Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Morning Sickness


__ADS_3

Beberapa hari terlewatkan begitu saja. Namun bukan sesuatu yang baik dan tidak perlu dikhawatirkan karena setiap pagi Diandra harus mengalami mual dan muntah. Bahkan setiap muntah, Diandra merasakan perutnya sangat sakit karena tertekan saat memuntahkan isi perut.


Setiap pagi selama beberapa hari ini, rumah besar itu selalu heboh dengan kondisi Diandra, apalagi sang Nenek yang bahkan sampai menangis melihat Diandra seperti mayat hidup saking pucat nya.


Diandra juga kasihan dengan suaminya yang terus-menerus kesiangan berangkat ke kantor karena menunggu dirinya baikan terlebih dahulu. Paling tidak sampai Diandra kecapean mual muntah lalu tidur, barulah Erlan akan berangkat ke kantor.


"Mas, ini hampir satu minggu dan kamu tiap jam delapan belum berangkat ke kantor. Aku nggak pa-pa. Ada Nenek juga Mami. Kamu berangkat aja," kata Diandra yang masih duduk lemas di dekat water closet.


"Aku akan gila di kantor kalau sampai meninggalkan kamu dalam kondisi seperti ini, Sayang," jawab Erlan yang sedang berjongkok di depan Diandra.


"Huekk!" Lagi-lagi Diandra mual, tetapi pagi ini tidak ada yang dikeluarkan bahkan hanya sedikit air pun karena sejak semalam Diandra tidak mau makan dan minum. Air liurnya terasa sangat pahit.


Bagian perutnya benar-benar sangat sakit setiap harus menjalani morning sickness. Walaupun hal itu begitu sulit, Diandra tidak mau mengeluh ataupun menyerah karena anaknya adalah harapan semua orang. Anaknya adalah kebahagiaan yang sedang dinantikan.


"Ini minum, Nak!" kata Nenek Harni seraya memberikan satu gelas teh jahe hangat. Dia memang yang setiap pagi selalu sibuk membuatkan teh jahe untuk Diandra karena pengalamannya dulu selalu merasa lebih baik setelah merasakan sensasi hangatnya jahe yang masuk ke dalam tenggorokan.


Erlan menerima gelas tersebut dan membantu Diandra minum. Sayangnya belum gelas itu sampai ke mulut, Diandra kembali merasakan mual dan tidak sengaja menyenggol gelas yang dipegang Erlan hingga gelas itu terjatuh dan pecah.


"Hueekk ... uhuk ... uhuk!" Diandra ingin minta maaf, tetapi rasa pahit di tenggorokannya menahan dia untuk bicara.


"Nggak pa-pa! Nenek akan buatkan lagi," ucap Nenek yang kemudian berlalu dari kamar mandi. Erlan segera mengambil sapu dan pengki untuk memberikan pecahan gelas yang jatuh.

__ADS_1


"M-Mas!" Diandra sedang bersandar di dinding dengan menitikkan air mata. Tubuhnya benar-benar lemas. Mulutnya sangat pahit bahkan dia seperti enggan membuka mulut karena rasa pahit itu akan semakin terasa begitu dia membuka mulut.


"Hei, kenapa malah nangis, hm? Nggak pa-pa! Kamu kan nggak sengaja, Sayang," ucap Erlan segera menyisihkan sapu dan pengki di sudut kamar mandi.


"Aku sangat merepotkan kalian," jawab Diandra kemudian memeluk lututnya.


"Nggak ada yang merasa direpotkan. Kamu sedang berjuang untuk anak kita. Kamu disini yang paling sakit, jadi jangan berpikir macam-macam, hm?" ucapan Erlan memang membuat Diandra mendapatkan kekuatan baru. Diandra mengangguk, walaupun sebenarnya dia masih tidak enak dengan neneknya yang sudah capek-capek membuatkan teh jahe, tetapi malah tumpah dan gelasnya pecah.


Setelah merasa lebih baik, Erlan membopong tubuh Diandra untuk berbaring di atas tempat tidur. Walaupun dia masih merasa sedikit mual, tetapi saat Erlan membantu mencuci wajahnya dengan air hangat dan berkumur, Diandra sedikit merasa lebih baik.


"Nak, ini teh jahenya. Ayo diminum!" Nenek Harni kembali datang dengan segelas teh jahe hangat yang memang sangat membantu menekan rasa mual. Sebenarnya sebelum matahari terbit sang Nenek sudah bersiap untuk membuatkan teh jahe, ternyata jahenya habis dan harus menunggu asisten rumah tangga membelikan jahe terlebih dahulu. Makanya Diandra sedikit telat mendapatkan kenyamanan di tenggorokannya.


"Kamu bilang apa sih? Nenek itu tahu pasti dengan apa yang kamu rasakan. Saat hamil Mami kamu, Nenek juga begini. Jadi Nenek nggak merasa direpotkan sama sekali,"


"Makasih ya, Nek!" keduanya pun berpelukan.


"Menantuku, Sayang ... Mami datang bawa sup hangat tanpa nasi." Mami Hasna juga setiap pagi selalu membuatkan sup yang dia masak sendiri. Walaupun tanpa nasi, setiap pagi sup itu selalu beragama. Kadang sup sayur, sup daging, sup jamur dan sebagainya. Sang Mami selalu berkreasi agar Diandra mau makan dan mengisi perutnya.


Perhatian yang begitu besar itu membuat Diandra kembali menitikkan air matanya. Sungguh dia sangat bahagia semua orang repot dengan keadaan dirinya saat ini.


Walaupun setiap pagi Diandra selalu tak bertenaga, tetapi menjelang siang, Diandra sudah merasa lebih baik dan tidak merasakan lagi namanya mual muntah. Diandra juga bisa makan meskipun hanya sedikit saja, tetapi sering karena sang Mami yang selalu menyiapkan makanan untuk Diandra karena Mami Hasna tidak mau sampai Diandra terkena alergi makanan lagi. Bahkan buah-buahan dan susu ibu hamil juga Maminya yang menyiapkan semua itu.

__ADS_1


"Diandra bisa sendiri kalau hanya buat susu begini, Mam." Sebenarnya memang tidak enak selalu merepotkan sang Mami mesti Maminya senang melakukan hal tersebut. Namun Diandra tetap tidak bisa protes apa-apa karena dia hanya bisa berdiam diri di kamar.


"Nggak! Kamu hanya boleh duduk diem di tempat tidur. Ingat! Kamu harus bedrest demi kesehatan kamu," kata Mami Hasna yang kemudian mendapatkan senyuman manis dari Diandra.


"Diandra boleh minta sesuatu nggak, Mam? Kayak nunggu Mas Erlan pulang masih terlalu lama,"


"Ya ampun, Sayang. Kamu tinggal bilang aja mau apa? Jangan sampai Mami marah karena kamu masih saja sungkan. Nggak usah tunggu Erlan, cepet sekarang kamu mau apa biar cepet dicarikan kalau di rumah nggak ada,"


"Hm. Diandra pengen jeruk Mandarin, Mam. Yang jeruknya kecil-kecil itu warnanya kuning. Kayaknya enak banget. Rasanya air liur Diandra asem banget dan berkumpul semua ini di mulut pengen ngerasain jeruk itu,"


"Aduh ... jeruk itu musimnya di akhir tahun. Ya udah Mami suruh asisten rumah tangga buat cari. Kamu diem-diem aja disini. Kalau butuh apa-apa tinggal tekan aja telepon ya? Jangan beranjak pokoknya," ancaman Mami itu membuat Diandra mengangguk mengiyakan.


Namun, baru beberapa menit Diandra ditinggal sang Mami, dia sudah sangat bosan dan ingin pergi ke balkon untuk menghirup udara karena siang menjelang sore itu cuacanya mendung. Jadi Diandra ingin duduk melihat pemandangan.


Sayangnya baru beberapa langkah, rasa sakit di perutnya kembali menyerang dan diiringi darah segar yang mengalir di kakinya.


Diandra syok, tetapi tubuhnya lemah untuk kembali berjalan. Telepon di atas nakas terasa sangat jauh karena tangannya tidak sampai untuk meraih. Sekuat tenaga Diandra mengumpulkan kekuatan untuk meminta tolong karena hanya itu cara satu-satunya yang bisa dia lakukan. Dan akhirnya, dia pun bisa berteriak.


"Argh!"


........

__ADS_1


__ADS_2