My Sexy Hot, Pak Tentara

My Sexy Hot, Pak Tentara
Part 81


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Like.


Vote.


Gift.


Jika sepasang calon orang tua baru sedang menikmati keindahan senja dibalkon lain halnya dengan seorang pria yang kini sedang menggerutu tak jelas saat sudah berada dihalaman rumahnya.


Bahkan raut wajahnya sungguh lucu sekali saat ini seperti wanita yang sedang PMS karena mulutnya yang tak berhenti menggerutu.


Nino membuka helmnya dan meletakkan diatas jok motornya lalu dirinya menyugar rambutnya yang sedikit panjang.


Dengan langkah kesal dirinya masuk kedalam rumah bahkan mbok sri yang melihat anak majikannya masuk dengan raut wajah masam segera menghampirinya.


"Looo den Nino kok pulang lagi, nggak jadi nginep ditempat Den Satria?"...


Tanya Mbok Sri saat sudah berada disamping Nino yang kini sedang duduk disofa keluarga dengan menyenderkan tubuhnya.


"Jadi mbok, tadi papi nelfon pas Nino masih dijalan katanya disuruh ambilkan barangnya yang ketinggalan jadi Nino pulang deh bentar"...


Jelasnya sambil memandang wanita paruh baya yang sudah memperhatikannya sebelum ada mami barunya.


"Ohh gitu terus kenapa muka den Nino kesel begitu?"...


Tanya Mbok Sri kembali sembari menutup korden karena hari dah hampir berganti gelap.


"Ya kesel aja bolak-balik gitu"...


Jawabnya.


Mbok Sri lantas tak melanjutkan permbicaraan mereka, dia hanya menengok sekilas ke arah Nino yang sedang menutup mata menggunakan tangannya lalu dirinya menggelengkan kepala dna mendesah pelan sembari melanjutkan kegiatannya.


Namun tak berselang lama Mbok Sri mendengar bunyi bell membuat wanita paruh baya tersebut meninggalkan aktifitasnya dan sedikit berjalan cepat untuk membukakan pintu.


Tangan gemuk mbok sri perlahan menarik gagang pintu dan dirinya sedikit mengukir senyum kala melihat siapa yang bertamu pada saat senja namun tak lama dahinya mengeryit saat melihat raut wajah tamu tersebut yang sepertinya sedang dirundung kesedihan yang teramat dalam.


"Assalamualaikum mbok"...

__ADS_1


Suara seorang pria paruh baya terdengar sedikit bergetar namun mencoba untuk memaksa buat tersenyum.


"Waalaikum salam Pak Surya, ada yang bisa saya bantu?"...


Tanya Mbok sri dengan sedikit hormat.


"Mbok, pak Tony nya ada?"...


Tanya pria baruh baya yang bernama Surya tersebut.


"Mohon maaf Pak Surya, Tuan Tony serta keluarganya sedang tidak ada dirumah, mereka menginap dirumah menantunya, tapi kalau aden Nino ada"...


Jelas Mbok Sri membuat Pak Surya yang tadinya mendesah kecewa namun seketika berubah menjadi senang.


"Siapa mbok?"...


Tanya Nino dari dalam rumah, dirinya tadi hendak pergi kekamar sang papi namun mendengar suara Mbok Sri yang sedang berbincang membuat langkah kakinya mengarah kepintu utama.


"Ayah"...


Pekiknya saat melihat lelaki paruh baya yang sudah 2 minggu susah untuk ditemuinya bersama sang calon istri.


"Ayah, gimana Chika, kenapa kalian susah sekali ditemui, beberapa kali Nino kerumah ayah tapi kenapa pintunya digembok?"...


Tanya Nino dengan beruntun sembari menarik tangan calon ayah mertuanya menuju sofa tak jauh dari pintu.


"Yah"...


Panggilnya pelan saat melihat raut wajah calon mertuanya yang menyendu.


Surya yang tak kuasa menahan tangisnya seketika turun dari sofa dan memegang kedua kaki Nino calon menantunya membuat sang empu terpekik bahkan dengan sigap menarik Surya agar mau bangun dari lantai.


"Maafkan Ayah Nino, Ayah sudah nggak sanggup melihat putri Ayah, tolong Ayah Nino maafkan Ayah jika Ayah sudah menyembunyikan tentang keadaan Chika, kali ini saja mohon bantu Ayah Nino, tolong kabulkan permintaan putri ayah, ayah akan melakukan apa saja yang penting keinginan putri ayah dapat terpenuhi untuk yang terakhir kalinya"...


Surya bergetar sembari mengucap kata demi kata bahkan pria single beranak satu itu tak sungkan untuk menangis dan mengemis agar keinginan putrinya terpenuhi walaupun sang putri tidak berucap namun sebagai seorang Ayah dieinya sangat paham dengan keinginan putri semata wayangnya itu.


Degh.


Jantung Nino berdetak lebih cepat bahkan cengkeraman kedua tangannya yang berada dibahu sang calon bapak mertua yang berniat untuk membantu berdiri seketika melemah apa lagi dirinya mendengar dengan baik kata demi kata yang terucap dari bibir calon ayah mertuanya yang saat ini sedang menangis pilu bahkan dirinya membuang segala fikiran negatif yang bersarang dibenaknya saat kata terakhir yang didengarnya.

__ADS_1


"Maksud ayah apa?"...


Tanya Nino dengan nada bergetar menahan tangis seolah dirinya tidak mendengar ucapan terakhir Surya.


"Tolong Ayah Nino, tolong nikahi putri ayah malam ini juga ayah sungguh minta tolong nak"...


Surya terus memohon bahkan dirinya mengangkat kepala agar bisa melihat calon menantunya yang memang tidak tahu menahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Iya Nino akan menikahi Chika, bukankah memang Nino akan menikahinya"...


Jawabnya bahkan kini dirinya ikut menangis karena merasakan dadanya sesak serta fikirannya semakin tertuju pada sang calon istri.


"Bisa kah malam ini nak, ayah mohon"...


Surya menangkupkan kedua tangannya didada bahkan wajah pria tersebut amat sangat menyedihkan membuat Nino seketika menganggukkan kepalanya.


Surya segera mengusap air matanya dan berdiri dibantu oleh Nino bahkan pria tersebut mengucapkan terima kasih terus menerus.


Kini Kedua lelaki beda usia meninggalkan rumah berlantai dua tersebut dan saat ini menuju sebuah taksi yang memang menunggu mereka.


Sepanjang perjalanan Nino selalu mencecar Surya namun lelaki paruh baya tersebut hanya menjawab singkat yang tidak memuaskan sama sekali bagi Nino.


Tatapan Nino seketika membola saat melihat taksi yang dikendarai mereka masuk kearea rumah sakit bahkan jantungnya kian berdegub dengan kencang saat ini.


"Ayah kenapa kita kesini, bukankah ayah menyuruh Nino untuk menikahi Chika malam ini?"...


Tanya Nino dengan tak sabar sembari menengok kearah Surya yang kini sedang menatapnya sendu.


Taksi tersebut akhirnya berhenti dan Surya mengajak Nino untuk turun sepanjang jalan perasaannya sungguh tak karuan bahkan dirinya menebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya namun saat bayangan Chika terlintas dirinya segera mengenyahkan pikiran negatifnya.


Surya berhenti tepat disebuah ruangan khusus bahkan pria paruh baya tersebut nampak menghela nafas dengan kasar sebelum dirinya menjelaskan yang sesungguhnya kepada lelaki yang menjadi calon suami putrinya dan setelah menguatkan hati serta fikirannya Surya membalikkan badan untuk berhadapan langsung pada Nino yang masih dilanda kebingungan membuat dirinya semakin merasa bersalah karena menutupi kenyataan sebenarnya karena permintaan sang putri.


"Maafin ayah Nino, maafin putri ayah yang sudah menutupi kenyataan sebenarnya kepadamu, sungguh ayah minta maaf nak, Chika menderita kanker stadium akhir dan selama dua minggu putri ayah koma, sebelum itu putri ayah memohon untuk tidak memberitahu mu yang sesungguhnya dan memberikan ponselnya kepada ayah agar ayah yang membalas semua pesanmu, ayah mohon kabulkan permintaan putri ayah untuk menjadi istrimu nak disaat terakhirnya, dia sangat menginginkanmu namun dia tak kuasa untuk meminta hal tersebut, tolong kabulkan permintaan lelaki tua ini nak, tolong ayah Nino tolong ayah"...


Surya sampai merendahkan tubuh tuanya dan memegang kedua kaki Nino.


Degh.


Sabar ya Nino😭😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2