
Sebenarnya Diandra sedikit ragu untuk menemui Cherin di rumah sakit. Namun entah kenapa dari lubuk hatinya yang terdalam meminta Diandra untuk pergi ke rumah sakit. Tangan itu juga ragu untuk membuka pintu, tetapi perlahan pintu pun terbuka dan Diandra melihat jika Cherin sedang melamun menatap ke luar jendela melihat seorang laki-laki yang sedang mengajari istrinya berjalan di luar sana.
Diandra menatap sebuah nampan di atas nakas yang mana semua makanannya masih utuh. Itu artinya Cherin belum makan satu suap pun juga minum obatnya. Diandra pun menghela napas kemudian berjalan mendekati Cherin yang belum sadar akan kedatangannya dengan Erlan.
"Pagi," sapa Diandra. Seketika Cherin menoleh dengan raut wajah terkejut melihat Diandra juga Erlan datang. Erlan langsung duduk di sofa sedangkan Diandra berdiri di sisi brankar Cherin untuk menyiapkan sarapan.
"Kenapa kalian datang?" tanya Cherin menatap Diandra yang sedang mengeluarkan makanan dengan aroma yang mengundang rasa lapar.
"Aku buatin kamu sarapan. Aku tahu makanan di rumah sakit nggak enak karena aku juga pernah kuret kayak kamu, Mbak," jawab Diandra yang saat itu juga Cherin langsung diam tidak bicara apa pun. "Aku nggak tahu kamu suka atau nggak sama masakan aku, cuma selama ini semua orang suka, semoga kamu juga suka, Mbak," lanjut Diandra kemudian menyodorkan sebuah piring pada Cherin.
Namun saat itu jarum infus Cherin ada di sebelah kanan yang membuat dirinya kesulitan untuk menerima makanan yang diberikan Diandra. Dia hanya melirik jarum yang menempel ditangannya dengan rasa kecewa. "Letakan saja di meja. Nanti aku makan," jawab Cherin yang sebenarnya sangat ingin segera memakan makanan yang disuguhkan Diandra.
"Oh, mau aku suapin? Kamu pasti susah makan sendiri karena infus kamu."
"Nggak perlu repot-repot. Jangan buang waktu kamu untuk melakukan hal yang tidak berguna,"
__ADS_1
"Aku punya banyak waktu," sahut Diandra kemudian menyendok makanan untuk disuapkan pada Cherin. "Ayo ... buka mulutmu, Mbak!" titah Diandra seraya tersenyum manis.
Tentu saja Cherin sangat ragu untuk membuka mulutnya, tetapi karena rasa lapar yang luar biasa membuat mulut itu dengan spontan terbuka lebar. Perlahan dia pun mengunyah makanan yang diberikan Diandra. Matanya berbinar merasakan sarapan yang dibuatkan langsung oleh tangan wanita yang pernah dia hina dan dia sakiti.
Beberapa saat kemudian Cherin menelan makanan tersebut dan kemudian membuka mulutnya kembali karena lidahnya ingin merasakan lagi sarapan enaknya. Diandra dengan senangnya memberikan suapan demi suapan pada Cherin hingga habis. Sedangkan Erlan hanya jadi penonton tanpa suara dan protes apa pun melihat kedua wanita di hadapannya juga diam. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang mereka dengar.
"Apa aku boleh nambah?" tanya Cherin saat makanan di piringnya habis. Pertanyaan itu membuat Diandra terkekeh.
"Bolehlah. Masih banyak juga," jawab Diandra menambah porsi makanan untuk Cherin dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya hingga Cherin benar-benar kenyang. "Syukurlah kalau kamu suka dengan masakan aku, Mbak. Sekarang kamu tinggal minum obat. Kalau kamu mau nurut sama Dokter, besok atau lusa kamu udah boleh pulang, Mbak. Tapi dulu aku cuma mau dirawat satu malam aja karena nggak betah. Tapi sebaiknya kamu jangan ikuti jejakku. Aku liat kondisi kamu lebih lemah dari aku." Diandra menyodorkan beberapa pil pada Cherin dan menyiapkan gelas yang berisikan air mineral.
Cherin menerima obat itu dan meminumnya dengan sekali tegukan. Terlihat jelas bahwa dia kesulitan menelan dan Diandra segera memberikan gelas itu untuk memudahkan Cherin menelan obatnya. "Gilaa ... pait banget sih!" protes Cherin membuat Diandra kembali terkekeh dan meletakkan gelas yang isinya sudah habis di atas nakas.
Dalam perjalanan menuju kantor, Erlan tidak hentinya menciumi tangan Diandra dengan tatapan dan senyum yang aneh bagi Diandra. Namun dia tidak mau banyak bicara karena takut salah bicara. Alih-alih salah bicara, Erlan pasti akan melahapnya. "Diem aja sih!" kata Erlan yang kemudian mencium singkat pipi Diandra.
"Mas! Kamu nggak malu sama supir kita?" bisik Diandra yang sebenarnya gemas dengan sikap Erlan sejak tadi dan begitu ingin mencubit suaminya. Erlan pun menarik gorden di belakang supir.
__ADS_1
"Udah nggak keliatan sekarang," jawab Erlan yang langsung menarik tengkuk Diandra dan melumatt bibirnya. Sayangnya Diandra tidak mau terbuai oleh serangan Erlan karena takut menciptakan suara laknat. Diandra segera mendorong tubuh Erlan untuk menyudahi ciumannya. "Kenapa? Kan nggak keliatan," protes Erlan yang terlihat kecewa.
"Kamu harus di rawat juga kayaknya, Mas!" sahut Diandra mengusap ujung bibirnya yang basah karena ulah Erlan.
"Aku gemas sekali sama kamu, Sayang. Kamu begitu berhati lembut. Jelas-jelas wanita itu jahat sama kamu, tapi kamu dengan sabarnya merawat dia. Kamu bahkan nggak mendapatkan ucapan terima kasih darinya. Aku benar-benar beruntung sekali semesta mempertemukan kita berdua," kata Erlan yang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Diandra seraya kembali mencium tangannya.
"Kejahatan nggak harus dibalas kejahatan kan? Lagian aku pernah ada diposisinya, Mas. Mungkin sebagai sesama wanita yang sama-sama kehilangan anaknya, hatiku jadi tergerak untuk membantu dia. Kasian juga dia hanya sendiri. Nggak ada yang bantu dan support dia untuk segera sembuh. Beda sama aku yang punya kamu, nenek juga mami. Aku di kelilingi orang-orang yang begitu peduli dan memberikan kasih yang cukup besar."
Belum Erlan menjawab penjelasan Diandra, mobil sudah terparkir di depan kantor Erlan. Ada rasa kecewa di wajah Erlan saat Jio sudah membukakan pintu mobil untuknya. Terpaksa Erlan menyudahi waktu bersama Diandra. "Aku akan menemanimu lagi nanti ke rumah sakit. Kamu jemput aku ya? Tapi aku juga mau makan siang dari tangan malaikat ini," ucap Erlan seraya mencium kembali tangan Diandra. "Aku harus bekerja karena istriku bisa memecat ku kalau aku malas. Kamu hati-hati ya? I love you!" Erlan pun mencium kening Diandra kemudian keluar dari mobil.
Rasa haru dan rasa bahagia juga rasa yang entah apa itu, kini bercampur aduk menjadi satu. Dadanya seolah lega melakukan hal yang ingin dia lakukan. Diandra benar-benar merasa menjadi wanita paling beruntung yang mendapatkan suami juga keluarga yang begitu peduli dengan dirinya.
Kini pikiran itu kembali pada Cherin. Wanita yang pasti iri akan apa yang Diandra dapatkan. Namun kebaikan hati Diandra tidak membuat dirinya berpikir seperti itu. Diandra memikirkan apa yang akan dia masak untuk pasiennya di rumah sakit juga untuk orang yang bucin di kantor. Diandra tiba-tiba terkekeh memikirkan dua orang yang dulu saling menyukai kini saling membenci satu sama lain.
........
__ADS_1
...Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya?...
...Jangan lupa tinggalkan vote nya dong. Eits ... bantu author juga ya dengan tinggalkan hanya bintang 5 supaya karya ini bisa naik dan dapat promosi 😊🙏...