Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Pertemuan Haru


__ADS_3

Erlan langsung mengabari Diandra untuk segera ke rumah sakit dan bertemu disana saat mendapatkan kabar jika Cherin siuman dan mencari Diandra. Sedangkan dia sendiri pergi bersama Jio. Erlan tidak berani memberi kabar Cherin yang sudah bangun pada Hanes karena dia harus bertanya dulu pada Cherin.


Diandra langsung memeluk Cherin begitu masuk ruang rawatnya. Wajah Cherin berbinar begitu melihat Diandra. Keduanya berpelukan cukup lama sampai rasa lega dalam dada melanda. "Akhirnya kamu sadar juga, Mbak!" ucap Diandra seraya mengusap punggung Cherin. Setelah puas berpelukan, keduanya pun saling menatap dan saling menggenggam tangan.


"Aku mimpi indah banget. Rasanya begitu nyata dan aku tetap ingin disana," sahut Cherin seperti seorang yang ingin bercerita panjang lebar.


"Mimpi apa, Mbak?" tanya Diandra dengan antusiasnya.


"Aku mimpi kita sedang menggendong anak laki-laki yang lucu banget. Bahkan mereka tersenyum sangat manis pada kita. Disana kita berdua bersenda gurau dan tertawa bersama. Kita makan makanan yang rasanya sangat enak. Benar-benar rasanya nyata sekali. Aku nggak rela kehilangan mimpi itu," papar Cherin yang langsung merubah raut wajahnya.


"Semoga saja mimpi itu segera jadi nyata, Mbak!" mohon Diandra yang kemudian dibalas senyuman oleh Cherin.


"Gimana mau nyata, aku aja belum menikah," jawab Cherin seraya terkekeh.


"Kalau begitu semoga segera ada laki-laki yang tulus mencintai dan menikahi Mbak Cherin ya!"


"Aku pikir kemaren dia laki-laki baik. Sesaat aku cukup egois ingin memilikinya, tapi ... tapi ternyata ...." Cherin tidak berani melanjutkan bicaranya. Ingatan tentang perlakuan Hanes dan apa yang dia rasakan saat ini membuat Cherin takut untuk mengingat kembali kejadian mengerikan itu.


Dokter yang menangani Cherin menjelaskan bahwa kondisinya sangatlah baik dan tidak sesuai dengan apa yang ditakutkan. Cherin bisa berinteraksi dan tidak takut bertemu dengan laki-laki. Bahkan Cherin juga terlihat tidak menolak saat diminta untuk mengingat sepenggal kejadian yang dia alami sebelumnya oleh sang dokter.


Namun tentu saja itu Cherin tetap tidak mau lagi mengingat kejadian itu. Cherin benar-benar sadar dan tidak terjadi trauma akut yang ditakutkan oleh Dokter sebelumnya.


"Jadi ... Hanes benar-benar melakukan hal itu?" tanya Erlan tiba-tiba memotong pembicaraan. Cherin hanya mengangguk pelan. "Berarti kamu nggak akan pernah mau bertemu dengannya lagi?" tanya Erlan kembali dan Cherin tidak langsung menjawab. Matanya yang tadi menatap Erlan kini menatap Jio.


"Serjio, terima kasih kamu udah mau bantu aku!" ucap Cherin dengan tulusnya. Jio hanya mengangguk.


"Tadi pagi Hanes datang ke kantor dan buat keributan karena mencari mu," kata Erlan berhasil membuat Cherin juga Diandra terkejut.

__ADS_1


"Kok kamu baru bilang, Mas!" jawab Diandra penuh kecemasan. Namun berbeda dengan tanggapan Cherin.


"Sebenarnya aku butuh penjelasannya kenapa dia mengatakan cinta padaku dengan tulusnya tapi dia menyiksaku layaknya seorang psikopat. Seharusnya dia tau keadaanku ini, bukan?" sahut Cherin menatap Diandra dengan wajah sedihnya.


Diandra mengangguk pelan kemudian menatap suaminya seolah bertanya apa lagi yang dia tahu tentang Hanes. Erlan hanya bisa mengehela napas ditatap dengan tatapan aneh oleh istrinya. "Huft! Ya, Hanes bilang kalau dia sangat mencintaimu dan terpaksa melakukan itu karena takut kamu meninggalkan dia. Hal itu tidak direncanakan sama sekali. Dia bilang kalau dia sangat takut kehilangan wanitanya karena kamu pesan tiket pesawat tanpa bicara dulu padanya. Hanes bahkan menangis saat menceritakan kejadian sebenarnya," papar Erlan membuat Cherin tiba-tiba berkaca-kaca.


"Aku nggak bisa menyimpulkan apa yang dijelaskan Mas Erlan. Keputusan ada di tanganmu, Mbak. Mungkin kamu juga perlu bertemu dengannya kalau kamu berkenan. Siapa tahu kamu juga butuh permintaan maaf."


Apa yang dikatakan Diandra memang ada benarnya. Walaupun kata maaf tidak bisa mengubah dan melupakan apa yang telah terjadi, setidaknya akan ada rasa lega di dada mendengar kata maaf tersebut.


Ternyata tidak ada yang menduga bahwa Hanes telah ada di ambang pintu menatap Cherin yang sedang duduk dengan wajah pucat di atas brankar. Sama sekali tidak ada yang melarang dia masuk dengan langkah kaki gontai.


Diandra pun beranjak pergi meninggalkan Cherin untuk memberikan ruang pada Hanes yang mana tatapan matanya telah berkaca-kaca. Erlan juga tidak mengatakan apa pun dan membiarkan Hanes terus berjalan mendekati Cherin.


Namun Hanes tidak langsung menghampiri Cherin melainkan melipat kedua kakinya untuk berlutut. "Maafkan aku! Aku mohon maafkan sikap buruk ku, Sayang!" mohon Hanes dengan tatapan sendu. Air mata yang sempat tertahan kini berhasil menetes di kedua pipinya.


"Cherin, aku ... aku bersumpah demi nyawaku ini. Aku bersumpah kalau aku benar-benar mencintaimu dan takut kehilanganmu. Aku lupa diri saat tahu kamu akan pergi. Mari kita perbaiki hubungan kita. Aku janji aku hanya akan mendengarkan ucapanmu. Untuk kejadian yang kemaren, aku ... aku sangat menyesal. Aku nggak tahu kamu bakal sakit seperti ini."


Hanes tertunduk seraya menangis tanpa suara. Semua orang menyaksikan bagaimana cara Hanes membujuk wanita yang dia cintai. Diandra bahkan merasa kembali ke masa lalu karena cara Erlan juga tidak jauh berbeda dengan cara Hanes membujuk Cherin untuk hidup bahagia bersamanya.


"Mirip kamu, Mas!" bisik Diandra membuat Erlan yang sempat terhanyut dalam kesedihan langsung menyentil jidat Diandra. Bukannya membalas, Diandra malah terkekeh.


"Jangan nakal! Kamu nggak liat mereka lagi di masa-masa menenggangkan?" bisik Erlan seraya menggigit telinga Diandra.


"Bangunlah! Buktikan apa yang anda ucapkan itu benar, Tuan!" kata Cherin membuat Hanes mendongak. Segera dia mengusap kedua pipinya yang basah.


"Kamu maafin aku?" tanya Hanes yang kini wajahnya berbinar mendengar Cherin memintanya untuk bangun.

__ADS_1


"Belum! Aku butuh bukti kalau kamu benar-benar mencintaiku," jawab Cherin masih dengan nada dingin.


"Iya, aku akan buktikan semuanya. Kamu butuh bukti apa? Aku akan lakukan sekarang juga. Asalkan kamu nggak pergi ninggalin aku." Hanes benar-benar antusias.


"Kamu harus membuktikan dengan caramu sendiri, Tuan Hanes!" seru Erlan seolah sedang menggurui Hanes yang memang kalau dipikir dia seperti sedang bercermin melihat Hanes yang sedang memohon pada Cherin.


"Tentu! Aku akan buktikan kalau aku benar-benar mencintaimu. Apa sekarang aku boleh memelukmu?" tanya Hanes masih dengan posisi yang sama.


"Bangun dan duduklah! Lutut anda bisa sakit, Tuan," kata Cherin masih dengan nada yang sama.


"Nggak! Aku rela, Sayang! Rasa sakit ini nggak sebanding dengan rasa sakit yang kamu alami. Kalau kamu maafin aku, maka aku akan bangun," sahut Hanes kini penuh harap.


"Baiklah. Aku maafin!"


"Kamu nggak ikhlas?"


"Saya sudah memaafkan anda, Tuan. Sekarang bangunlah!"


"Aku mau dipanggil sayang," pinta Hanes membuat Cherin memutar malas bola matanya.


"Kalau begitu silahkan berlutut selama yang anda mau," sahut Cherin kemudian kembali berbaring.


"Kalau anda tulus, saya yakin dia akan luluh dengan ketulusan anda, Tuan," bisik Erlan membuat Hanes paham dan bangun.


"Ach!" rintih Hanes membuat Cherin kembali bangun dan menatap Hanes untuk melihat kondisinya. "Aku nggak pa-pa. Cuma kram aja," lanjut Hanes seraya tersenyum manis menatap Cherin yang terlihat khawatir padanya.


........

__ADS_1


...Besok author bakal crazy up 🤣 kasih semangat dong 😬...


__ADS_2