
Happy Reading🤗🤗🤗
Like.
Vote.
Gift.
Seorang pria dengan balutan perban menempel diarea kepala serta tangannya namun tak mengurangi ketampanan walau raut muka masih terlihat pucat.
Bibirnya melengkung keatas terus menerus saat dirinya berada diatas ketinggian dengan telinga tertutup oleh headphone agar telinga tidak mendengar suara berisik yang dihasilkan dari Helikopter yang membawanya beserta yang lainnya.
Sungguh dirinya tak sabar agar cepat sampai ditempat tujuan sebab rindu yang sudah menggunung ditambah hampir dua minggu tidak berkomunikasi dengan sang istri dan ketiga calon buah hatinya.
Ya, dia lah Tristan suami dari Lila yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati untuk mengeluarkan ketiga buah hati mereka.
Tragedi yang sempat menimpa Tristan dan kedua juniornya akhirnya berakhir saat para Tim penyelamat akhirnya menemukan mereka bertiga dalam keadaan yang cukup memperihatinkan namun beruntung mereka semua selamat walau banyaknya luka.
Salah satu petugas penyelamat segera memberi tindakan dengan membersihkan luka yang masih trrlihat basah dan segera membalut dengan perlengkapan yang dibawa.
Mereka bertiga bertahan dibawah jurang, bahkan mereka hanya mengandalkan beberapa bungkus roti yang masih tersisa serta air yang sangat minim dan mereka memanfaatkan air hujan untuk mengisi dahaga ditengah kesulitan yang mendera.
Beruntung luka yang mereka alami tidak terlalu parah walau salah satu dari mereka kakinya cidera namun masih sanggup bertahan dan akhirnya selamat hingga penyelamat datang.
Tristan sungguh tidak sabar ingin secepatnya sampai dan memeluk sang istri untuk meluapkan segala kerinduan namun ditengah kebahagiaannya, hatinya seketika diliputi kegelisahan dan ingin secepatnya sampai karena fikirannya hanya tertuju pada sang istri dan kandungannya yang sudah memasuki usia sembilan bulan, hanya tinggal menunggu hitungan hari ketiga buah hati mereka akan hadir didunia ini melengkapi kebahagiaan keluarga kecilnya.
"Tunggu mas yang, mas sudah pulang, mas rindu kalian." Gumamnya dalam hati dan kecemasan semakin menggerogoti relung hatinya.
Berulang kali dia menghembuskan nafasnya dengan kasar mencoba meredam kegelisahannya namun tetap saja saat ini dia tidak tenang.
"Semoga kalian baik-baik saja." Lanjutnya kembali dan membuang pandangannya keluar Jendela yang menampakkan kegelapan sebab hari sudah malam.
__ADS_1
Sedangkan dihari dan tempat berbeda disebuah rumah sakit terjadi kehebohan dikarenakan kedatangan seorang wanita hamil yang saat ini sudah terbilang lemas.
Para dokter yang berjaga malam itu seketika mengambil tindakan cepat dan mendorong brangkas yang berisi wanita hamil menuju ruang bersalin.
Yana dan Tony mengikuti langkah para perawat berbaju putih itu, jangan ditanya lagi bagai mana keadaan Yana, air matanya sejak tadi tak henti-hentinya menetes dalam hati dia berdoa semoga sang putri dan ketiga calon cucunya sehat-sehat.
"Mohon maaf bu pak, silahkan tunggu diluar." Ucap salah satu perawat yang menahan sepasang paruh baya itu.
"Tolong putri dan calon cucu-cucu saya suster." Mohonnya dengan lirih dan memohon.
Suster tersebut menganggukkan kepalanya pelan dan segera menutup ruangan tersebut.
Tony membawa tubuh lemas sang istri untuk duduk disalah satu kursi tak jauh dari pintu ruangan dimana didalamnya ada sang putri yang sedang berjuang.
"Putri kita pih." Ucapnya dengan lirih bahkan air matanya tak henti-hentinya mengalir.
"Iya, papi yakin putri kita bisa melewatinya, banyak-banyak berdoa sayang." Tony semakin mengeratkan dekapannya berusaha untuk menenangkan sang istri walau dia sendiri merasakan kesedihan, Lila mungkin bukan putri kandungnya namun selama mengenal sosok Lila hingga menjadi putrinya dia sangat menyayangi tanpa membeda-bedakan antara mereka bertiga.
Ceklek.
Bunyi pintu terbuka seketika membuat sepasang suami istri itu mengalihkan pandangannya dan segera melepaskan pelukan mereka saat tahu pintu yang didalamnya ada putri mereka terbuka dan muncullah salah satu dokter dari dalam sana dengan raut wajah yang menunjukkan jika didalam ruangan sedang tidak baik-baik saja.
"Gimana dokter keadaan putri kami?" Tanya Yana setelah berdiri persis didepan dokter wanita tersebut sedangkan sang suami berada dibelakang Yana.
"Mohon maaf bu pak, sepertinya kita akan melakukan tindakan operasi sebab keadaan pasien tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal dan saya butuh suaminya untuk menandatangani persetujuan operasi." Terang sang dokter.
Degh.
Yana seketika terkesiap.
"Maaf Dokter, tidak bisa kah saya saya yang bertanggung jawab, menantu kami masih dalam tugas." Sela Tony.
__ADS_1
"Baik kalau gitu, bapak bisa dapat mengurus surat-suratnya nanti akan ada suster yang membantu anda." Ucap dokter tersebut sebab dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu.
Tony segera menganggukkan kepalanya.
"Tolong selamatkan putri dan cucu-cucu saya dokter." Mohonnya dengan deraian air mata, sungguh dia merasakan sesak didalam dadanya saat mendengar kenyataan jika putrinya harus melewati operasi cecar.
"InsyaAllah bu, mohon doanya... permisi." Pamitnyabdan segera masuk kedalam ruangan untuk bersiap membawa pasien menuju ruang operasi.
Dan tak lama kemudian beberapa suster mendorong brangkas yang diatasnya ada seorang ibu muda sedang meringis pelan.
"Sayang, bertahan lah nak, tetap kuat demi ketiga buah hati kalian, heum." Ucapnya sambil berjalan mengikuti brangkas itu didorong dengan tangan menggenggam tangan Lila yang lemas.
"Mas Tristan." Ucapnya dengan lirih namun Yana masih bisa mendengar suara lirih sang putri.
Hatinya kian sakit saat melihatnya dan bersamaan itu tangannya terlepas ketika brangkas akan masuk kedalam sebuah ruangan dan dirinya ditahan oleh salah satu suster.
Tangisnya seketika pecah bersamaan dengan pintu yang tertutup rapat.
"Ya Allah tolong selamatkan putri kami. Kak, putri kalian akan segera melahirkan, doakan selalu agar ketiga cucu kita keluar dalam keadaan sehat dan juga Lila." Bisiknya dalam hati karena tak kuat menopang tubuh lemasnya dirinya terjatuh namun belum sampai mencium lantai dingin sepasang tangan berhasil menangkapnya.
"Banyak berdoa sayang, jangan seperti ini. jika kita Lemah siapa yang akan memberi semangat pada Lila yang sedang berjuang didalam sana." Bisiknya dengan lembut dan mendudukkan tubuh sang istri di bangku tak jauh dari ruangan tersebut.
Yana hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan dan mengikuti apa yang diucapkan sang suami.
Tony mendekap tubuh sang istri dan mengecup puncak kepalanya, dirinya pun ikut merasakan apa yang istrinya alami dan beruntung dia cepat menangkap tubuh sang istri saat melihat ada yang tidak beres ketika baru datang setelah menyelesaikan surat menyurat.
Sedangkan ditempat lain Seorang pria tengah berlari dengan bibir yang terus menyunggingkan senyum bahagianya saat sudah hampir tiba dikediamannya, dia mengenyahkan rasa sakit dikepala serta ditangannya, tujuannya adalah ingin cepat sampai rumah dan bertemu dengan sang istri tercinta serta ketiga calon buah hatinya.
Namun dibalik senyum bahagianya dia tidak tahu jika saat ini sang istri sedang berjuang untuk antara hidup dan mati demi ketiga calon buah hati mereka.
Akhirnya bisa kembali up, maafkan othor readers🙏🙏
__ADS_1