
Happy Readingπ€π€
Degh.
Tes...
Tes...
Air mata seorang gadis seketika terjatuh dengan sendirinya, didepan sana dia melihat lelaki pujaannya sedang mencium bibir seorang wanita.
Hup...
Pandangannya seketika menggelap dan tak lama suara seseorang terdengar lirih ditelinganya.
"Jangan diteruskan"...
Bisiknya dan seketika membalikkan tubuh Lila dan dibenamkannya didada.
Nino menenangkan Sahabat sekaligus kakak sepupunya sambil pandangannya sesekali menatap sepasang kekasih yang berada dibarisan belakang mereka dan hanya berjarak beberapa kursi saja.
Nino menghela nafas dengan kasar, dirinya sangat paham apa yang dirasakan oleh Lila walaupun dia belum pernah berada diposisi Lila saat ini.
"Ayok kita keluar"...
Ajaknya sambil berbisik ditelinga Lila dan Lila nampak mengangguk tak bersuara.
Nino melepas jaket yang dipakainya kemudian memakaikan kepada Lila yang saat ini hanya memakai kaos yang membalut tubuh mungil Lila.
Lila masih menundukkan pandangannya namun air matanya tak berhenti mengalir walau tak bersuara, dinaikkannya dagu Lila dan lila nampak menurut apa yang dilakukan oleh nino.
Dapat dilihatnya mata memerah serta lelehan air mata yang membasahi pipi chuby Lila, nino menghela nafas pelan sambil mengangkat kembali tangannya dan diusapnya air mata yang mengalir itu.
Setelahnya nino memakaikan tutup kepala yang ada dijaket yang digunakan oleh Lila.
Nino berdiri lantas mengulurkan tangannya kemudian tak butuh waktu lama Lila menerima uluran tangan nino.
Ditariknya lembut tangan Lila dan sang empu nampak mengekori nino, Lila menundukkan pandangannya namun dirinya masih bisa melihat lelaki pujaannya sedang menggenggam tangan wanita itu sambil sesekali menciumi tangan wanita itu dan jangan lupakan raut wajah sang pria yang terlihat bahagia.
Sakit tentu saja dirinya merasa sakit, namun Lila kembali bertanya kepada dirinya sendiri untuk apa dia marah dan kecewa sedangkan mereka memang tak memiliki hubungan apapun.
Lila seketika tersenyum miris saat menyadari apa yang dilakukannya selama ini adalah salah dan apalagi dia dengan tak tau malunya mengakui bahwa lelaki tersebut calon suaminya.
Jelas-jelas selama Lila mendekati pria tersebut, jangankan berucap panjang lebar atau sekedar bisa mengobrol santai, yang ada hanya ucapan singkat serta wajah datar dan dingin yang selalu didapatnya.
Lila menghentikan langkahnya saat kepalanya membentur sesuatu.
Nino membalikkan tubuhnya tanpa melepas genggaman tangan tersebut.
"Lu baik-baik saja?"...
Tanya Nino saat sudah berada diluar ruangan.
Lila seketika mendongakkan kepalanya sambil menerbitkan senyuman tipis dan mengangguk pelan.
Ya, Lila sudah memikirkan dengan matang bahwa mulai sekarang dirinya akan merelakan cintanya, bukankah mencintai tak harus memiliki.
__ADS_1
"Gua baik-baik saja, ayo pulang...nanti keburu malam"...
Ucapnya sambil berjalan dan bergantian menarik tangan Nino dan tak lupa Lila tersenyum, entah itu senyum seperti biasanya atau senyuman luka.
Nino nampak mengikuti langkah kaki Lila, seketika dirinya menggelengkan kepalanya.
"Maafin gua?"...
Ucapnya seketika Lila menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Beberapa hari yang lalu gua pernah melihat mereka berdua..."...
Perkataan Nino terpotong saat Lila menyela ucapannya.
"Gua nggak papa no dan nggak perlu minta maaf segala, udah yuk"...
Ajaknya sambil membalikkan badan dan meneruskan langkah kakinya untuk keluar dari mall tersebut.
"Gua berharap lu bisa mendapatkan orang yang tulus mencintai lu dan melupakan orang yang nggak bisa nerima ketulusan cinta lu la"...
Bisiknya dalam hati sambil memandang sendu punggung gadis yang saat ini berada didepannya.
Mereka langsung pulang kerumah, hampir satu jam Nino mengendarai si jono dan kali ini tidak ada umpatan kesal dari gadis yang diboncengnya, malahan Lila selama perjalanan menyenderkan kepalanya dan memeluknya erat dari belakang, namun Nino tak ingin bertanya sebab Nino paham apa yang dirasakan oleh Lila.
Tiba dirumah Nino, Lila langsung turun seperti biasanya dan melenggang pergi begitu saja membuat Nino menggelengkan kepalanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan rumah sudah nampak sepi hanya bibik sri yang masih setia menunggu kepulangan anak majikannya.
"Assalamualaikum mbok"...
"Waalaikum salam den, aden mau makan dulu apa mau langsung tidur, terus itu non Lila kok murung gitu?"...
Tanya mbok sri saat melihat Lila melewatinya begitu saja tanpa menyapanya, hal yang baru dilakukan oleh lila selama dirinya bekerja dirumah nino.
"Nino langsung tidur aja mbok, kami sudah makan kok, Lila lagi patah hati makanya begitu"...
Bisiknya dan terus melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah yang sudah terlihat sepi sekali.
Mbok sri nampak mengerutkan keningnya lantas menggelengkan kepalanya pelan sambil ikut masuk kedalam rumah dan segera menguncinya.
Nino yang tak ingin mengganggu lila langsung berjalan menuju kearah kamarnya sendiri dan membiarkan lila untuk menenangkan hati dan fikirannya.
Sedangkan didalam sebuah kamar, lila langsung merebahkan tubuh mungilnya diatas ranjang yang selama satu bulan ditidurinya, walaupun sebelumnya dia sudah pernah tidur dikamar tersebut namun kali ini dengan status yang berbeda.
Dret...dret...dret...
Ocan Calling...
"Assalamualaikum Ocan"...
Ucapnya saat langgilan sudah terhubung.
π Waalaikum salam, sudah tidur cantiknya ocan?
Tanya Ocan diseberang sana.
__ADS_1
"Belum ocan, baru pulang dari nonton sama nino"...
Jawabnya.
π"Cucu ocan apa baik-baik saja?"...
Tanya ocan seakan tau cucu perempuannya sedang tidak baik-baik saja, karena sedari tadi fikirannya hanya tertuju lada cucu cantiknya padahal dia tau jika di Indonesia sudah malam dan biasanya dia akan menelfon siang atau sore hari waktu di Indonesia.
Lila seketika terpaku mendapatkan pertanyaan tersebut dari ocannya.
"Lila baik-baik saja ocan, sungguh"...
Jawabnya gugup sambil meremas sprei tersebut.
π"Yasudah, ocan anggap cucu ocan yang paling cantik memang baik-baik saja"..
Ocan menghela nafas dengan pelan, karena sepertinya cucunya tersebut sedang tak ingin berbagi dengannya.
"Emm...ocan, apa tawaran ocan untuk Lila masih berlaku?"...
Tanya Lila dengan pelan.
Degh..
Sesuai dugaannya ternyata memang cucunya tersebut sedang tidak baik-baik saja, namun maura tak ingin bertanya lebih jauh.
π"Tentu, ocan akan sungguh bahagia bila cucu ocan mau tinggal bersama ocan, tapi apa Cucu ocan sudah yakin ingin berpisah dari mami yan?"...
Tanya Ocan dengan serius sebab dirinya tau kelemahan cucunya tersebut ada pada Yana.
Degh.
Lila seketika mematung mendengar pertanyaan dari ocannya, namun sepertinya tekatnya kali ini sudah bulat lagian mami yan tersayangnya sekarang sudah ada yang menjaga serta menyayanginya jadi Lila sedikit tak perlu khawatir jika dulu dirinya memang enggan meninggalkan mami yan sebab mami yan masih sendiri dan belum menikah.
"Lila sudah memikirkannya ocan, bukankah sekarang mami yan sudah ada yang menjaga serta menyayanginya, Lila yakin jika mereka dapat menjaga Mami yan untuk Lila"...
Ucapnya lirih.
π"Sayang, bicarakan dulu semuanya dengan mami yan, ocan akan menjemput jika mami yan mengijinkanmu untuk tinggal bersama ocan, okey... Ocan tutup dulu, Assalamualaikum"...
Ucapnya dengan lembut.
"Iya Ocan, besok Lila akan bicara sama mami yan, Waalaikum salam"...
Jawabnya lalu sambungan telfon pun seketika terputus.
Lila nampak merebahkan tubuhnya kembali ditatapnya langit-langit kamarnya sambil berfikir apakah yang dilakukannya ini sudah benar, namun dirinya juga tak mungkin jika terus berada disini paling tidak jika dirinya jauh Lila bisa melupakan kisah cinta remajanya dengan perlahan.
Dipejamkannya mata indah miliknya untuk segera menyambut hari esok.
HALOHA READERS...
MAAFKAN AUTHOR YANG BARU BISA UPπ€π€π€
JANGAN LUPA LIKE.VOTE.GIFT DAN FOLLOW MEππ
__ADS_1