
Hari ini hari keberangkatan Erlan ke luar negeri. Entah sudah berapa kali Diandra menolak untuk tinggal di rumah Hanes demi keselamatannya, tetapi kali itu juga Erlan memaksa dan memberikan alasan pada Nenek Harni juga Mami Hasna bahwa Hanes sedang melakukan perjalanan bisnis, jadi Cherin butuh teman.
Awalnya Nenek Harni minta Cherin yang tinggal di rumah itu, tetapi Erlan punya seribu cara agar Diandra lah yang harus tinggal disana. Sebenarnya Diandra lebih khawatir dengan kondisi sang Nenek karena takut jika Paman Sam nekad datang ke rumah, tetapi dia juga harus memikirkan anak satu-satunya, Ezra.
"Semuanya udah disiapin, Sayang?" tanya Erlan seraya memeluk Diandra dari belakang yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Kedua mata itu saling bertemu lewat pantulan kaca.
"Egois nggak sih kita, Mas?" Diandra tentu saja gelisah memikirkan situasi yang benar-benar tidak menguntungkan itu.
"Mereka pasti mengerti. Apalagi anak kita cuma satu-satunya. Udah, nggak pa-pa! Meli akan tinggal disini selama kamu nggak ada, jadi kamu nggak perlu khawatir ya? Kamu juga nggak boleh stres karena takut berpengaruh sama ASI kamu. Kasian anak kita."
Diandra membenarkan perkataan Erlan. Wanita menyusui memang tidak boleh banyak pikiran karena bisa memicu rewelnya sang anak. Akhirnya mau tidak mau Diandra kembali pasrah dan mengikuti apa mau Erlan. Dia yakin jika semua keputusan suaminya itu adalah yang terbaik.
Tangis di ruang keluarga cukup mengharukan saat Diandra berpamitan. Berat hati itu pasti, hanya memang itu jalan terbaik untuk menghindari Paman Sam juga Yansen yang tamak.
"Udah, Nek! Lagian nggak lama, paling cuma lima hari sampai Tuan Hanes pulang. Kasian juga Mbak Cherin kalau cuma sama mertua. Katanya masih canggung," kata Diandra terpaksa beralasan.
Walaupun semalam mereka berdebat hebat dan menolak mentah-mentah keputusan Erlan, tentu saja tidak akan merubah apa pun karena keputusan Erlan sudah bulat.
"Iya. Hati kamu memang terlalu lembut dan baik. Nanti kalau Nenek nggak bisa tahan kangen, Nenek bakal samperin Ezra," ucap Nenek kemudian mengecup pipi Ezra yang masih tidur dalam dekapan Diandra.
Akhirnya Erlan dan Diandra berangkat, begitu juga dengan Jio. Erlan akan mengantar Diandra terlebih dahulu ke rumah Hanes, barulah dia pergi ke bandara bersama Jio. Tadinya Diandra yang akan mengantar Erlan terlebih dahulu, tetapi mengingat kondisi Ezra, lagi-lagi Diandra harus mengalah.
...***...
Cherin menyambut hangat kedatangan Diandra dan Ezra. Bahkan Cherin terlihat sangat bahagia karena Diandra akan tinggal bersamanya hingga beberapa hari kedepan.
"Seneng banget ... seneng banget pokoknya!" kata yang terus terucap dari mulut Cherin seraya memeluk Diandra.
__ADS_1
"Dasar emak-emak, kalau udah kumpul lupa sama suami!" keluh Hanes yang langsung mendapatkan lirikan tajam.
"Awas kamu, tidur diluar nanti malam!" ancam Cherin dengan tatapan membunuh.
"Astaga, bangkee! Masa iya aku harus libur kayak lo sih!" protes Hanes memukul bahu Erlan yang sedang terkekeh.
"Sabar! Orang sabar rejekinya lancar!" ledek Erlan yang lagi-lagi mendapatkan pukulan dari Hanes.
Cherin tidak peduli dengan obrolan para laki-laki itu. "Kita langsung ke kamar yuk, istirahat!" ajak Cherin menggandeng tangan Diandra.
"Eh, main bawa aja! Istriku belum kasih ciuman perpisahan loh," cegah Erlan yang langsung menarik tangan Diandra dan melumatt sebentar bibirnya.
"Astaga! Kasian kau Jio harus melihat adegan dewasa seperti ini. Segera cari istri sebelum itu mu karatan," ledek Chelin melirik Jio yang sedang tertunduk.
"Segera!" jawab Jio dengan santainya.
"Cie ... cie! Udah main berapa kali semalam, hm?" Cherin seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh Diandra. Akhirnya Diandra sendiri yang tersipu malu karena ucapannya.
"Ya udah, Sayang. Aku berangkat ya!" pamit Erlan.
"Sayang, aku anter CEO kejam itu ke bandara dulu ya!" pamit Hanes seraya mencium kening Cherin.
"Hm, hati-hati, Mas!" jawab Cherin dengan senyuman manisnya.
"Sungguh, nasib jomblo emang mengenaskan!" gumam Jio yang langsung mendapatkan gelar tawa dari semua orang karena mendengarnya.
...***...
__ADS_1
Setelah para lelaki itu pergi, Cherin mengajak Diandra untuk segera masuk ke kamarnya dan membaringkan Ezra yang masih lelap dalam gendongan Diandra. Tadinya Cherin meminta satu kamar dengan Diandra supaya bisa mengobrol sepanjang malam bersamanya dan berbagai cerita tentang anak mereka, tetapi Diandra menolak karena dia juga tidak mau mengganggu waktu berdua Cherin dengan Hanes.
"Em, jadi ini semua masalah harta ya? Emang sih harta itu bikin hati buta," kata Cherin menanggapi cerita Diandra karena Cherin belum tahu apa alasan Erlan meminta Diandra tinggal di rumah Hanes.
"Iya, Mbak! Awalnya aku pikir aku kasih aja kan saham yang aku pegang itu. Tapi Mas Erlan menolak. Dan lagi pasti Nenek kecewa banget kalau sampe itu terjadi. Aku takut aja Mbak kalau Paman Sam bakal ke rumah terus ngusik Nenek."
"Ya kamu kayak simalakama juga ya. Tapi percaya aja deh sama keputusan suami kamu. Ibu menyusui juga nggak boleh stres, jadi kamu jangan mikir aneh-aneh, takut ngaruh sama ASI."
"Iya, Mbak! Aku akan berusaha untuk terus berpikir positif. Tapi tetap aja khawatir dengan keadaan Nenek dan ... aku khawatir kalau Mas Erlan disana kenapa-kenapa."
"Udah, jangan khawatir. Dia sama Jio, nggak mungkin kenapa-kenapa." Diandra pun sedikit lega atas dukungan dari Cherin. Tak mau ambil pusing masalah harta, Cherin mengalihkan obrolan mereka. Akhirnya yang dibahas adalah tingkah lucu anak mereka masing-masing.
"Jadi Tuan Hanes juga pernah diompolin sama Baby Cakra? Kasian!" Cherin menceritakan bagaimana kesalnya Hanes saat akan berangkat tetapi Cakra mengompol karena saat itu Cherin belum sempat memakaikan popok pada Cakra karena dia keburu mules. Akhirnya Hanes harus telah masuk kantor karena kembali mandi dan bersiap-siap lagi.
"Hm. Mertua aku bilang itu upah buat pengasuh. Kalau nggak diompolin ya dikasih pup nya," sahut Cherin membuat keduanya tertawa kecil karena Ezra masih tidur. Sedangkan Cakra tidur di kamarnya bersama baby sitter.
Diandra menceritakan bagaimana reportnya dia mengurus Ezra sendiri. Bahkan harus selalu menggunakan jurus serba cepat karena khawatir dengan anaknya. Cherin tentu salut dengan Diandra yang mengasuh Ezra tanpa baby sitter, sedangkan dia sering bergantung pada baby sitter dan terkadang ibu susu Cakra sendiri.
"Ibu susunya tinggal disini?" tanya Diandra ingin tahu.
"Iya, kalau malam Cakra sering rewel, jadi dia harus tidur sambil enen. Aku nggak bisa apa-apa selain pasrah. Mau gimana lagi ASI aku nggak keluar kayak ASI kamu," jawab Cherin terlihat sedih.
Memang efek samping dari operasi caesar itu salah satunya menghambat keluarnya ASI, tetapi bagi sebagian ibu. Apalagi kehamilan Cherin saat itu belum masuk usia sembilan bulan. Bahkan sudah berbagai obat dan rangsangan yang diberikan, tetap saja ASI milik Cherin tidak mau keluar.
Rasa sedih terpancar jelas dari dirinya saat tidak bisa merasakan bagaimana rasanya menyusui sang anak. Namun saat Cherin mengatakan bahwa tidak akan terulang untuk anak keduanya, Diandra lah yang ganti bersedih karena tidak bisa memiliki anak lagi. Kedua wanita itu pun saling menghibur satu sama lain dan benar-benar menghabiskan waktu berdua.
........
__ADS_1
...Sebenarnya ada yang baca nggak sih sampe episode ini? Kok komentar sepi banget, apa pada bosan? ðŸ˜...