
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Diandra sibuk dengan Ezra yang benar-benar mulai aktif bergerak karena setiap akan dipakaikan baju, Ezra terus memiringkan tubuhnya sebab dia sudah bisa tengkurap. Namun lehernya masih belum kuat mengangkat kepala, jadi wajahnya malah tenggelam di kasur dan ujung-ujungnya menangis kesal.
"Aduh ... Ichan, iya nanti tengkurep lagi ya, Nak. Sekarang pakai bajunya dulu," ujar Diandra kembali memposisikan Ezra agar mudah dipakaikan baju. Sedangkan Ezra hanya hau-hau kemudian tersenyum.
"Sayang ... dasiku yang warna maroon kemana ya? Apa belum dicuci? Kan semalam aku udah bilang mau pakai dasi itu!" teriak Erlan dari balik pintu walk in closet. Diandra hanya menghela napas panjang. Padahal baju kerja beserta dasinya sudah dia siapkan. Belum anak bayinya selesai, anak besarnya teriak-teriak.
"Carinya pakai mata, Mas! Bukan pake mulut, ish ... kebiasaan!" jawab Diandra masih fokus dengan Ezra yang terus ingin tengkurap.
"Beneran nggak ada, Sayang. Isi lemari dasi udah aku cari semua." Erlan kembali berteriak. Terpaksa Diandra pun beranjak dari tempat tidur padahal masih belum selesai dengan Ezra.
Entah kenapa Erlan jadi semakin manja. Apalagi selalu membandingkan dengan Ezra katanya Diandra jadi tidak perhatian dengan Erlan bahkan sudah tidak sayang lagi dengannya. Hal kecil saja yang Diandra lakukan bersama Ezra, Erlan selalu iri dan selalu memarahi Ezra kalau anak bayi itu telah merebut istrinya.
"Aku yang cari dan ketemu, kamu aku jewer ya?" ancam Diandra begitu masuk walk in closet. Erlan merespon dengan senyum yang menunjukkan deretan giginya.
"Udah aku cari, tapi emang nggak ada. Aku pikir udh kamu siapin," sahut Erlan kekeh dengan pendiriannya. Namun ternyata Erlan salah. Begitu kaki Diandra melangkah masuk, kedua matanya sudah tahu keberadaan dasi yang dicari Erlan kemudian tangannya meraih dasi tersebut dan memberikan pada Erlan. "Tapi ... tadi nggak ada, Sayang. Suwer!" Erlan mengangkat tangan kanannya kemudian menyisakan huruf V di jari tersebut sebagai bukti dia sudah benar-benar mencari.
Sayang, Diandra semakin kesal lalu melipat kedua tangannya di dada dengan mengangkat satu alisnya dan ekor mata yang melirik dasi yang telah dia berikan pada Erlan. Akhirnya Erlan menyerah dan dia pun hanya bisa cengengesan.
"Udah aku bilang kalau nyari sesuatu itu pakai mata, Mas! Bukan mulut. Dikit-dikit, sayang itu aku dimana ya? Sayang ... ini aku dimana ya? ish!" Diandra pun berlalu setelah mencubit lengan Erlan dan kembali duduk di atas tempat tidur untuk mendandani Ezra lagi.
Setelah beberapa saat, Erlan pun siap untuk berangkat bekerja. Diandra juga sudah selesai mendandani Ezra kemudian menggendongnya untuk diajak turun dan sarapan. "Sayang ... aku mau sarapan mie kuah dong, masakin ya? Sini biar Ezra aku yang pangku," kata Erlan seraya merebut Ezra dari gendongan Diandra.
"Pakai cabe nggak, Mas?"
"Diiris aja, dua biji ya? Lagi nggak pengen makan pedes. Tapi telornya dua ya!"
__ADS_1
"Udah punya telor sendiri juga," ledek Diandra. Tentu saja Diandra sengaja karena Erlan sangat sensitif dengan hal yang berhubungan dengan intim. Sedikit saja Diandra menggodanya, makan kepemilikan Erlan akan langsung mengeras.
"Itu kan telor kamu, bukan telor aku. Udah ... buruan! Jangan buat yang lagi tidur pulas untuk bangun dan bekerja keras. Aku ada rapat penting hari ini." Diandra hanya terkekeh dan keduanya pun turun bersama menuju dapur.
"Er, Mami berangkat siang ini aja ya?" kata Mami Hasna yang juga baru keluar dari kamar.
"Loh, kok dadakan, Mi. Bukannya masih tiga hari lagi ya?" jawab Erlan tentu kaget tiba-tiba Maminya akan berangkat ke luar negeri siang ini. Sedangkan rencana keberangkatannya masih tiga hari lagi.
"Iya ... Mami dapet kabar dadakan dari Tante Rossa. Jadi Mami mau berangkat siang ini aja," jawab Mami Hasna seraya meraih cucunya, Ezra. "Ugh ... cucu Oma udah mangi udah danteng ya? Ih ... tawa! Ezra danteng ya? Oma pasti tangen sama Ezra nanti," ujar Mami Hasna mengobrol dengan Ezra yang dibalas dengan senyuman.
"Tante Rossa yang katanya tetangga cerewet itu, Mam?" Erlan ingat pernah dicubit kedua pipinya oleh Tante Rossa saat berlibur bersama Nenek dan Kakeknya di tempat kelahiran Nenek Harni.
"Iya, masih inget aja. Udah buruan sarapan, nanti kamu telat." Mami pun melangkah menuju meja makan.
"Emang kabar apa, Mam? Kayak penting banget? Ada hubungannya sama Nenek?" tanya Diandra sedikit ingin tahu kabar yang dimaksud ibu mertuanya tersebut.
"Tapi Erlan nggak bis anter ke bandara, Mi. Hari ini ada rapat dengan Tuan Frendik. Dia pernah nolong Erlan juga waktu di luar negeri, jadi ... nggak enak kalau mau ninggalin dia gitu aja," ucap Erlan sedikit sedih.
"Nggak pa-pa. Nggak usah pada nganter. Diandra juga nggak usah nganter. Mami pergi sama Meli kok," jawab Mami Hasna.
"Loh, Mbak Meli ikut?" tanya Diandra heran karena Meli tidak cerita apa-apa perihal kepergian Mami Hasna yang akan ke luar negeri tersebut.
"Iya. Mami perlu Meli juga karena dia yang tahu semua tentang Nenek kalian. Baru aja Mami telepon dia buat pesen tiket pesawat untuk siang ini," kata Mami Hasna dengan santainya. Diandra dan Erlan semakin ingin tahu apa yang sebenarnya Mami Hasna sembunyikan. "Udah ... jangan pada kepo, buruan makan." Mami Hasna pun fokus dengan Ezra.
Diandra sampai lupa jika Erlan minta dibuatkan mie instan. Akhirnya Diandra beralih dari meja makan ke dapur untuk memasak mie instan permintaan Erlan.
__ADS_1
...***...
Erlan masih sibuk menatap layar monitor untuk menyiapkan beberapa file yang akan dia bahas dengan Tuan Frendik menjelang siang nanti. Namun entah kenapa matanya terus melirik Jio yang seperti seorang yang sedang gelisah. Apalagi saat ditanya kenapa dia masuk kerja bukannya mengambil cuti, Jio hanya diam saja.
Tidak mau mati penasaran, Erlan pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Jio yang duduk di tempatnya dengan hanya membolak-balikkan tumbukan berkas padahal berkas itu tidak begitu penting untuk pekerjaan hari ini.
"Kuntilanak!" teriak Erlan seraya menggebrak meja kerja Jio.
"Brengsekk! Mau gue pecat lo?" jawab Jio saking kesal dan kagetnya. Erlan malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Jio. "Arghh! Kenapa sih ... kenapa!" Jio melempar beberapa berkas di atas meja kemudian dia beranjak pergi menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya disana. Satu tangannya pun menumpang di kening setelah itu Jio pun memejamkan mata.
"Kenapa sih, lo? Patah hati? Safira berubah pikiran dan nggak mau kawin sama lo, hah?" ledek Erlan yang duduk di sofa lainnya. Namun Jio tidak langsung menjawab. Dia terlihat sedang mengatur napasnya seolah beban pikirannya begitu berat.
"Ibu Safira nggak setuju dengan hubungan kami. Aku nggak sengaja nguping kemaren. Dan ... Safira malah bohong sama aku. Dia nggak mau jujur kalau ibunya nggak setuju," papar Jio membuat Erlan yang sejak tadi ingin tertawa tiba-tiba sedih dan kembali berwajah serius.
Kisah cinta sahabatnya yang begitu profesional dengan semua pekerjaannya, ternyata harus diawali dengan perjuangan keras demi mendapatkan restu sang Ibu mertua. Jauh berbeda dengan dirinya.
"Kenapa begitu? Apa alasannya?" tanya Erlan kini tidak lagi ada candaan dalam dirinya.
"Aku nggak tahu. Ibunya tiba-tiba bilang suruh putus dan uang yang pernah aku berikan untuk berobat ... akan dianggap hutang," jawab Jio dengan nada datar. Namu Erlan tahu jika sahabatnya ini sedang sangat sedih, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Udah tanya Safira?" Jio hanya menggelengkan kepalanya dengan posisi yang tidak berubah. "Mau aku yang tanya?" Jio tiba-tiba langsung beranjak dan duduk menatap Erlan.
"Coba liat aku. Apa Serjio ini kurang tampan dan kurang meyakinkan bisa membahagiakan Safira sampai ibu Romlah nggak rela anaknya kawin sama aku? Tolong ... bantu cari solusi. Kan aku udah setia selama ini dan yang pasti juga banyak nolong anda, Tuan Erlangga."
Erlan malah ingin kembali tertawa mendengar ucapan Jio. Wajahnya sungguh terlihat seperti seorang yang minta belas kasih. Sungguh, baru kali ini Erlan melihat raut wajah Jio yang seperti itu.
__ADS_1
"Diskusi aja sama Diandra, mungkin dia bisa bantu. Ajak mereka ketemuan. Aku yakin lo, Serjio ... bakal segera kawin!" sahut Erlan dengan pedenya. Namun Jio malah manggut-manggut tanda setuju dengan usul Bosnya yang padahal hanya bicara sekenanya saja.
........