My Sexy Hot, Pak Tentara

My Sexy Hot, Pak Tentara
Part 83


__ADS_3

Happy Reading🤗🤗


Like.


Vote.


Gift.


Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian dirumah sakit yang mengharuskan Nino kini menyandang status duda, status yang membuat dirinya tidak menyesal sama sekali karena bisa mewujudkan keinginan sang belahan jiwa.


Dan hari ini Nino akan pergi meninggalkan Negara kelahirannya untuk menenangkan hatinya yang rapuh, derai air mata keluarga melepas kepergian Nino dan mereka pun harus ikhlas demi kebahagiaan Nino serta kembali menata hatinya.


Mereka percaya bahwasannya jodoh Nino memang telah disiapkan dikemudian hari dan entah itu kapan.


"Sudah yang, jangan nangis terus kasihan baby triplet nanti ikutan sedih"...


Hibur Tristan saat sudah berada didalam mobil selepas mengantar Nino bersama dengan yang lainnya.


"Nino bakal baik-baik saja kan mas disana?"...


Tanya Lila dengan menangis sesegukan didalam dekapan sang suami.


Dirinya merasa iba kepada adik sekaligus sahabatnya itu, sampai saat ini dia tak menyangka akan nasib percintaan yang Nino alami dirinya berdoa semoga Nino bisa menemukan tambatan hati yang baru walau dia tahu Nino pasti akan sulit untuk melupakan mendiang istrinya.


Nino yang dikenal dengan pribadi ceria dan jahil seketika berubah menjadi pria pendiam selama seminggu ini, bahkan untuk tersenyum saja Nino seperti enggan melakukannya.


Dan keputusannya untuk keluar Negeri membuatnya sangat Shock namun dirinya juga paham dengan apa yang dirasakan oleh Nino, apalagi ditinggal sang pujaan hati ketempat yang berbeda alam.


"Iya sayang, Nino pasti akan baik-baik saja, dia hanya ingin menenangkan hati dan fikirannya... kita hanya bisa mendoakan semoga Nino bisa kembali seperti semula nantinya"...


Jawab Tristan sembari mengelus lembut bahu sang istri dan sesekali mengecup puncak kepala Lila dengan sayang.


Lila menganggukkan kepalanya pelan dan mengusap air matanya, tangisnya pun sudah sedikit reda.


Tristan melepaskan dekapannya dan memandang sang istri dengan penuh cinta, diusapnya dengan pelan air mata yang masih tersisa sedikit dipipi chuby sang istri.


"Kita makan ya, mau makan apa heum?"....


Tanya Tristan dengan lembut setelah dirinya melirih jam yang sengaja diletakkan diatas dasbor mobilnya yang kini sudah menunjukkan waktu siang hari.


Sejenak Lila berfikir hingga fikirannya tercetus sama makanan yang menggiurkan sekali.


"Ke mall aja mas, Lila pengen makan ramen sama es krim, boleh"...


Pintanya dengan nada serak khas orang selesai menangis.


Tristan terkekeh pelan dan menganggukkan kepalanya.


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak makan es krimnya ya"...


Tristan memberi pengertian kepada sang istri sebab beberapa hari yang lalu mereka melakukan pemeriksaan walau hasilnya sehat semua namun pola makan tetap harus dijaga apa lagi Lila mengandung bukan hanya satu bayi.

__ADS_1


Lila seketika menganggukkan kepalanya dan memperbaiki duduknya saat sang suami sudah menyalakan mesin mobil yang akan meninggalkan bandara tersebut.


Sedangkan papi dan maminya telah pulang lebih dulu menggunakan mobil yang berbeda bahkan mertua Lila juga pulang hari ini jadi mereka mengantarkan sekaligus dengan tujuan yang berbeda.


Ya...mertua Lila sudah seminggu berada di tempat sang menantu namun mereka tidak bisa berlama-lama sebab pekerjaan sebagai guru yang tidak bisa membuat papa tedy cuti lebih lama.


Tristan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang sesekali dirinya tersenyum simpul saat mendengarkan celotehan sang istri, bahkan tak jarang sang istri membuat guyonan seakan dirinya lupa jika tadi sehabis menumpahkan air mata.


Tidak berselang lama, mobil yang dikendarai oleh Tristan telah sampai di parkiran salah satu mall yang cukup besar dan setelah mendapatkan tempat parkir Tristan lalu mematikan mesin mobil dan turun untuk membantu sang istri tercinta.


Tindakan kecil namun mampu membuat sang wanita merasa diperhatikan termasuk bumil satu ini.


Dengan melingkarkan tangannya dipinggang sang istri dengan posesif mereka lalu melangkah untuk masuk kedalam mall.


Tujuan mereka adalah salah satu restoran yang menjual ramen, walau terlihat penuh namun masih ada satu meja kosong dan mereka memutuskan untuk duduk dimeja tersebut.


"Mau pesan apa yang?"...


Tanya Tristan sembari membolak-balikkan daftar menu dan disebelahnya sudah ada pelayan yang siap mencatat menu pilihan mereka.


"Lila mau yang ini sama minumnya ini"...


Ucapnya dengan menunjuk gambar ramen dengan toping daging dan jamur dengan minuman berwarna biru.


"Samakan aja mbak, minumannya saya oren jus aja"...


Ucap Tristan kepada wanita yang berada didekat mereka dengan seragam khas direstoran tersebut.


Pinta Lila saat melihat menu yang diinginkan dan hampir dirinya melupakan es krim tersebut.


"Baik bapak ibu, mohon ditunggu"...


Ucapnya dengan sopan dan segera berlalu dari meja tersebut.


"Mas Lila ke toilet dulu ya"...


Ijinnya saat merasakan hendak buang hajat.


"Mau mas temani"...


Tawar Tristan sembari menatap sang istri.


"Lila sendiri aja mas"...


Ucapnya dan langsung bangun dari duduknya untuk melangkah menuju toilet yang berada diluar restoran tersebut.


Tristan menghela nafas dengan pelan sembari matanya mengawasi sang istri dari duduknya.


Bahkan dirinya tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua sejak masuk kedalam restoran.


Dengan menyunggingkan senyum tipisnya, sepasang mata tersebut bangun dari duduknya untuk menuju meja dimana lelaki gagah berada, lelaki yang membuatnya terpesona selama ini bahkan lelaki pertama yang menolak pesona seorang Elina.

__ADS_1


"Mau kemana Er?"...


Tanya sahabat Erika.


"Mau kesana?"...


Erika menunjuk kearah Tristan yang sednag duduk sendiri sembari bermain ponsel.


"Sudahlah Er, jangan cari masalah...bukankah kamu tahu kalau dia tidak datang sendiri"...


Desah sahabatnya itu, karena dirinya yang selalu mendengarkan curahan hati Erika, wanita yang keras kepala.


Erika menghembuskan nafasnya pelan lalu memandang sahabatnya.


"Sebelum janur kuning melengkung masih bisa ditikung"...


Seringainya dan melanjutkan langkahnya untuk menemui lelaki idamannya sejak dulu.


Sedangkan sahabat Erika hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan saat melihat betapa kekehnya temannya itu, padahal dirinya sudah sering menasehati namun sepertinya keras kepala Erika tidak bisa dilunturkan begitu saja.


"Hallo sayang"...


Erika menyapa Tristan yang masih asyik dengan kegiatannya tanpa mengetahui kedatangannya.


Sedangkan Tristan nampak sedikit terkejut saat mendengar suara yang amat familiar ditelinganya walau sudah agak lama tidak berjumpa namun dia masing mengingat siapa pemilik suara ini.


Dan tanpa disuruh duduk, Erika langsung mengambil tempat duduk disamping Tristan sedangkan sang empu langsung menghela nafas dengan kasar.


"Mau apa?"...


Tanya Tristan dengan raut wajah datar.


"Slow...sayang, aku hanya ingin menyapa saja"...


Ucapnya dengan lembut dan memandang Tristan dengan penuh damba.


"Pergilah dari sini Erika"...


Ucapnya dengan geram terhadap wanita yang menjadi putri komandannya.


Erika menggelengkan kepalanya dan dirinya malah menganggat sebelah tangannya untuk diletakkan diatas meja lalu menyangga dagunya karena dirinya ingin memandangi wajah tampan sang pujaan hati.


Tristan mendengus pelan karena percuma dirinya berdebat dengan Erika, namun dalam hati dirinya khawatir dengan sang istri bagaimana tanggapannya jika melihat ada wanita lain duduk dimeja tempat mereka namun jika ingin pindah belum bisa juga sebab istrinya belum kembali.


"Mas"...


Degh.


Maafkan othor ya readers, beberapa hari ini othor lagi kurang sehat jadi belum bisa up😥😥


Dan alhamdulillah hari ini sudah membaik🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2