My Sexy Hot, Pak Tentara

My Sexy Hot, Pak Tentara
Extra part 2


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗🤗


Like.


Vote.


Gift.


Baca malam bagi yang puasa, ingat part ini khusus 🔥🔥🔥, yang belum cukup umur harap skipp... othor nggak tanggung jawab looo ya kalau pengen🤣🤣🤣🤣


"AYAAAAHHHHHH..." Teriakan seorang bocah berusia 5 tahun membuat semua orang yang berada dihalaman Batalyon seketika menoleh ke asal sumber suara tersebut dan mereka semua dapat melihat bahwa ada seorang bocah tampan berlari hingga tak lama ada yang menyambut bocah tersebut dengan pelukan.


Hap.


"Miss you ayah, really-really miss you." Ungkapnya dengan sungguh-sungguh bahkan wajahnya nampak berseri-seri.


Cup.


Cup.


Cup.


Tak lupa kecupan sayang ia berikan pada sang ayah yang hampir 2 minggu tak pulang kerumah sebab dia tahu akan pekerjaan ayahnya itu setelah dijelaskan perlahan-lahan saat usia mereka menginjak 3 tahun.


Tristan terkekeh gemas mendengar ungkapan sang putra keduanya itu bahkan terkadang dirinya bingung kenapa putranya ini tidak malu bertingkah seperti seorang gadis kecil yang lengket dengan ayahnya bahkan lebih sering bermanja dengannya ketimbang sang istri.


"Ayah juga merindukan kakak." Balasnya dengan senyum lebar menghiasi wajah tampannya itu.


Abri membalas senyum sang ayah dan mengeratkan rangkulannya dileher pria berusia 33 tahun itu saat sang ayah melangkahkan kakinya.


Cup.


"Miss you honey." Bisiknya setelah mencium kening wanita yang sangat dia cintai.


"Me too." Balasnya dengan lirih sembari memeluk pria yang membuatnya mempunyai 3 jagoan tersebut.


"Apakah kami dilupakan ayah." Protes sisulung saat melihat kedua orang tuanya berpelukan bersama dengan Abrisam yang masih berada didalam gendongan pria berseragam loreng tersebut dengan wajah datarnya.


Tristan seketika tersadar dan melirik kearah sang istri lalu mereka terkekeh pelan dan langsung melepaskan pelukan mereka.


"Maafkan ayah sayang, ayah merindukan kalian." Ucapnya saat mensejajarkan tubuh tingginya kepada kedua putranya setelah menurunkan putra keduanya dari gendongannya.


Grep.


Aarash langsung masuk kedalam dekapan sang ayah walau dengan ekspresi wajah dinginnya setelah Tristan membuka kedua tangannya dengan lebar.

__ADS_1


"Nggak rindu sama ayah, Arion?" Tanya Tristan saat melihat putra ketiganya masih tak bergeming diposisinya.


Dengan wajah masam, Arion segera melangkahkan kaki gembulnya untuk memeluk sang ayah yang nantinya akan menjadi saingannya ketika dirumah.


Grep.


Tristan mengulum senyum saat melihat wajah masam putra keduanya itu namun dirinya langsung mendekap kedua putranya dan melabuhkan kecu pan dipipi mereka berdua walau diiringi protes.


Mereka lantas berjalan meninggalkan area menuju parkiran dimana mobil yang dikendarai Lila telah terparkir sempurna tak jauh dari posisi mereka.


Hari menjelang sore dan mereka meninggalkan area batalyon untuk menuju rumah berlantai dua, sepanjang perjalanan hanya Abrisam yang begitu cerewet saat bersama sang ayah namun jika ayahnya tidak ada maka dia akan kembali seperti semula sebelas dua belas dengan sisulung.


Sedangkan Arion sejak tadi menempel sempurna pada sang bunda bahkan dia melarang sang bunda untuk duduk disamping sang ayah yang sedang mengemudi dan menyuruh kakaknya untuk duduk disamping sang ayah, kedua orang tuanya hanya mengangguk pasrah sebab bukan sekali dua kali Arion akan mengatur cara duduk didalam mobil saat bepergian bersama sedangkan si sulung nampak acuh bahkan dia lebih memilih gadget ketimbang berebutan orang tua sebab baginya kedua orang tuanya sama-sama disayanginya.


"Kalian tunggu disini dulu ya, bunda mau siapin keperluan ayah untuk mandi, okey." Titahnya setelah sampai dikediaman mereka dan saat ini ketiga putranya sudah duduk diruang keluarga.


Cup.


Cup.


Cup.


"Jangan lama-lama bunda." Ucap Arion setelah menerima kecu pan dipipinya.


Lila menghela nafas dengan pelan lalu meninggalkan ketiga putranya didepan televisi.


Tristan menunggu sang istri dan setelah didekatnya tangan kekarnya langsung melingkar dipinggang ramping istrinya itu, terkadang dia heran istrinya ini setelah melahirkan namun bodynya tetap seperti gadis yang membedakan hanyalah beberapa titik yang nampak sintal dan besar namun hal tersebutlah semakin membuatnya tergila-gila oleh istrinya itu.


Cup.


Tristan segera melabuhkan ciu man pada wanita yang dirinduinya itu setelah mereka sampai dilantai atas tepatnya didalam kamarnya, bahkan tas besarnya ia jatuhkan disembarang tampat sebab rindu yang sudah menggunung selama hampir 2 minggu.


Ciu man panas pun terjadi disore hari bahkan Lila nampak sama seperti sang suami yang sedang mencurahkan kerinduannya.


"Aahhhh." De sahnya saat merasakan tangan kekar suaminya mere mas salah satu bukit sintalnya walau masih berada diluar sungguh dia sangat merindukan sen tuhan-sen tuhan sang suaminya.


"Mas merindukanmu." Ucapnya dengan suara beratnya setelah melepaskan pagu tan mereka.


Kening mereka saling menempel hingga hembusan nafas terdengar ngos-ngosan.


Cup.


"Lila juga mas." Bisiknya merdu dan tak lama tangannya terulur untuk menyentuh sesuatu yang selalu membuatnya melayang keangkasa.


"Lila sangat merindukan ini." Ucapnya dengan sensual dengan tangan mengelus-ngelus sesuatu yang sudah menonjol di bawah pusat sang suami.

__ADS_1


"Eeuuuhhh...nakal ya." Leng uhnya sambil memejamkan matanya saat merasakan betapa nik matnya elusan tangan mungil istrinya itu.


"Satu ronde sepertinya masih sempat." Bisiknya dengan nada serak sebab gai rahnya telah bangkit.


"Apapun untukmu mas."


Cup.


Bibir mereka kembali bertemu dan ciu man semakin panas bahkan kini kedua tangan masing-masing saling membantu untuk melepaskan kain yang melekat di tubuh masing-masing hingga tak lama mereka sama-sama naked setelah berhasil membuka kain yang menempel walau terpaksa tau tan bibir mereka terlepas.


Hap.


Dengan sekali angkat, tubuh mungil Lila kini sudah berada digendongannya dengan posisi kedua kaki sang istri melingkar dipinggangnya.


Cup.


Cup.


Tristan mengecup kedua bukit sintal sang istri dengan bergantian dan berikutnya salah satu bukit yang menantang itu langsung masuk kedalam mulut hangatnya.


"Aahhhh massss." De sahnya saat meraskan hangatnya salah satu bukit miliknya dan kini tangannya masuk kesela-sela rambut untuk menekan kepala yang suami agar semakin dalam menyentuhnya.


Ploph.


Tristan melepas ku lumannya dan langsung memasukkan yang sebelahnya lagi bahkan lidahnya memainkan ujung bukit yang masih berwarna cokelat muda itu dan sesekali dia beri gigitan kecil hingga membuat sang istri semakin bergerak tak beraturan didalam gendongannya.


Dengan pelan Tristan menyenderkan tubuh istrinya didinding kamarnya tepatnya dibelakang pintu tanpa melepaskan gendongan ala koala.


Sleb.


"Aaahhhhhhrrrggggg..." Pekik mereka bersamaan saat Tristan memasukkan senjata laras panjang plus besar kedalam pintu markas yang sudah lembab itu.


Bibirnya tersenyum menggoda saat merasakan betapa hangatnya senjata miliknya yang kini berada didalam markas sang istri, dirinya sengaja belum menggerakkan miliknya sebab dia masih ingin menikmati pijatan senjatanya.


"Aahhh..." De sah sang istri saat pinggulnya perlahan bergerak maju mundur syantik, dengan tangan kekarnya Tristan menyangga tubuh mungil sang istri dengan memasukkan kedua tangannya disela lipatan lutut istrinya hingga kedua telapak tangannya menyentuh dinding.


Dengan pelan dirinya bergerak maju mundur namun lama-kelamaan berubah menjadi sedikit cepat bahkan tubuh Lila ikut tergoncang karena gerakan sang suami.


Tak ingin melihat bukit istrinya yang bergerak indah menganggur, dia gunakan mulutnya untuk men yesap dan melu mat salah satu bukit indah tersebut.


Kamar yang tadinya dingin oleh hawa AC tak mampu mengalahkan dengan panasnya suhu tubuh keduanya.


Mereka masih menikmati kerinduan yang terpendam tanpa tahu bahwa ketiga putranya telah menunggu dengan wajah masam terutama putra kedua dan sibungsu namun walau begitu mereka termasuk anak yang patuh sebab mbak surti telah memberi pengertian apalagi saat ini ada abang Tio yang sudah menemani mereka dan hal tersebut mampu mengalihkan rasa kesal saat menunggu kedua orang tuanya turun dari lantai atas.


"Arrrrrggggghhhh." De sahan mereka terdengar nyaring dikamar dan beruntung kamar tersebut telah dipasang alat peredam suara jika tidak bisa dipastikan bahwa aktifitas mereka didalam sana akan terdengar hingga keluar.

__ADS_1


__ADS_2