
"Minggir"...
Ucapnya datar sambil melepas tangan mungil itu.
Lila seketika menggelengkan kepalanya pertanda tak mau untuk minggir dengan bibir mengerucut lucu.
"Saya bilang minggir, saya lelah"...
Ucap tristan dengan nada dingin.
Degh
"Isshhh...iya-iya...om, lila minggir"...
"Yaudah lila pulang dulu, sampai besok lagi om"...
Ucapnya dengan masih mengerucutkan bibirnya sambil melepaskan tangannya yang memegang lengan tristan.
Lila langsung berlari kecil sambil bersenandung ceria saat sudah tiba dipinggir jalan dan semua itu tak luput dari mata tajam seseorang yang masih menggunakan seragam dinasnya.
"Ckkk"...
Decaknya...
Ya, semenjak kejadian direstoran tempo hari, gadia kecil tersebut semakin hari semakin menempel kepadanya dan membuat dirinya seakan merasa risih.
Lila sampai rumah dengan masih bersenandung ria membuat sang bibi yang kebetulan sudah pulang dari kerjanya.
"Aduh...kayaknya ada yang lagi happy banget nih, sampai nggak nyapa bibi?"...
Sindir seseorang yang saat ini sedang duduk di sofa dengan membelakangi pintu masuk.
Lila seketika menghentikan nyanyiannya dan menoleh ke arah sumber suara itu dan disana dia melihat sang bibi tercintanya sedang bersandar disofa sambil memejamkan matanya.
"Aahhhh bibi"...
Teriaknya dan langsung menubrukkan tubuh mungilnya kesamping bibi dengan sedikit keras.
Brugh...
"Awww...lila, pelan-pelan dong sayang, kamu itu perempuan mbok ya yang kalem sedikit jadi orang biar ada yang mau sama kamu"...
Omelnya saat tubuh lelahnya di tubruk sang keponakan tersayangnya.
"He...he...he..."...
"Dah dari sono nya bik"...
Cengirnya.
__ADS_1
Sedangkan bibi hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah pecicilan keponakannya itu.
"Bibi cape ya?"...
Tanya lila saat bibinya kembali memejamkan matanya membuat dirinya merasakan kasihan, dengan wanita yang usianya sudah tak muda lagi namun masih sangat terlihat cantik, wanita yang merawatnya dengan penuh cinta walaupun dirinya selalu ditinggal dirumah sendirian karena harus mencari nafkah untuk mereka berdua.
"Bibi nggak papa sayang, sudah umumnya jika kita kerja pasti akan lelah, tapi semua lelah bibi akan hilang sebab ada keponakan bibi yang cantik ini yang selalu menemani lelah bibi"...
Ucapnya dengan tulus sambil memandang wajah cantik lila, wajah yang sama persis seperti mendiang kakaknya.
Lila lantas tersenyum ceria, ya dirinya akan selalu ceria jika bersama sang bibi dan tak akan memperlihatkan jika dirinya telah bersedih seperti yang sudah-sudah.
"Yaudah bibi mandi terus istirahat, nanti lila bangunin bibi kalo udah selesai masak buat makan malam"...
Ucapnya dengan sok dewasa sambil tersenyum pongah.
"Seharusnya bibi yang bilang seperti itu sayang"...
Gemasnya sambil mencubit pelan hidung mancung lila.
Lila nampak nyengir sambil mengelus hidung yang barusan dicubit wanita tersayangnya.
"Yasudah bibi mandi dulu ya"...
Ucapnya lantas beranjak dari duduknya sambil mengelus lembut pipi chubby lila.
Ya, semenjak lila masuk menengah pertama, dirinya sudah bisa memasak karena sewaktu tinggal bersama sang bibi, lila selalu mengikuti kemanapun bibinya melangkah sewaktu berada dirumah dan menanyakan banyak hal dengan mulut comelnya, dengan sabar sang bibi menjelaskan bahkan ketika lila mengutarakan ingin diajari untuk memasak bibi sempat tak mengijinkan namun karena bujuk rayu sang keponakan dengan muka menggemaskan terpaksa sang bibi mengabulkan dengan beberapa persyaratan tentunya.
Kurang lebih satu jam lila berada didapur untuk menyelesaikan memasak sayur beserta lauknya.
"Dah lewat maghrib, lila mandi dulu deh terus sholat"...
Gumamnya pelan saat melihat jam sudah menunjukkan bahwa waktu maghrib sudah lewat beberapa menit.
Lila lantas menuju kekamarnya dan menyambar selembar handuk, setelahnya kembali lagi sambil memperhatikan kamar sang bibi yang masih tertutup rapat.
"Pasti bibi cape"...
Gumamnya dan langsung menuju kekamar mandi yang ada di dekat dapur.
Tak butuh waktu lama untuk lila membersihkan tubuhnya sebab waktu maghrib sudah hampir habis.
Ceklek.
Dibukanya pelan pintu kamarnya dan segera menutupnya kembali, karena sedang terburu-buru dirinya hingga lupa untuk menutup jendela kamarnya yang saat ini masih terbuka.
__ADS_1
Sret...
Dilepaskannya handuk yang melilit tubuhnya yang setengah naked, ya... lila sempat mengganti penutup gunung kembarnya serta kain segitiga dengan yang baru diambil didalam lemari dan setelahnya handuk yang melilit tubuhnya dilepas begitu saja, segera dirinya mengambil selembar daster tanpa lengan dengan dasar warna putih dengan motif bunga tulip.
Bunga kesukaan lila dan impiannya kelak jika dirinya bisa menyambangi negara asal dimana bunga tulip berada.
Setelah selesai memakai dasternya, lila langsung memakai mukenah untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslimah.
Segala aktifitasnya ternyata diperhatikan oleh seseorang yang saat ini masih memperhatikan rumah disebelahnya termasuk saat gadis tersebut membuka handuk seperti pertama kali dirinya berada dirumah yang baru dia beli dan seperti kemarin dirinya tak dapat melihat wajah dari gadia yang setengah naked tersebut.
"\*\*\*\*"...
Umpatnya saat dibawah sana mencoba memberontak.
"Huft"...
Tristan lantas menghembuskan nafasnya perlahan sambil menutup tirai jendelanya.
Ya orang tersebut adalah tristan tetangga dari lila si gadis kecil.
"Kenapa juga gue lihat kesana terus, mana tuh rumah gadis kecil yang super cerewet lagi"...
Gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan langsung mendudukkan tubuhnya diranjang.
Ditariknya perlahan laci yang ada dinakas samping ranjang.
Diambilnya sebuah bingkai dan dibaliknya, disana terdapat sepasang anak manusia dengan masih menggunakan seragam putih abu-abu, foto 8 tahun lalu saat dirinya baru menjalin hubungan dengan seorang gadis cantik nan manis, gadis sederhana yang mampu membuatnya jatuh cinta, pria dingin dengan sejuta pesona tertarik dengan seorang gadis yang pendiam dan tak banyak tingkah.
Hingga suatu hari dirinya menyatakan perasaannya dan sepertinya cintanya tak bertepuk sebelah tangan sebab ternyata sang gadis juga mencintai dirinya, semenjak itulah mereka menjalin hubungan hingga lulus sekolah mereka masih saling bertemu dan pada saat sang pujangga mengutarakan niatnya untuk ikut tes menjadi seorang tentara, dan hal itu menyebabnya pertama kalinya mereka bertengkar namun lambat laun sang gadis akhirnya mengijinkan.
Setelah diterima masuk anggota tentara, ditahun pertama masih baik-baik saja namun ditahun kedua sang gadis tiba-tiba menghilang bahkan nomor ponsel serta tempat kostnya sudah kosong.
Ditatapnya dengan nanar potret mereka berdua, potret saat sedang tertawa bahagia.
Aera pradisti gadis cantik dengan tinggi 175cm mempunyai tubuh bak model namun tertutup sebab sewaktu masih sekolah dirinya selalu memakai pakaian yang lebih longgar.

Aera adisti
LOHA READERS...MAAFKAN AUTHOR YANG BARU BISA UP...
LIKE, VOTE DAN GIFT SEBANYAK-BANYAKNYA YA READERS...
__ADS_1
πππ