
Erlan dan Diandra sedang duduk bersantai di ruang tamu dengan segelas kopi untuk berdua juga kacang tanah panggang sebagai teman mereka malam itu. Bukan sekedar duduk santai, tetapi Erlan dan Diandra sedang menunggu sang Mami pulang dari luar negeri karena menolak untuk dijemput dan memilih memesan taksi saja.
Namun hingga pukul sebelas malam, tidak ada tanda-tanda kepulangan Mami Hasna. Bahkan Mami Hasna juga tidak bisa dihubungi, begitupun dengan Meli. Sebenarnya bukan tidak bisa dihubungi, lebih tepatnya tidak menjawab panggilan yang sudah terhubung itu.
"Aneh, seharusnya perjalanan mereka cuma butuh waktu delapan jam. Pesawat Mami juga udah take off dari jam sebelas siang. Kenapa mereka belum juga nyampe," kata Erlan sibuk dengan benda pipih miliknya untuk memeriksa jadwal penerimaan pesawat sang Mami.
Jika dihitung perjalanan dari luar negeri sampai ke rumahnya, Mami Hasna seharusnya tiba di rumah pukul sembilan malam. Namun sampai pukul sebelas malam, sang Mami masih belum juga datang.
"Iya, Mas. Kalau macet juga masa sampai berjam-jam. Telepon terhubung, tapi nggak diangkat. Kenapa ya? Nggak mungkin terjadi sesuatu kan, Mas?" Diandra tentu saja khawatir karena sudah hampir tengah malam, orang yang mereka tunggu-tunggu tidak juga datang.
"Semoga aja nggak, Sayang! Kita tunggu sebentar lagi aja. Mungkin ada urusan juga. Siapa tau mampir mall. Atau mampir cari makan," jawab Erlan berusaha menenangkan Diandra walau sebenarnya dia juga khawatir dengan Maminya yang tidak ada kabar.
"Ya kali aja mall mana yang buka tengah malam gini, Mas! Kamu aneh juga!" celetuk Diandra tidak membenarkan ucapan Erlan karena memang dia belum pernah tahu ada mall yang buka dua puluh empat jam.
Erlan dan Diandra pun mengabaikan perdebatan tentang sang Mami sambil menikmati kopi bersama dan saling mengupaskan kulit kacang kemudian saling menyuapi satu sama lain serta bersenda gurau. Untung saja Ezra tidur dengan lelap dan meminta salah satu asisten rumah tangga untuk menemaninya di kamar sampai Erlan dan Diandra kembali ke kamar nantinya.
"Eh, Mas! Aku lupa bilang kalau tiga hari ini aku mimpi ketemu sama Nenek, loh! Besok kita ke makam Nenek ya? Mungkin Nenek juga kangen sampai masuk mimpi aku tiga hari berturut-turut. Andai aja Nenek masih ada, ck!"
Erlan langsung mengusap ujung kepala Diandra seraya tersenyum. Dia tahu bagaimana sayangnya Diandra pada Neneknya itu. Namun Erlan juga tidak mau melihat Diandra sedih seperti sebelumnya sampai dia tidak mau makan karena terus menangis.
"Mimpi itu cuma bunga tidur, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan, hm! Kalau kangen Nenek ya besok pagi sebelum ke kantor kita ke makam dulu ya? Udah ... jangan sedih lagi dan terlalu banyak berandai-andai!"
"Iya, Mas. Tapi aneh aja masa berturut-turut mimpinya. Kayak ngasih firasat nggak sih? Coba tanya google Mas arti mimpi di datangi oleh orang yang udah meninggal."
"Ah, jangan percaya mitos begituan. Ya karena kamu terlalu sayang sama Nenek. Kamu mikirin Nenek terus, jadi kebawa mimpi. Coba kamu mikirin aku, pasti yang ada di mimpi kamu itu aku, bukan Nenek. Jangan-jangan ... kamu nggak sayang ya sama aku?"
Diandra langsung memicing menatap suaminya setelah mendengar pertanyaan konyol tersebut. Bisa-bisanya dia bertanya tentang sesuatu yang jelas tidak mungkin itu. Bagaimana bisa Diandra tidak sayang pada Erlan sedangkan Erlan yang memberikan banyak kebahagiaan padanya, bukan?
"Dasar kamu! Emang mimpi itu bisa diminta dan ditolak, hah! Sini! Aku nyemek-nyemek kamu, Mas!" ucap Diandra lalu memukulkan bantal kecil yang ada di sofa di tempat dia duduk.
"Iya ... iya ... ampun!" Erlan langsung terbahak-bahak karena respon Diandra. Setelah mendapatkan kata ampun, Diandra pun mengentikan pukulannya walau hatinya masih dongkol. "Tapi bener loh! Biasanya apa yang kita pikirkan sebelum tidur, maka itu yang akan kita mimpikan, Sayang. Karena alam bawah sadar kita membawa kita hanyut dalam pikiran kita sendiri. Jadi ya ... ya ... begitulah," Erlan sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya karena lagi-lagi Diandra menatapnya dengan tatapan sinis.
"Dah lah! Nggak usah bahas mimpi lagi!"
"Orang kamu duluan yang ngomongin mimpi, aku kan cuma menjabarkan apa yang aku tau dan meng-" Erlan diam seketika saat Diandra kembali melayangkan bantal kecil untuk memukulnya.
"Meng apa, hah!" pekik Diandra.
"Meng ... em ... mengharapkan kedatangan Mami, hehe!" Erlan pun tersenyum kikuk seraya menunjukkan deretan giginya. Akhirnya Diandra kembali memeluk bantal sofa itu seraya menikmati kacang tanah yang di panggang.
Waktu terus berjalan dan sudah benar-benar lewat tengah malam, tetapi orang yang mereka tunggu-tunggu masih belum juga menampakkan diri. Baik Erlan maupun Diandra terus menghubungi Mami juga Meli, hanya saja panggilan itu masih belum mendapatkan jawaban.
"Sayang, kamu tidur duluan aja. Biar aku tunggu Mami disini. Kamu harus banyak istirahat dan cukup tidur karena lagi menyusui," kata Erlan seraya merengkuh bahu Diandra agar dia mau beranjak ke kamar.
__ADS_1
"Ish ... nggak ah! Aku mau temenin kamu. Bahkan kamu juga harus cukup tidur karena harus kerja," protes Diandra yang hanya diam berdiri berhadapan dengan Erlan.
Pada akhirnya mereka meminta salah satu asisten rumah tangga untuk menunggu Mami Hasna di ruang tamu dan menyambutnya saat datang karena Erlan harus menemani Diandra ke kamar untuk istirahat.
"Bik, pindah!" bisik Diandra pada asisten yang sejak tadi menemani Ezra tidur lelap dikamar.
"Eh, iya Non! Permisi!" Asisten rumah tangga itu pun pergi dan Erlan langsung menyambar bibir manis Diandra. Namun Diandra malah berontak dan mendorong tubuh Erlan.
"Ish ... kamu itu bisa nggak sih libur sehari aja, Mas! Tadi pagi maksa main di kamar mandi. Sekarang udah ngantuk udah mau tidur masih aja nyosor. Sana tidur!" Diandra segera berbaring di atas tempat tidur dan menarik selimut hingga bagian bahunya.
"Sayang ... main bentar ih. Biar tidurnya lelap dan bangun dengan keadaan sehat jasmani serta rohani," bujuk Erlan yang juga ikut masuk dalam selimut. Erlan pun memeluk Diandra dari belakang sebagai tanda merayunya agar memberikan haknya sebagai seorang suami.
"Itu alasan kamu aja, Mas! Sanaan ah!" usir Diandra seraya mendorong tubuh Erlan dengan sikunya. Namun bukan Erlan jika dia tidak bisa membujuk Diandra untuk melakukan hal yang begitu nikmat itu.
Seberapa keras Diandra menolak, Erlan tetap bisa menindih tubuhnya dan pada akhirnya Diandra pun terbuai hingga permainan panas pun berakhir dengan sebuah lolongan kenikmatan.
"Ah ... i love you, Sayangku!"
...***...
Pagi harinya, Erlan dan Diandra masih belum mendapatkan kabar atas kepulangan Maminya. Kali ini mereka berdua benar-benar khawatir dan tidak bisa sabar lagi untuk menunggu. Erlan pun meminta Jio untuk menghandle pekerjaan hari itu karena khawatir dengan keadaan Maminya yang masih belum pulang hingga pagi menjelma.
Setelah selesai memandikan Ezra dan memberinya asi lalu meminta salah satu asisten rumah tangga untuk menjaga Ezra, Diandra juga Erlan keluar dari kamar dan hendak pergi ke bandara untuk mencari kabar penerbangan yang dinaiki Mami Hasna juga Meli.
"Nggak, Mas! Ezra kan anteng juga. Disini aja banyak orang, jadi pasti bisa jaga Ezra. Udah ayo berangkat sekarang aja! Aku khawatir sama Mami," jawab Diandra seraya memeluk lengan Erlan.
"Erlan ... Diandra, sarapan dulu sini! Nenek udah siapin roti bakar kesukaan kalian sama teh anget nih! Cocok banget buat cuaca yang lagi gerimis begini."
Erlan dan Diandra tertegun melihat sosok Nenek Harni sedang menata piring di atas meja makan. Setelah itu Nenek Harni juga menuangkan teh hangat di gelas yang ada di sisi piring yang baru saja dia letakkan.
Bukan itu saja, piring yang di susun tadi pun di isi dengan roti bakar yang mereka ketahui isinya adalah selai stroberi untuk Erlan dan selai nanas untuk Diandra karena olesan selai di dalam roti bakar itu terlihat jelas warnanya.
"Mas, apa kita sedang mimpi?" tanya Diandra pada Erlan yang masih belum memalingkan sorot matanya pada sosok Nenek Harni.
"Sepertinya kita emang sedang mimpi bersama, Sayang. Ini pasti gara-gara kamu semalam bahas tentang Nenek, jadi kita mimpi ketemu Nenek sama-sama gini. Tapi tadi kita mandi dan enak-enak di kamar mandi, Sayang. Masa iya kita sedang mimpi sekarang," jawab Erlan sama persis posisinya seperti Diandra karena keduanya masih tidak percaya bisa melihat orang yang telah meninggal hidup lagi.
Bahkan orang itu sedang menyiapkan sarapan dengan selai kesukaan mereka masing-masing. Nenek Harni benar-benar nampak jelas mengenakan baju dan potongan rambut serta semuanya sama persis hingga senyuman pun juga sama persis dari terkahir kali yang mereka lihat.
"Apa itu hantunya Nenek, Mas?" kata Diandra dan dengan kompaknya Erlan juga Diandra melihat kedua kaki neneknya itu menyentuh lantai. Artinya Nenek-nenek yang sedang menyiapkan sarapan tersebut bukanlah hantu.
Baik Erlan maupun Diandra masih berdiri di ujung tangga melihat aktivitas Nenek Harni yang ada di meja makan yang hanya berjarak empat meter dari tempat Erlan dan Diandra berdiri. Sungguh mimpi yang sangat indah bukan, bisa bertemu dengan orang yang amat mereka sayangi.
"Erlan! Diandra! Kenapa kalian diam? Cepet kesini sebelum rotinya dingin," teriakan itu membuat Erlan dan Diandra saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Mas, emang hantu bisa teriak-teriak? Kenapa hantu teriaknya sama kayak orang hidup? Kayaknya ini bukan mimpi, Mas?" ujar Diandra, sedangkan Erlan sendiri tidak tahu sebenarnya apa dan siapa nenek-nenek di depan mereka yang mirip dengan Nenek Harni.
Tiba-tiba dari arah luar, Jio masuk ke dalam rumah seraya mengibaskan tangannya pada jas yang dia pakai karena terkena air hujan. "Kenapa pagi-pagi harus hujan sih?" gerutu Jio dan menyapa Erlan. "Bos, aku minta sarapan dulu dong!" kata Jio dengan senyum yang aneh.
Seumur-umur, Jio tidak pernah sepagi itu ke rumah dan minta sarapan kecuali saat mereka akan pergi ke suatu tempat yang keberangkatannya memang pagi hari. Apalagi Jio diminta untuk menghandle pekerjaan di kantor karena Erlan akan ke bandara.
"Kenapa lo malah ke rumah? Kan tadi aku bilang handle kerjaan di kantor? Malah kesini sih!" protes Erlan, tetapi Jio malah cengengesan.
"Laper, Bos! Pengen makan masakan Nona Diandra, nggak pa-pa kan? Nona udah siapin sarapan pastinya," jawab Jio kemudian melangkah menuju meja makan dan begitu senangnya sudah ada roti bakar dengan teh hangat disana.
Erlan dan Diandra semakin merasa aneh karena Jio tidak merespon apa pun selain langsung menikmati teh hangat juga roti bakar di atas meja tersebut, padahal Nenek yang mirip dengan Nenek Harni itu sedang berdiri tidak jauh dari Jio.
"Erlan ... Diandra! Kalian kenapa sih? Cepet sini! Nanti rotinya di abisin sama Jio," kata Nenek tersebut seraya melambai-lambaikan tangan. Erlan dan Diandra pun mendekati meja makan.
"Jio ... lo nggak liat itu ada Nenek berdiri?" tanya Erlan pada Jio yang langsung celingukan mencari keberadaan Nenek yang dimaksud Erlan.
"Nenek? Nenek mana?" jawab Jio kemudian menggelengkan kepalanya. Diandra semakin erat memeluk lengan Erlan.
"Mas! Kok serem!" bisik Diandra ketakutan.
"Tenang, Sayang!" kata Erlan seraya mengusap punggung tangan Diandra yang memeluk lengannya.
"Selamat pagi anak-anak Mami," sapa Mami Hasna yang baru bergabung di ruang makan. "Loh ... ada Jio? Tumben pagi-pagi dan kayak orang busung laper," lanjut sang Mami yang tingkah sama seperti Jio, seolah tidak melihat Nenek yang masih berdiri tersenyum di sisi meja makan.
"Mam! Kapan nyampe? Kita nunggu sampe malam tau!" tanya Erlan, tetapi pandangannya tidak lepas dari Nenek tersebut.
"Jam berapa ya? Lupa! Kayaknya sih jam sepuluhan. Kalian lagi asik ngopi sama makan kacang, ya udah ... Mami langsung masuk kamar aja karena Meli langsung pulang begitu nganter Mami pulang," jelas Mami Hasna kembali membuat Erlan dan Diandra melongo.
"Nggak mungkin!" protes Diandra.
"Apa sih yang nggak mungkin? Kalian mau berdiri disitu sampai kapan? Kamu Er, kan kamu harus kerja. Jio udah disini kenapa kamu belum siap? Dasar Ayah ceroboh!" kata sang Mami lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Ada apa sebenarnya? Kenapa kejadian aneh ini terjadi. Erlan dan Diandra benar-benar tidak bisa berpikir dan menebak kenapa Mami Hasna mengatakan sudah pulang sekitar jam sepuluh padahal mereka menunggu sampai jam dua belas dan mereka tidak tau saking asiknya ngopi juga bercanda semalam. Seharusnya kalau pulang mereka tahu karena mereka ada di dekat pintu utama.
Yang lebih aneh lagi ... siapa sosok Nenek yang menyiapkan mereka sarapan? Namun Jio dan Mami Hasna tidak bisa melihat sosok Nenek tersebut, sedangkan Erlan dan Diandra bisa melihat dengan jelas.
"Mam! Nenek ada disini!" kata Erlan seketika sang Mami menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Er, jangan ngaco! Cepet makan! Diandra ... ayo makan! Kenapa kamu yang nyiapin semua ini malah belum makan," jawab Mami kemudian fokus kembali dengan roti bakar dan teh di depannya.
Erlan pun melepaskan tangan Diandra kemudian menghampiri Nenek yang sejak tadi tidak bersuara dan hanya tersenyum bahagia menatap bergantian orang-orang yang sedang berkumpul di ruang makan tersebut.
"Nenek ... pergilah dengan tenang!" ucap Erlan di hadapan Nenek tersebut. Namun Nenek itu malah memeluknya. Diandra hanya bisa menganga merasakan suasana yang semakin aneh itu.
__ADS_1
........