
Happy Reading๐ค๐ค๐ค
Tepat pukul 2 dini hari tiba-tiba Lila terbangun karena merasakan tenggorokannya kering dan melihat keatas nakas ternyata dirinya lupa membawa air putih lantaran saat baru masuk kedalam rumah, Lila langsung menuju kamarnya tanpa keluar lagi.
Lila perlahan bangun dari tidurnya dan menurunkan kakinya, perlahan Lila melangkahkan kakinya menuju keluar kamar dengan tujuan membasahi kerongkongannya didapur nanti.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah kaki Lila seketika membuat seseorang yang sedang berada didapur mengalihkan pandangannya.
"Sayang"...
Sura lembut seorang wanita terdengar ditelinga Lila membuat gadis itu seketika mengangkat wajahnya karena sejak tadi Lila berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya hingga tak melihat ke arah depan.
"Mami"...
Lila lantas menghampiri wanita yang saat ini berada didepan pintu lemari pendingin.
"Mau minum?"...
Tanya Yana saat Lila berada didekatnya.
Lila nampak menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis.
Yana membalas senyum tipis Lila lantas mengambil gelas baru kemudian dituangkan air dingin kepada gadis yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri.
"Nih"...
Yana menyodorkan segelas air yang sudah terisi penuh kepada Lila dengan senang hati Lila menerima gelas tersebut.
gluk...gluk...gluk...
Ahhhh...
"Mau lanjut tidur?"...
Tanya yana dengan mengambil gelas yang berada ditangan Lila.
Lila nampak menggelengkan kepalanya pelan dan yana melihat hal tersebut nampak tersenyum.
Ya...kebiasaan Lila jika terbangun tengah malam akan sulit untuk memejamkan matanya dan biasanya saat yana melihat dirinya akan menemani Lila hingga Lila merasakan kantuk kembali.
"Mau mami temani? menonton mungkin"...
Tawarnya.
"Nanti papi nyariin mami kalau mami temani Lila"...
Cebiknya.
Yana terkekeh mendengar ucapan lila.
"Nggak, papi dah tidur nyenyak kok, yuk"...
Ajaknya sambil menarik pelan tangan lila menuju ruang keluarga dengan patuh lila mengikuti langkah mami yan.
Dinyalakan televisi berukuran besar tersebut lantas mereka berdua mendudukkan tubuh di sofa empuk dengan menghadap televisi yang sedang menayangkan channel Luar negeri, Lila seketika merebahkan kepalanya dengan berbantalkan paha yana.
"Mau bercerita?"...
Tanya Yana sambil mengelus lembut kepala Lila yang berada diatas kedua pahanya yang menjadi bantalan.
"Emmm...apa mami akan mengabulkan permintaan Lila kali ini?"...
Tanya Lila dengan ragu sambil mengubah posisinya dengan menatap wajah wanita yang selama ini merawatnya penuh cinta.
"Apa ini tentang permintaan ocan?"...
Tanya yana balik sambil meneruskan mengusap lembut rambut Lila.
__ADS_1
Lila nampak mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari mami yan nya.
Yana nampak menghela nafas pelan karena memang sebenarnya hak Lila jika ingin tinggal bersama ocannya.
"Dengar sayang, mami nggak keberatan jika Lila ingin tinggal bersama ocan, bukan mami nggak sayang sama kamu lagi, mami sangat menyayangimu sampai kapanpun, namun mami juga tak ingin egois untuk menahanmu tetap berada didekat mami, bagi mami dimanapun kamu berada nanti jangan pernah lupakan mami disini dan jangan pernah berfikir jika mami sudah tak menyayangimu lagi, ocan juga sangat membutuhkan kamu sebagai cucu kandungnya, mami nggak tau kenapa kamu tiba-tiba mempercepat untuk pergi tinggal bersama ocan namun mami berharap apapun keputusan yang lila ambil itu adalah yang terbaik, mami ingin lila bahagia... kembalilah kemari jika Lila rindu dengan mami, papi dan nino"...
Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Lila seketika meneteskan air matanya, akankah keputusannya adalah yang terbaik baginya, namun jika dirinya masih berada disini maka hatinya yang tidak akan baik-baik saja.
"Maafkan Lila mi"...
Ucapnya dengan sendu sambil memegang tangan mami yan yang berada di atas kepalanya.
Mami yan menggelengkan kepalanya pelan.
"Lila tak perlu minta maaf pada mami nak, mami yakin jika keputusan yang lila ambil sudah benar-benar yang terbaik untuk Lila, pergilah nak mami baik-baik saja, nanti mami yang akan kesana berkunjung jika Lila tak bisa pulang kemari"...
Lirihnya dengan air mata menetes dipipinya.
Lila seketika bangun dari rebahannya dan memeluk tubuh wanita yang selalu ada untuknya, wanita yang tulus memberikan kasih sayangnya layaknya seorang ibu terhadap putrinya, wanita yang akan melakukan apa saja demi membuat dirinya tersenyum dan akan menangis jika melihatnya terluka.
Namun kali ini Lila tak ingin berbagi hal yang disimpan dengan rapat terkecuali nino yang sudah mengetahuinya.
Lila merenggangkan pelukannya ditatapnya wanita berhati malaikat didepannya ini, diusapnya dengan pelan air mata yang menetes membasahi pipi wanita yang dipanggilnya mami sebulan lalu.
"Kabari Lila nanti jika sudah ada kabar bahagia"...
Ucapnya lantas menyentuh perut datar mami yan.
Yana seketika membulatkan matanya saat mendengar ucapan dari Lila.
"Ckkk...ayolah mih, jangan melotot gitu... Lila kan masih pantas dipanggil kakak"...
Decaknya.
Ya...Lila sengaja mengalihkan ucapannya agar wanita dihadapannya ini berhenti untuk menangis.
Plak...
Desisnya sambil mengusap lengannya yang habis digeplak oleh yana walau sebenarnya tidak keras.
"Kamu ini kalau ngomong sembarangan aja, mami dah tua lila jangan macem-macem kalau ngomong"...
Deliknya sambil mengusap air matanya yang langsung berhenti mengalir.
"Ihhh...mami masih bisa tau, ya kan pih?"...
Tanya Lila kepada lelaki yang sebulan lalu mempersunting wanita dihadapannya ini.
Yana seketika menoleh dan benar saja suaminya berdiri tak jauh dari mereka berdua.
"Betul sekali, kalau dikasih kenapa nggak"...
Papi tony ikut menimpali pembicaraan kedua wanita tersebut dan melangkahkan kakinya untuk mendekat.
"Kuy...gasken pih, yang banyak ya..."...
Ucapnya lantas segera bangun dari duduknya dan berlari sebelum mendengar teriakan dari wanita yang telah menangis karenanya.
"Lilaaaa"....
Teriakan mami yan terdengar membuat Lila yang sedang berlari terkekeh geli karena berhasil menggoda maminya kemudian masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.
Sedangkan diruang keluarga Tony mendudukkan tubuhnya disamping sang istri yang sedang berteriak.
"Jangan teriak-teriak sayang, nanti seisi rumah bakalan bangun looo"...
Ucapnya sambil memandang wajah sang istri yang disinari oleh cahaya Televisi.
"Mas, kok bangun?"...
"Iyalah mas bangun, habis guling hidupnya mas nggak ada, jadi mas keluar untuk cari...ehhh ternyata ada disini"...
__ADS_1
Jawabnya dengan terus menatap sang istri membuat yana salah tingkah.
"Yaudah yana mau kembali kekamar"...
Ucapnya lantas bangun dari duduknya.
Tony yang melihat sang istri berdiri dengan sigap menarik tangan istrinya.
Brugh...
"Mas"...
Pekiknya tertahan saat tubuhnya terjatuh tepat dipangkuan sang suami.
"Mau kemana, hem"...
Tanya Tony dengan suara tertahan.
"Mau kembali kekamar mas, yana mau tidur"...
Jawabnya dengan berusaha melepaskan belitan tangan kekar suaminya.
"Sepertinya kita perlu mencoba sofa ini"...
Bisiknya tepat ditelinga istrinya membuat tubuh yana meremang seketika.
"Mas jangan aneh-aneh deh"...
Ucapnya pelan.
Tony tak menghiraukan ucapan istrinya, dirinya lantas mengecup mesra telinga yana dan menggigit pelan membuat yana menggeliatkan badannya.
Diarahkannya wajah sang istri agar dirinya bisa menggapai bibir manis yang sudah menjadi candunya.
Cup.
Pelan namun pasti, Tony mengecup mesra bibir sang istri dari lembut berubah menjadi menuntut hingga membuat keduanya terbakar ga.rah.
Diarahkannya tangan yang menganggur untuk mere.mas gunung yang menjadi favoritnya membuat sang empu mengeluarkan suara lucknuth nya.
Tony melepaskan tangannya yang tadi bergerilya digunung kembar yang semakin besar dan melepaskan tautan bibir mereka saat sang istri seperti kehabisan nafas.
Diubahnya duduk sang istri agar mereka berhadapan, diusapnya lembut paha mulus yana hingga kebagian dalam, ya saat ini yana menggunakan baju tidur satin model terusan membuat Tony semakin leluasa.
"Mas...eugghhh"...
Lenguhnya tertahan sambil mencengkeram baju suaminya saat dibawah sana ada yang merangsek masuk tanpa permisi.
"Hmm...kaamu basaahhh"...
Seringainya sambil terus menggerakkan sesuatu didalam goa sang istri.
"Ahhh masss..."...
De.sahnya saat gerakan dibawah sana semakin cepat namun saat dirinya akan mencapai puncak gerakan itu terhenti membuatnya membuka mata yang tadi terpejam.
"Pakai Toju sayang, mas nggak mau kamu keluar pake jari mas"...
Ucapnya dengan nada berat sambil mengeluarkan sesuatu yang sudah nampak membesar dan panjang.
Slebb...
"Ouggghhh"....
Pekikkan keduanya dengan tertahan saat dibawah sana sudah menyatu dengan sempurna.
"Bergerak yang"...
Bisiknya.
Yana menuruti ucapan suaminya dengan perlahan dirinya menggerakkan pinggulnya membuat Tony merasakan kenikmatan tiada tara.
Mereka berdua terus berpacu untuk mencapai puncak tertinggi, melewati lembah dengan berakhirnya Toju mengeluarkan santan kentalnya yang akan berubah menjadi calon adik untuk nino.
__ADS_1
Udah segini aja๐๐๐
Like.vote.gift mana nih...