
"Terima kasih, Sayang!" ucap Jio setelah berhasil meregang kenikmatan yang benar-benar luar biasa. Ini memang pertama kalinya untuk Jio karena laki-laki itu sungguh setia menunggu sang cinta pertama. Safira dibuat tersipu malu atas julukan baru yang disebut Jio. "Pipi kamu merah, makin gemes aku! Pakai bajumu, kita akan pergi dari kamar ini," sambung Jio seraya mencium kening Safira.
Tidak ada yang lebih indah dari rasanya jatuh cinta memang. Apalagi cinta pertama yang kembali setelah sekian lama. Jio benar-benar merasa sangat beruntung bisa bertemu Safira walaupun waktunya tidak tepat. Apalagi mereka harus terjebak dengan hubungan yang seharusnya mereka lakukan setelah sah menjadi suami istri.
Tentu tidak masalah bagi Jio karena dia akan menikahi wanita tersebut sesegera mungkin setelah menyelesaikan urusannya di negara itu.
Setelah berpakaian, Jio pun menggandeng tangan Safira untuk segera keluar dari kamar tersebut sebelum ada seseorang yang masuk dengan paksa jika mereka berdua lebih lama tinggal disana.
Wajah sumringah terpancar jelas saat keduanya mulai melangkah beriringan. Namun saat tepat di depan kamar Jio, wajah kesal bercampur rasa ingin membunuh yang terpancar di wajah Erlan. Bagaimana tidak dia bersikap seperti itu karena Jio begitu saja melewati Erlan yang sedang berdiri di depan kamarnya dan masih berusaha menghubungi sang asisten.
Tanpa menyapa sama sekali, Jio membuka pintu kamarnya tanpa rasa bersalah pada Erlan sama sekali. Atau mungkin meminta maaf, tentu saja tidak dia lakukan. Sudut bibirnya terus tersenyum dan matanya terus terfokus pada wanita yang berjalan bersamanya tadi.
"Brengsekk! Kemana aja lo? Hilang semalaman, pulang-pulang bawa cewek! Cari mati lo!" teriak Erlan yang membuat Safira menjadi takut hingga mengeratkan genggaman tangannya.
"Tenang aja, dia jinak kok! Kamu masuk aja ya! Nanti aku akan minta pelayan untuk antar kamu sarapan dan baju ganti. Kamu nggak usah khawatir," ucap Jio seraya mengusap ujung kepala Safira. Setelah mendapatkan anggukan, Jio segera menutup pintu kamarnya.
"Serjio!" geram Erlan dan rasanya ingin sekali memukul laki-laki di depannya.
"Bos, wanita itu suruhan Tuan Sam." Jio pun merubah raut wajahnya menjadi serius setelah tadi layaknya orang gila yang terus tersenyum.
"Apa!" Erlan kaget. Bagaimana bisa wanita suruhan sang paman langsung akrab dengan Jio, bukannya itu hal aneh? Pikir Erlan masih mencerna perkataan Jio.
__ADS_1
"Hm. Semalam aku terus dipanggil Mr. Erlan lalu aku diberikan beberapa minuman. Dan setelah sadar, aku sama wanita tadi," jelas Jio tidak memberikan informasi secara jelas. Erlan belum mengerti maksud Jio.
"Lantas untuk apa lo masukin tu wanita ke kamar lo dan Lo manjain kayak tadi, hah!" tanya Erlan masih benar-benar belum paham dengan situasi tersebut.
"Kita bicara sambil jalan, Bos. Aku juga laper, hehe!" Seketika itu juga Jio langsung mendapatkan pukulan di bahunya. Namun Erlan juga merasa lapar karena lelah menunggu dan menghubungi Jio sejak semalam.
...***...
Erlan sungguh sangat marah bahkan rasanya napsu makannya hilang seketika setelah paham dengan apa yang dijelaskan oleh Jio. Paman Sam benar-benar ingin merusak rumah tangga Erlan dengan bermaksud menjebaknya bermalam bersama seorang wanita yang bisa dipastikan wanita itu akan hamil karena dilarang meminum obat pencegah kehamilan.
"Kurang ajar! Ternyata tua bangka itu mau main-main denganku. Pantas saja dia mengirimkan pesan seperti itu, heh! Untungnya ada pengganti yang sangat menikmati jebakan itu," ujar Erlan yang terdengar seperti sebuah ledekan bagi Jio.
"Dia cinta pertamaku, namanya Safira." Erlan langsung tersedak karena kopi yang dia minum saat mendengar wanita yang harusnya tidur dengan Elegan adalah cinta pertama asisten sekaligus sahabat sendiri. "Biasa aja kali!" sambung Jio masih acuh tak acuh melihat ekspresi Erlan.
"Ternyata laki-laki macam kamu punya cinta pertama juga rupanya. Aku pikir kamu nggak normal karena nggak pernah mau dekat dengan wanita. Haha! Diandra pasti senang mendengar kabar ini," sahut Erlan kembali menyeruput kopi yang sempat membuatnya batuk-batuk.
"Sudah, jangan bahas wanitaku! Sekarang setelah tahu rencana Tuan Sam, kita mau ngapain disini?" tanya Jio yang kini berlagak seperti dialah Bos sesungguhnya.
"Sialann! Gaya ya sekarang nada bicara lo setelah merasakan surga dunia, haha!" Bukannya merencanakan sesuatu, Erlan lagi-lagi mengejek Jio yang telah kehilangan keperjakaannya. Benar-benar bisa dijadikan bahan ledekan yang membuatnya sampai sakit perut.
"Mau dibahas, atau aku akan kembali ke kamarku?" ancam Jio membuat Erlan mau tidak mau harus menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Ya, oke oke! Gila emang, haha!" Namun sayangnya Erlan tidak bisa menahan tawanya jika ingat apa yang telah Jio alami.
"Kamprett! Aku tidur lagi aja!" Jio hendak beranjak dari tempat duduknya, tetapi langsung ditahan oleh Erlan.
"Iya, aku akan serius. Gitu aja ngambek! Udah kayak lagi PMS aja." Erlan masih berada meledek. Jio hanya bisa menghela napas panjang seraya memutar malas bola matanya.
"Jadi?" Jio memastikan kembali hal apa yang akan Erlan lakukan setelah kejadian itu. Bisa dipastikan jika urusan perusahaan anak cabang juga akal-akalan sang paman.
"Hm. Kita tetap ke perusahaan untuk memantau lebih jelasnya. Tapi kamu urus dulu wanitamu itu. Aku dengar Tuan Rocky ini cukup berpengaruh di hotel ini. Bisa dipastikan dia akan marah saat rencananya dengan Paman Sam gagal." Jio pun mengangguk dan meraih ponselnya lalu kedua ibunya jarinya sibuk mengetik sesuatu.
Erlan bisa menebak Jio sedang apa. Sambil menikmati sarapannya, Erlan juga meraih ponselnya untuk membalas pesan Paman Sam bahwa dia benar-benar berterima kasih telah memberikan gadis perawan yang sangat cantik dan begitu nikmat. Namun Erlan tidak memberitahu jika bukan dirinya yang menikmati malam indah tersebut. Lagi pula sang paman belum mendapatkan buktinya karena kamera yang dibawa Safira kini di tangan Jio.
"Hm, beres, Bos! Untungnya asisten Tuan Frendik masih bisa membantu." Jio pun ikut menikmati sarapannya setelah mendapatkan balasan pesan yang sesuai dengan harapannya.
"Baiklah, kita pergi sekarang karena kita bisa pulang lebih cepat dari dugaan kita," kata Erlan kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi bersama Jio untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di anak cabang perusahaannya.
Jika masalah itu memang hanya sebuah rekayasa belaka, Erlan dan Jio akan pulang hari itu juga dan tinggal mengurus masalahnya dengan sang Paman.
Jio hanya mengangguk dan ikut senang jika mereka bisa pulang lebih cepat karena otaknya kini berpikir dia akan bisa menikah segera dengan Safira.
........
__ADS_1