Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Hidup Baru


__ADS_3

Cherin dan Diandra masih saling bertukar cerita perihal kehamilan mereka berdua. Dari cerita masing-masing, nyaris tidak ada kesamaan diantara mereka karena memang kondisi kehamilan yang jauh berbeda. Walaupun Cherin ikut sedih karena Diandra tidak bisa hamil lagi, tetapi Cherin tetap memberikan semangat pada Diandra layaknya seorang Kakak.


Satu jam di rumah sakit, membuat Hanes bosan dan ternyata ada jadwal yang dia lupakan yang mengharuskan dia untuk ke kantor. Apalagi Hanes akan kedatangan model dari Paris dan dia harus segera berangkat. Hanes memaksa Cherin untuk pulang dan istirahat di rumah, tetapi Cherin tidak mau dan tetap ingin menemani Diandra.


"Udah, kamu langsung ke kantor aja naik taksi. Nanti aku pulang sama supir kalau aku udah bosan disini," usir Cherin yang membuat Hanes menghela napas panjang.


"Tapi kalau kam-"


"Dibilang aku nggak pa-pa kok! Buruan sana berangkat!" Cherin pun mendorong tubuh Hanes agar segera keluar dari ruang rawat Diandra karena tidak mau mendengarkan suaminya itu terus memaksa untuk pulang dengan alasan khawatir. Akhirnya Hanes mengalah dan berpamitan.


"Yakin Mbak mau disini aja? Mbak juga harus jaga kesehatan, loh! Walaupun Dokter bilang Mbak udah boleh banyak aktivitas, tetap aja suami juga harus di dengarkan," kata Diandra. Cherin kembali duduk di sisi tempat tidur pasien.


"Hm. Kayak yang ngasih nasehat dengerin suami aja dengan pedenya meminta untuk mendengarkan nasehat suami," ledek Erlan tanpa menatap Diandra dan menikmati kopinya.


"Aku sama Mbak Cherin itu beda, Mas!" sahut Diandra membela diri.


"Beda apanya? Sama-sama hamil," jawab Erlan tiba-tiba merasa kesal saat Diandra selalu menyembunyikan rasa sakitnya.


"Kalian malah bertengkar sih! Udah ... aku nggak pa-pa. I'm fine! Aku mau disini temenin kamu. Kemaren kamu juga temenin aku, cuma bedanya aku nggak bisa masak makanan seenak kamu. Sehari-hari aku cuma ngandelin asisten rumah tangga karena Mas Hanes nggak biarin aku buat melakukan pekerjaan sekecil apa pun," jawab Cherin yang terlihat bahagia dengan raut wajahnya.


"Nanti bisa belajar kalau udah melahirkan, Mbak! Kan Tuan Hanes melakukan itu buat jaga kesehatan istri dan anaknya. Selama hamil juga aku cuma berbaring aja nggak melakukan apa pun, apalagi melayani suami. Kasian dia masih harus puasa sampai empat puluh hari ke depan," kata Diandra seraya melirik Erlan yang sedang menatapnya saat mengatakan harus kembali puasa.


"Hah!" Erlan sengaja menghela napas dengan keras serasa sedang frustasi. "Nasibmu sungguh malang sekali Erlangga!" lanjut Erlan menyayangkan dirinya sendiri.


Diandra dan Cherin terkekeh. Kemudian Dokter Amira masuk tidak lama setelah itu untuk memeriksa keadaan Diandra. "Selamat pagi, Nona Cherin ada disini!" sapa Dokter Amira yang mulai memeriksa keadaan Diandra.


"Pagi, Dok! Iya ... jenguk malaikat tak bersayap, Dok!" jawab Cherin seraya cengengesan.


Nenek Harni juga Mami Hasna ikut masuk karena ingin tahu keadaan Diandra. "Udah bisa miring ya, Bu? Hari ini diusahakan bisa jalan ya walaupun hanya satu dua langkah. Nanti biar dibantu suaminya," kata Dokter Amira puas dengan kondisi Diandra yang semakin baik.


"Bagaimana dengan anak saya, Dok? Apa dia nggak minum ASI? Soalnya ASI saya udah keluar dan rasanya agak sakit ini, Dok!" ujar Diandra khawatir.

__ADS_1


"Tenang aja, Bu. Anaknya baik-baik aja. Ini nanti ASI Bu Diandra akan di pumping ya. Suster akan bantu." Dokter Amira pun pergi dan perawat yang ditugaskan untuk membantu mengeluarkan ASI Diandra tetap di sisi Diandra.


"Apa ASI aku juga akan sebanyak itu ya?" gumam Cherin melihat bagaimana keluarnya ASI Diandra yang masuk ke dalam dot.


"Ya aku nggak tahu Mbak. Lagian ini ASI juga baru keluar dari semalam. Wajar kali kalau agak banyak," jawab Diandra yang terlihat sedikit menahan rasa sakit.


"Produksi ASI setiap Ibu memang berbeda, Bu. Ada juga yang nggak keluar ASI setelah melakukan caesar. Biasanya itu karena pengaruh obat dari caesar," jelas sang perawat yang telah selesai dengan pekerjaannya.


"Aku jadi was-was." Cherin memegang payu daranya yang memang semakin besar sejak hamil.


"Ibu nggak boleh stres dan nggak boleh kecapean juga. Hal itu bisa mempengaruhi produksi ASI loh. Dukungan dari keluarga juga cukup berpengaruh, apalagi perlakuan suami. Kalau begitu saya permisi ya, Bu." Perawatan itu pun pergi.


"Apa aku bisa kasih ASI yang cukup untuk anak kita satu-satunya itu, Mas?" tanya Diandra merasa khawatir tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya. Apalagi ASI eksklusif harus sampai enam bulan lamanya.


"Bisa, Sayang. Seperti kata suster tadi, kamu nggak boleh stres apalagi khawatir. Kamu harus rileks ya. Kita udah melewati semua ini bersama, jadi kamu harus fokus dengan kesehatan kamu supaya bisa segera ketemu Ezra. Jangan mikirin hal aneh-aneh lagi," ucap Erlan memberikan semangat.


"Iya, Nak. Kamu jangan pikirin macem-macem lagi. Nenek yakin kamu bisa," kata sang Nenek memberikan semangat juga.


"Betul, kamu harus fighting, Diandra!" ujar Cherin yang juga ikut memberikan semangat. Diandra hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang yang dia sayang.


Namun begitu berbeda dengan Cherin. Bibirnya memang tersenyum sangat manis, sayangnya sorot mata itu begitu iri dengan keluarga Erlan yang begitu sayang pada Diandra. Ada rasa menyesal yang teramat dalam karena dulu dia tidak mau mengenal dan berlaku baik pada Nenek juga Mami Erlan.


Walaupun begitu, dia juga masih beruntung bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang dari Hanes yang luar biasa. Apalagi Cherin bisa memberikan apa yang Hanes dambakan. Mungkin dia juga akan mendapatkan perlakuan baik dari Ibunya Hanes yang sampai saat ini Cherin belum bertemu dengannya.


"Kamu juga harus semangat, Cherin!" ucap Nenek Harni membuat Cherin tertegun dan matanya berkaca-kaca.


"Ma-ma-makasih!" jawab Cherin gugup kemudian menundukkan kepalanya.


"Iya, Nak. Kamu juga calon Ibu. Jangan cuma bisa memberikan semangat, tapi kamu juga harus semangat ya!" sahut Mami Hasna malah membuat Cherin menitikkan air matanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika kedua orang yang pernah dia benci bahkan pernah Cherin mendoakan Nenek Harni segera meninggal agar hubungannya dengan Erlan tidak lagi ada halangan.


"Mbak," panggil Diandra lirih seraya mengusap bahu Cherin.

__ADS_1


"Maaf, maafkan saya, Nek. Maafkan saya juga Tante. Saya ... saya pernah berperilaku tidak sopan. Sekali lagi saya minta maaf!" ucap Cherin masih tertunduk dengan kedua tangan yang meremass pakaiannya.


Nenek Harni pun mendekati Cherin dan merengkuh bahunya. "Nggak ada yang perlu dimaafkan, Nak! Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita mulai hidup baru dengan semangat baru juga." Cherin mengangguk pelan.


"Terima kasih, Nek! Sekali lagi saya benar-benar minta maaf kalau saya punya salah yang saya sengaja maupun tidak sengaja. Saya mohon maafkan saya, Nek!" Cherin memberanikan diri mendongak kemudian menatap wajah Nenek Harni yang tersenyum. Cherin pun beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Nenek Harni.


"Sudahlah. Nenek akan memaafkan semua kesalahan kamu jika itu ada. Jangan nangis! Kamu sedang hamil. Tangisan nggak akan baik untuk kehamilan kamu, Nak!" Cherin mengangguk dalam pelukan Nenek Harni. Saat ini Cherin benar-benar bahagia dan seolah sedang berpelukan dengan Neneknya sendiri.


"Tante juga mau dong di peluk," kata Mami Hasna dan Cherin pun melepaskan pelukannya pada Nenek Harni untuk memeluk Mami Hasna.


"Saya juga minta maaf ya, Tan. Saya benar-benar minta maaf kalau ada sikap dan ucapan saya yang menyinggung, Tante." Mami Hasna mengangguk seraya mengusap punggung Cherin.


Setelah beberapa saat puas berpelukan, Mami Hasna mengusap air mata di pipi Cherin. "Sudah, jangan nangis lagi!" Cherin merasakan hangatnya sentuhan tangan Mami Hasna. Benar-benar seperti sentuhan ibunya sendiri. "Oh iya, kamu hamil berapa bulan ini?" tanya Mami Hasna mengalihkan pembicaraan seraya mengusap perut Cherin.


"Baru tiga puluh empat minggu, Tan," jawab Cherin yang ikut mengusap perutnya.


"Udah USG? Katanya cowok apa cewek?" tanya Mami Hasna lagi.


"Katanya sih cowok," jawab Cherin sedikit malu-malu.


"Yah, sayang ya!" Mami Hasna terlihat kecewa.


"Sayang kenapa, Mam?" tanya Diandra.


"Ya sayang lah, kalian nggak bisa besanan!" jawaban Mami Hasna sontak mengundang tawa semua orang disana. Suasana haru pun berubah menjadi canda tawa.


........


...Maaf yang kalau kemarin nungguin tapi author nggak 🆙 😁 itu ... kemaren nggak ada sinyal mau buka aplikasinya, jadi nggak 🆙 hehe....


...Yuk tinggalin jejak like komen ya. Bunga Kopi dong jangan lupa 🤭...

__ADS_1


__ADS_2