Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Semangat Berjuang 2


__ADS_3

Sore itu Diandra dan Erlan sedang menikmati sunset bersama di balkon. Erlan sengaja pulang lebih awal agar bisa menemani istrinya duduk mengobrol bersama. Setiap hari dia tidak pernah tahu apa yang dilakukan istrinya karena tidak ada yang mau melaporkan apakah Diandra kesakitan atau tidak dibagian perutnya.


Janji Diandra tidak dia tepati untuk selalu mengatakan seberapa besar rasa sakit yang dia rasakan bahkan hingga pingsan. Diandra sangat pandai menyembunyikan semua itu dari orang-orang sekitarnya. Bahkan pada Nenek dan Maminya.


"Mas, aku boleh minta sesuatu nggak?" pinta Diandra dengan suara lemahnya seraya mengusap perut yang sudah cukup besar itu.


"Apa pun itu, Sayang. Kamu mau apa? Katakan!" Erlan turun dari tempat duduknya untuk berjongkok di depan Diandra yang sedang duduk menatap sunset. Diandra pun mengalihkan pandangannya menatap Erlan dengan wajah lelahnya. Yang ada dalam pikiran Diandra tentu rasa bersalah karena selalu merepotkan dan membuat Erlan kelelahan.


"Aku mau poto pernikahan kita di pajang di kamar, Mas! Ukurannya yang besar ya? Aku juga mau ukuran yang kecil buat aku letakkan di meja untuk sewaktu-waktu bisa aku peluk," kata Diandra dengan senyum yang berat.


Erlan memang belum pernah memikirkan untuk memajang poto pernikahannya dengan Diandra. Entah kenapa hal sekecil itu tidak pernah terpikirkan sama sekali. Mungkin karena itu bukan pernikahan impian dan moment yang patut diabadikan saat itu. Tentu berbeda dengan sekarang karena rasa cinta yang semakin besar.


"Maaf!" ucap Erlan lirih lalu menumpangkan kepalanya di paha Diandra. Perlahan Diandra mengusap rambut Erlan yang mulai gondrong. Suami sudah tidak memperdulikan penampilannya.


"Pernikahan itu memang bukan kemauan kita, tapi aku mau mengingatnya dan melihat wajah tampan suamiku setiap saat. Ambil juga beberapa foto yang kita ambil di Paris ya! Itu momen termanis yang pernah aku dapatkan darimu. Walaupun setelah itu kita bertengkar, tapi aku sungguh menyukai semua kejutan darimu. Aku menyukai semua yang kamu lakuin," tutur Diandra benar-benar membuat Erlan ingin menangis.


"Apa ada lagi?" tanya Erlan masih dengan posisi yang sama.


"Cukur ya? Rambut kamu udah panjang banget. Kamu kayak suami yang nggak di urus istri aja. Tapi ... tapi emang kamu nggak keurus ya beberapa bulan ini, maafin aku ya, Mas!" Lagi-lagi apa yang dikatakan Diandra membuat dadanya semakin sesak dan ingin menangis hingga terisak.


Erlan menahan semua itu demi perasaan Diandra. Dia tidak mau terlihat lemah karena dia tahu sumber kekuatan Diandra juga ada pada dirinya. "Aku akan mencetak semua foto-foto kita baik saat pernikahan maupun saat di Paris. Aku juga akan cukur rambutku dengan model yang sama saat pertama kita bertemu. Tapi mungkin agak lama. Kamu tunggu ya? Aku telpon Jio dulu."


"Aku maunya kamu yang urus semuanya, Mas. Pergilah sekarang!" Erlan mengangguk dan pergi setelah mendaratkan ciuman singkat di kening Diandra yang sedang berkeringat. Rasanya aneh memang karena Diandra sedang tidak melakukan apa-apa, tetapi berkeringat.


Tanpa bertanya dan tak mau membuat istrinya menunggu lebih lama lagi, Erlan segera pergi untuk memenuhi permintaan Diandra.


Kepergian Erlan memberikan kesempatan untuk Diandra merintih dan semakin tidak bisa menahan apa yang sejak tadi dia tahan. Rasa sakit diperutnya benar-benar amat sangat sakit. Makanya Diandra sampai berkeringat dingin menahan rasa sakit tersebut. "Ack! Sakitnya benar-benar semakin sakit. Ack! Maafkan aku, Mas! Maafkan aku yang penyakitan ini," gumam Diandra ingin sekali menekan perutnya agar mengurangi rasa sakit itu. Ternyata lagi-lagi Diandra harus pingsan di balkon tanpa ada yang tahu.


...***...


Erlan sedang menangis di sisi tempat tidur pasien. Tentu saja pasien itu adalah istrinya sendiri. Diandra dilarikan ke rumah sakit karena pingsan dengan keringat yang hampir membasahi semua pakaian. Untung saja saat itu ada seorang asisten rumah tangga yang ingin mengantarkan buah ke kamar Diandra.


Sayup-sayup Diandra mendengar suara tangis Erlan. Bau karbol yang menusuk hidungnya juga yang membangunkan Diandra dari tidur yang cukup panjang karena waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


Matanya melirik tangan kanan yang telah dipasang infus dan tangan kirinya sedang digenggam oleh Erlan yang tertunduk dengan isakan. Diandra mencoba menggerakkan tangan kiri itu untuk mengusap kepala Erlan yang telah memotong rambutnya persis saat pertama kali mereka bertemu. Seketika itu Erlan langsung mengangkat kepala dan meraih tangan Diandra kembali untuk dia cium.


"Suamiku tampan sekali. Aku semakin cinta dengan Tuan Erlangga Saputra," ucap Diandra dengan lancarnya walaupun pelan.


"Kenapa? Kenapa kamu menahannya sendirian? Udah aku bilang dan kamu juga udah janji walaupun sakit sedikit atau banyak, itu namanya tetap sakit. Tapi kamu tahan sampai kamu berkeringat. Kenapa kamu buru-buru minta aku pergi? Kenapa!" Erlan hampir saja meluapkan amarahnya pada Diandra. Walaupun nada bicara Erlan cukup tinggi, tetapi Diandra tidak tersinggung sama sekali. Dia malah tersenyum walaupun berat.


"Nak, tolong bilang kalau ada yang sakit! Jangan ditahan sendiri. Kamu nggak sendirian, ada kami di sisi kamu." Nenek pun mendekati Diandra dan membelai rambut Diandra yang mulai lepek.


"Maaf!" ucap Diandra masih dengan nada berat.


"Jangan lakukan ini lagi, hm?" Erlan kembali mencium tangan Diandra dan mendapatkan anggukan.


"Sayang, ada Mami ada Nenek, kenapa kamu nggak bilang apa pun saat sakit? Udah berbulan-bulan dan berkali-kali kamu pingsan tanpa ada yang tahu kamu sedang menahan rasa sakit. Sampai kapan kamu akan menahan sendirian?" Mami Hasna berdiri di sisi Erlan dengan raut wajah sedih.


Diandra tidak tahu harus merespon apa. Walaupun mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya, tetap saja Diandra tidak bisa bicara terus terang. Apalagi saat dirinya tahu apa yang akan terjadi setelah apa yang sudah dia perjuangkan itu.


Diam-diam Diandra mencari informasi mengenai penyakit endometriosis yang diiringi oleh miom. Kemungkinan terbesar yang akan Diandra alami adalah pengangkatan rahim yang artinya dia tidak akan bisa hamil lagi.


Maka dari itu, Diandra tidak banyak mengeluh dan terus bertahan demi anak yang katanya tumbuh sehat dan berkembang sesuai usia. Kabar itu membuat Diandra semangat demi kebahagiaan pernikahannya dengan Erlan. Apalagi harapan sang Nenek yang telah memberikan segalanya pada Diandra. Diandra ingin semua orang bahagia mendengar tangis bayi.


"Maaf!" hanya kata itu yang kembali terucap.


...***...


Semakin hari kondisi Diandra semakin mengkhawatirkan karena hampir tidak bisa masuk makanan. Setiap habis makan, sesaat itu juga Diandra memuntahkan kembali apa yang telah masuk ke dalam perutnya. "Sayang, ke rumah sakit yuk?" ajak Erlan yang tidak tega melihat sang istri berwajah pucat.


"Baru kemaren pulang, Mas. Mau kesana lagi? Perutnya nggak sakit kok, cuma mual aja. Kamu berangkat kerja aja nggak pa-pa," jawab Diandra berusaha melangkah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya benar-benar lemas dari sebelumnya. Namun tentu dia tidak mau menunjukkan hal tersebut pada Erlan.


"Sayang, tapi ini muntahnya banyak banget. Aku ... aku nggak tega liat kamu kayak gini, Sayang." Erlan langsung membopong tubuh Diandra dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Erlan benar-benar merasa tersayat melihat kondisi Diandra yang tidak jauh beda dari kehamilan sebelumnya. Walaupun anak dalam kandungannya sangat sehat dan berkembang sesuai usia, tetapi perjuangan Diandra untuk anaknya membuat Erlan semakin sedih.


"Aku beliin bubur ayam tanpa daun bawang dengan banyak taburan bawang goreng dan kerupuk warna merah semua plus sate telur puyuh ya? Kamu harus makan, Sayang." Erlan mengusap lembut ujung kepala Diandra. Bahkan terlihat matanya berkaca-kaca karena kondisi sang istri.

__ADS_1


Diandra hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis. Erlan pun mengecup keningnya dan pergi membeli bubur ayam yang pernah menjadi kesukaannya. "Nek, tolong buatin teh hangat untuk Diandra ya? Dia muntah terus," kata Erlan kemudian beranjak pergi mencari bubur ayam setelah mendapatkan anggukan dari sang Nenek.


Setiap pagi Nenek Harni memang selalu memberikan teh hangat dengan aroma jahe yang menenangkan seperti kehamilan Diandra pertama. "Nak, minum ini biar agak enakan ya?" Nenek Harni membantu Diandra untuk duduk dan minum teh hangat buatannya.


"Makasih, Nek! Maaf ya ngerepotin terus setiap hari." Bukannya menjawab, Nenek Harni langsung memeluk Diandra dan menangis. Akhir-akhir ini melihat keadaan Diandra yang memburuk membuat sang Nenek jarang masuk kamar karena tidak tega melihat keadaannya. Hanya saat pagi atau malam hari untuk mengantarkan Diandra teh hangat saja. Itu juga terkadang asisten rumah tangga yang mengantarkan. "Nek, kenapa?" tanya Diandra seraya mengusap punggung sang Nenek.


"Nenek yang minta maaf kalau permintaan Nenek ini menyiksa kamu, Nak. Nenek jadi orang egois yang menuntut keturunan darimu. Nenek ... Nenek mera-"


"Nek, ini udah takdir. Kehamilan aku ini bukan kesalahan Nenek ataupun tuntutan keturunan. Kodrat wanita memang hamil, bukan? Jadi untuk apa Nenek menyalah diri? Aku nggak menyalahkan siapapun. Aku yang merepotkan kalian semua, aku yang harus minta maaf karena menjadi menantu yang penyakitan."


""Nggak, Nak! Kamu jangan bilang gitu! Kamu sedang berjuang untuk pewaris keluarga ini, jadi nggak ada yang perlu dimaafkan juga. Kamu harus kuat, Nak. Nenek yakin kamu bisa melewati semua ini. Semoga setelah ini nggak akan ada lagi rasa sakit yang kamu rasakan." Diandra mengangguk dalam pelukan Nenek Harni. Walaupun ingin sekali menangis, tetapi Diandra tidak mau membuat sang Nenek semakin sedih atas kondisinya.


Mungkin apa yang selama ini dia pikirkan akan benar-benar terjadi seperti apa yang baru saja dikatakan sang Nenek kalau setelah ini tidak akan ada rasa sakit lagi karena kemungkinan besar rahimnya bisa benar-benar diangkat beserta semua penyakit yang menempel. Diandra cukup takut hari itu akan tiba.


Erlan yang melihat situasi itu hampir saja menjatuhkan bubur ayam yang dia beli. Kedatangan Erlan ternyata disadari oleh sang Nenek kemudian melepaskan pelukannya. Erlan pun duduk di sisi tempat tidur dan mengusap air mata yang masih membasahi pipi Neneknya.


"Kita boleh nangis, tapi hanya sesekali aja. Setelah itu harus ada kekuatan yang baru. Bukan malah semakin lemah. Erlan yakin Diandra wanita kuat, Nek."


"Iya, Nek. Diandra yakin semuanya akan baik-baik saja. Nggak pa-pa kok. Sakitnya juga sebentar lagi."


Nenek Harni mengangguk paham dan keluar dari kamar Erlan karena tidak mau mengganggu istirahat Diandra.


"Wah ... kali ini nggak salah, Mas!" puji Diandra setelah mika tempat bubur ayam yang dibeli Erlan dibuka.


"Nggak dong. Kamu harus bisa makan sedikit-sedikit. Nanti di dorong minum air hangat ya biar mau masuk ke perut. Setelah itu minum obat." Diandra mengangguk dan Erlan pun memberikan suapan demi suapan untuk Diandra.


Sedikit demi sedikit makanan itu masuk dengan bantuan air hangat. Walaupun tidak habis, tetapi tentu sangat lumayan ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.


"Terima kasih, Mas!"


"Sama-sama, Sayang."


........

__ADS_1


__ADS_2