
Bau karbol khas rumah sakit kini menusuk indera penciuman Diandra. Matanya cukup berat untuk dibuka. Tubuhnya terasa lemah bahkan rasanya untuk mengangkat satu tangannya saja Diandra seakan tidak mampu. Perlahan-lahan Diandra membuat mata dan melihat Nenek juga Maminya sedang bersedih.
"Diandra!" keduanya kompak memanggil saat Diandra membuka matanya. Dia memaksakan diri untuk tersenyum dibalik bibirnya yang kering. Matanya melirik selang infus yang tertancap ditangan.
"Kenapa aku merasa sangat lemah," bagian Diandra ingin berbicara, tetapi rasanya sangat berat untuk membuka mulutnya.
"Kamu nggak boleh banyak gerak dulu, Nak," cegah Nenek Harni yang tahu jika Diandra mungkin ingin bangun untuk duduk. Diandra mengedipkan matanya paham. "Erlan udah Nenek kabarin dan dia mungkin akan tiba siang nanti. Kamu jangan khawatir ya?" sambung Nenek membuat Diandra kembali mengedipkan matanya.
"Sayang, kamu nggak pa-pa kok. Tubuh kamu yang sedikit terkejut karena adanya nyawa baru disini," kata sang Mami seraya mengusap perut Diandra. Seketika air mata Diandra langsung menetes membasahi pipi. Rasa haru yang begitu mendalam dan kebahagiaan yang benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Entah harus dengan apa Diandra merespon kabar bahagia itu.
"A-aku ham-hamil?" Diandra terbata tidak percaya. Selama ini Diandra pikir dia akan lama untuk punya anak karena sebelumnya Diandra selalu merasa nyeri saat datang bulan. Dia hanya bisa bertanya pada satu asisten rumah tangga yang membantu Diandra mengurus rumah ibu tirinya. Saat itu Diandra diminta untuk periksa karena rasa nyeri berlebihan saat datang bulan yang Diandra rasakan itu tidak normal, tetapi hal yang mustahil untuk dia bisa periksa ke Dokter.
Hari ini pemikirannya salah. Anggota keluarga baru yang ditunggu-tunggu kini telah hadir ditengah-tengah mereka semua. Diandra pun menatap perutnya yang masih datar dengan linangan air mata.
"Jangan nangis, ini kan kabar bahagia, bukan kabar menyedihkan," ucap Nenek kemudian mengusap air mata Diandra dengan tisu. Diandra pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Min-minum ...," kata Diandra terbata karena memang tenggorokannya terasa kering dan sangat ingin minum. Segera Mami Hasna mengambil segelas air dan membantu Diandra untuk minum. Setelah air itu menembus tenggorokannya, Diandra merasa lebih baik. "Mas Erlan sudah tahu kalau aku hamil, Nek?" tanya Diandra masih dengan suara yang lemah.
__ADS_1
"Hm. Dia udah tahu. Makanya dia juga langsung pulang karena khawatir dengan keadaan kamu dan anak kalian," jawab Nenek masih dengan senyuman.
"Apa aku merepotkan dia? Pasti perkerjaan disana belum selesai dan dia memaksa pulang," kata Diandra terlihat raut wajah yang sedih.
"Kamu bicara apa, Sayang. Mana ada yang lebih penting dari pada kamu bagi Erlan? Sudahlah, kamu jangan mikir macam-macam ya? Kamu harus banyak istirahat. Sebaiknya sarapan terlebih dahulu setelah itu minum obat ya?" ucap sang mami seraya mengambil nampan yang berisi sarapan untuk Diandra.
...***...
Menjelang makan siang, Erlan tiba dengan nafas tersengal-sengal masuk ke dalam ruang rawat Diandra. Seketika itu juga Erlan langsung memeluknya bahkan sampai menangis. Beberapa kali Erlan mencium ujung kepala Diandra dengan rasa sesak yang amat dalam. "Mas, sudah! Kenapa kamu datang-datang langsung nangis?" tanya Diandra seraya mengusap punggung Erlan.
"Maafin aku karena nggak ada disaat kamu sakit begini," jawab Erlan kemudian melepaskan pelukannya dan duduk di sisi brankar seraya menggenggam tangan istrinya kemudian menciumi tangan itu dengan lembut.
"Terima kasih udah kasih kebahagiaan sempurna ini, Sayang," ucap Erlan dengan tulusnya kemudian memberikan kecupan singkat di bibir Diandra.
"Tahan-tahan! Jangan nyosor aja. Inget! Istrimu lagi sakit dan hamil muda," ketus sang Nenek membuat Diandra terkekeh.
"Er, kamu dicari Dokter Amira. Katanya ada beberapa hal yang mau disampaikan. Kamu disuruh temui Dokter Amira kalau udah datang," titah Mami dan Erlan mengangguk paham.
__ADS_1
"Kenapa nggak kasih tahu disini sama aku, Mam? Kenapa hanya Mas Erlan?" tanya Diandra cukup penasaran karena dia yang hamil kenapa hanya suaminya yang dipanggil Dokter.
"Cuma konsultasi, Sayang. Ini juga kehamilan pertama kamu, jadi dia harus hati-hati," jawab Mami dan Diandra hanya mengangguk.
"Aku mau ke ruangan Dokter Amira dulu ya?" kata Erlan seraya mengusap ujung kepala Diandra dan kembali mengulas senyum lalu pergi menemui Dokter Amira.
Cukup lama Diandra menunggu Erlan yang sudah tiga puluh menit tidak kunjung kembali. Diandra sedikit cemas. "Apa konsultasi harus selama ini, Mi?" tanya Diandra masih terus menatap pintu berharap Erlan segera datang.
"Namanya juga konsultan, ya lama dong. Udah kamu nggak boleh mikir macem-macem. Wanita hamil itu harus rileks harus positif vibes. Jangan mikir aneh-aneh, hm?" jawab sang Mami seraya memberikan potongan buah apel yang telah dia kupas.
Diandra hanya bisa menghela nafas dan pasrah menunggu suaminya. Walaupun sebenarnya pikiran cemas karena dia takut ada apa-apa dengan kehamilannya. Akhirnya Diandra makan buah apel yang di kupas sang Mami sambil mengobrol mengalihkan topik pembicaraan.
........
Tinggalkan like komen kembang kopi tips buat dukung karya ini bagi yang suka 🥰 nggak suka skip aja tanpa meninggalkan komentar buruk 😌
Hari ini author udah nggak 🆙 lagi ya, sampai ketemu besok.
__ADS_1
Jangan lupa mampir sini juga ya sambil nunggu ceritanya 🆙 👇