
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Ceklek.
Perlahan daun pintu terbuka dan muncullah sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik pada usia yang sudah tidak lagi muda sambil membawa segelas susu cokelat ditangannya dan jangan lupakan senyuman lembut menatap sang putri yang berada diatas tempat tidur.
"Minum susu dulu sayang." Yana berucap dengan lembut sembari menyodorkan segelas susu hamil berwarna cokelat itu.
Semenjak Lila dinyatakan hamil dan mengkonsumsi susu hamil, dirinya lebih memilih susu berwarna cokelat itu sebab jika melihat susu berwarna putih dia akan merasa mual dan berakhir makanan yang ada didalam perut keluar semua dan dari sanalah Tristan mengganti susu hamil yang rasa vanilla dengan rasa cokelat.
Lila tersenyum tipis dan menerima segelas susu yang disodorkan oleh maminya yang datang bersamaan dengan ocan sehabis petang.
"Terima kasih mami." Ucapnya dengan tulus dan segera meneguk susu tersebut hingga tandas.
Yana tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan lalu mengambil gelas yang sudah kosong ditangan Lila.
"Gimana keadaan cucu-cucu mami?" Tanya Yana sambil mengulurkan tangannya menyentuh perut sang putri yang besar itu hingga menyulitkan Lila untuk beraktifitas.
"Baik-baik saja mi, malahan semakin aktif." Jawabnya dengan kekehan pelan dan matanya memandang perut besarnya.
"Jangan terlalu banyak berfikir sayang, kasihan mereka pasti akan ikut sedih bila bundanya sedih, mami yakin suamimu pasti akan baik-baik saja disana dan selalu berdoa semoga suamimu bisa kembali secepatnya." Ucapnya dengan lembut sambil memandang sendu Lila, dirinya tahu jika Lila mencoba tersenyum dibalik segala kegundahan hatinya.
"Lila rindu sama mas, mih." Lirihnya dan tak lama air matanya menetes sambil mendekap lembut perutnya.
Yana menarik pelan tubuh Lila dan memeluknya dengan erat, dia pun ikut merasakan kesedihan yang Lila alami beberapa belakangan ini, oleh sebab itu sebisa mungkin dia akan menginap dirumah Tristan agar bisa menghibur putrinya itu.
Dan jika hal ini terjadi padanya mungkin ia juga akan melakukan hal sama seperti Lila namun saat ini yang harus dilakukannya adalah menghibur anak perempuannya itu.
__ADS_1
Masa seperti inilah yang dinantikan oleh seorang wanita hamil dimana ada sang suami yang mendampinginya didetik-detik kelahiran sang buah hati apalagi ini kehamilan pertama.
Namun tidak dengan yang dirasakan wanita muda dengan perut besarnya itu, setiap hari dan setiap detik tak henti-hentinya dia berharap dan berdoa agar sang suami bisa kembali secepatnya dan bisa mendampinginya disaat melahirkan nanti dan menurut HPL sekitar seminggu lagi dia akan melahirkan ketiga buah hati mereka sedangkan hingga detik ini belum ada kabar dari suaminya membuat dirinya selalu dilamda kegelisahan mendalam.
Sedangkan dibalik pintu kamar yang tidak tertutup rapat seorang wanita paruh baya ikut meneteskan air matanya saat mendengar ungkapan rindu dari sang cucu pada suami yang belum ada kabar hingga saat ini.
Karena tak kuat untuk mendengar tangisan pilu Lila, Maura perlahan meninggalkan pintu kamar sang cucu dan mengarahkan langkahnya menuju ruang keluarga dimana Tony berada disana bersama dengan Nella.
"Ton." Panggilnya saat sudah berada didekat Tony dan segera mendudukkan tubuhnya tak jauh dari ayah dan anak itu berada.
"Ya ma." Ucapnya menengok kearah Maura.
"Apa belum ada kabar dari pihak sana?" Tanya Maura.
"Belum ma, tadi pagi Tony kesana lagi tapi tetap nihil, mereka bilang keadaan disana cukup sulit untuk dijangkau dengan kendaraan hingga membuat para penyelamat kesulitan namun sampai hari ini mereka tetap mencari keberadaan menantu kita dan teman-temannya." Ucapnya pelan karena takut putrinya mendengar kenyataan yang sebenarnya serta tangannya tak henti mengelus punggung putri kecilnya yang sudah terlelap didalam dekapannya.
Ya, Lila hanya tahu jika disana sedang ada bencana alam dan mengharuskan suaminya tinggal lebih lama sebab kendaraan tak bisa lewat karena berada dipedalaman sedangkan faktanya adalah bukan seperti itu, Tristan beserta kedua juniornya terpisah dari rombongan saat tugas sudah selesai dan hendak kembali namun malang nasib mereka karena terjatuh dari jurang sebab hujan yang mengguyur tak berkesudahan membuat tanah menjadi lembab dan licin.
Maura menghela nafas dengan pelan dirinya sungguh tak tega melihat cucunya kehilangan semangat seperti itu.
Pyarrr...
Maura dan Tony seketika tersentak kaget lalu menoleh kearah sumber suara dan mata mereka melotot sempurna saat mendapati Lila berdiri tak jauh dari mereka dan kini air matanya menetes deras membasahi pipi chubynya.
"Saayaangg." Panggil Maura dengan nafas tercekat lalu segera berdiri dan menghampiri sang cucu.
"Apa benar yang dikatakan papi?" Tanyanya dengan lirih bahkan dia mengabaikan Ocan yang saat ini tengah menangis dan menatap sendu kearahnya.
Tony menelan saliva dengan susah payah dan akhirnya menganggukkan kepalanya pelan, ya... sebisa mungkin dia menutup rapat sebuah kenyataan namun tetap saja pada akhirnya akan ketahuan.
Lila seketika mendekap mulutnya menggunakan kedua tanggannya dan seketika tangisnya pecah.
"Aauuuww." Pekiknya tertahan saat merasakan perutnya terasa sakit seperti diremas-remas bahkan kini kedua tangannya memeluk perut besarnya.
__ADS_1
"Lilaaaa." Pekik Maura saat melihat sang cucu memegangi perutnya dengan kesakitan dan dia segera mendekap Lila.
Tony pun tak kalah kaget saat melihat keadaan putrinya dan beruntung Nella bangun lalu mendudukkan perlahan disofa dan segera menghampiri putrinya yang sedang kesakitan.
"Lilaaaa." Pekik Yana saat keluar dari kamar Lila, wanita yang baru menuntaskan hajatnya di kamar mandi didalam kamar Lila seketika kaget saat mendengar pekikan Maura memanggil nama sang putri dan lebih shock lagi saat melihat sang putri dalam keadaan kesakitan.
"Sa...sakitt." Rintihnya menahan rasa yang teramat sakit bahkan kini peluh membasahi wajah yang terlihat memucat.
"Yang, bantu mas...kita bawa kerumah sakit! Mah, nitip Nella." Ucapnya dengan panik dan segera menyentuh sang putri dan dibantu oleh istrinya.
Maura seketika menganggukkan kepalanya cepat dan merengkuh tubuh mungil Nella yang saat ini menangis.
"Mas, air ketuban Lila sudah keluar." Pekiknya saat melihat ada yang mengalir dikaki Lila.
Mereka semakin cepat memapah tubuh Lila agar cepat dibawa kerumah sakit.
"SUR...SURTIIII...." Teriak Maura dan tak lama gadis yang bernama surti berlari tergopoh-gopoh dan dibelakangnya mbok dami pun ikut lari.
"Ada apa madam?" Tanya Surti dengan nafas sedikit memburu.
"Bawakan perlengkapan bayi Lila, cepat cucuku mau lahiran." Titahnya dengan panik sedangkan tangannya mengelus punggung Nella agar berhenti menangis.
Surti seketika mengangguk dan menuju kamar majikannya sedangkan Mbok dami yang melihat pecahan gelas segera kembali kedapur untuk membersihkannya.
"Mas, Cepat mas." Pekik Yana saat melihat wajah Lila yang meringis menahan sakit.
Tony segera menambah kecepatan laju mobilnya dan beruntung jalanan malam itu sedikit lenggang.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai." Ucapnya menenangkan sang putri bahkan kini air matanya ikut menangis saat melihat keadaan putrinya.
Lila bahkan tak bisa menjawab ucapan sang mami, yang dirasakannya saat ini adalah sakit yang luar biasa.
"Mas, Lila akan melahirkan buah hati kita, Lila minta doanya agar bisa melahirkan ketiga buah hati kita." Bisiknya dalam hati.
__ADS_1