
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini kandungan Lila sudah memasuki 7 bulan dan hari ini seluruh keluarga berkumpul dirumah Tristan termasuk Ocan juga hadir pada acara tujuh bulanan cucunya.
Tristan mengundang anak yatim dan warga sekitarnya untuk mendoakan kesehatan calon bayi kembar tiga mereka.
Lantunan ayat suci al-qur'an mulai terdengar ketika MC telah membuka pengajian, mereka duduk dengan tertib bahkan Tristan harus menggelar karpet dihalaman depan rumah sebab didalam rumah tidak cukup untuk menampung para tamu undangan yang berjumlah sekitar 100 orang termasuk anak yatim.
Lila mengelus perut besarnya, wanita muda yang hamil kembar tiga itu saat ini mengenakan gamis arabia berwarna putih dan tak lupa dengan penutup kepala berwarna senada dengan warna gamisnya begitu pula dengan sang suami yang mengenakan baju koko berwarna putih lengkap dengan songkoknya.
Mereka semua duduk diatas lantai yang sudah dilapisi oleh karpet dan hanya wanita yang sedang hamil besar saja yang duduk diatas kursi, ya... Tristan tidak memperbolehkan sang istri duduk dilantai karena nantinya Lila akan susah untuk bangun.
Mereka semua memaklumi keadaan Lila yang duduk diatas kursi sendirian.
Lila menghembuskan nafas pelan saat acara pembacaan doa-doa sudah selesai, dibalik rasa syukurnya terselip kesedihan sebab diantara keluarganya yang hadir hanya Nino yang tidak nampak sama sekali bahkan pak Surya yang notabennya ayah dari Almh. Chika tampak hadir dan duduk disebelah Papi Tony.
Lila sempat mengabari Nino tentang diadakannya acara tujuh bulanan kehamilannya seminggu yang lalu namun jawaban yang Nino berikan membuatnya sedikit kecewa walaupun dirinya mengatakan tidak apa-apa.
"Maafkan Nino kak, Nino nggak bisa pulang karena usaha Nino nggak bisa ditinggal"...
Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan Nino seminggu lalu dan Lila akhirnya sedikit bisa ikhlas karena sang suami memberi pengertian saat dia mengadu akan ketidak hadiran Nino.
Nino berada di Perancis saat ini, setelah resign dari sebuah perusahaan dirinya menggunakan tabungannya yang untuk persiapan rumah tangganya kelak bersama Chika, namun sayang hal itu tidak bisa terwujud alhasil dirinya gunakan untuk membeli sebuah ruko walau sedikit mahal Nino tetap membelinya dengan modal nekat walau setelahnya dia mendapatkan kiriman dari papinya.
Acara sudah selesai dan diakhir acara baik Tristan dan Lila sudah menyiapkan buah tangan dan amplop yang sudah diisi dengan cuan.
"Cape yang?"...
Tanya Tristan saat para tamu sudah pulang dan rumah nampak lenggang karena hanya keluarga saja yang masih dirumah mereka.
Lila tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan, dirinya akui saat ini saja dia sudah susah untuk berjalan dan dari itu dia tidak lagi keluar rumah dan hanya menyewa pelatih untuk senam ibu hamil secara privat dan tentu sang suami sangat menyetujuinya.
"Antar istrimu kembali kekamar Tris, sebaiknya kamar kalian pindah kelantai bawah saja, Ocan ngeri banget liat Lila naik turun tangga gitu"...
Maura bergidik ngeri membayangkan hal yang tidak-tidak, bahkan dia tidak akan pernah mau membayangkan sesuatu terjadi pada cucu serta para cicitnya.
"Iya Ocan, rencananya memang Tristan mau pindah kekamar bawah nanti, karena kemarin Tristan sedang banyak pekerjaan jadi belum bisa terlaksana"...
Ucapnya sembari tersenyum tipis ke arah Maura.
__ADS_1
"Kami kekamar dulu ya ocan"..
Pamitnya saat melihat wajah lelah sang istri dan segera berlalu meninggalkan Maura sendiri.
Maura hanya menganggukkan kepalanya pelan dan menghela nafas dengan kasar, sungguh dirinya merasa amat kasihan terhadap cucunya itu.
Bukan hal mudah mengandung bayi lebih dari satu bahkan ini tiga sekaligus dan beruntungnya Lila tidak nyidam yang aneh-aneh namun sepertinya sang ayahlah yang ikut merasakan dampaknya sebab Tristan yang getol memakan asinan mangga hingga saat ini.
"Sur, nanti kalau masih ada makanan yang sisa kamu bagi-bagi ke para tetangga saja ya, sayang kalau harus dibuang...mana banyak banget lagi"...
Titahnya pada Asisten yang baru dipekerjakan beberapa bulan lalu itu.
"Baik Madam Nyonya"...
Jawab wanita berumur 35 tahun bernama surti itu.
Surti lantas kembali membereskan ruangan dari sisa pengajian tadi dan tentu tidak sendiri sebab para anggota keluarga majikannya pun ikut turun tangan.
Ya...Maura menambahkan ART untuk sang cucu sebab dirinya tidak ingin sampai Lila lelah namun tetap dirinya berdiskusi dahulu pada cucu menantunya itu.
"Ma, sebaiknya mama istirahat saja, bukankah tadi mama bilang sedang pusing"...
Ucap Yana secara tiba-tiba.
"Ihhh...kamu ini, suka ngomong tiba-tiba...kalau mama jantungan gimana?"...
"Ya...maaf ma, udah sana istirahat...biar kami yang selesaikan...lagian sudah hampir bersih kok"...
Cengirnya dan menggandeng Maura agar kembali kekamar yang digunakan untuk menginap selama berada dirumah Lila.
Sedangkan Yana dan keluarga kecilnya dia tidak menginap sebab rumah Tristan tidak memiliki banyak kamar apalagi besannya juga hadir.
"Alhamdulillah sudah selesai"...
Ucap Tedy bersyukur sembari meregangkan tangannya saat selesai menggulung karpet dan dibantu oleh besar lakinya.
"Iya pak Tedy, Alhamdulillah sudah selesai... pak Surya sini duduk bersama kami, jangan sungkan gitu"...
Ajak Tony saat melihat ayah dari mendiang Chika duduk dilantai yang tak jauh darinya sedangkan dirinya dan Tedy susuk disofa yang sudah disusun kembali.
"Ahh iya, terima kasih pak Tony"...
Jawabnya dengan sedikit aungkan namun akhirnya dia beranjak dan segera duduk di Sofa.
"Pa, kapan papa kembali?"...
__ADS_1
Tanya Tony saat melihat Mario mendudukkan tubuhnya disampingnya itu.
"Kenapa, kamu ngusir papa?"...
Tanyanya mendelik saat mendengar pertanyaan dari Tony.
"Ya elah pa, gitu aja sensitif sekali, kan Tony cuma nanya doang, jangan ngambekan pa nanti cepat tua nggak bisa gendong cicit lagi"...
Ledeknya dan bersiap bangun dari duduknya sebelum singa jantan mengamuk.
"Yana....nanti malam kunci pintu kamar jangan biarkan si kunyuk tidur sama kamu"...
Teriaknya saat melihat Tony kabur dan dia melihat Yana berjalan mendekat kearah mereka.
"Sudah ih pa, kenapa sih kalian kalau ketemu bawaannya berantem mulu, inget umur nggak malu apa sama besan dan sama pak Surya"...
Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala dan meletak nampan yang berisi sirup berwarna merah yang susah diberi es batu.
"Habisnya suami kamu itu, selalu bikin tensi papa naik saja... maaf loo pak Tedy dan pak Surya"...
Omelnya dan langsung meminta maaf kepada kedua pria yang sedang terbengong karena tingkah merek barusan.
"Ohhh nggak papa, santai saja pak"...
Ucap Tedy sambil tersenyum dan Surya pun melakukan hal sama.
Mereka lantas berbincang-bincang ringan dan beberapa kali terlibat adu mulut saat Tony kembali duduk dan tentu Mariolah yang sering dibuat tekanan oleh Tony.
"Gimana yang, sudah enakan belum perutnya?"...
Tanya Tristan dengan nada khawatir dan tangannya tak henti mengelus perut besar sang istri.
"Sudah sedikit reda mas, Lila mau tidur...bisakah mas mengusap perut Lila sampai Lila terlelap?"...
Pintanya dengan wajah memelas.
Sedangkan Tristan bukan langsung menjawab dirinya menengok kearah jam dinding yang ternyata masih jam 4 sore.
"Ya sudah sini mas usap perutnya, tidurlah yang"...
Cup.
Tristan lalu merebahkan tubuhnya disamping Lila dengan posisi Lila membelakangi tubuhnya sedangkan sibumil tampak tersenyum lebar dan segera menutup mata sebab rasa lelah dan kram mendera namun kram perutnya sudah sedikit reda.
Detik-detik menuju End ya pemirsah...ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Hayo jangan lupa bagi-bagi hadiahnya😘😘😘