
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
"Apa kalian suka?"
"Suka sekali ayah, terima kasih." Seru mereka berdua secara bersamaan sedangkan yang dua lainnya hanya tersenyum saja.
"Oke kalau begitu, apa tidak ada yang tertinggal?" Tanyanya kembali memastikan barang bawaan mereka.
"Tidak ada ayah." Jawab mereka secara bersamaan kembali.
"Ingat nanti kalau ada yang mau muntah bilang sama ayah dan bunda, Abang Tio sudah siap?" Tanya pria tampan berkaos putih tersebut pada cucu dari Asistennya.
"Sudah Ayah." Jawab Tio dengan menampilkan senyum manisnya dan dia memang memanggil Tristan dan Lila dengan sebutan ayah dan bunda sebab pria tersebut memaksa apalagi sekarang mereka berdua tinggal dirumah lama Lila yaitu rumah tepat disamping kediaman mereka.
"Oke kalau begitu, ingat nanti disana harus saling menjaga jangan sampai berpisah, Tio bantu jaga adik-adikmu ya nak."
"Siap ayah." Jawab bocah yang berusia hampir 9 tahun itu.
"Surti, kami pergi dulu ya... mbok kami pamit." Ucapnya dengan lembut sambil memeluk kedua asistennya yang berbeda usia tersebut.
"Hati-hati bu, saya nitip Tio." Ujar mbok dami.
"Pasti mbok, Sur... nanti kalau ada apa-apa jangan lupa cepat hubungi kami ya." Pintanya sambil menatap Surti yang sedang hamil muda, ya surti sudah menikah beberapa bulan lalu dengan salah satu penjaga komplek mereka bahkan suami surti bermalam dikediaman Tristan jika tidak bertugas.
"Siap bu bos." Ucapnya dengan tegas dengan cengiran.
Lila menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum dan tak lama dirinya masuk kedalam mobil.
Mobil minibus akhirnya melaju meninggalkan rumah berlantai dua tersebut, dengan membawa pasukan bocil berjumlah 4 orang, Tristan membawa mobil dengan kecepatan sedang dan beruntung cuaca sedang mendukung untuk pergi bermalam ke puncak.
Sepanjang perjalanan mereka nampak ceria terutama ke dua bocah yang memang berbeda dengan dua bocah lainnya itu.
Bahkan tak jarang Tristan dan Lila tertawa kecil dengan guyonan dan perdebatan yang terjadi di bangku tengah yang diisi oleh ke empat bocah tersebut.
Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarainya telah masuk kawasan puncak dan Tristan langsung menuju sebuah Villa yang memang telah dibookingnya.
"Alhamdulillah sampai." Ucapnya dengan penuh syukur.
"Laaa masih tidur." Ujarnya ketika menoleh kebelakang dimana para pasukan bocil telah terlelap dengan saling menempelkan kepala mereka beruntung Tristan telah memastikan keamanan keempat jagoan jadi tidak perlu khawatir bila mereka akan terjatuh saat tertidur seperti ini.
"Cape yang?" Tanya Tristan mengelus pipi sang istri.
__ADS_1
Lila tersenyum lembut dan menikmati usapan sang suami lalu dirinya menggelengkan kepalanya pelan.
Cup.
"Yuk turun, sayang bangunin mereka ya." Ucapnya lalu membuka pintu mobilnya setelah mengecup kening sang istri.
"Selamat siang mang." Sapanya ketika lelaki paruh baya menghampirinya.
"Selamat siang, den Tristan ya." Ucap penjaga villa tersebut.
"Benar mang, saya Tristan." Jawabnya lalu mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh penjaga villa tersebut.
"Saya mang Odi den, mari saya bantu Den, Villa sudah siap dihuni." Beritahunya kepada pelanggan villa milik majikannya, sebab semalam mang odi ditelfon untuk membersihkan villa dikarenakan ada yang hendak menyewa.
"Terima kasih mang."
"Sama-sama den."
Mereka lalu menurunkan barang bawaan sedangkan Lila telah berhasil membangunkan ke empat jagoan yang telah terlelap di pertengahan perjalanan tadi.
"Woah...sejuk ya bunda." Arion seketika merasa suka saat turun dari mobil dan langsung disambut dengan hawa dingin.
"Iya, Arion suka?" Tanya Lila ketika menatap sebuah bangunan yang lumayan besar dihadapannya.
"Suka bunda, lain kali bolehkah kesini lagi?" Tanyanya dengan penuh harap.
"Kapan-kapan ya sayang, ayok salim dulu sama kakek." Perintahnya kepada keempat jagoan untuk menghormati orang yang lebih tua.
Lila tersenyum dan segera berjalan untuk masuk kedalam Villa setelah menyalami mang odi.
"Selamat siang non." Sapa wanita paruh baya yang baru datang dari dalam.
"Selamat siang bik." Jawabnya sambil mengulurkan tangannya dan tentu disambut hangat oleh wanita paruh baya tersebut.
"Mari silahkan masuk non, aden-aden kecil mari."
Mereka lantas masuk kedalam villa setelah saling bersalaman berhubung waktu sudah menunjukkan waktu makan siang mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebab wanita paruh baya tersebut sudah menghidangkan beberapa menu makan siang.
"Kalian mau langsung istirahat atau bagaimana?" Tanya Lila ketika mereka telah selesai menyantap makan siang.
"Bolehkah kami main dulu bunda, kakak belum ngantuk kan tadi kakak tidur dimobil." Mohonnya dengan wajah melas.
"Bagai mana yah?" Tanya Lila kepada sang suami.
"Boleh, tapi ingat jangan sampai keluar dari villa, nanti akan ada kai odi yang akan menjaga kalian, Tio bantu jaga adik-adikmu ya? apa kamu mau istirahat juga?" Tanya Tristan pada Tio.
"Tio sudah tidak mengantuk ayah, Tio akan menjaga mereka, ayah istirahat saja sama bunda." Ucapnya.
__ADS_1
"Dengar, kalian jangan bikin kai odi dan abang Tio susah, ingat pesan ayah." Ucap Tristan dengan tegas.
"SIAP AYAH." Jawab abri dan arion secara lantang sedangkan Aarash hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Abang pergi dulu ayah bunda." Pamit Aarash dna beranjak dari duduknya.
"Kakak juga yah bun." Abrisam mengikuti langkah sang abang.
"Adek juga ayah bunda." Arion segera mrnyusul kedua kakaknya dengan sedikit berlari kecil.
"Tio juga pergi dulu yah bun."
"Hati-hati ya bang, ingat jangan sampai keluar gerbang." Lila
"Siap bunda." Ucapnya sembari mengangkat tangan kanannya tanda siap membuat sepasang suami istri terkekeh dibuatnya.
Lila segera membereskan piring kotor sisa makanan keempat jagoannya.
"Biar bibik aja non." Ucap wanita paruh baya yang bernama bik irah.
"Nggak apa-apa mbok, cuma sedikit kok." Jawab Lila sambil tersenyum tipis dan melanjutkan kegiatannya.
sedangkan bik irah langsung mengundurkan diri dari area dapur dan berniat mengerjakan yang lain sebab dirinya juga baru menyantap makan siang bersama dengan sang suami.
Dahi Lila mengkerut ketika tak melihat sang suami dimeja makan setelah dirinya selesai mencuci piring.
"Mungkin dikamar." Gumamnya.
Namun sebelum dia melangkah menuju kamar, Lila lebih memilih untuk melihat keadaan keempat jagoannya yang suaranya terdengar sangat ramai, bibirnya tersungging keatas ketika melihat mereka sedang berenang dikolam khusus anak-anak yang tingginya hanya sebatas pinggang anak kecil saja, setelah memastikan keadaan para jagoannya aman dirinya lantas melangkahkan kakinya untuk pergi kekamar sebab akhir-akhir ini dia sungguh lelah.
Ceklek.
"Sayang." Suara dari dalam kamar membuatnya tersentak namun tak lama dirinya tersenyum lebar dan segera berlari kearah sang suami seolah mereka lama tidak bertemu.
"Kangen." Rengeknya sambil duduk diatas pangkuan sang suami.
Dahi Tristan mengkerut ketika mendengar ungkapan sang istri seolah merasa aneh namun dia tetap menanggapi ucapan sang istri.
"Mas juga kangen, terutama ini." Godanya dengan senyum mes yumnya sembari mengarahkan tangan satunya untuk menyentuh markas tempat senjatanya memuntahkan amunisi.
Wajah lila nampak merona dan dirinya menggigit bibir bawahnya.
"Ohhh sayang kamu membuat mas ingin bertempur siang ini." Bisiknya dengan nada serak sebab saat ini gai rahnya tiba-tiba bangkit hanya karena melihat sang istri menggigit bibirnya menambah kesan seksi.
"Benarkah." Godanya sembari menggerakkan pinggulnya yang berada diatas pangkuan sang suami.
"Sepertinya kita harus pertempur."
__ADS_1
"Aaahhhh massss..."
Udaah ah lanjutin sendiri ya🤣🤣🤣🤣