Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Cherin Dirawat


__ADS_3

Erlan dan Diandra segera pergi dari pesta barbeque sesaat setelah mendapatkan telepon dari Jio bahwa Cherin mengalami pendarahan karena dilecehkan oleh Hanes. Bukan hanya itu saja, tetapi kondisi Cherin sangat lemah karena mengkonsumsi obat perangsangg.


Hanes sendiri tidak berhasil mengejar Jio karena saat itu mobilnya terparkir jauh sedangkan Jio sudah melakukan mobilnya dengan cepat meninggalkan hotel itu. Hanes terpaksa kembali ke kamarnya dan memikirkan sebuah rencana agar mendapatkan kembali Cherin.


Sepanjang perjalanan Erlan terus menggerutu karena tidak habis pikir dengan sikap Hanes. "Sialann! Ternyata ada laki-laki psikopat seperti Hanes!" pekik Erlan seraya memukul kemudinya. Diandra sendiri tak tahan untuk tidak menangis. Dia bahkan menyalahkan dirinya karena tidak memastikan keadaannya baik-baik saja malah merayakan kebahagiaannya. "Sayang, tenang! Ada Jio, Cherin pasti aman, hm?" Erlan berusaha menenangkan istrinya seraya mengusap ujung kepala Diandra.


Jalanan ibukota itu tidaklah macet karena waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Mobil yang dikemudikan oleh Erlan pun tiba di rumah sakit dengan cepatnya. "Cherin baru aja masuk ruang operasi, Bos!" ucap Jio begitu Erlan dan Diandra tiba.


Wajah-wajah itu benar-benar menunjukkan rasa khawatir yang mendalam karena kondisi Cherin. Jio mengatakan ada aliran darah di bagian paha Cherin dan Cherin terus mengaduh kesakitan seraya menekan bagian perutnya.


Mendengar itu Erlan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya saking geramnya. Sedangkan Diandra masih menangis tanpa suara menatap pintu ruang operasi di depannya.


"Dimana kamu ketemu dia?" tanya Erlan.


"Di Hotel tempat Tuan Frendik menginap. Kebetulan aku baru aja akan pulang setelah selesai mengantar Tuan Frendik ke kamarnya. Tapi saat di bagian resepsionis, tiba-tiba Cherin menabrak ku dan meminta tolong supaya menolongnya. Ternyata saat itu dia sedang di kejar Tuan Hanes. Bahkan Tuan Hanes sempat berteriak memanggil nama Cherin, " papar Jio menjelaskan.


Erlan semakin geram dan dia juga menendang angin karena bingung harus bagaimana cara melampiaskan amarahnya. "Bisa-bisanya Hanes segila itu. Apa yang dia pikirkan sampai memperkosa wanita yang baru saja keguguran! Apalagi anaknya sendiri. Bener-bener nggak waras," oceh Erlan.

__ADS_1


"Sebaiknya Tuan Hanes dilaporkan aja, Mas!" usul Diandra membuat Erlan dan Jio saling menatap. Keduanya malah berinteraksi lewat sorot mata. Namun tidak lama karena ada panggilan masuk dari ponsel Cherin. Erlan sempat heran, tetapi tentu dia langsung tahu jika ponsel Cherin ada di tangan Hanes.


"Ini?" Erlan menunjukkan nama Cherin di layar ponselnya pada Jio. Keduanya saling menatap dan Jio pun mengangguk agar Erlan segera mengangkat panggilan masuk itu. "Oh ... Tuan psikopat! Berani juga telepon saya?" kata Erlan menjawab panggilan dari Hanes.


"Dimana Cherin? Tadi orangmu yang membawa kabur wanitaku! Jangan ikut campur urusan kami! Cepat katakan dimana orang kamu itu!" teriak Hanes di balik panggilan telepon.


"Dasar laki-laki gilaa, sinting, nggak waras! Apa anda tidak punya otak sampai memberikan obat perangsangg dan menggauli wanita yang baru saja keguguran? Lo, bajingann, yang dimana? Biar polisi segera menembak mati laki-laki sampah kayak lo, bangkee!" Seketika Erlan langsung mematikan panggilan itu karena merasa darahnya mendidih. Untungnya ponsel itu tidak dia banting.


"Mas," panggil Diandra seraya mengusap dada Erlan. "Tenang, hm?" kata Diandra dan Erlan langsung memeluknya.


"Maaf! Aku bukan memikirkan Cherin karena masih mencintainya. Tapi aku sangat marah karena Hanes berlaku buruk padanya. Bagaimana bisa ada laki-laki sebejat itu. Kamu jangan salah paham ya?" ucap Erlan lirih dan Diandra hanya mengangguk dalam pelukan Erlan.


Dokter Amira sudah menjelaskan tentang keadaan Cherin yang mengalami infeksi dibagian intimnya karena dipaksa untuk berhubungan badan. Apalagi bukan hanya satu kali Hanes melakukan hal tersebut. Walaupun Cherin sudah tidak mengalami pendarahan, tetapi Dokter Amira sangat menyayangkan karena paling minim harusnya baru dua atau tiga minggu lagi hal tersebut dilakukan.


Cherin kembali terbaring di atas brankar dengan wajah pucat dan bibir yang kering dan sedikit pecah-pecah. Diandra masih belum beranjak dari sisi brankar Cherin dan terus menggenggam sebelah tangannya. "Kamu pasti bisa melewati semua ini, Mbak! Kamu wanita kuat! Ini ujian untuk menjemput kebahagiaan, Mbak! Kamu harus cepat bangun ya?" kata Diandra memberikan semangat pada Cherin yang padahal belum sadar.


Kata Dokter Amira, Cherin bisa saja mendengar apa yang dikatakan oleh orang sekitarnya. Jadi Dokter Amira menyarankan untuk memberikan energi positif pada Cherin karena tubuh Cherin seperti menolak untuk bangun. Hal itu terjadi karena tekanan batin atau bisa saja pasien mengalami trauma akut yang membuatnya tidak bangun dari tidur panjang nyamannya padahal tidak dalam pengaruh obat bius.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus istirahat! Ini udah lewat tengah malam. Biar aku dan Jio yang menjaga Cherin." Erlan merengkuh bahu Diandra agar dia mau beranjak dari tempat duduknya untuk pergi istirahat. Wajar Erlan khawatir karena hampir dua jam dia duduk di sisi brankar Cherin.


Diandra juga menolak untuk pulang karena takut saat Cherin bangun tidak ada yang membantu apa yang dia butuhkan. Bisa saja dia langsung ingin minum saat Cherin bangun karena melihat bibirnya yang begitu kering. Tentu Erlan tidak mau membuat istrinya sedih dan menuruti kemauan Diandra untuk menjaga Cherin di rumah sakit setelah memberikan kabar pada Nenek dan Maminya agar tidak khawatir.


"Kasian dia, Mas. Baru kehilangan anaknya yang begitu dia sesali, sekarang dia harus mengalami trauma psikis. Aku harap dia nggak sampai butuh psikolog, Mas," tutur Dia Diandra membuat Erlan langsung membawanya dalam pelukan.


"Kebaikan kamu akan sangat membantunya, Sayang. Dia bisa berubah juga karena kesabaran dan lembutnya hati kamu. Jadi aku yakin selama dia mendengarkan kamu, dia akan baik-baik saja. Sekarang kamu tidurlah!" Erlan pun melepaskan pelukannya dan memberikan kecupan singkat di kening.


Diandra hanya menurut dan melangkah lemas menuju sofa di sudut ruangan. Sofa itu lebar, jadi cukup untuk tidur satu orang. Diandra pun merebahkan tubuhnya dan Erlan membentangkan selimut untuk sang istri setelah itu kembali memberikan kecupan singkat di kening. "Kalau dia bangun, kamu harus bangunin aku ya, Mas!" pinta Diandra dengan wajah sedihnya.


"Tentu saja! Kamu jangan khawatir. Cepet merem sebelum ak-"


"Iya, iya. Ada Kak Jio, kenapa kamu begitu genit?"


"Sayang, panggil om aja, kenapa kamu panggil dia Kakak sih? Dia bukan Kakak ipar kamu dan umur kalian juga beda tujuh tahun." Erlan mencoba memecahkan kesedihan Diandra.


"Kalau gitu aku juga harus panggil kamu om, dong? Kamu sama Kak Jio kan seumuran?" Erlan hanya bisa menghela napas. "Om Erlangga, I love you!" ledek Diandra yang langsung menutup wajahnya dengan selimut. Erlan hanya tersenyum tanpa membalas ledekan sang istri.

__ADS_1


........


__ADS_2