
"Sayang, kamu mau ke rumah sakit lagi?" tanya Erlan yang melihat istrinya baru saja keluar dari walk in closet. Diandra memang baru selesai ganti baju dan akan mengantar sarapan untuk Cherin.
"Iya, memang kenapa? Bukannya itu pertanyaan yang nggak perlu dijawab?" kata Diandra kemudian berjalan menuju cermin untuk menyisir rambutnya.
"Hm. Aku dapat kabar kalau hasil tes DNA udah keluar," ucap Erlan mampu membuat Diandra menghentikan tangannya yang tadi sibuk menyisir rambut. Erlan melihat Diandra yang merubah raut wajahnya. "Apa kamu takut?" tanya Erlan seraya memeluk Diandra dari belakang.
Bukan takut, tapi lebih dominan hanya penasaran saja. Lagi pula untuk apa dirinya takut karena anak itu sudah meninggal. Yang paling penting lagi, Erlan sudah cinta mati padanya, jadi apa yang harus Diandra takutnya. Walaupun hasilnya itu adalah anak Erlan, anak itu tidak akan bisa merebut cinta Erlan dari Diandra.
Awalnya memang Diandra sangat takut jika anak itu adalah anak Erlan karena anak itu adalah anak dari wanita lain. Ditambah lagi Erlan pasti akan merasa sangat bersalah karena membuat buruk pada Cherin. Namun karena perubahan sikap Cherin dan dia juga sudah minta maaf, Diandra tidak lagi mempermasalahkan hasilnya.
"Kenapa harus takut? Sejak kemarin aku percaya kalau nggak akan ada yang berubah dengan apa pun setelah hasil tes DNA itu keluar, apalagi cinta kamu," jawab Diandra yang kembali menyisir rambutnya. Erlan hanya tersenyum tipis dan melepaskan pelukannya.
Tentu saja tidak akan ada yang berubah sama sekali dengan Erlan. Laki-laki itu memang sudah bucin akut dengan Diandra. Jadi mereka berdua sudah siap dengan hasilnya. Erlan juga meminta Jio untuk menghubungi Hanes agar tahu pasti dengan hasil tes DNA itu.
...***...
Erlan telah berjanji bahwa hasil dari tes DNA itu akan dibacakan setelah Cherin selesai makan dan minum obat. Cherin bahkan belum tahu jika hasilnya telah keluar. Diandra sengaja meminta Erlan dan Hanes menunggu di luar sampai Cherin selesai dengan sarapannya.
"Masakan kamu enak banget. Pasti suami kamu nggak pernah makan di luar ya karena kamu pinter masak?" tanya Cherin penasaran.
"Iya, Mbak. Siang aku sering anter dia makan ke kantor. Kalau malam dia juga jarang lembur, walaupun lembur dia tetap makan di rumah," jawab Diandra seraya membereskan kotak makannya.
"Kamu sangat beruntung dapet cinta Erlangga. Aku nggak pernah liat dia begitu posesif saat kami bersama. Yang ada di otakku saat itu, kami ... hanya menghabiskan waktu di atas ranjang dan berbelanja. Selebihnya ... aku ... aku nggak pernah liat bagaimana cara dia menatapmu dengan menatap aku dulu," papar Cherin membuat Diandra mengusap bahu Cherin.
__ADS_1
"Aku yakin Mbak Cherin juga akan mendapatkan laki-laki yang amat mencintai Mbak Cherin. Yakinlah!" jawab Diandra dengan suara yang begitu lembut. Cherin benar-benar tidak pernah mendengar orang bicara selembut Diandra padanya. Apalagi saat syuting, Cherin lebih sering diteriaki dari pada mendengar kata-kata lembut.
"Kamu memang wanita baik. Pantaslah Erlangga sangat mencintaimu," kata Cherin berusaha membalas senyuman Diandra.
"Sayang!" panggil Erlan di ambang pintu.
"Aku pikir kamu sendiri kesini?" tanya Cherin menatap Diandra setelah melihat Erlan masuk ke ruang rawatnya.
"Ya udah, Mas. Sekarang aja! Udah selesai kok!" jawab Diandra langsung mendapatkan anggukan dari Erlan. Setelah itu Erlan kembali keluar.
"Apa maksudnya, Diandra?" tanya Cherin lagi yang bingung dengan perkataan Diandra pada Erlan.
"Hasil tes DNA udah keluar, Mbak. Tadi aku bilang kalau hasilnya boleh dibacakan setelah kamu selesai sarapan dan minum obat. Aku takut hasilnya ganggu napsu makan kamu nanti," jawab Diandra lagi-lagi membuat Cherin tersentuh. Betapa beruntungnya Cherin selalu diperhatikan oleh Diandra.
"Entahlah. Sebaiknya Mbak Cherin siapkan mental untuk mendengarkan hasil tes DNA itu. Aku yakin hasilnya akan merubah kehidupan Mbak Cherin kedepannya." Diandra kembali mengusap bahu Cherin kemudian duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Cherin berbaring.
"Sebenarnya aku nggak begitu peduli dengan hasilnya. Toh anak itu udah nggak ada," sahut Cherin tertunduk.
Erlan dan Hanes pun masuk di ikutin oleh seorang Dokter yang menangani tes DNA tersebut. Tentu saja Dokter itu bukan Dokter Amira.
Erlan kemudian duduk di sisi istrinya, sedangkan Hanes memilih tetap berdiri bersandar pada dinding dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dokter yang berdiri tidak jauh dari brankar Cherin mulai membacakan hasilnya.
Semua orang di dalam ruangan itu merasa deg-degan saat sang Dokter membuka map berwarna hijau itu. Lembar demi lembar diambil oleh Dokter tersebut. "Jadi Ayah biologis anak dari Nona Cherinna Putri ini adalah Tuan Hanesta Gautama. Hasilnya akurat 99% dengan golongan darah B resus positif sama seperti Ayah biologisnya." Jawaban dari Dokter itu berhasil membuat Hanes melorot dari sandaran. Dokter telah memvonis dia mandul, bagaimana bisa Cherin hamil anaknya.
__ADS_1
Berbeda dengan Hanes yang terlihat putus asa, Erlan dan Diandra saling berpelukan. Bahkan Diandra tidak kuasa menahan air matanya karena rasa bahagianya. Keyakinan Erlan memang patut di acungi jempol. Diandra semakin yakin akan ketulusan cinta Erlan padanya.
Sedangkan Cherin tidak menunjukkan ekspresi apa pun selain lega karena tahu siapa ayah dari anak yang sempat ada di perutnya. Walaupun anak itu tidak bisa dia besarkan, tetapi ada rasa tenang dalam dirinya. Sejak awal Cherin memang tidak yakin jika anak itu adalah anak Erlan karena pada kenyataannya Erlan memang tidak pernah menanamkan benih di rahim Cherin. Satu-satunya pria yang dia tiduri selain Erlan, hanyalah Hanes.
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Dokter pun pergi setelah memberikan hasil tes DNA itu pada Cherin. Hanes tidak percaya dengan hasilnya dan segera meraih kasar map yang dipegang Cherin.
"Kamu memalsukan hasil ini, Tuan Erlangga!" geram Hanes mengepal kuat tangannya. Bahkan satu tangan lainnya meremass hasil tes DNA tersebut.
Erlan pun beranjak dari tempat duduknya kemudian berdiri tepat di hadapan Hanes. "Sebaiknya anda periksa kembali kesehatan anda, Tuan Hanes. Saya bukan mau mengompori anda, tapi saya hanya curiga anda telah di bodohi oleh istri anda selama ini," sahut Erlan dengan gaya coolnya.
"Tapi mereka ... maksudnya nggak ada yang hamil selain Cherin," protes Hanes.
"Bisa saja mereka memakai alat kontrasepsi atau mereka tidak dalam masa subur. Tuan ... saya sudah bilang sebelumnya, saya yakin itu bukan anak saya. Jadi sebaiknya anda segera periksakan kesehatan anda," lanjut Erlan membuat Hanes segera keluar dari ruang rawat Cherin.
"Terima kasih sudah membantuku. Setelah ini, aku nggak akan ganggu rumah tangga kalian. Dan ... maaf! Maaf karena telah menimbulkan masalah dan merepotkan kalian. Semoga kalian segera punya anak dan bahagia selamanya," kata Cherin dengan tulusnya. Diandra langsung memeluk Cherin.
"Aku ... aku juga minta maaf atas sikap buruk ku selama ini," ucap Erlan seraya tertunduk. Erlan benar-benar tulus minta maaf, bukan karena sudah berjanji pada Diandra untuk minta maaf, tetapi karena dia merasa bersalah juga pada Cherin.
........
...Gimana? Lega? hehe ......
...Mohon kesediaannya untuk meninggalkan bintang 5 ya 🙏🥺...
__ADS_1