Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Semangat Berjuang


__ADS_3

Kabar kehamilan Diandra benar-benar membuat gempar seisi rumah. Nenek Harni juga Mami Hasna tidak hentinya mengelus perut Diandra yang masih rata itu. Walaupun mereka harus saling memukul tangan masing-masing karena ingin terus mengelus perut Diandra. "Udah dong! Kalian lebay banget sih! Aku nggak di elus-elus nih?" protes Erlan pada Nenek juga Maminya yang masih berebut perut Diandra.


"Idih!" sinis sang Nenek kemudian memalingkan wajahnya. "Meli ... kamu siapkan santunan buat anak yatim ya? Jumlahnya sepuluh kali lipat dari biasanya," ucap Nenek Harni kembali melirik sinis Erlan.


"Dih, Nenek sombong! Itu juga duit istri Erlan, weekk!" kata Erlan seraya menjulurkan lidahnya meledek Neneknya.


"Hei ... cucu durhakim! Nenek juga punya uang sendiri ya! Diandra ya Diandra, Nenek ya Nenek. Enak aja kau pikir Nenek ini miskin apa? Percuma Kakekmu itu kerja pontang panting kalau istrinya ini miskin, huh!" sahut sang Nenek membuat Diandra terkekeh. Erlan sendiri hanya mengusap dadanya sembari menggelengkan kepala beberapa kali.


"Nenekku masih saja sombong, padahal aku yang capek kerja!" gumam Erlan kembali mendapatkan lirikan sinis karena sang Nenek bisa mendengar ucapannya.


"Apa kamu bilang?" teriak Nenek yang kemudian mengambil sandal jepit yang dia pakai untuk di lemparkan pada Erlan. Namun sandal itu berhasil ditangkap.


"Nggak kena! Kekuatan Nenek sudah berkurang, jadi jangan coba-coba melawan ya, Nenekku Sayang!" seru Erlan dan sang Nenek hanya melengos.


"Nak, sifatmu jangan kayak ayah durhakim kamu itu ya? Kamu harus memiliki sifat ibu kamu yang baik dan lemah lembut," ucap Nenek seraya mengusap kembali perut Diandra.


"Mah ... udah, inget tensi darah!" kata Mami Hasna. Nenek Harni pun mengatur napas agar tekanan darahnya tidak meningkat karena kesal dengan Erlan. Kehangatan dan respon dari keluarganya membuat Diandra semakin yakin dengan kehamilannya kali ini.


...***...


Erlan mengambil cuti untuk tiga hari kedepan demi memantau perkembangan Diandra. Dia sangat takut jika istrinya itu harus mengalami mual dan muntah seperti sebelumnya. Pada kenyataannya Diandra tidak mengalami hal tersebut dan malah sebaliknya, Erlan lah yang merasa pusing dan mual, tetapi tidak sampai muntah-muntah.


"Apa kayak gini rasanya ngidam? Kira-kira si cemen kedua itu juga ngerasain hal yang sama nggak ya?" keluh Erlan yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan memeluk guling. Diandra sudah bangun sejak tadi dan baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Mbak Cherin yang ngidam, Mas! Dia bahkan masih di rawat di rumah sakit karena tubuhnya lemah. Kasian ya, Mas!" jawab Diandra yang mendengar pertanyaan Erlan.


"Aku lebih rela begini dari pada melihat kamu yang sebelumnya itu. Amit-amit deh! Nggak pa-pa kok kalau aku yang mual muntah. Walaupun katanya hal itu terjadi hanya pada sebagian orang," kata Erlan yang langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berlutut untuk mensejajarkan kepala dengan perut Diandra. Erlan mengangkat sedikit baju Diandra agar perutnya terlihat. "Nak, kamu harus kuat ya? Kamu nggak boleh buat Ibu kesakitan. Kita harus jaga Ibu sama-sama ya?" sambung Erlan yang diakhiri dengan kecupan di pusar Diandra.


"Geli, Mas!" Diandra segera menutup bajunya dan duduk di sisi tempat tidur.


"Sayang, pokoknya kamu harus semangat ya! Aku akan selalu ada buat kamu," ucap Erlan yang kemudian duduk di sisi Diandra dan mengecup keningnya.


"Iya, bawel! Kamu berangkat kerja aja, Mas! Gimana kalau ada hal penting yang nggak bisa di handle sama Kak Jio? Kasian tau dia kamu repotin terus."


"Nggak! Hari ini aku akan menemani kamu di kamar. Dokter bilang kamu harus bedrest, jadi untuk hari ini dan tiga hari kedepan aku bakal temani kamu di kamar. Kita bisa main game, nonton drakor atau apa pun itu."


"Cukup hari ini aja, Mas! Aku nggak mau ganggu pekerjaan kamu juga. Lagian aku nggak pa-pa. Nanti kalau kamu sama aku terus kamu bisa mikir kotor."


Erlan terkekeh. Tentu saja dia juga sudah berkonsultasi dengan Dokter Amira kapan waktu yang tepat untuk berhubungan intim dengan Diandra. Namun karena trimester awal ini masih rentan, Erlan diminta untuk berpuasa terlebih dahulu dan akan dilihat kondisi Diandra saat memasuki trimester kedua.


"Mas, Mbak Cherin lagi makan bubur ayam, aku juga tiba-tiba pengen," kata Diandra seraya menyodorkan layar ponselnya pada Erlan dan melihatkan gambar yang dikirim oleh Cherin. "Tapi jangan pakai daun bawang ya. Banyakin bawang gorengnya. Terus kerupuknya harus warna merah semua, jangan campur kayak gini, aku nggak mau. Sekalian sama sate telur puyuh ya?" ucap Diandra panjang lembar dan hampir membuat Erlan lupa.


"Hm, bubur ayam nggak pake daun bawang tapi banyakin goreng bawangnya. Kerupuk harus warna merah semua plus sate telur puyuh, oke! Aku cari dulu ya, Sayang!" Erlan pun beranjak untuk mencari apa yang diminta Diandra. Seketika rasa pusingnya tiba-tiba hilang karena begitu antusias untuk menuruti permintaan pertama sang anak.


"Erlan!" panggil sang Nenek dan seketika Erlan menghentikan langkahnya. Tangan sang Nenek melambai tanda Erlan harus menghampirinya. Di sisi neneknya, ada sang Mami yang sedang menatap serius wajah Erlan.


"Ceritakan!" kata Nenek yang langsung Erlan pahami. Memang Erlan belum sempat menceritakan kondisi Diandra tentang adanya penebalan endometriosis dan miom yang tumbuh kembali di rahim Diandra. Tentu karena Nenek dan Maminya khawatir, pastilah mereka memaksa Erlan untuk menceritakan kejadian sebenarnya. Akhirnya Erlan meminta seorang asisten rumah tangga untuk mencarikan pesanan Diandra demi dia bisa menceritakan detail kesehatan Diandra saat ini.

__ADS_1


Setelah selesai bercerita, Erlan pun kembali ke kamar untuk makan bubur bersama dengan Diandra. "Loh, kok kerupuknya warna-warni sih, Mas! Aku udah bilang warna merah semua. Kenapa ini nggak ada warna merahnya?" Erlan hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan meminta maaf. Namun karena rasa buburnya cocok di lidah Diandra, akhirnya Diandra tidak protes lagi.


...***...


Berbeda dari hari sebelumnya, Diandra kini merasakan mual dan kadang juga sampai muntah. Dokter bilang kalau itu efek dari miom. Padahal biasanya di usia kandungan yang masuk trimester ketiga itu sudah tidak ada lagi rasa mual muntah. Ternyata hanya satu hari itu saja Diandra merasakan makan yang enak. Sedangkan Erlan sudah tidak merasakan pusing dan mual lagi karena ternyata dia hanya masuk angin dan kurang tidur saja, bukan ngidam seperti dugaan sebelumnya.


Kandungan Diandra sudah memasuki usia tiga puluh satu minggu. Dia juga harus kontrol setiap seminggu sekali karena kini Diandra sering merasakan sakit dibagian perutnya. Bahkan rasa sakit itu terkadang tidak bisa ditahan hingga dia pun pingsan dan bulak-balik masuk rumah sakit.


Keadaan Diandra yang mengkhawatirkan itu membuat Cherin merasa sedih karena dia tidak bisa menjenguk Diandra sebab dirinya tidak diperbolehkan oleh dokter untuk keluar rumah kecuali hanya saat kontrol dan jalan-jalan pagi saja. Kebetulan hari ini saat Diandra kontrol, Cherin juga ada di rumah sakit untuk melakukan kontrol kandungan.


"Kangen!" kompak Diandra dan Cherin seraya saling memeluk satu sama lain. Namun melihat Diandra yang harus duduk di kursi roda, Cherin semakin sedih.


"Kangen juga, nggak?" tanya Erlan meledek Hanes.


"Hah! Saya nor-mal!" jawab Hanes sambil mengeja perkataannya.


"Jadi istri kita nggak normal?" tanya Erlan lagi dan Hanes terkekeh.


"Bisa-bisanya kalian bercanda disaat seperti ini?" ketus Cherin melirik berganti Erlan dan Hanes. "Jadi gimana kesehatan kamu?" tanya Cherin dengan wajah sedihnya.


"Ya seperti ini, Mbak. Maaf ya aku nggak pernah bisa bales dan angkat telepon kamu, Mbak! Kadang mataku langsung berkunang-kunang kalau liat layar ponsel."


"Nggak pa-pa. Kita bisa ketemu begini aja aku udah seneng banget. Kamu harus sehat ya. Kita harus mewujudkan mimpi yang aku cerita itu." Diandra hanya mengangguk pelan seraya memberikan senyum termanisnya.

__ADS_1


Pertemuan itu tidak berangsur lama karena Cherin harus segera periksa dan Hanes akan meeting penting. Kehamilan Cherin memang tidak ada masalah, hanya kandungannya sedikit lemah dan dia tidak boleh capek ataupun stress karena bisa menimbulkan keluarnya flek atau bahkan darah. Untuk itu Cherin tidak bisa menjenguk Diandra walaupun rasanya sangat ingin bahkan tidak peduli kalau Nenek Harni dan Mami Hasna mengusirnya. Sayangnya itu juga hanya angan-angan, padahal Diandra sudah menceritakan kalau Nenek dan Maminya itu sudah tidak membencinya.


........


__ADS_2