
"Apa!" Diandra merasa jantungnya berhenti berdetak setelah mendapatkan kabar jika Nenek Harni dilarikan ke rumah sakit. Bahkan Diandra hampir menjatuhkan Ezra yang sedang dia gendong. Untungnya saat itu dia sedang bersama Nyonya Linda dan Ezra segera diraih oleh Nyonya Linda.
Cherin ikut terkejut melihat Diandra yang berteriak sekaligus menangis tanpa suara. Wajah Diandra tiba-tiba pucat pasti dan tangannya menjadi tremor. "Ada apa?" tanya Cherin seraya merengkuh kedua bahu Diandra. Namun bukan jawaban yang Cherin dapatkan melainkan tangis yang langsung pecah. Cherin segera memeluk Diandra untuk memberikan ketenangan.
Belum Cherin melepaskan pelukannya, ponsel Diandra kembali menerima panggilan telepon. Melihat Diandra yang sepertinya tidak bisa menjawab panggilan itu, Cherin segera meraih ponsel Diandra dan menjawab panggilan masuk dari Erlan.
"Sayang, kamu nggak pa-pa?" tanya Erlan dibalik telepon.
"Aku, Cherin. Sebenarnya ada apa? Diandra nggak berhenti menangis bahkan nggak bisa bicara. Ezra juga hampir jatuh tadi dari pangkuannya," jawab Cherin dengan nada khawatir.
"Tolong jaga istriku. Nenek kami masuk rumah sakit gara-gara Paman Sam. Pasti dia sangat syok. Aku dan Jio akan segera pulang, sampai kami tiba, tolong jaga Diandra jangan sampai dia bertemu dengan Paman Sam,"
"Iya, baiklah!" panggilan telepon pun terputus. Sekarang Cherin tahu apa yang menyebabkan Diandra seperti seorang yang putus asa. "Diandra, kamu harus kuat! Aku yakin semuanya akan baik-baik saja," kata Cherin mengeratkan pelukannya seraya menepuk-nepuk punggung Diandra.
Tentu saja Diandra belum bisa menenangkan diri. Pikirannya memikirkan hal yang tidak-tidak. Apalagi tentang ucapan Nyonya Linda yang mengatakan firasat Ezra yang terus menangis. Seharusnya dia juga peka masalah Neneknya. Penyesalan benar-benar sedang melanda Diandra.
Ezra kembali menangis. Berbeda dari sebelumnya yang tenang dipangkuan Nyonya Linda, kini bayi mungil itu menangis seperti sebelumnya. Tangisan itu menyadarkan Diandra. Sekuat mungkin dia meyakinkan hati dan pikirannya untuk sadar dan meraih Ezra untuk memberikan dia ASI.
"Cup, Sayang. Nak ... Ezra anak pinter, Mbah Uyut pasti baik-baik aja. Kita akan menyusul Mbah Uyut ya, Nak. Kamu harus tenang dulu! Ibu juga khawatir, tapi kita harus positif thinking, hm?" kata Diandra masih dengan suaranya yang berat serta air mata yang terus keluar.
"Aku akan menemanimu, kamu juga harus tenang dulu ya? Aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Cherin masih berusaha memberikan semangat. Diandra hanya mengangguk pelan.
...***...
Langkah kaki Diandra sangat berat juga ragu saat dia telah tiba di rumah sakit. Bau obat-obatan serta karbol langsung meruak dalam indera penciumannya. Dia benar-benar tidak suka bau itu saat ini karena orang yang dia sayang harus dirawat disana.
__ADS_1
Mami Hasna telah menunggu Diandra, tetapi Diandra mengabaikan ibu mertuanya karena dia hanya fokus pada keadaan sang Nenek. "Dokter bilang Nenek kritis, Diandra!" kata Mami Hasna diiringi isak tangis, tetapi Diandra tidak merespon.
Walaupun berat dan ragu-ragu, dia tetap harus membuka ruangan khusus pasien yang sedang dalam masa sekarat di ruangan itu. Namun Diandra masih menatap Neneknya di balik kaca kecil di balik pintu. Tangannya yang akan menarik knop pintu tersebut menjadi gemetar.
Cherin tahu apa yang sedang Diandra rasakan. Dia pun membantu membuka pintu ruang rawat Nenek Harni agar Diandra bisa segera masuk. "Kamu bisa, Diandra! Aku akan menunggumu di luar, hm?" Diandra mengangguk. "Tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan perlahan lewat hidung, ayo coba! Kamu pasti merasa lebih baik," sambung Cherin dan Diandra menurut melakukan apa yang Cherin katakan.
Benar, hal itu membuat Diandra cukup tenang dan mendapatkan sedikit kekuatan untuk masuk ke dalam. Walaupun langkah itu berat, Diandra tetap memaksa masuk untuk memastikan sendiri keadaan sang Nenek. Orang yang paling menyayanginya bahkan memberikan banyak harta juga kasih sayang untuk Diandra, kini sedang terbaring lemah tak berdaya.
Perlahan Diandra duduk di sofa tepat di sisi tempat tidur pasien. Kedua matanya mulai berkaca-kaca melihat tubuh tua yang sedang menutup mata. "Nenek!" panggil Diandra lirih.
Diraihnya tangan yang mulai keriput itu yang sedang terpasang jarum infus. Matanya pun kembali mengeluarkan cairan bening. Hatinya sangat sakit melihat kondisi sang Nenek dengan sebuah selang di hidung dan mulut Nenek Harni.
Dokter mengatakan pada Mami Hasna bahwa Nenek Harni sangat kritis, artinya kemungkinan untuk sembuh itu kecil karena kesehatan sang Nenek sebelumnya memang kurang baik. Nyawanya bisa saja tidak tertolong kali ini karena berita yang dia dengar terlalu membuatnya terkejut.
"Seharusnya Diandra nggak pergi dan tetap di sisimu, Nek! Tolong ... jangan kenapa-kenapa, Nek!" tangis Diandra pun pecah.
Diandra benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan sesampai di rumah sakit, dia langsung menemui Nenek Harni tanpa bicara dulu dengan Mami Hasna pembicaraan apa yang menyebabkan Nenek Harni masuk rumah sakit.
"Nek, maafin Diandra karena hanya bisa memberikan satu cucu padahal Diandra dulu janji akan melahirkan Erlan-Erlan junior. Diandra belum sempat mengatakan ini. Diandra benar-benar minta maaf untuk hal itu! Maafin Diandra juga yang nggak ada beberapa hari di sisi Nenek. Harusnya Diandra nggak pergi kan? Harusnya Diandra jagain Nenek kan? Jangan marah dengan cara nggak bangun begini, Nek! Ayo sembuh dan kita pulang, Nek!"
Lagi-lagi Diandra hanya bisa menyesal dalam tangisannya. Tangannya yang menggenggam tangan Nenek Harni mulai melemah. Diandra yang duduk di sisi brankar sang Nenek tiba-tiba merasa pusing. Pandangannya menjadi kabur dan Diandra pun pingsan.
Untungnya Cherin menunggu Diandra di luar ruangan dan terus menatap wanita yang telah dia anggap sebagai adik itu di balik kaca pintu ruang rawat Nenek Harni. Melihat Diandra yang tiba-tiba jatuh tergeletak di lantai, Cherin mulai panik kemudian sesegera mungkin Cherin memanggil Dokter dan perawat untuk menangani Diandra karena ruangan itu tidak boleh sembarang orang masuk.
Mami Hasna semakin tidak karuan perasaannya saat melihat Diandra di bopong oleh perawat dan berbaring di atas brankar untuk dibawa ke UGD.
__ADS_1
...***...
Erlan sempat beberapa kali meneteskan air matanya karena sangat khawatir dengan kondisi Nenek serta Diandra. Apalagi kabar yang dia dapat dari Cherin bahwa Ezra hampir jatuh dari tangan Diandra membuat Erlan ingin sekali berteriak.
Andai saja dia bisa membuat pesawat yang dia tumpangi itu melaju lebih cepat dari yang dia bayangkan, maka akan dia lakukan dengan segera mungkin. Namun apalah daya, Erlan hanya bisa duduk diam menatap ke luar jendela pesawat tersebut dengan tatapan kosong.
Perjalanannya memakan waktu delapan jam, yang artinya dia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah dia tiba nanti. "Bos, ada sedikit bukti. Kita bisa menyelidikinya setelah tiba," kata Jio memberikan ponselnya.
Sejak mendapatkan kabar sang Nenek masuk rumah sakit beberapa jam yang lalu, Erlan dan Jio meminta seseorang untuk menyelidiki apa yang selama ini dilakukan Paman juga anaknya. Dia tentu sangat marah karena mengompori Nenek Harni hingga kondisinya drop.
"Bagus! Sebaiknya kita harus cepat sebelum terjadi sesuatu dengan Diandra dan Ezra. Mereka pasti sasaran utama Paman Sam saat ini karena Diandra lah pemegang saham terbesar. Sedangkan Ezra adalah pewaris sah dari saham yang dipegang Diandra."
"Baik, Bos! Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Kita masih punya waktu empat jam. Istirahatlah sebentar, karena setelah tiba disana, kita pasti butuh banyak tenaga untuk melewati semua ini."
"Bagaimana aku bisa istirahat, Serjio! Bahkan saat aku mencoba menutup mata, bayangan mengerikan tiba-tiba muncul. Aku takut!" jawab Erlan membuat Jio tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia ikut pasrah karena dia yang paling tahu apa yang dirasakan Erlan.
........
Jangan bilang sedikit!
Oiya, yang suka genre reinkarnasi, bisa mampir ke karya terbaru aku ya yang judulnya "Kelahiran Kembali Istri Yang Dikhianati"
Buat yang tanya judul " Jodoh Yang Rumit" mohon maaf aku nggak lanjut 🆙 disini.
Cek ya disini 👇
__ADS_1