Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Pejuang Restu


__ADS_3

Beberapa menit berlalu tanpa ada suara dan kata lagi antara Jio juga Safira. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Namun tiba-tiba Jio teringat sesuatu, yaitu tentang dirinya yang telah tidur dengan Safira. Seharusnya itu bisa dijadikan alasan Jio harus segera menikah dengannya, bukan?


"Sayang, apa kamu nggak bilang sama ibu kalau kita udah tidur bersama?" tanya Jio kembali membuat Safira melotot. "Kenapa? Bener kan? Aku mau tanggung jawab loh, jadi kejadian waktu itu bisa kita jadikan alasan kenapa kita harus segera menikah," lanjut Jio lagi dengan senyum kemenangan.


"Mas! Kamu mau buat Ibu kenak serangan jantung? Kalau Ibu tahu kita udah pernah tidur gara-gara aku cari biaya pengobatan ibu, terus ibu kaget, gimana?" Safira pun melipat kedua tangannya di dada lalu membuang muka menatap keluar jendela mobil karena kesal dengan usul Jio.


Kepulangan dari luar negeri saja Safira harus punya banyak alasan untuk berbohong. Untungnya kejadian itu tidak membuat Safira hamil karena dia tidak sedang dalam masa subur. Andai hamil, bisa saja sang Ibu akan kembali sakit.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan usul dari Jio. Apalagi memang benar Jio akan bertanggung jawab selain jadi alasan karena tidak sabar. Hanya saja Safira benar-benar mengkhawatirkan kondisi Ibunya yang baru bisa pulih total, mengingat biaya yang dikeluarkan oleh Jio tidaklah sedikit.


"Astaga! Ribet banget sih! Ya jangan bilang kita tidur di luar negeri karena kamu lagi cari biaya buat berobat dong! Bilang aja khilaf gitu karena mabuk, bereskan?" usul Jio lagi, tetapi lagi-lagi respon dari Safira tidak menguntungkan Jio.


"Iya ... tapi Ibu akan kecewa, Mas. Ibu akan sangat kecewa karena aku nggak bisa jaga mahkotaku. Apalagi uang berobat dari Ibu itu asalnya dari kamu semua. Pasti ibu bisa tau aku tidur dengan kamu itu untuk biaya pengobatan, Mas. Ish ... kamu tuh bukan nggak sabar pengen nikah, tapi nggak sabar pengen kawin!"


Seharusnya Safira jadi wanita yang beruntung karena mendapatkan Jio yang bertanggung jawab bahkan memberikan banyak uang padanya, tetapi entah kenapa dia takut untuk menceritakan kalau Safira dan Jio telah tidur bersama. Ibu Romlah juga bukan orang tua yang bodoh yang tidak tahu maksud kenapa Safira sampai harus tidur dengan Jio kalau bukan demi biaya pengobatannya.


Safira terdiam. Namun tiba-tiba ada sedikit rasa setuju atas usul Jio agar mereka mendapatkan restu dan segera menikah. Walaupun khawatir, tetap saja Safira harus segera menikah mengingat sikap Jio yang main nyosor terus.


"Mas ... em ... tapi kalau ibu tetap nggak setuju walau tahu kita udah tidur bersama, gimana? Lagian aku juga nggak hamil," kata Safira tiba-tiba dan membuat Jio segera menepikan mobilnya lagi.


"Makanya ... ayo kita buat anak? Nyicil gitu, biar dapet restu!" jawab Jio dengan wajah berharap. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain segera menikah karena Jio benar-benar tidak sabar dan pikiran terlalu kotor.


"Ish ... kamu kira anak itu rumah dan mobil bisa dicicil? kenapa kamu mesumm banget sih, Mas?" Safira pun mencubit sebelah pipi Jio. Sebenarnya ingin menamparnya supaya sadar, tetapi sayang sekali wajah tampan dan mulus itu harus di tampar.


"Tuh ... raut wajah kamu itu bikin gemes, Sayang. Mana tahan aku kalau kayak gini. Yuk! Malam ini aja, pasti langsung jadi! Kita lembur. Aku akan minum obat kuat," bujuk Jio hendak mencium Safira.


"Mas!" pekik Safira mendorong wajah Jio, dan lagi-lagi Jio ditolak.


"Sungguh malang sekali nasibku ini," gumam Jio.


"Sabar, Mas! Ini jalanan!" jawab Safira.


"Arghh!" Jio hanya bisa mengacak-acak rambutnya karena kesal tidak berhasil membujuk calon istrinya itu.


"Sabar kenapa sih! Astaga! Kamu bukan anak kecil, Mas! Pikiranmu bener-bener kotor. Harus disapu pake sapu lidi. Udah, buruan jalan! Ini udah tengah malam." Jio pun melajukan mobilnya lagi dengan terpaksa. Kali ini dia bisa sabar. Namun entah apa yang akan terjadi setelah mereka berdua sudah menikah.


...***...


Tiba diujung gang, Safira menghentikan langkah kakinya karena takut ada tetangga yang tahu dia pulang tengah malam dengan seorang pria. "Sampe sini aja, Mas! Udah deket, kamu buruan pulang aja!" titah Safira, tetapi Jio malah meraih pinggang Safira kemudian mendorong tubuhnya ke dinding gang sempit tersebut.


"Aku bener-bener bisa gila kalau kita menundanya terlalu lama, Sayang," ucap Jio kemudian mencium singkat bibir Safira.


"Iya, sabar! Aku akan tanya Ibu kenapa nggak merestui hubungannya kita. Aku akan paksa Ibu buat cerita, jadi ... sekarang kamu pulang, hm?" Safira juga memberikan kecupan singkat di bibir Jio yang hanya berjarak beberapa centi saja dengan dirinya.

__ADS_1


Namun Jio tidak puas kalau hanya sebatas ciuman singkat. Remangnya cahaya lampu dan suasana yang begitu sepi karena mereka berdua ada di antara tembok tinggi yang hanya bisa dilalui dua orang saja, Jio pun menyesapp dengan lembut bibir manis Safira. Kedua tangannya menekan pinggang Safira hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka.


Hawa dingin yang meruak tubuh mereka karena baru saja turun hujan, tiba-tiba menjadi hangat. Rasa aneh mulai menjalar dan ciuman itu semakin menuntut untuk meminta lebih. Jio menjulurkan lidahnya untuk menikmati setiap inci rongga mulut wanita yang hampir membuatnya gila.


Beberapa detik kemudian, ada setitik cahaya yang menyorot mengarah tepat ke wajah Safira dan Jio yang sedang menyatukan bibir mereka. "Hei! Sedang apa kalian? Mesum ya?" teriak seorang bapak-bapak. Safira langsung mendorong kuat tubuh Jio hingga tubuh itu membentur dinding.


"Loh, Neng Fira?" tegur satu bapak lainnya yang kembali menyorotkan lampu senter ke wajah Safira. Setelah itu bergantian ke wajah Jio. Safira sangat gugup. "Laki-laki itu ... mau melecehkan Neng Fira ya?" seru bapak tersebut hendak melayangkan tangan pada Jio.


"Tunggu, Pak Kadir! Dia ... dia calon suami, Fira," ucap Safira lirih dan sedikit malu.


"Astaga! Jadi kalian benar-benar mesum ditempat seperti ini, hah!" seru satu bapak lainnya. Safira benar-benar bingung harus menjawab apa. Namanya cukup baik dilingkungan sekitar. Safira takut kabar ini bisa membuat malu Ibu Romlah.


"Bukan-bukan! Tadi itu ... tadi ada ... itu ... ada kecoak, Pak Soleh! Fira takut, jadi Mas Jio ngelindungin Fira. Maaf ya, Pak Kadir! Maaf, Pak Soleh! Fira pulang dulu ya, permisi!" Segera Safira menarik tangan Jio untuk pergi dari sana.


Safira benar-benar malu bahkan sangat gugup karena dia pulang bersama Jio. Tangan itu hampir tremor. Namun Jio melepaskan genggaman tangan Safira dari pergelangan tangannya kemudian berganti menggenggam tangan Safira agar tenang. Kedua bapak tadi pasti sedang siskamling, makanya melewati gang sempit itu dan akhirnya memergoki dia juga Jio sedang berciuman.


"Sayang, pelan-pelan jalannya!" pinta Jio, tetapi nadanya begitu manja. Tentu saja sebenarnya Jio sangat senang dengan kejadian tadi. Seharusnya Safira jujur saja dan mereka bisa langsung menikah malam itu juga. Benar-benar pikiran Jio sangat kotor.


Tiba di depan rumah, Safira pun melepaskan tangan Jio dengan kasar dan menatap wajah Jio yang malah tersenyum senang. Namun tidak lama, karena Safira langsung melirik beberapa tetangganya, takut ada yang belum tidur dan melihat dirinya bersama Jio sedang berdiri di depan rumah di tengah malam tersebut.


"Kamu senang?" tanya Safira kembali menatap Jio dengan nada kesal setelah memastikan keadaan aman.


"Heem. Seneng banget! Seru tau kejadian tadi. Kamu makin gemes!" jawab Jio tanpa rasa bersalah sama sekali. Safira benar-benar gemas dan sangat ingin memberikan pukulan keras padanya.


"Kenapa? Aku ganteng, pinter dan cukup punya banyak uang. Apa yang kurang, hm?" goda Jio seraya mencolek lengan Safira. Hal itu membuat Safira semakin pusing karena sikap Jio yang kelewat bucin.


"Tap-" Safira menggantungkan bicaranya saat mendengar pintu rumahnya akan terbuka.


"Safira!" seru Ibu Romlah seraya membuka pintu. Safira sangat terkejut melihat ibunya ada di rumah. Padahal Ibunya pamit akan menginap di rumah Pak Lurah. "Dari mana kamu dengan laki-laki ini sampai tengah malam?" tanya Ibu Romlah yang terlihat sangat marah.


"Malam, Buk! Maaf, say-"


"Diam! Siapa yang suruh kamu bicara? Laki-laki macam apa kamu bawa pergi anak orang dan pulang tengah malam begini? Dimana sopan santun dan etika kamu, hah!"


"Ibu ... pelan-pelan! Kita masuk rumah dulu! Nggak enak di denger tetangga." Safira segera mendorong tubuh Ibu Romlah untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah. Jio pun mengekor ikut masuk kemudian menutup pintunya. "Buk, dengerin Fira dulu, oke?" bujuk Safira seraya merengkuh kedua bahu sang Ibu.


Namun ekor mata Ibu Romlah tertuju pada Jio yang malah ikut masuk ke dalam rumah, bukannya pulang. Padahal sudah jelas bahwa Ibu Romlah tidak suka dengan kehadirannya.


"Kenapa dia ikut masuk?" tanya Ibu Romlah masih bernada marah.


"Saya mau bertanggung jawab, Buk."


"Siapa Ibu kamu? Saya bukan Ibu kamu!"

__ADS_1


"Maaf, maksudnya saya hanya ingin bertanggung jawab, Tante."


"Sejak kapan saya menikah dengan oom kamu, hah! Memang saya ini terlihat seperti tante-tante?"


"Maksudnya, say-"


"Cukup! Ibu ... dengerin penjelasan kita dulu." Ibu Romlah pun membuang muka karena tak sudi menatap Jio. Sedangkan Jio hanya bisa mengelus dada seraya menggelengkan kepalanya karena bingung harus memanggil apa calon ibu mertua yang galak seperti itu.


"Seharusnya aku punya calon ibu mertua yang materialistis dari pada yang galak begini. Erlan benar-benar beruntung," batin Jio sudah tidak bisa berkutik lagi.


Safira mengajak Ibu Romlah untuk duduk agar amarahnya sedikit teredam. Namun saat Jio ikut duduk, dia kembali mendapatkan tatapan membunuh dari Ibu Romlah. "Siapa yang suruh kamu duduk. Tuan rumah nggak nyuruh kamu duduk, kenapa kamu duduk. Nggak sopan banget!" teriak Ibu Romlah benar-benar semakin membuat Safira mendapatkan tekanan batin.


"Maaf!" lirih Jio kembali berdiri, tetapi kali ini dia berpindah posisi menjadi di sisi Safira karena baginya tempat itu akan aman dari tatapan menakutkan calon ibu mertuanya itu.


"Astaga ... Ibu!" Safira pun mengusap bahu sang Ibu. "Kenapa sih? Salah Mas Jio sama ibu apa coba? Tolong jelaskan, Buk?"


"Bukan urusan kamu!" jawab Ibu Romlah dengan ketusnya.


"Ya, tapi kan aneh. Sebelum ketemu sama Mas Jio, ibu antusias banget pengen ketemu calon menantu. Tapi setelah ketemu, Ibu jadi begini. Kalau Mas Jio salah, bisa dibicarakan baik-baik dan cari jalan keluarnya supaya ibu mau memaafkan kesalahan Mas Jio. Fira cinta sama Mas Jio, begitu juga sebaliknya.


"Betul!" sahut Jio.


"Siapa yang nyuruh kamu nyaut?" Lagi-lagi Jio salah.


"Astaga, aku bisa gila kalau begini," gumam Safira.


"Tenang, Sayang Kalau kamu gila, aku akan temani kamu di rumah sakit jiwa," jawab Jio langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ibu Romlah berikut Safira. "Eh ... salah lagi?" Jio pun tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya.


"Pokoknya ibu nggak mau kalian menikah. Ibu nggak akan kasih restu. Cari laki-laki lain. Ibu tahu banyak yang suka sama kamu selama ini. Ibu lebih setuju kamu sama Rendra walaupun dia nggak begitu banyak uang. Rendra juga keliatan suka sama kamu dan dia pasti laki-laki baik. Dari pada sama laki-laki di samping kamu itu. Atau ada juga tuh duda di ujung yang namanya Ferdi. Walaupun duda, tapi dia ramah. Istrinya juga meninggal, bukan cerai. Pokoknya ibu nggak setujui titik."


Jio tentu melongo mendengar Ibu Romlah menyebutkan deretan nama laki-laki lain yang menyukai Safira. Selama ini Jio tidak memikirkan hal itu. Di usia Safira yang menginjak dua puluh enak tahun dan berparas sangat cantik juga begitu cerdas, pastilah banyak yang menyukainya.


Kali ini Jio tidak menunjukkan sikap bercanda ataupun main-main. Jio pun duduk di kursi tepat di depan Ibu Romlah dengan raut wajah serius. Tentu saja dengan pesona ketampanan dan wibawanya.


"Permisi, saya benar-benar ingin tahu kenapa anda tidak merestui hubungan saya dengan putri anda, Nyonya. Dia wanita pertama dan satu-satunya yang bisa merebut hati saya. Saya mohon, tolong jelaskan! Apa saya kurang tampan dan mapan bagi anda, Nyonya?"


Safira terpana dengan pesona Jio. Kali ini Jio benar-benar terlihat berkarisma, bukan laki-laki mesumm yang sebelumnya terus menggoda dirinya.


"Justru wajah kamu itu yang buat saya tidak suka. Sudahlah ... pulang sekarang juga. Kamu nggak liat ini jam berapa? Apa pantas jam segini bertamu? Dasar nggak sopan!" Ibu Romlah pun beranjak pergi masuk ke dalam kamar.


Safira tidak bisa menahannya dan hanya bisa mengehela napas panjang menatap Jio dengan pasrah. Sama halnya seperti Safira, Jio juga hanya bisa pasrah dan menghela napas panjang. Jio pun beranjak karena memang benar tengah malam bukan waktu yang tepat untuk bertamu. Apalagi suasana hati Ibu Romlah tidaklah bagus untuk diajak berdiskusi.


"Aku pulang ya, Sayang. Jangan sedih! Kita akan tetap menikah asal kamu nggak menerima cinta Rendra dan Ferdi." Safira Terkekeh mendengar perkataan Jio.

__ADS_1


........


__ADS_2