
Cherin sedang sibuk memilih baju yang akan dia pakai untuk dirinya juga Cakra. Acara makan malam yang begitu mendadak itu membuat Cherin kelimpungan karena perutnya mulai sedikit besar. Jadi dia bingung harus pakai baju yang mana saking banyaknya pilihan.
Bahkan baju di lemari Cakra hampir semuanya keluar dan berantakan karena Cherin merasa tidak menemukan baju yang pas untuk anaknya itu. Bukan hanya lemari pakaian Cakra, tetapi lemarinya pun sama berantakan.
"Astaga ... Mas! Kamu coba telepon siapa kek buat bawain baju bagus sekarang juga. Aku pusing milih baju nggak ada yang bagus sama sekali. Apalagi buat Cakra," keluh Cherin seraya menghentakkan kakinya beberapa kali karena kesal setelah kembali dari kamar Cakra.
Hanes yang masih sibuk dengan ponselnya hanya menghela napas panjang kemudian beranjak pergi untuk memilih kan gaun yang akan Cherin pakai. "Ini bagus, Sayang! Coba deh! Aku yakin kamu makin cantik pake yang ini," ujar Hanes kemudian menyerahkan gaun tersebut pada Cherin.
Bukannya langsung menerima, Cherin membalikan beberapa kali baju yang masih dipegang oleh Hanes. Bibirnya mengerucut seperti kurang suka dengan pilihan suaminya itu.
"Beneran ini bagus?" tanya Cherin ragu. Padahal gaun itu juga belum pernah dipakai sama sekali oleh Cherin. Kebiasaan wanita yang memang hanya suka belanja, tetapi masih saja mengatakan tidak punya baju yang bagus untuk dipakai.
"Iya. Coba aja! Urusan Cakra, biar sama Bibiknya aja. Kamu dandan yang cantik. Cakra akan tetep ganteng pake baju manapun, jadi kamu nggak usah khawatir!" lanjut Hanes dan Cherin pun menurut meraih baju yang dimaksud Hanes kemudian berganti pakaian dan berdandan.
Hanes pun memberikan Cakra pada baby sitter nya agar didandani dengan baik. Sedangkan dia juga mencari pakaian yang pas untuk acara makan malam yang diundang oleh Erlan.
...***...
Safira benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Ibunya melarang dia untuk pergi ke acara makan malam yang diadakan oleh keluarga besar Erlan. Sejak beberapa menit yang lalu dia berusaha memikirkan ide gila apa yang harus dia lakukan agar bisa keluar dari rumahnya karena Jio sebentar lagi akan sampai di tempat penjemputan.
"Astaga ... gimana ini gimana!" gumam Safira masih mondar-mandir di kamarnya seraya meremas kedua tangan yang sudah berkeringat. Andai dia tidak datang, pastilah Jio kecewa. Namun dia tidak punya ide untuk bisa keluar dari rumahnya karena pintu keluar dikunci dan kuncinya di pegang oleh ibu Romlah.
"Safira! Goreng ikannya!" teriak Ibu Romlah dari arah dapur. Safira dengan terpaksa melangkah menuju dapur. Raut wajahnya yang kusut membuat sang Ibu memukulnya dengan centong nasi.
"Jangan melamun, cepet goreng ikannya! Ibu udah laper," kata Ibu Romlah menatap sinis Safira kemudian memberikan wadah yang berisi empat potong ikan mujair.
Akhirnya Safira pun mengambil wadah tersebut dengan hati yang dongkol. Namun saat akan mengambil minyak goreng, Safira mendapatkan ide brilian. Dia tau kalau minyak goreng dirumahnya hampir habis. Safira pun pura-pura kesandung dan menumpahkan minyaknya.
"Aduh ... sakit, Buk!" keluh Safira pura-pura kesakitan.
"Kamu gimana sih? Minyak kita abis malah kamu tumpahin. Buruan beli sana! Jangan ngobrol di warung!" titah Ibu Romlah kemudian memberikan uang dua puluh ribu juga kunci rumah pada Safira. Tidak mau rencananya gagal, Safira masih pura-pura kesal menerima uang juga kunci rumahnya lalu beranjak pergi.
Namun dia tidak benar-benar pergi ke warung, melainkan langsung lari menuju gang keluar dari kompleks rumahnya karena Jio pasti sudah sampai di tempat mereka janjian bertemu.
Benar saja, setelah cukup lama berlari, Safira telah mendapati Jio sedang berdiri bersandar pada mobil dengan gayanya yang cool dan terlihat sedang melakukan panggilan telepon. "Mas, buruan masuk!" kata Safira dengan napas yang memburu karena lelah berlari.
Jio yang terkejut dengan kedatangan Safira langsung membuka pintu mobil kemudian melajukan mobilnya dengan segera. Cukup lama Jio menunggu penjelasan Safira karena napasnya belum bisa untuk bicara dengan lancar.
"Sayang ... kita beli baju dulu berarti ya?" tanya Jio yang seolah paham dengan penampilan Safira yang masih kucel.
"Huft ... bener-bener penuh perjuangan, Mas! Aku harus numpahin minyak dulu baru bisa keluar dari rumah," jelas Safira membuat Jio terkekeh. "Kamu malah seneng sih aku kecapean begini? Semua ini bukti cinta aku sama kamu, Mas!" sambung Safira dengan nada kesal.
__ADS_1
"Kalau cinta kenapa nggak mau diajak buat anak, hm?" goda Jio membuat dia langsung mendapatkan pukulan di bahu. "Eh ... sembarangan, kalau aku nabrak orang terus masuk penjara, gimana?" tanya Jio, tetapi masih dengan nada meledek.
"Ya gampang! Aku tinggal nikah aja sama Rendra atau sama Ferdi atau turis-turis yang biasanya ketemu aku. Secara aku ini cantik, pasti banyak yang mau sama aku, huh!" jawab Safira kemudian melipat kedua tangannya di dada.
"Iya ... iya, maaf! Harusnya kamu amit-amit dong bukan malah buat aku ingin membunuh orang-orang yang kamu sebutkan tadi," sahut Jio seraya mengusap ujung kepala Safira.
Namun Safira tidak merespon. Jio membiarkan kemarahan Safira mereda sampai akhirnya mereka tiba di sebuah butik. Jio mempersilahkan Safira memilih baju dan aksesoris lainnya yang dia butuhkan.
...***...
"Sayang ... aku paket baju mana?" teriak Erlan sibuk memilih baju di walk in closet. Padahal sebelumnya dia tidak pernah sesibuk itu.
"Astaga ... Mas! Kamu itu udah kayak cewek aja bingung cari baju. Kita cuma makan malam dan yang datang juga keluar sendiri. Emang kamu mau carper sama siapa sih?" tanya Diandra yang masih mendandani Ezra.
"Kamu gimana sih, kita kan mau foto bersama. Aku harus terlihat yang paling keren dong!" kata Erlan membela diri.
"Cuma foto doang, apa istimewanya sih! Udahlah baju yang mana aja. Mau bagaimanapun penampilan kamu, yang paling tampan dan yang paling keren di mataku itu cuma kamu, Mas! Nggak akan ada yang lain," kata Diandra langsung membuat Erlan salah tingkah dengan pujiannya.
"Udah siap belum cucu Oma?" tanya Mami Hasna yang akan mengambil Ezra supaya Diandra bisa bersiap tanpa gangguan.
"Bentar, Mam! Dikit lagi nih tinggal pake sepatu," jawab Diandra yang kemudian memakaikan sepatu pada Ezra. Setelah itu Mami Hasna membawa Ezra keluar dari kamar.
Diandra pun memilih baju tanpa kebingungan seperti Cherin dan Erlan. Suaminya bahkan mengacungi dua jempol pada Diandra yang langsung memakai baju yang dia ambil di lemari. "Istriku emang beda dari yang lain," puji Erlan tak membuat Diandra melayang. Dia pun keluar dari walk in closet lalu duduk di depan meja riasnya setelah selesai berganti pakaian.
"Em ... nggak pa-pa, Sayang. Pengen aja liatin kamu yang begitu sempurna ini." Erlan pun mencium ujung kepala Diandra.
"Ish ... jangan kotor pikirannya. Kita lagi buru-buru ini. Takut macet di jalan," kata Diandra sedikit mendorong tubuh Erlan agar dia bisa bebas merias dirinya. Pergerakannya tentu saja terbatas jika Erlan memeluknya dari belakang.
"Iya. Nggak kok! Tapi nanti malam tiga kali ya? Aku mau min-"
"No! Dasar mesum! Udah buruan sana pake sepatu!" Kali ini Diandra benar-benar mendorong tubuh Erlan. Memang setiap ada kesempatan berdua, Erlan benar-benar selalu berpikir kotor. Diandra kadang dibuat pusing dengan suaminya itu. Walaupun sebenarnya dia suka dengan pria manja seperti sikap Erlan.
...***...
Disebuah restoran mewah yang telah dibooking Erlan khusus untuk acara makan malam yang begitu spesial sebagai tanda penyambutan Nenek Harma, semua orang yang diundang telah berkumpul dan duduk dengan wajah-wajah berseri.
Malam itu benar-benar malam yang begitu bahagia bagi Erlan dan Diandra. Apalagi Ibu Dona sudah pulih dan bisa ikut malam bersama di restoran tersebut. Diandra hampir saja menitikkan air matanya melihat satu demi satu wajah-wajah yang selama ini menemani suka duka Diandra.
Segala kesedihan, kesepian, kesengsaraan dan penyakit yang hampir membuatnya putus asa telah selesai dilalui dan tinggallah sebuah rasa yang sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi karena terlihat dengan jelas malam itu tidak ada satupun yang terlihat sedang sedih.
Bahkan Jio dan Safira yang belum mendapatkan restu dari orang tua Safira saja, terlihat sangat bahagia dan enjoy.
__ADS_1
"Ayo semuanya, nikmati makan malam penyambutan Nenek Harma juga rasa syukur atas kesembuhan Ibu Dona. Semoga kita semua selalu diberikan kebahagiaan yang abadi," ucap Erlan membuat semua orang yang hadir tersenyum lebar.
"Eh, tunggu! Kita kan mau ada sesi foto bersama dulu, Mas! Kalau kita makan dulu ya nanti lipstiknya nggak merah lagi dong! kata Diandra langsung disambut gelar tawa. Padahal itu hal yang lumrah bagi seorang wanita.
"Eh, iya! Padahal tadi aku yang antusias buat foto. Oke ... bentar, fotografernya tadi katanya datang agak telat deh! Aku telepon dulu," ucap Erlan seraya merogoh saku celananya. Namun belum sampai melakukan panggilan telepon, fotografer yang dimaksud tiba dengan napas ngos-ngosan.
"Maaf, Tuan! Agar macet tadi," ujar fotografer yang baru datang itu.
"Iya, nggak pa-pa. Jadi gimana posisi yang pas supaya hasil fotonya bagus," tanya Erlan yang mana fotografer itu langsung mencari tempat dan posisi yang tepat untuk bisa memfoto semua orang dengan bagus.
Tidak perlu di perintahkan lagi, fotografer juga satu temannya yang datang bersama dengannya membantu posisi yang cocok dan mengatur kursi setelah menghitung jumlah orang yang akan diambil gambarnya.
"Mari, sudah siap!"
Hanes dan Cherin ada di posisi paling kanan bersama Cakra yang digendong oleh Hanes. Di susul oleh Jio dan Safira yang masuk barisan Hanes tadi dengan para wanita di tengah-tengah. Kemudian di susul Pras yang berdiri di sisi Jio.
Erlan dan Diandra duduk di kursi dengan Erlan yang menggendong Ezra, sedangkan di sisi Diandra ada Mami Hasna kemudian Ibu Dona. Di sisi Erlan ada Nenek Harma.
Setelah sedemikian rupa fotografer itu mengatur posisi, tibalah saatnya pengambilan gambar. Teman yang dibawa fotografer tadi mencoba mengalihkan pandangannya Ezra dan Cakra supaya melihat kamera dengan senyuman khas tentunya.
Perhatian Ezra dan Cakra pun teralihkan hingga akhirnya suara kamera tanda pengambilan gambar terdengar beberapa kali agar bisa dipilih gambar yang paling bagus.
"Sekarang gaya bebas ya! Hitungan ketiga, say chers. Siap! Satu ... dua ... tiga!"
Cekrek!!!
Hitungan ketiga, semua orang pun mengangkat tangannya ke atas diiringi senyum yang terukir indah dengan segala kebahagiaan yang telah sempurna.
...~~~END~~...
........
Akhirnya kisah ini telah selesai 🤧
Silahkan tinggalkan komentar dan tanggapan kalian ya. Pengumuman give away besok. Malam ini tangannya udah lelah sangat.
Akan ada give away untuk kalian yang rajin komentar juga ya. 😘
Jangan lupa follow atau masuk GC READER ya. Klik aja profil aku ini. Atau follow ig aku @deliss_aa1 sebagai alat interaksi buat yang dapet give away 😀
Terima kasih banyak yang udah setia baca dan selalu kasih dukungan "Nikah Paksa dengan CEO Kejam" dari awal sampai akhir 😭🙏
__ADS_1
Semoga kalian semua selalu sehat Aamiin 🤲