
Bagi yang belum bisa move dari pasangan babang tantan dan si sekseh Lila, othor kasih beberapa extra part ya genks🤗🤗
"ARIOONNNN BERHENTI....BUNDA BILANG BERHENTIIII...." Pekik ibu muda yang sedang mengejar putra bungsunya yang keluar dari rumah secara sembunyi-sembunyi, bocah 5 tahun tersebut nampak kesusahan saat berlari sebab badannya yang gembul namun tak membuatnya patah semangat karena sejujurnya dia sangat ingin bermain dilapangan tak jauh dari rumah mereka tapi sayang sang bunda yang terlalu overprotektif tak mengijinkan dia untuk keluar rumah jika bukan dengan sang bunda sedangkan tadi bundanya sedang berada dikamar dan karena itulah ia gunakan untuk melarikan diri.
"Aaahhh.....AMPUNNNN BUNDAAAA....AYAAAHHHH TOLONG ION..." Teriaknya saat merasakan dekapan hingga membuat tubuhnya berhenti berlari.
"Nakal ya sekarang, main kabur...bunda kirim kamu ke uncle Nino kalau kabur terus." Ancam Lila saat mendekap putra ketiganya itu.
"Ayo pulang, nggak tahu apa cuaca sedang tidak menentu, nanti kalau kamu sakit gimana... ohhh astaga arion kamu ini anaknya siapa sih sebenarnya." Ucapnya dengan kesal sembari menggandeng tangan gembul sang putra untuk kembali kerumah mereka.
"Ya anak bunda sama ayah lah, masa iya ion anaknya pak Joko." Ucapnya tak terima.
Pak joko adalah ketua RT setempat, badan gembul dan mempunyai kumis tebal membuat arion kecil suka mengerjai pak joko.
Lila hanya mendengus kesal, putra satunya ini sungguh ajaib sekali berbeda dengan abang dan kakaknya yang lebih bermain didalam rumah.
"Sur..." Panggil Lila saat sudah didalam rumah mereka.
"Iya bu."
"Kunci pintu gerbang yang diatas, biar Arion nggak kabur lagi." Titahnya dengan pandangan menatap kearah sang putra yang kini menampilkan wajah memelasnya.
"Baik bu."
"Ayo makan, tuh abang sama kakak sudah ada di meja makan." Ajaknya dengan sedikit melembut.
Mau tak mau Arion menuruti ucapan sang bunda, wanita yang amat disayanginya.
"Kakak...itu ayam ion ihhh....bundaaaaa kakak ambil ayam ion." Adunya saat melihat paha ayam yang akan diambilnya sudah didahului oleh sang kakak.
"Kak kembalikan ayamnya Arion, jangan suka jahil kak." Tegur Lila saat masih menuangkan air untuk ketiga putranya itu.
Wleee...
"Bundaaa...." Rengeknya kembali saat sang kakak menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Abri." Ucap Aarash dengan satu kata namun mampu membuat Abrisam segera menyerahkan ayam yang memang dia tidak menyukainya sebab dia hanya ingin menjahili sang adik.
"Abang ihhhh nggak seru." Gerutunya dan kembali melanjutkan makan siangnya.
Aarash nampak acuh dan segera menyelesaikan makan siangnya sebab dia tidak suka membuang waktu untuk hal yang tidak penting, bahkan sifatnya sama persis dengan sang ayah, dia sangat menyayangi keluarganya tanpa terkecuali, putra pertama Lila dan Tristan sangat pandai dalam bidang sekolah jadi tak jarang dia selalu mendapatkan mendali jika sedang mengikuti kompetisi, walau masih berada di bangku taman kanak-kanak namun bakatnya sudah menonjol
Abrisam cenderung ke sifat jahil namun dia juga bisa bersikap tegas, putra kedua Lila dan Tristan itu mengambil sifat kedua orang tuanya namun dia memiliki kelebihan yaitu dia sangat menyukai olah raga basket padahal sang ayah tidak pernah mengajarkan olah raga tersebut walau dia lemah dalam mata pelajaran namun tak membuat Lila dan Tristan menuntutnya untuk ini dan itu.
Lain halnya dengan Arion, putra ketiga mereka ini bisa dibilang paling yang wah dari kedua saudaranya namun Arion memiliki sifat baik hati dan mudah bergaul walau sering membuat sang bunda kesal namun Arion sangat pandai mengambil hati orang-orang dengan bahasa cedalnya sebab arion tidak bisa mengucapkan huruf R dengan benar.
"Selesaikan makannya, setelah itu tidur siang... nanti sore kita akan menjemput ayah." Perintahnya setelah meletakkan gelas disamping piring ketiga putranya.
"Ayah sudah selesai tugasnya bunda?" Tanya Abrisam dengan antusias saat mendengar sang ayah akan pulang.
Lila hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah sang putra keduanya.
Ya...dari ketiga putranya, Abrisam lah yang paling lengket pada Tristan bukan berarti dia tidak sayang dengan sang bunda.
Lain halnya dengan Arion, bocah gembul itu nampak memberengut sebal saat mendengar sang ayah akan pulang, pasalnya jika sang ayah ada dirumah pasti bundanya akan dimonopoli oleh ayahnya dan hal tersebut membuat Arion selalu sebal jika ada sang ayah, walau begitu dia tetap menyayangi ayahnya.
Lila melirik kearah Arion dan dia mengulum senyum saat melihat raut wajah sebal yang ditampilkan saat Abrisam membahas ayah mereka.
"Abang sudah selesai bunda." Ucap Aarash dan membawa piring bekasnya ketempat pencucian piring.
"Kakak juga sudah bunda, dek...yang terakhir makan cuci piring." Ucapnya dengan jahil.
"Ish mana ada begitu, ion kan adek masak disuluh cuci piling." Sungutnya tak terima dengan bahasa cedalnya.
"Yee...kan memang begitu, kalau yang terakhir makan berarti dia yang harus cuci piring... yang bersih kalau nggak bersih nanti dapat istri jorok." Kekehnya dan segera berlalu meninggalkan area dapur.
"Sudah-sudah nanti biar bunda yang cuci piringnya." Lerai Lila setelah selesai mengupas buah kesukaan ketiga putranya.
"No bunda, biar ion aja yang cuci...ion nggak mau nanti punya istli jolok kalau sudah besal." Cegahnya dan segera mempercepat makan siangnya.
Ya...mereka di didik untuk bisa mandiri sejak usia dini, tak perduli anak mereka laki-laki namun mereka harus paham dengan pekerjaan perempuan jika berada dirumah.
__ADS_1
Lila hanya menganggukkan kepalanya pelan dan segera membawa ketiga mangkuk yang berisi potongan buah kearah ruang keluarga dimana biasa ketiga putranya duduk setelah makan berat.
"Bunda." Panggil Abri saat melihat sang bunda menuju kearah mereka.
"Ya kak ada apa?" Tanya Lila sembari menyodorkan mangkok yang berisi potongan buah apel kepada putra keduanya.
"Kak Nella kok lama nggak kesini?" Tanya Abri.
"Kak Nella lagi sibuk belajar sayang, kan sebentar lagi ujian." Jawabnya dan Abri mengangguk tanda mengerti karena memang sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu.
"Terima kasih bunda." Ucap Aarash saat menerima mangkok yang berisi buah mangga favoritnya.
"Sama-sama sayang."
Tok...tok...tok...
"Biar ion aja bunda yang buka." Ucap Arion dengan tiba-tiba saat Lila hendak bangun dari duduknya.
Arion sedikit berlari untuk membuka pagar yang dipukul sedikit nyaring.
"BUNDAAAAA ION NGGAK NYAMPE BUKA GELBANGNYA." Suara teriakan Arion membuat para kakaknya mendengus sebal.
"Terima kasih ya pak." Ucapnya saat menerima paketan yang lumayan besar.
"Bunda, ini paketan dali siapa?" Tanya Arion memperhatikan kardus besar yang kini sudah berada didalam rumah.
"Dari Bucan sayang, buat kalian." Terang Lila.
"Asyikkk....buka bunda buka." Ucapnya dengan antusias.
"No...sayang, waktunya tidur siang dulu, nabti kita buka kalau kalian sudah bangun." Ucapnya dengan tegas.
Arion mengangguk dengan patuh dan segera berlalu menuju ruang keluarga sebab dia melihat ada mangkok yang berisi buah pisang.
Lila menggelengkan kepalanya pelan dan segera menyusul putranya itu sedangkan disana kedua putranya sudah tak ada dan dia yakin jika mereka berdua sudah menuju kamar mereka untuk tidur siang.
__ADS_1