My Sexy Hot, Pak Tentara

My Sexy Hot, Pak Tentara
Part 45


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Like


Vote


Gift


Waktu berlalu begitu cepat tak terasa sudah 5 tahun kepergian seseorang yang ternyata saat berarti dalam hidupnya, memang benar kata orang jika kita akan merasa sangat kehilangan seseorang bila orang tersebut sudah pergi jauh meninggalkan kita.


Menyesal tentu saja menyesal dan hanya ada kata "Andai".


Andai waktu bisa berputar kembali.


Andai orang tersebut bisa bersabar.


Andai dia bisa membuka mata hatinya sejak awal.


Andai dia menyelidiki dahulu seperti apa wanita masa lalunya, tentu dia tak akan menampik terus perasaan yang sebenarnya sudah ada sejak awal berjumpa.


Andai dirinya menyadari perasaannya lebih awal tentu orang tersebut tak akan pergi meninggalkannya dan hanya meninggalkan rasa Rindu yang mendalam hingga kini.


Seperti ucapan Dony 5 tahun lalu yang mengatakan tentang segalanya, segala yang pernah gadis itu ungkapkan termasuk perasaannya terhadap sahabatnya Tristan namun satu yang tidak Dony ketahui tentang ke mana gadis itu pergi dan Dony tidak berbohong sebab Tristan pun tau akan sahabatnya ini.


Disinilah dirinya berdiri, menatap kosong pada ranjang bermotifkan awan dengan warna dasar biru langit warna favorit seseorang yang dirindukannya bahkan hingga kini dirinya masih berharap jika Tuhan bisa berbaik hati padanya untuk dipertemukan dengan gadis yang sangat dirindukannya hingga kini, kamar sederhana yang sudah lebih dari 4 tahun dirinya selalu datangi dan akan kembali ke rumah aslinya saat dirasa rindunya sedikit terobati dengan memeluk guling yang ada diatas ranjang, karena penuturan pemilik sebelumnya bahwa kamar itu belum dibuka sama sekali karena kesibukan bekerja, bahkan dirinya harus merogoh kocek 2 kali lipat dari harga awal untuk bisa membeli rumah ini, rumah sederhana namun kini rumah tersebut sudah direnovasi agar semakin cantik namun tak membuat tata letak didalamnya berubah, seperti yang pernah diucapkan oleh sepasang suami istri yang dulunya baru seminggu tinggal dirumah sederhana ini dan bahkan mereka belum sempat untuk mengganti isi didalamnya.


Dia bukan orang kaya bahkan untuk membeli rumah sederhana yang berdiri kokoh disamping rumahnya itu, dirinya harus merelakan mobil pertamanya terjual walau perjuangan untuk membeli mobil tersebut tidaklah mudah namun dia bahagia paling tidak bisa memiliki rumah disampingnya dan pada saat itu dirinya hanya membeli sebuah sepeda motor untuk alat transportasinya.


Namun seiring berjalannya waktu dia mencoba untuk membangun usaha kecil dari hasil gajinya yang dikumpulkan dari nol lagi dan ternyata membuahkan hasil hingga sekarang dia sudah mempunyai 2 anak cabang yang berada didaerah jawa tempat orang tuanya tinggal namun tetap berada dikota besarnya.


Anggaplah dia gila namun pada kenyataannya memang seperti itu, dia sungguh tergila-gila pada sosok gadis kecil yang selalu dipanggilnya bocil, bahkan hampir setiap malam dirinya memimpikan gadis tersebut.


"Apakah ini hukuman untukku, kembalilah...ijinkan aku untuk menyatakan perasaanku yang selama ini selalu aku hindari bahwa ternyata hati ini hanya untukmu"...


Lirihnya sambil tersenyum getir mengusap sebuah foto seorang gadis yang sedang tersenyum ceria menatap kamera, foto satu-satunya yang ditemukan di laci samping ranjang kecil yang hanya muat untuk 1 orang jika itu dirinya namun tidak jika untuk gadisnya.


Dan dirinya bersyukur masih bisa melihat foto gadisnya itu, foto yang selalu dipandanginya saat masuk kedalam kamar, bahkan dirinya mencetak foto tersebut dengan ukuran yang sedikit besar dan disimpan didinding kamarnya, rumah yang berlantai 2 itu.


Bahkan hingga kini pun dirinya belum bisa membujuk laki-laki yang pernah dilihat bersama gadisnya, laki-laki itu diam seribu bahasa bahkan terkesan selalu menghindari dirinya jika dari kejauhan melihatnya, laki-laki yang baru ditahunya jika dia adalah sahabat sekaligus adik sepupu gadisnya.


Tristan menghembuskan nafas dengan kasar lalu menengok kedalam kamar sebentar kemudian menutup kembali dengan perlahan dan segera meninggalkan rumah sederhana yang selalu rapi setiap harinya.


Ceklek.


Tristan membuka pintu rumahnya jam menunjukkan masih pukul 7 malam.

__ADS_1


"Bapak mau makan malam sekarang?"...


Tanya seorang wanita paruhbaya yang sudah 2 tahun ini bekerja padanya.


Tristan seketika menengadahkan kepalanya sambil tersenyum tipis pada wanita yang sudah berumur itu karena tadi dirinya sedang menundukkan kepala saat masuk kedalam rumah.


"Boleh mbok, saya keatas dulu mau bersih-bersih"...


Ucapnya dan langsung meninggalkan mbok Dami sendirian didepan pintu rumahnya.


Mbok Dami menganggukkan kepalanya pelan sambil menutup pintu rumah majikannya yang sudah 2 tahun ini dirinya tinggal serta kerja dirumah ini, rumah yang mau menampungnya dari teriknya matahari bahkan bersama cucu lelakinya yang masih balita.


Mbok Dami sudah tidak memiliki keluarga dan hanya tersisa seorang cucu laki-laki yang diberi nama Tio oleh anaknya yang sudah meninggal akibat bencana alam yang 2 tahun lebih itu.


Namun pada saat itu dirinya beruntung bisa bertemu dengan seorang lelaki berseragam loreng yang baik hati mengajaknya untuk tinggal dirumah yang saat ini ditempati bersama cucunya.


Tristan turun kebawah setelah selesai membersihkan tubuhnya, karena memang setiap hari selepas pulang kerja dirinya akan singgah dirumah sebelah dan setelahnya baru pulang kerumahnya sendiri, itu dilakukan setiap harinya bahkan mbok Dami dimintai tolong untuk menyapu serta mengepel setiap seminggu sekali tanpa bertanya macam-macam pada majikannya itu yang ditaunya masih sendiri dan belum memiliki kekasih maupun tunangan.


Dret...dret...


Tristan merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel yang disimpan dikantong depan.


senyumnya terbit saat melihat panggilan VC dari seseorang.


"Halo Assalamualaikum cantik"...


"Waalaitum calam....ooommm tis tis, eya yinduuuu"...


Celotehan bocah kecil disebrang sana yang sedang tertawa lebar menampilkan gigi ompongnya.


"Emmmm....sayangnya om nggak tuh"...


Godanya sambil memalingkan wajahnya hingga membuat bocah tersebut langsung melunturkan senyumnya digantikan dengan mata yang berkaca-kaca dan siap untuk mengalir.


"PAPAAAA....HUAAAAA OM TIS TIS AHAAATTTT, OMM TIS TIS NGGAK CAYAAAANG CAMA EYA....PAPAAAA HUAAAA"...


Teriaknya kencang sambil menangis histeris dengan memanggil papanya.


"Eehhh cup...cup...maaf sayangnya om, om hanya bercanda kok, om juga rindu sama bella"....


Ucapnya menenangkan bocah cilik yang tengah menangis histeris disebrang sana.


"Cunggu..."...


Ucapnya saat tangisnya tiba-tiba mereda padahal tadi seluruh penghuni rumah bocah tersebut pasti mendengar tangisan kencang dari bocah berumur 4 tahun lebih itu.

__ADS_1


"Emmm...sungguh"....


Ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bella tiba-tiba langsung berhenti menangis dan kini hanya tersisa wajah memerah dan lelehan air mata yang masih ada dipipi tembemnya.


"Bella, sini papa mau ngomong sama om Tris biar papa marahin om yang sudah buat putri papa menangis"...


Ucap seseorang dari balik layar ponsel yang sedang dipegang oleh bella.


"Nooo...papa, om Tis tis angan dimalahin, eya tayang ma om tis, MAMAAAA.... PAPAAAAA AHAAAAT AU MALAHINNNN OM TIS EYA"....


Teriaknya kencang dengan wajah memberengut lucu dan seketika menggeletakkan begitu saja ponsel yang masih terhubung dengannya, Tristan seketika tergelak melihat tingkah menggemaskan bella, anak dari Dony dan Cessy.


"Heran deh gua, yang nyetak gua kenapa jadi gua berasa kayak musuhnya"...


Ucapnya disebrang sana saat dia mengambil ponsel yang diletakkan begitu saja oleh putrinya.


"Bagus dong kalau anak lu nemplok ma gua"...


Tristan menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum tipis melihat wajah sahabatnya yang kini sudah berbeda jarak yang jauh karena Dony dipindah tugaskan di daerah Jawa 2 bulan yang lalu.


"Enak di elu susah di gua, bikin sendiri napa...ups sorry kan lawannya masih belum ketemu"...


Ceplosnya sambil menutup mulutnya lantas tergelak kencang melihat ekpresi wajah masam Triatan.


"Suek lu...udah gua tutup"....


Klik.


Tristan mematikan sambungan VC mereka, lantas menyimpan ponselnya kedalam sakunya kembali.


"Tio mana mbok?"...


Tanya Tristan saat mendudukkan tubuhnya dimeja makan.


"Tio sudah tidur pak, tadi sehabis minta susu Tio langsung minta ditidurkan"...


Ucap mbok dami sambil meletakkan piring kosong didepan majikannya.


Tristan lantas menganggukkan kepalanya pelan dan mulai mengisi piring kosongnya dan tentu mbok dami pun ikut makan dimeja yang sama sebab majikannya yang menyuruh mbok dami semeja dengan Tristan.


Like.


Vote.


Gift.

__ADS_1


Maafkan mom ya Readers, tugas negara baru kelar jadinya baru bisa up, itupun bergantian ma anak wedok jadi harap maklum yaaa readers🙏🙏🙏


Jangan lupa hadiahnya yang banyak yaaaa....🤭🤭🤭


__ADS_2